Pak Wis,
Terima kasih karena telah memasukkan saya kedalam
Milis Bapak dan semuanya telah saya baca. Saya ini
cuma pensiunan, yang hanya punya gelar � SE MBA KO�,
tapi gelar itu saya peroleh di toko SEMBAKO.
Soal PLTGU, dari awal saya telah mencium bau amis
( It smells something fishy ) bahkan saya telah
menulis karangan tentang itu, yang foto copynya saya
bagikan kepada teman-teman. Awalnya, waktu Bapak
Wirata Sindhu masih �nyeneng ratu� dikeluarkan
rekomendasi setuju kepada Indonesia Power. Lalu
komponen pariwisata protes, saya salah satu
diantaranya. Bahkan menghadap Gubernur, sayang tidak
bisa diterima langsung oleh beliau. Diadakan rapat.
Bupati mengakui bahwa �beliau kecolongan� karena
percaya saja kepada staffnya yang membuat surat itu.
Rekomendasi itu lalu dimentahkan. Diadakan presentasi
oleh Indonesia Power. Saya hadir. Waktu dijelaskan
tentang bagaimana solar akan dibawa dari laut, saya
sudah menyampaikan keraguan saya, belajar dari
pengalaman Candidasa. Karena saya bukan orang teknik,
hanya bertitel SEMBAKO, rupanya tidak ada yang dengar.
Ternyata dalam setiap pemberitaan dan expose, yang
ditonjolkan adalah bahwa kebisingan dan air limbah
bisa diatasi, tetapi bagaimana solar akan disalurkan
selalu tidak disebut. Dan yang selalu diketengahkan
bahwa kalau proyek ini ditolak, Bali akan gelap.
Ditambah lagi iming-iming Pemkab akan menerima sekian
prosen dari penjualan listrik. Diadakan peninjuan ke
Gersik, saya dimasukkan yang ikut, saya menolak. I
smell something fishy. Kepada yang ikut, katanya
diberi uang saku Rp, 200.000,- ( cukup untuk
kekompleks, maksud saya kompleks industri ). DPRD
sendiri setuju, kemudian Ketuanya setuju, setelah ada
demo, lagi tidak setuju. Rupanya masyarakat sekarang,
sengaja atau tidak sengaja, telah dipecah menjadi dua
kubu : kubu menolak dan kubu mendukung. Bahkan dimass
media ada orang ngomong: jangan meng-eksklusifkan
pariwisata.
Saya pernah ngomong, Pemda Bali menetapkan Lovina,
termasuk Pemaron, sebagai kawasan pariwisata, artinya
kawasan itu diperuntukkan untuk penyediaan prasarana
dan sarana pariwisata. Semua pembangunan yang tidak
sejalan dengan peuntukkan ini harus dilarang.
Pembangunan PLTGU, jelas dan tidak usah cari balian,
meluasang, bertentangan dengan Perda ini. Kalau
pemerintah, baik Pemprop.Bali maupun Kab Buleleng
menyetujui berarti Pemerintah sendiri melanggar aturan
yang dibuatnya. Lalu kalau yang buat melanggar,
siapakah yang diharapkan akan menghormatinya? Rakyat?
Lalu negara kita menjadi �lawless� dan konsekwensinya
akan luas sekali. Dihitung dari sumbangan PLTGU (
itupun kalau benar, biasanya kalau perlu kan banyak
janji ) yang mungkin lebih besar dibanding Pajak Hotel
dan Restoran ( PHR) Lovina, itu pikiran yang sangat,
sangat picik. Pariwisata tidak bisa dihitung dari
PHR-nya saja, berapa orang yang bekerja dari sektor
itu. Pariwisata telah mendorong pertumbuhan ekonomi.
Masalah listrik ini masalah Bali, bukan hanya
Buleleng. Mengapa hanya Buleleng yang harus berkorban?
Itu pendapoat saya sebagai orang yang kerjanya jual
kondom di Lovina. Kita juga sudah mendengar, seperti
waktu di warung Bambu, bahwa secara teknis, kalau
proyek ini dibangun di Pemaron, akan pasti
menghancurkan Lovina. Padahal, banyak solusi untuk
masalah ini. Listrik tetap bisa diperoleh dan Lovina
bisa diselamatkan, akan tetapi saya khawatir selama
negara ita masih menyandang gelar �the most corrupt
country in the world�, that possibility will be very
very remote.
Saya tadinya mengirim Email dengan alamat saya
diwasantara.net, tapi sukar koneknya, maka saya
mereply Email Bapak memalui Yahoo. Suwela.
Pak Wis,
Terima kasih karena telah memasukkan saya kedalam
Milis Bapak dan semuanya telah saya baca. Saya ini
cuma pensiunan, yang hanya punya gelar � SE MBA KO�,
tapi gelar itu saya peroleh di toko SEMBAKO.
Soal PLTGU, dari awal saya telah mencium bau amis
( It smells something fishy ) bahkan saya telah
menulis karangan tentang itu, yang foto copynya saya
bagikan kepada teman-teman. Awalnya, waktu Bapak
Wirata Sindhu masih �nyeneng ratu� dikeluarkan
rekomendasi setuju kepada Indonesia Power. Lalu
komponen pariwisata protes, saya salah satu
diantaranya. Bahkan menghadap Gubernur, sayang tidak
bisa diterima langsung oleh beliau. Diadakan rapat.
Bupati mengakui bahwa �beliau kecolongan� karena
percaya saja kepada staffnya yang membuat surat itu.
Rekomendasi itu lalu dimentahkan. Diadakan presentasi
oleh Indonesia Power. Saya hadir. Waktu dijelaskan
tentang bagaimana solar akan dibawa dari laut, saya
sudah menyampaikan keraguan saya, belajar dari
pengalaman Candidasa. Karena saya bukan orang teknik,
hanya bertitel SEMBAKO, rupanya tidak ada yang dengar.
Ternyata dalam setiap pemberitaan dan expose, yang
ditonjolkan adalah bahwa kebisingan dan air limbah
bisa diatasi, tetapi bagaimana solar akan disalurkan
selalu tidak disebut. Dan yang selalu diketengahkan
bahwa kalau proyek ini ditolak, Bali akan gelap.
Ditambah lagi iming-iming Pemkab akan menerima sekian
prosen dari penjualan listrik. Diadakan peninjuan ke
Gersik, saya dimasukkan yang ikut, saya menolak. I
smell something fishy. Kepada yang ikut, katanya
diberi uang saku Rp, 200.000,- ( cukup untuk
kekompleks, maksud saya kompleks industri ). DPRD
sendiri setuju, kemudian Ketuanya setuju, setelah ada
demo, lagi tidak setuju. Rupanya masyarakat sekarang,
sengaja atau tidak sengaja, telah dipecah menjadi dua
kubu : kubu menolak dan kubu mendukung. Bahkan dimass
media ada orang ngomong: jangan meng-eksklusifkan
pariwisata.
Saya pernah ngomong, Pemda Bali menetapkan Lovina,
termasuk Pemaron, sebagai kawasan pariwisata, artinya
kawasan itu diperuntukkan untuk penyediaan prasarana
dan sarana pariwisata. Semua pembangunan yang tidak
sejalan dengan peuntukkan ini harus dilarang.
Pembangunan PLTGU, jelas dan tidak usah cari balian,
meluasang, bertentangan dengan Perda ini. Kalau
pemerintah, baik Pemprop.Bali maupun Kab Buleleng
menyetujui berarti Pemerintah sendiri melanggar aturan
yang dibuatnya. Lalu kalau yang buat melanggar,
siapakah yang diharapkan akan menghormatinya? Rakyat?
Lalu negara kita menjadi �lawless� dan konsekwensinya
akan luas sekali. Dihitung dari sumbangan PLTGU (
itupun kalau benar, biasanya kalau perlu kan banyak
janji ) yang mungkin lebih besar dibanding Pajak Hotel
dan Restoran ( PHR) Lovina, itu pikiran yang sangat,
sangat picik. Pariwisata tidak bisa dihitung dari
PHR-nya saja, berapa orang yang bekerja dari sektor
itu. Pariwisata telah mendorong pertumbuhan ekonomi.
Masalah listrik ini masalah Bali, bukan hanya
Buleleng. Mengapa hanya Buleleng yang harus berkorban?
Itu pendapoat saya sebagai orang yang kerjanya jual
kondom di Lovina. Kita juga sudah mendengar, seperti
waktu di warung Bambu, bahwa secara teknis, kalau
proyek ini dibangun di Pemaron, akan pasti
menghancurkan Lovina. Padahal, banyak solusi untuk
masalah ini. Listrik tetap bisa diperoleh dan Lovina
bisa diselamatkan, akan tetapi saya khawatir selama
negara ita masih menyandang gelar �the most corrupt
country in the world�, that possibility will be very
very remote.
Saya tadinya mengirim Email dengan alamat saya
diwasantara.net, tapi sukar koneknya, maka saya
mereply Email Bapak memalui Yahoo. Suwela.
--- Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya pribadi jujur mengakui bahwa saya selalu senang
> mendengarkan Gde
> Madalila berbicara. Waktu itu dia sempat mampir ke
> toko dan banyak diskusi
> dengan saya tentang kehidupan, dan saya merasa lebih
> banyak menerima masukan
> yang sangat bermanfaat. Bahkan saya sudah banyak
> mencoba menerapkan
> konsep-konsepnya. Hanya saja saya belum mampu se
> revolusioner dia dalam
> menjalani hidup ini. Maklum belum ada celengan untuk
> anak dan istri :))
>
> Juga dalam komentarnya kali ini banyak benarnya.
> Jika Sang Hyang Paramakawi
> tidak menghendaki sesuatu terjadi, maka pasti tidak
> akan terjadi sesuatu.
> Ekstrimnya, selembar daunpun tidak mungkin akan
> jatuh dari rantingnya jika
> tidak dikehendakiNYA. Nah kalau kita tarik garis
> ekstrapolasi contoh
> tersebut ke PLTGU di Pemaron ? Kira-kira apa
> kesimpulannya ? Ya, kalau Tuhan
> menghendaki bahwa di Pemaron akan ada PLTGU, maka
> jadilah PLTGU disana, dan
> sebaliknya bila tidak dikehendaki oleh Tuhan, maka
> niscaya rencana tersebut
> akan batal. Kalau begitu, darimana dan bagaimana
> kita bisa mengetahui
> kehendak Tuhan ? Tuhan tidak akan membocorkannya !
> Dalam kaitan ini, maka
> pada tempatnya usaha dan upaya dilakukan, baik bagi
> mereka yang sudah
> merencanakan maupun bagi yang tidak setuju.
>
> Bahwa hasilnya akan berbeda dengan upaya yang
> dilakukan, maka itulah
> kehendak Tuhan. Saya kira begitu ya Gde Madalila.
>
> Salam
> Wis
>
> -----Original Message-----
> From: gmm01 [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Tuesday, October 01, 2002 2:00 PM
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [bali] Re: Selamat berjuang
>
> Dear Nyoman Bangsing dan teman-teman sadayana,
>
> Perdebatannya sangat bagus untuk mendapatkan solusi
> terbaik bagi Bali
> khususnya Buleleng (istrinya Pakleleng??). Tapi
> karena saya orang awam
> tentang teknik (pengalaman kurang, sekolahan juga
> ngasal)maka saya nimbrung
> sedikit tentang bagaimana kita menempatkan 'kami'
> dan 'mereka'dalam konteks
> pembangunan apa saja. Kalau Bangsing melihat orang
> Bali hanya menjadi
> pegawai rendahan saja di Bali dan mengeluh karena
> itu, maka diluar Bali
> banyak juga yang akan mengeluh karena orang lokal
> jadi kulinya dan orang
> Bali banyak yang jadi Boss-nya (termasuk Bangsing
> sendiri khan?). Mari kita
> berangkat dari pemikiran yang jernih dan landasan
> spiritual yang telah
> banyak kita kenal seperti Tat Twam Asi. Kita lahir
> menjadi orang Bali pasti
> ada tugas khusus dari 'Dia' untuk lebih
> memperhatikan orang Bali karena
> itulah hukum Rta yang berlaku di Bumi ini. Tapi
> jangan sampai kita melupakan
> Tat Twam Asi, dengan demikian dimanapun kita
> berkiprah tidak akan
> menyebabkan wawasan kita menjadi sempit. Jangan lupa
> apapun yang terjadi
> pada kita, itu semua karena keberadaan kita juga (
> di Bali terkenal istilah
> .. ooo ne iyange mekade, istilah ini betul sekali,
> bukan Hyang Kompiyang,
> tetapi iyang...diri sendiri yang mekade. Coba lu
> kagak ade mana mungkin
> masalah muncul). Janganlah terlalu khawatir, kalau
> Ida Sang Hyang Widhi
> tidak menghendaki, not even a single leave will
> moves, kita semua berusaha
> memerankan peran kita sesuai dengan hukum Rta dan
> Karmaphala. Kalau anjing
> itu sifatnya memang suka menggonggong, maka manusia
> kebanyakan menggunakan
> 'mindnya' dan sesekali menggonggong juga tapi sangat
> kreatif tentunya.
> Setiap kali manusia mengintervensi alam walaupun
> dengan keinginan
> memperbaikinya yang terjadi selalu kerusakan, semua
> itu karena 'desire' kita
> yang tidak tak terbatas sedangkan resources untuk
> fulfill desire itu limited
> adanya. After all, Be joyful and share your joy with
> others.
> Kanggoang amonto malu sharingnya, apang sing
> enggalan wadih timpale mace.
>
> Namaste, (artinya: aku bersujud kepada Dia yang
> bersemayam didalam dirimu)
> Gede Madalila
>
> -----Original Message-----
> From: Nyoman Bangsing [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: Monday, September 30, 2002 5:04 PM
> To: '[EMAIL PROTECTED]'
> Subject: [bali] Re: Selamat berjuang
>
>
> Ysh. Bapak Ngurah Adnyana dan Gde Wisnaya
>
> Saya kira diskusi diantara kita masih perlu
> dikembangkan. Apabila diskusi
> yang ada ingin diangkat ke forum yang lebih luas,
> kita bisa saja mengisi
> acara interaktif yang dilakukan oleh RRI Singaraja.
> Kita bisa meminta
> bantuan teman kita untuk memprakarsai acara
> tersebut. Sebagai narasumber
> kita minta Ngurah Adnyana(sebagai wakil PLN), dan
> beberapa teman di
> LP3B(wakil kelompok independen), perlu ada wakil
> dari pelaku pariwisata,
> serta wakil dari pengambil keputusan di Buleleng,
> seperti anggota DPRD dan
> Bupati Buleleng. Diskusinya akan lebih menarik, jika
> ada pihak pro dan
> kontra. Saya yakin, kita sebenarnya ingin mencari
> solusi terbaik dari
> permasalahan kelistrikan yang kita hadapi saat ini.
> Mari kita bersama-sama
> berfikir jernih, mengingat kesalahan dalam
> pengambilan keputusan hari ini,
> akan berdampak buruk bagi generasi penerus kita di
> masa datang.
>
> Terkadang saya dan beberapa teman di Bandung sering
> mendiskusikan Bali
> beserta problematika yang menyelimutinya. Beberapa
> dari teman kita
> berpendapat, Bali perlu berfikir jernih, dan untuk
> sementara waktu tunda
> proyek-proyek yang ada. Mari bersama-sama kita kaji,
> apa manfaat dan efek
> negatif dari proyek yang hendak dibangun bagi
> masyarakat setempat ?
> Apabila kita bercermin dari proyek-proyek besar yang
> telah ada di Bali,
> rasanya dada kita akan terasa sesak. Proyek mana
> yang memakmurkan orang
> Bali. Saya ingin meminta bantuan teman-teman di
> LP3B, untuk mencari data,
> berapa banyak orang Bali yang kini menjadi buruh di
> atas tanah yang dulu
> bekas miliknya ?
> Coba kita lihat contoh kasus lapangan Golf yang ada
> di Pancasari, apakah
> orang-orang yang dulu adalah pemilik lokasi lapangan
> Golf tersebut, kini
> hidupnya berkecukupan, atau bahkan sebaliknya ?
> Apakah kita rela melihat saudara-saudara kita di
> Bali hanya menjadi kacung
> saja ?
> Coba kita tengok hotel-hotel berbintang yang ada di
> nusa dua. Kebetulan
> dalam suatu seminar internasional yang diadakan di
> Nusa Dua pada tahun
> 1997 lalu, saya mesti mempresentasikan paper yang
> saya tulis. Terus terang
> saya merasa tidak betah di sana, saya melihat banyak
> teman-teman
> kita(orang Bali) yang bekerja sebagai Bell Boy,
> penjaga restoran, dan yang
> lebih menyesakkan dada, saya melihat dua orang yang
> sedang memainkan rindik,
> duduk di bawah, sementara orang lalu lalang, dan
> terkesan tidak ada yang
> mengapresiasi mereka.
>
> Itulah potret saudara-saudara kita, yang mayoritas
> hanya menempati
> posisi level bawah saja. Apabila kita
> mempertanyakan, berapa banyak orang
> Bali yang menempati posisi manager ke atas,
> nampaknya bisa dihitung dengan
> jari!
> Sehubungan dengan rencana pembangunan PLTGU, tentu
> saya juga bisa
> mengajukan pertanyaan yang sama, apabila memang jadi
> dibangun, berapa
> banyak orang Bali yang bisa mengisi posisi menager
> ke atas ?
> Saya khawatir nantinya akan terjadi import tenaga
> kerja dari daerah lain,
>
=== message truncated ===
__________________________________________________
Do you Yahoo!?
Faith Hill - Exclusive Performances, Videos & More
http://faith.yahoo.com
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>