Amin.. Makasih atas doa dan suport temen2 apalah artinya Twin Garage tanpa dukungan temen2, mudah2an kedepan Sy bisa menambah fasilitas bengkel dan memberikan pelayanan yg terbaik buat temen2 semua.
Salam Ajat Twin Garage On Mon Dec 21st, 2009 8:20 PM PST Rico Coco wrote: >Wuah... setuju tuh om.... kita masukan di kompas aja.... hehehe tapi >hati2... ntar banyak pelanggan... Mbah Ajat bisa kwalahan loh... kan >montirnya cuma dikit... bisa2 pelanggannya ntar kecewa ga kebagian >services.... kecuali ada temen2 kita yg mau ikutan mengembangkan bengkel >Mbah Ajat ini hehehehehe.... murah.. paten... dapat makan lagi hahahaa..... >Mudah2an Mbah Ajat bisa bertahan... soalnya Mbah Ajat kan manusia juga... >ntar kalau ada masa bosennya... bisa ga keurus tuh bengkel... apalagi >pemasukannya ga sebanding dengan pengeluaran.... mudah2an ga begitu ya >Mbah... hhihihii..... > >2009/12/22 Aji Hermawan <[email protected]> > >> Ini berita menarik dari kompas, Mbah Ngatijo dg bengkel spedanya. Gaya >> bisnisnya justru skrg sdg populer barat sbg gaya postmodern. >> >> Di baleno kita punya yang mirip: Mbah Ajat. Ntar kita usulkan masuk profil >> Kompas hehe... >> >> Aji Hermawan >> -------- >> >> Ngatijo, Mbengkel Itu Ibadah, Mesti Jujur... >> >> Sumber : KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA, >> http://regional.kompas.com/read/xml/2009/12/22/05504275/Ngatijo..Mbengkel.Itu.Ibadah..Mesti.Jujur. >> .. >> >> "Mari, dik. Saya perlihatkan bentuk porok depan Burgers, biar tahu bentuk >> aslinya. Sepertinya saya masih menyimpan porok (garpu) depan pit onthel itu >> di gudang," begitu diucapkan Ngatijo (60), kepada Kompas, sembari tersenyum >> ramah. >> Mbah Ngatijo sejenak beranjak menuju gudang, memilah-milah puluhan garpu >> depan aneka merek sepeda kuno yang ditumpuk di sudut gudang. Tak berapa >> lama, tangannya mengangkat barang dimaksud yang sudah kusam dan karatan di >> sana-sini. >> >> Si Mbah lalu beranjak lagi ke ruangan depan, tempat teronggok Burgers, >> sepeda tua buatan Belanda tahun 1930, milik pelanggannya. Dia lantas >> menjelaskan bentuk dan lekukan khas garpu depan sepeda itu, dan betapa >> nyaman jika garpu depan itu, dijodohkan dengan sepeda yang sama-sama >> berkarat tersebut. >> >> Lelaki ini lalu bercerita lagi ciri khas Burgers, seperti stang yang >> melengkung dan tuas rem yang berbentuk melingkar. Tak hanya bercerita, ia >> pun menggambarkannya di tanah. Di sela-sela bercerita, sadel dan rangka >> sepeda tua itu ditepuk-tepuk. >> >> Begitulah Mbah Ngatijo. Bagi para onthelist (penggemar dan pemakai sepeda >> onthel), sosok ini adalah sesepuh. Ilmu per-onthel-an dia jelas sudah >> mengakar. Berani taruhan, simbah ini hapal dan paham lekukan tiap merek pit >> onthel, baik itu bikinan Belanda, Inggris, Jepang, India, hingga >> sepeda-sepeda lokal. >> >> "Saya bisa hapal sepeda-sepeda itu karena sudah mbengkel sejak tahun 1968.. >> Dulu, adanya kan hanya sepeda onthel. Belum ada sepeda gunung seperti >> sekarang. Tahun 1970-an, onthel mulai ada pesaing yakni sepeda jengki, tapi >> bertahan. Baru tahun 1980-an, onthel meredup seiring masuknya sepeda >> gunung," katanya. >> >> Sejak kecil, orang ini sudah kenal onthel. Menginjak remaja, dia membantu >> sang kakak yang membuka bengkel sepeda di Sedayu, Bantul. Tahun 1968, >> Ngatijo memberanikan diri membuka bengkel di Bayeman, Jalan Wates Km 3,5, >> tempat yang sama dengan lokasi bengkelnya sekarang. >> >> Bukan semata urusan teori yang membuat Ngatijo dituju, namun karena usaha >> bengkelnya. Mengapa? Jika ada kalimat yang tepat, Ngatijo ini memang murni >> tukang sepeda. Maksudnya? "Sepeda yang masuk, akan saya servis sehingga saat >> diambil, kondisi nya jauh lebih baik. Saya nggak mau nuthuk (cari untung >> secara ngawur) atau memanfaatkan ketidaktahuan pelanggan akan sepedanya >> sendiri. Mungkin itu yang membuat pelanggan datang ke saya," ucapnya. >> >> Prinsip itu dipegang teguh oleh bapak empat putra ini. Jika menjual >> sepeda, ia memakai harga wajar. Untuk menganalisa sepeda, jika kondisinya >> jelek, maka akan dikatakan jelek. Jika bagus, dikatakan bagus. Ia tak mau >> menipu pelanggannya. Tentang tarif murah, selain karena memang tak mau dicap >> sebagai tukang sepeda yang melulu cari duit, Ngatidjo punya alasan lain yang >> menarik. >> >> "Yang datang kemari, banyak petani, penjual krupuk, penjual sayur, dan >> para pedagang kecil. Sebagian dari mereka, teman-teman saya yang sebagian >> juga sudah saya kenal sejak kecil dan remaja. Nggak sampai hati mematok >> harga tinggi. Sehingga jika sekadar mengisi angin ban, mengencangkan >> baut-baut, ya nggak usah bayar," kata Mbah Ngatijo yang juga bisa membuat >> pit onthel dengan >> harga Rp 1,5-an juta ini. >> >> Prinsip tak mau aji mumpung pada pelanggan ditekankan keras pada dua anak >> lelakinya yang kini membantu dan kelak menjadi penerusnya. "Bapak mendapat >> kemurahan dari Tuhan sehingga bengkel bapak ini akhirnya punya nama. Ini >> bengkel yang jujur, maka kalian harus jujur sampai kapan pun. Jika jujur, >> pelanggan akan mencintai. Jika mau membagi ilmu, ilmu kita akan bertambah. >> Mbengkel itu sama dengan ibadah," begitu ucap Mbah Ngatijo yang masih sering >> dilontarkan kepada dua anaknya. (Lukas Adi Prasetya) >> >> >> >> Powered by RAMP-IPBĀ® >> >> ------------------------------------ >> >> Kunjungi Situs Baleno Club Indonesia di www.baleno.infoYahoo! Groups Links >> >> >> >> > > >-- >Hendriko >BCI.349
