Saya pribadi jujur mengakui bahwa saya selalu senang mendengarkan Gde Madalila berbicara. Waktu itu dia sempat mampir ke toko dan banyak diskusi dengan saya tentang kehidupan, dan saya merasa lebih banyak menerima masukan yang sangat bermanfaat. Bahkan saya sudah banyak mencoba menerapkan konsep-konsepnya. Hanya saja saya belum mampu se revolusioner dia dalam menjalani hidup ini. Maklum belum ada celengan untuk anak dan istri :))
Juga dalam komentarnya kali ini banyak benarnya. Jika Sang Hyang Paramakawi tidak menghendaki sesuatu terjadi, maka pasti tidak akan terjadi sesuatu. Ekstrimnya, selembar daunpun tidak mungkin akan jatuh dari rantingnya jika tidak dikehendakiNYA. Nah kalau kita tarik garis ekstrapolasi contoh tersebut ke PLTGU di Pemaron ? Kira-kira apa kesimpulannya ? Ya, kalau Tuhan menghendaki bahwa di Pemaron akan ada PLTGU, maka jadilah PLTGU disana, dan sebaliknya bila tidak dikehendaki oleh Tuhan, maka niscaya rencana tersebut akan batal. Kalau begitu, darimana dan bagaimana kita bisa mengetahui kehendak Tuhan ? Tuhan tidak akan membocorkannya ! Dalam kaitan ini, maka pada tempatnya usaha dan upaya dilakukan, baik bagi mereka yang sudah merencanakan maupun bagi yang tidak setuju. Bahwa hasilnya akan berbeda dengan upaya yang dilakukan, maka itulah kehendak Tuhan. Saya kira begitu ya Gde Madalila. Salam Wis -----Original Message----- From: gmm01 [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Tuesday, October 01, 2002 2:00 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: [bali] Re: Selamat berjuang Dear Nyoman Bangsing dan teman-teman sadayana, Perdebatannya sangat bagus untuk mendapatkan solusi terbaik bagi Bali khususnya Buleleng (istrinya Pakleleng??). Tapi karena saya orang awam tentang teknik (pengalaman kurang, sekolahan juga ngasal)maka saya nimbrung sedikit tentang bagaimana kita menempatkan 'kami' dan 'mereka'dalam konteks pembangunan apa saja. Kalau Bangsing melihat orang Bali hanya menjadi pegawai rendahan saja di Bali dan mengeluh karena itu, maka diluar Bali banyak juga yang akan mengeluh karena orang lokal jadi kulinya dan orang Bali banyak yang jadi Boss-nya (termasuk Bangsing sendiri khan?). Mari kita berangkat dari pemikiran yang jernih dan landasan spiritual yang telah banyak kita kenal seperti Tat Twam Asi. Kita lahir menjadi orang Bali pasti ada tugas khusus dari 'Dia' untuk lebih memperhatikan orang Bali karena itulah hukum Rta yang berlaku di Bumi ini. Tapi jangan sampai kita melupakan Tat Twam Asi, dengan demikian dimanapun kita berkiprah tidak akan menyebabkan wawasan kita menjadi sempit. Jangan lupa apapun yang terjadi pada kita, itu semua karena keberadaan kita juga ( di Bali terkenal istilah .. ooo ne iyange mekade, istilah ini betul sekali, bukan Hyang Kompiyang, tetapi iyang...diri sendiri yang mekade. Coba lu kagak ade mana mungkin masalah muncul). Janganlah terlalu khawatir, kalau Ida Sang Hyang Widhi tidak menghendaki, not even a single leave will moves, kita semua berusaha memerankan peran kita sesuai dengan hukum Rta dan Karmaphala. Kalau anjing itu sifatnya memang suka menggonggong, maka manusia kebanyakan menggunakan 'mindnya' dan sesekali menggonggong juga tapi sangat kreatif tentunya. Setiap kali manusia mengintervensi alam walaupun dengan keinginan memperbaikinya yang terjadi selalu kerusakan, semua itu karena 'desire' kita yang tidak tak terbatas sedangkan resources untuk fulfill desire itu limited adanya. After all, Be joyful and share your joy with others. Kanggoang amonto malu sharingnya, apang sing enggalan wadih timpale mace. Namaste, (artinya: aku bersujud kepada Dia yang bersemayam didalam dirimu) Gede Madalila -----Original Message----- From: Nyoman Bangsing [mailto:[EMAIL PROTECTED]] Sent: Monday, September 30, 2002 5:04 PM To: '[EMAIL PROTECTED]' Subject: [bali] Re: Selamat berjuang Ysh. Bapak Ngurah Adnyana dan Gde Wisnaya Saya kira diskusi diantara kita masih perlu dikembangkan. Apabila diskusi yang ada ingin diangkat ke forum yang lebih luas, kita bisa saja mengisi acara interaktif yang dilakukan oleh RRI Singaraja. Kita bisa meminta bantuan teman kita untuk memprakarsai acara tersebut. Sebagai narasumber kita minta Ngurah Adnyana(sebagai wakil PLN), dan beberapa teman di LP3B(wakil kelompok independen), perlu ada wakil dari pelaku pariwisata, serta wakil dari pengambil keputusan di Buleleng, seperti anggota DPRD dan Bupati Buleleng. Diskusinya akan lebih menarik, jika ada pihak pro dan kontra. Saya yakin, kita sebenarnya ingin mencari solusi terbaik dari permasalahan kelistrikan yang kita hadapi saat ini. Mari kita bersama-sama berfikir jernih, mengingat kesalahan dalam pengambilan keputusan hari ini, akan berdampak buruk bagi generasi penerus kita di masa datang. Terkadang saya dan beberapa teman di Bandung sering mendiskusikan Bali beserta problematika yang menyelimutinya. Beberapa dari teman kita berpendapat, Bali perlu berfikir jernih, dan untuk sementara waktu tunda proyek-proyek yang ada. Mari bersama-sama kita kaji, apa manfaat dan efek negatif dari proyek yang hendak dibangun bagi masyarakat setempat ? Apabila kita bercermin dari proyek-proyek besar yang telah ada di Bali, rasanya dada kita akan terasa sesak. Proyek mana yang memakmurkan orang Bali. Saya ingin meminta bantuan teman-teman di LP3B, untuk mencari data, berapa banyak orang Bali yang kini menjadi buruh di atas tanah yang dulu bekas miliknya ? Coba kita lihat contoh kasus lapangan Golf yang ada di Pancasari, apakah orang-orang yang dulu adalah pemilik lokasi lapangan Golf tersebut, kini hidupnya berkecukupan, atau bahkan sebaliknya ? Apakah kita rela melihat saudara-saudara kita di Bali hanya menjadi kacung saja ? Coba kita tengok hotel-hotel berbintang yang ada di nusa dua. Kebetulan dalam suatu seminar internasional yang diadakan di Nusa Dua pada tahun 1997 lalu, saya mesti mempresentasikan paper yang saya tulis. Terus terang saya merasa tidak betah di sana, saya melihat banyak teman-teman kita(orang Bali) yang bekerja sebagai Bell Boy, penjaga restoran, dan yang lebih menyesakkan dada, saya melihat dua orang yang sedang memainkan rindik, duduk di bawah, sementara orang lalu lalang, dan terkesan tidak ada yang mengapresiasi mereka. Itulah potret saudara-saudara kita, yang mayoritas hanya menempati posisi level bawah saja. Apabila kita mempertanyakan, berapa banyak orang Bali yang menempati posisi manager ke atas, nampaknya bisa dihitung dengan jari! Sehubungan dengan rencana pembangunan PLTGU, tentu saya juga bisa mengajukan pertanyaan yang sama, apabila memang jadi dibangun, berapa banyak orang Bali yang bisa mengisi posisi menager ke atas ? Saya khawatir nantinya akan terjadi import tenaga kerja dari daerah lain, sementara penduduk lokal hanya bertindak sebagai penonton. Ada satu pertanyaan yang menggelitik saya, dan rasanya mesti saya ajukan pada teman kita Pak Ngurah Adnyana. Saya sempat membaca copy dari AMDAL yang dibuat oleh pihak INDONESIA POWER. Dalam analisa yang mereka buat, disebutkan bahwa umur mesin yang digunakan adalah 20 tahun. Setelah 20 tahun, bisa dipilih dua alternatif. Pertama proyek diteruskan, berarti mesti membeli mesin baru. Kedua proyek dihentikan, dan lokasi bekas PLTGU akan dikembalikan seperti asalnya. Pertanyaan saya, dalam kurun waktu 20 tahun, apakah PLN sudah mempunyai keuntungan, dan bisa invest untuk mesin-mesin baru ? Saya khawatir, di sini terjadi trik dengan tujuan untuk penguasaan lahan di pemaron. Nanti setelah 20 tahun berlalu, lahannya bisa jadi beralih fungsi, dan di atasnya berdiri hotel atau lapangan Golf atau yang lainnya. Kasus yang sama, saya curiga dengan wacana untuk memperpanjang landasan pacu bandara Ngurah Rai. Dengan dalih bahwa kunjungan wisman akan menjadi sekian juta, maka landasan mesti diperpanjang. Alasan ini sebanarnya bisa dikonfrontir dengan satu pertanyaan, berapa kecepatan pesawat pada saat pertama kali menjejakkan rodanya di ujung landasan ? Apabila kecepatannya jauh lebih besar dari kecepatan pesawat penumpang yang ada saat ini(agar logis, dan landasan mesti diperpanjang), kita bisa mengajukan pertanyaan, siapa yang mau naik pesawat seperti itu ? Yang jelas pasti tidak nyaman, penumpang bisa muntah semua. Dalam kasus ini saya melihat bahwa manufer yang dilakukan, hanya sekedar batu loncatan untuk mencapai tujuan yang sebenarnya. Nanti paling-paling berdiri hotel atau lapangan Golf. Kita mesti hati-hati dengan manufer-manufer halus dari kelompok tertentu, yang pada dasarnya hanya ingin mencaplok tanah di Bali. Dalam persaingan antara pemodal besar dan masyarakat setempat(orang Bali), yang mayoritas bermodal kecil, jelas masyarakat setempat akan dilibas! Saya sering melontarkan pendapat, semakin mahal harga tanah di Bali, jika kita tidak hati-hati, maka orang Bali akan semakin cepat terdepak dari tanah kelahirannya. Saya berharap kita mesti mencari bentuk investasi yang baru, dimana masyarakat setempat ikut menikmati proyek yang ada. Bentuk investasinya seperti apa, nah hal itu menjadi PR buat kita semua. Maaf uraian saya agak penjang, mudah-mudahan tidak mengganggu para semeton sinamian. Semoga kedamaian selalu menyertai kita. Om Shanti Shanti Shanti Om =================================== Nyoman Bangsing Engineering Physics Department Bandung Institute of Technology Ganesha 10. Bandung Indonesia Phone/fax : +62-22-2504424/2504424 e.-mail : [EMAIL PROTECTED] =================================== On Mon, 30 Sep 2002, Ngurah Adnyana wrote: > Gde Wisnaya, > Kalau pertanyaan ini saya jawab dan kemudian dipertanyakan lagi dan dijawab > lagi dan diskusinya hanya dua orang, rasanya tidak afektif lagi media ini. > Apalagi kalau sudah mempertanyakan filosofi perencanaan masa lalu yang perlu > penjelasan asumsi-asumsi panjang lebar dimasa lalu pula. Jadi saya tidak > akan menjawab pertanyaan ini. Bila dibutuhkan diskusi panjang lebar,silahkan > dibuat acara khusus untuk berdiskusi ilmiah secara langsung. Dengan senang > hati saya akan berbagi pengetahuan mengenai kelistrikan ini. > salam, > adn > > -----Original Message----- > From: Gde Wisnaya Wisna [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: 01 Oktober 2002 2:54 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [bali] Re: Selamat berjuang > > > Pak Adnyana Ysh, > Saya senang Pak Adnyana bersedia mengembangkan diskusi PLTGU ini dari sudut > pertimbangan teknis, karena dengan demikian kita bisa saling meng-elaborasi > pendapat-pendapat yang berkembang. Pak Adnyana dibidang listrik adalah > senior saya, apalagi sudah berkecimpung 21 tahun di dunia listrik, maka saya > seharusnya manut saja dengan pendapatnya, tapi ada beberapa hal yang masih > mengganjal di pikiran saya yang perlu saya keluarkan sbb: > 1. Pembangunan GI 150 kV dan transmisi 150 kV tentu sudah dipertimbangkan > masak-masak oleh PLN, berapa besar kemampuan/ kapasitasnya menyalurkan > energi listrik. Bahwa sekarang tegangan 150 kV menjadi kendala dalam > mensuplai daya yang lebih besar, itu berarti ada kesalahan estimasi PLN > dalam melihat kebutuhan energi listrik di masa mendatang. Kita tidak tahu > persis sudah berapa lama tingkat tegangan 150 KV digunakan, dan jika > ternyata penggunaannya sekarang ini sudah tidak memadai dan harus diganti > dengan sistem tegangan 500 kv, maka itu berarti terjadi pemborosan > investasi. Akan tetapi untuk skala Pulau Bali dengan kebutuhan listrik > katakanlah 500 MW (Ini masih sepertiga dari PLTGU di Gresik), pemakaian GI > dan SUTET 150 KV masih sangat memadai. > 2. Karena masyarakat Pemaron dan kawasan Lovina sangat menentang pembangunan > PLTGU di sana, maka lokasi Pemaron harus di delete. Jika maksud awal > pembangunan PLTGU di Pemaron adalah untuk menambah pasokan listrik di Bali > untuk mengantisipasi pertambahan beban, maka sekarang tujuan/maksud > pembangunan PLTGU di Bali harus sudah dirubah. Bukan untuk menambah > pasokan/cadangan mampu Bali, tapi untuk substitusi energi listrik yang dari > Jawa, bila sewaktu-waktu kabel bawah laut di selat Bali malfungsi atau > rusak/putus. Maka PLTGU yang akan direncanakan ini berperan sebagai suplai > penggantinya. Dengan tujuan yang berbeda ini, maka lokasi PLTGU tidak harus > di Pemaron. Jika ditempatkan di Gilimanuk, Pak Adnyana mengatakan bahwa itu > berarti konsentrasi pembangkit di Bali bag. Barat akan menjadi sangat besar > dan terjadi inefisiensi dalam penyaluran energi. Sekarang ini di Gilimanuk > masih ada PLTG dengan daya mampu 100 MW, dan kalau rencana PLTGU di Pemaron > dipindahkan ke Gilimanuk, itu berarti baru hanya ada tambahan 150 MW, > sehingga nanti total kapasitas pembangkit di Gilimanuk menjadi 250 MW. > Kapasitas ini masih cukup kecil (bandingkan dengan PLTGU di Gresik 1500 MW > dan di Grati Pasuruan 500 MW). Berarti Gilimanuk belum terkonsentrasi sangat > besar. Selain itu, sistem tegangan di Gilimanuk masih lebih baik dengan > adanya PLTGU tambahan 150 MW disana dibandingkan sistem tegangan yang ada > sekarang dari Transmisi Jawa-Bali, karena drop tegangan dari transmisi > jawa-bali pasti cukup besar setelah sampai di Gilimanuk. Lebih jauh lagi, > setelah PLTGU di Gilimanuk di upgrade menjadi 250 MW, PLN bisa menggunakan > strategi sbb: Untuk kebutuhan energi listrik di wilayah Bali Utara sampai > Baturiti dilayani dengan hasil relokasi PLTGU (150 MW), sedangkan untuk Bali > Selatan seperti sekarang ini. Bila terjadi gangguan dengan kabel bawah laut, > 250 MW dari Gilimanuk beroperasi seperti sebagaimana sekarang. > 3. Pak Adnyana, belakangan ini saya memperoleh data bahwa selama tahun 2002 > tidak terjadi pertambahan beban samasekali (Jan-Juni 2002),dan bahkan sangat > mengejutkan pada bulan Juli dan Agustus terjadi penurunan beban WBP yang > sangat drastis sampai 100 MW. Teman-teman di PLN yang saya tanya mengatakan, > barangkali kondisi tersebut disebabkan oleh kebijakan tarif listrik selama > ini yang setiap 3 bulan naik, sehingga orang makin sadar perlunya > penghematan. Ini berarti sudah automatically terjadi demand side management, > juga ini disebabkan oleh keberhasilan program PLN Bali yang bekerja sama > dengan Philips menggunakan/ menyebarkan lampu hemat energi. > 4. Daripada proyek ini berbenturan dengan masyarakat, bagaimana kalau cepat > dicari solusi terbaik ? Yaitu Gilimanuk dan demand side management. PLN juga > sudah kehilangan banyak waktu dalam upaya meneruskan PLTGU di Pemaron. Saya > hitung sudah lebih dari 2 tahun pro-kontra PLTGU Pemaron ini, dan selama itu > Bali seperti tidak pernah melangkah. Kalau pro-kontra ini diteruskan, > barangkali akan masih dibutuhkan waktu 2 tahun lagi, itu berarti 4 tahun > waktu yang terbuang sia-sia. > > > Sekian dulu. > > Salam > Gde > > > -----Original Message----- > From: Ngurah Adnyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Monday, September 30, 2002 4:32 PM > To: '[EMAIL PROTECTED]' > Subject: [bali] Re: Selamat berjuang > > Gde Wisnaya, > Beberapa informasi tambahan untuk menjawab pertanyaan teknis anda > 1. PLTU Paiton (batubara) saat ini kapasitasnya melebihi kebutuhan Jatim, > shg siap dikirim ke Jawa bag Barat dan Bali. Tetapi pengiriman Power (energi > listrik) memerlukan jaringan transmisi. Khusus untuk ke Bali, pengiriman > power sangat dibatasi oleh kemampuan jaringan transmisi kabel laut Jawa-Bali > 150 KV existing yang hanya bisa menyalurkan 2 x 100 MW. Kalu mau lebih dari > itu harus dibangun kabel laut 150 KV yang ketiga, keempat dst, atau dibangun > transmisi 500 KV baru (sudah ada dalam skenario PLN tetapi belum bisa > dilaksanakan karena tidak tersedia dana investasi). > Power yang berlebih di Paiton ini juga tidak bisa sepenuhnya dikirim ke > Jakarta & Jabar karena transmisi 500 KV jalur selatan Jawa belum selesai shg > terjadi pemadaman listrik di Jakarta tgl 12 - 13 Sept 2002 yll. Ingat ? dan > pemadaman listrik beberapa jam saja pengaruhnya sangat luar biasa, bukan ? > 2. Saya juga sependapat pembangunan pembangkit listrik yang baru di Bali > sangat perlu. Tapi tidak di Gilimanuk karena akan ada konsentrasi sumber > listrik yang sangat besar di Bali bag Barat yang menyebabkan inefisienasi > penyaluran daya listrik dan tegangan di Gianyar dan Karangasem menjadi jelek > sekali. Terlebih lagi bila jaringan transmisi Gilimanuk-Kapal terganggu, > maka power di Bali barat menjadi mubasir dan tidak bisa digantikan oleh > route Gilimanuk- Pemaron-Kapal karena faktor kapasitas hantaran dan jarak. > Pilihan terbaik adalah membangun pembangkit baru di Bali Utara (Pemaron) > atau di Bali Timur (daerah Kubu dsk tapi juga harus membangun Transmisi dan > Gardu Induk baru). > 3. PLN Distribusi Bali telah memberi masukan kpd Pemda Tk I melalui Bappeda > Tk I dalam menyusun pengembangan kelistrikan di Bali masa datang. > > Sekian dulu, salam > adn > > -----Original Message----- > From: Gde Wisnaya Wisna [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: 28 September 2002 21:31 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [bali] Re: Selamat berjuang > > > Sekarang ini polemik PLTGU di Pemaron terus berlangsung, melibatkan banyak > pihak dengan banyak kepentingan mulai dari para pengambil keputusan, > investor, PLN, politisi kabupaten maupun politisi di tingkat desa dan adat, > birokrat, kelian adat, LSM, masyarakat pariwisata, Calo tanah dan > lain-lainnya. Akibatnya, masalah PLTGU ini ibaratnya sudah seperti benang > kusut, yang sulit diurai, dan akhirnya hanya akan melelahkan dan membuang > waktu saja. Jalan satu-satunya adalah menunda saja pelaksanaan rencana ini > agar semua orang yang bermain untuk kepentingan pribadi dan jangka pendek > kecele. > > Mengapa hal seperti ini bisa terjadi ? Karena mismanagemen dalam sosialisasi > dan pelaksanaan AMDAL. Sosialisasi hanya kepada kalangan terbatas, sementara > AMDAL ternyata tidak menyebut samasekali bahwa rona lingkungan awal disana > adalah kawasan wisata, sehingga timbul kesan bahwa lingkungan wisata yang > sudah exist disana selama 30 tahun sengaja disembunyikan. Juga didalam jajag > pendapat yang diadakan oleh Singaraja Pos, ternyata penduduk setempat tidak > mendapatkan angketnya. Informasi yang saya serap langsung dari kawasan > lovina, hal-hal seperti ini membuat mereka marah dan curiga kepada investor > dan pengambil keputusan. Selain itu ijin prinsip dari Bupati ditanda-tangani > oleh Sekda Buleleng ketika Bupati definitif belum ada (masih dijabat oleh > PLT). > > Belum lagi isu-isu money politic di segala tingkatan. Namanya saja isu, > mudah muncul, cepat menjadi konsumsi publik, enak dibicarakan dan digunjing, > menohok lawan. > > Mudah-mudahan ini merupakan masukan untuk Pak Adnyana, there is something > wrong in the very beginning of the project. > > Berikut ini beberapa pertanyaan soal teknis Pak Adnyana. Kita orang teknis > ya sebetulnya lebih senang diskusi tentang teknis. > > 1. Mengenai pertanyaan teman kita Nyoman Bangsing. Mungkinkah PLTU Batubara > di Paiton dllnya di Jawa lebih dioptimalkan lagi sehingga Trans Jawa-Bali > memperoleh tambahan pasokan listrik ? Kalau ini mungkin, maka ini merupakan > solusi yang paling baik. Bagaimanapun, Bali merupakan daerah wisata, > diusahakan segala bentuk pencemaran lingkungan dihindari. > 2. Mengenai lokasi Gilimanuk kurang tepat, saya nggak sependapat. Kalau di > Bali perlu membangun PLTGU, maka tujuannya selain untuk menambah daya mampu > untuk Bali sendiri, juga adalah untuk menjaga-jaga bila suatu saat kabel > bawah laut di selat Bali terputus atau rusak. Jika PLTGU di Gilimanuk > diperbesar lagi sebesar 150 MW, maka daya sebesar ini dapat mengganti suplai > daya dari Jawa. Kalau masalahnya adalah suplai dari bag. Barat terlalu > besar, maka tambahan daya di Gilimanuk bisa disalurkan lewat SUTET > Gilimanuk-Pemaron, sebab selama ini jaringan Gilimanuk-Pemaron masih satu > saluran, jadi bisa ditambahkan satu saluran lagi. > 3. Kedepan, PLN dan Pemprop Bali sudah harus mulai memikirkan infrastruktur > bali utara bagian timur, karena disanalah peluang paling besar untuk > pembangunan pembangkit yang baru. > > Sementara sekian dulu untuk menambahkan wacana kedalam diskusi kita. > > Salam > Gde > > > > -----Original Message----- > From: Ngurah Adnyana [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: Friday, September 27, 2002 7:25 PM > To: '[EMAIL PROTECTED]' > Subject: [bali] Re: Selamat berjuang > > Teman-teman LP3B, > Saya tidak tahu nama saya dimasukkan dalam mail-list LP3B, tapi karena > masalahnya kelistrikan yang menjadi tanggung jawab saya saat ini,saya akan > memberikan penjelasan ttg kelistrikan Bali sesuai pengetahuan saya yang > sudah 21 tahun bekerja di PLN. > Sebelum ditetapkan Pemaron sebagai lokasi PLTGU, terlebih dulu diadakan > studi dan analisis dengan kriteria : 1) keandalan sistim kelistrikan sebagai > kriteria utama, 2)dimungkinkan utk mendapatkan AIR PENDINGIN dalam jumlah > banyak dan 3) dan kemudahan penyaluran bahan bakar minyak (BBM). Ada > beberapa alternatif lokasi dari hasil studi ini a.l. : Gilimanuk (dilokasi > PLTG sekarang), Pemaron, Pesanggaran, Amlapura (lokasi Gardu Iduk) atau Bali > Timur/Kubu. Lokasi Gilimanuk tidak memenuhi syarat karena sumber listrik > akan menjadi sangat besar dari bag barat Bali yaitu Kabel laut 220 MW, PLTG > Gilimanuk 130 MW dan PLTGU 120 MW shg perlu memperbesar kawat tramsmisi > Gilimanuk - Kapal. Amlapura tidak memenuhi karena tdk tersedia air pendingin > dan sulit mensuplai BBM ke lokasi yang tidak berada dipinggir laut. Didaerah > Kubu tidak tersedia jaringan transmisi. Dua alternatif yang tersisalah yang > dipilih. Di Pesanggaran akan ditmbah pembangkit combine cycle 48 MW > melengkapi PLTG yang sudah ada dan lokasi Pemaron 120 MW akan memberi > keuntungan meningkatkan keandalan sistim kelistrikan di Bali Utara pada > khususnya. Ini dari sisi pertimbangan teknis. > Kenapa harus di Pemaron dan bukan di lokasi pinggir pantai Bali Utara > lainnya, karena pertimbangan BIAYA INVESTASI dan WAKTU PELAKSANAAN. Lokasi > Pemaron tidak membutuhkan GARDU INDUK baru dan JARINGAN TRANSMISI baru. > Disamping itu sdh tersedia sebagian besar TANAH utk peruntukan lokasi PLTGU. > Jadi investasi bisa dihemat disaat kita masih terengah-engah saat ini. > Dengan tersedianya tanah, tidak perlu membangun Gardu Induk dan Jaringan > Transmisi. Jadi waktu pelaksanaan menjadi singkat (<1 tahun). > Bisa dipilih alternatif lain, tapi harus mencari investor dulu dgn segala > persyaratannya yang konsekwensinya adalah harga dan waktu. Sedangkan saat > ini saja kalau PLTG Gilimanuk dipelihara, kita sdh defisit daya. > Demikian penjelasan singkat dari saya, semoga menambah wawasan kita semua. > salam, > adn > > > -----Original Message----- > From: Nyoman Bangsing [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: 23 September 2002 12:27 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [bali] Re: Selamat berjuang > > > > Selamat bertemu lewat mail. Saya senang mendengarkan usulan dari teman > kita Gede Wisnaya. Bahwa Bali perlu listrik, memang ya, hanya saja > lokasinya tidak mesti di Pemaron. > Apabila dimungkinkan, kita justru tidak perlu membangun di Bali. Kenapa > tidak dioptimalkan kapasitas PLTU Paiton atau PLTU lainnya ? > > Dalam pemilihan lokasi, nampaknya kita perlu berkonsultasi dengan pihak > sosiolog maupun antropolog. Kenapa demikian ? > Bali Utara menyimpan peninggalan antropologi yang belum tergali. Jangan > sampai proyek yang dibangun, justru menempati lokasi dimana ada > situs-situs arkeologi. Sebagai contoh, misalkan daerah kubutambahan, > disana ada pura penegil dharma. Di Gilimanuk juga pernah diketemukan > artefak, berarti memilih Gilimanuk, juga mesti hati-hati. > > Hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu sebisa mungkin dikedepankan > prinsip win-win solution. Pihak pihak yang terlibat tidak boleh ada yang > dirugikan. Bila ada pihak yang dirugikan, seyogyanya proyek dibatalkan. > Apabila kita berangkat dari konsep ini, jelas PLTGU tidak boleh dibangun > di Pemaron. Alasannya, yah pasti banyak pihak yang dirugikan. > > Hari ini kebetulan saya mengisi acara interaktif yang diprakarsai RRI > Singaraja, kebetulan topiknya juga PLTGU Pemaron. Dalam acara tersebut > saya sampaikan bahwa saya tidak setuju bila PLTGU dibangun di Pemaron. > > Ada baiknya juga kita mesti memberi informasi yang lengkap tentang PLTGU. > Jangan sampai masyarakat beranggapan bahwa PLTGU ini tak ubahnya hewan > jinak saja. Kita tahu bersama, memang tersedia perangkat safety dan > shutdown system yang bisa dihandalkan untuk tujuan keamanan operasional > PLTGU. Hanya saja kita tidak boleh lupa, mengingat dalam kenyataannya > tidak akan ada safety system yang 100 % aman. Bila terjadi kesalahan > fatal, dan mengingat di areal PLTGU akan ada Tank Storage untuk bahan > bakar yang digunakan, maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi ? > Tidak tertutup kemungkinan akan terjadi ledakan dahsyat disertai kobaran > api besar, dan dalam radius beberapa kilometer dari lokasi kejadian mesti > dikosongkan. Penduduk mesti diungsikan, jika tidak yah bisa dikira-kira > akibatnya. > Dalam kaitan ini, perlu juga dipertimbangkan berapa jauh lokasi yang > dipilih, terhitung dari Hutan Lindung Bali Barat ? > Bila terjadi kesalahan yang paling buruk, misal kebakaran besar, jangan > sampai Hutan lindungnya nanti terbakar ludes. > > Usul saya, LP3B mungkin perlu memberikan informasi sisi positif dan > negatif dari pembangunan PLTGU. Atau sudah dilakukan ? > > Saya kira segitu dulu dari saya, lain kali disambung lagi. > > Salam sejahtera > Nyoman Bangsing > Purnawarman 45. Bandung > > > On Mon, 23 Sep 2002, Gde Wisnaya Wisna wrote: > > > Halo Robin, > > > > Anda yang pertama menulis email dalam forum ini. Dan bola yang pertama > anda > > tendang ini: Masalah PLTGU di Pemaron memang menjadi PR berat-berat ringan > > bagi LP3b Buleleng. > > > > Kita tahu sekarang ini rencana PLTGU di Pemaron telah menimbulkan > pro-kontra > > di Buleleng, ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Yang setuju > melihat, > > bahwa Bali membutuhkan listrik tambahan karena permintaan akan listrik di > > Bali cukup tinggi (13 %/tahun) dan pasokan listrik dari Jawa sangat > rentan, > > sehingga kalau kabel bawah lautnya putus maka riwayat pariwisata bisa > > terancam. Saya kira, kalau dari sudut pandang ini, maka semua orang Bali > > pasti setuju, bahwa Bali perlu PLTGU. > > > > Tapi bagi yang kontra, mereka melihat soal penempatan PLTGU tersebut. > Mereka > > kontra terhadap lokasi di Pemaron karena Pemaron adalah daerah wisata, > > sehinggap jika disana ada PLTGU maka pencemaran yang ditimbulkan oleh > PLTGU > > tersebut akan menghancurkan kehidupan wisata disana. Kita tahu bahwa > > infrastruktur wisata di Pemaron dan sekitarnya (Kalibukbuk, Kaliasem, > > Lovina) dibangun oleh pemodal-pemodal kecil, oleh masyarakat sekitarnya, > dan > > secara bertahap selama kurang lebih 30 tahun. Jadi sangat bisa dipahami > > mengapa komponen wisata disana (PHRI) menolak lokasi Pemaron. Juga bukan > > hanya PHRI yang menolak, ada 6 masyarakat desa adat disana menolak karena > > alasan yang sama. Dengan demikian sangat bisa dipahami kekhawatiran ini. > > > > Jika dua pendapat ini ingin dipertemukan, maka pasti akan kesulitan. Maka > > jalan keluar yang diperlukan adalah, bangun PLTGU di Bali tapi jangan di > > Pemaron. LP3B Buleleng mengusulkan Gilimanuk sebagai pilihan, karena > disana > > sudah ada juga Gardu Induk, dan tempatnya jauh dari pemukiman. PLTG yang > ada > > sekarang di Gilimanuk cukup jauh dari pemukiman. Jika PLTGU yang > rencananya > > di Pemaron bisa dipindahkan ke Gilimanuk, maka polemik pro-kontra PLTGU > > Pemaron sudah bisa selesai. > > > > Pak Robin, kapan kita bisa bertemu di darat ? > > > > Salam > > Gde > > > > -----Original Message----- > > From: edi robin [mailto:[EMAIL PROTECTED]] > > Sent: Sunday, September 22, 2002 8:51 PM > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [bali] Selamat berjuang > > > > > > Pendeklarasian LP3B Buleleng saya kira sangat > > strategis jika dilihat dari formasi anggotanya dan PR > > yang pertama adalah Proyek PLTGU yang kebetulan LP3B > > dipilih sebagai LSM yang ikut berangkat meninjau > > proyek itu ke Gersik dan Grati....! > > Sekarang tinggal teman-teman di LP3B yang berpikir > > sesuai bahan yang dibawa Bli Wis.. > > Selamat berjuang untuk membangun Bali > > > > Robin > > [EMAIL PROTECTED] > > 08123650168 > > > > > > __________________________________________________ > > Do You Yahoo!? > > Everything you'll ever need on one web page > > from News and Sport to Email and Music Charts > > http://uk.my.yahoo.com > > > > -- > > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > > > > > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > > Khusus Pelanggan Telepon DIVRE 2, Tekan 166 untuk mendengarkan pesan > Anda > > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > > > -- > > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > > > > > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > Khusus Pelanggan Telepon DIVRE 2, Tekan 166 untuk mendengarkan pesan Anda > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > Khusus Pelanggan Telepon DIVRE 2, Tekan 166 untuk mendengarkan pesan Anda > > -------------------------------------------------------------------------- -- > -- > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia > > -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> ------------------------------------------------------------------------------ > Khusus Pelanggan Telepon DIVRE 2, Tekan 166 untuk mendengarkan pesan Anda ------------------------------------------------------------------------------ -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
