Pak Wismaya dan rekan di milis ini, Saya kirim reply ini dari Warnet di Solo, karena saya kebetulan berada di Solo menghadiri Rakernas PHRI I 2002 mulai tanggal 14 - 17 Oktober 2002. Sejak awal. yang menjadi pokus adalah tragedi Bali ( disebut Bali Tragedy atau Black October ), yang sangat menghancurkan bukan saja pariwisata di Bali bahkan diseluruh Indonesia. Beberapa event diluar Bali yang sudah direncanakan lama, terpaksa dibatalkan seperti Borobudur Travel Mart. Pak Menteri Budpar sendiri ( Pak Ardika )dalam sambutannya mengatakan bahwa tragedi ini adalah "kejahatan kemanusiaan". Buleleng sendiri, yang disibukkan dengan PLTGU, yang belum pasti ujung pangkalnya, kena musibah baru. Apa dosa kita semua. Memang perlunya semua orang instropeksi. Pemerintah yang membuat peraturan, Pemerintah pula yang melanggarnya. Pemimpin membuat pernyataan yang tidak pernah konsisten. Mereka yang dipercaya oleh rakyat tidak lagi punya rasa malu untuk membohongi rakyat. Dalam Rakernas PHRI, yang menarik semua peserta anggota PHRI dari seluruh Indonesia, telah melemparkan kejengkelannya bahwa dengan OTDA telah lahir raja-raja kecil di daerah, yang dipikirkan hanya menaikkan PAD,PAD,PAD, yang didukung oleh wakil-wakil yang kita pilih. Pendapat PHRI dalam Rakernas, anggota PHRI diperas demi untuk PAD, yang setelah terkumpul tidak ada lagi yang disisihkan untuk memelihara sumbernya yaitu pariwisata itu sendiri. Tapi kami bangga sebentar lagi kita akan punya gedung wakil rakyat yang super megah, sedangkan yang lama saja tidak berfungsi seperti yang diharapkan. Dengan tragedi Bali. ini semoga kita tidak lupa dengan kasus PLGU, dengan mesin berumur 30 tahun dibawa ke Bali. Kalau toh akhirnya PLGU ini jalan terus lengkaplah pula bencana yang harus menimpa insan pariwisata Buleleng. Ibarat sapi yang telah diperas hingga kurus kering, sekarang hanya tinggal BANGKAI SAPI. Dan saya hanya bisa berkata " NASIB". Sekian. Nyoman Suwela --- Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Berikut ini adalah sedikit catatan dari pertemuan > ilmiah PLTGU di Hotel Bali > Taman, Lovina. > Catatan ini khususnya ditujukan kepada rekans yang > tidak sempat hadir. > Bagi rekans yang hadir, silahkan tambahkan bila ada > yang kurang. > > > Tentang yang hadir: > > 1. Pembicara dari PT. Indonesia Power tidak hadir. > Ketidak hadirannya > disampaikan secara mendadak pada hari Kamis pagi > melalui Faximile ke LP3B. > Absennya PT Indonesia Power sangat mempengaruhi arah > diskusi yang > diharapkan, karena dengan demikian banyak hal teknis > perencanaan PLTGU yang > perlu klarifikasi tidak berhasil dibahas. > 2. PT. PLN Distribusi Bali diwakili oleh Ir. > Haryanto WS (Planning Manager). > Bp. Ir. Ngurah Adnyana tiba-tiba juga punya acara > penting di Denpasar, > sehingga tidak bisa ke Singaraja. Dengan demikian > hanya ada 2 narasumber > dalam acara ini, yaitu dari PT. PLN Distribusi Bali > dan LP3B Buleleng. > 3. Bapak Bupati dan Wakil Bupati juga tidak hadir > dan hanya diwakili oleh > Staf Ahli Teknik, Bp. Ir Beteng Wismaya. > 4. Pimpinan Komisi A, B, D dan E DPRD Buleleng > hadir. > 5. Ada sekitar 60 orang yang hadir meliputi berbagai > komponen adat sekitar > Pemaron dan Lovina, Kelian Desa Adat Buleleng, Forum > Komunikasi Peduli > Buleleng , PT. PLN Singaraja, LP3B, PHRI, UniPas, > IKIP, wartawan Bisnis > Bali, RRI, expert dari Jerman dll. > > > Resume dari narasumber PT.PLN Distribusi Bali: > > 1. Pada tahun 2000 ke 2001 terjadi pertumbuhan beban > 13,75 %, tetapi dari > 2001 ke 2002 (semester pertama) hanya ada > pertumbuhan 8,2 %. > 2. Beban puncak tanggal 2 Oktober 2002 sebesar 352 > MW pada malam hari. > 3. Daya mampu Bali 450 MW > 4. Skenario terbatas sistem Bali: Untuk tahun 2002, > pertumbuhan 9,8 %, maka > cadangan mampu sebanyak 80 MW dan Cadangan N-1 > menjadi -50 MW. Untuk tahun > 2003, pertumbuhan 4,9 %, maka cadangan mampu > sebanyak 62 dan Cadangan N-1 > adalah -68 MW. Yang dimaksud dengan Cadangan N-1 > adalah apabila PLTG di > Gilimanuk mengalami kerusakan atau overhaul. > 5. Skenario medium sistem Bali: Untuk tahun 2002, > pertumbuhan 11,9 %, maka > cadangan mampu sebanyak 73 MW dan Cadangan N-1 > menjadi -57 MW. Untuk tahun > 2003, pertumbuhan 10,88 %, maka cadangan mampu > sebanyak 32 dan Cadangan N-1 > adalah -98 MW. Yang dimaksud dengan Cadangan N-1 > adalah apabila PLTG di > Gilimanuk mengalami kerusakan atau overhaul. > > > Resume dari narasumber LP3B Buleleng: > > 1. Titik kritis sistem kelistrikan Bali: Kabel bawah > laut, dan Kapasitas > pembangkit yang cukup besar di Gilimanuk yaitu 130 > MW hanya 1 unit. > 2. Titik lemah sistem kelistrikan di Bali: Lahan > yang mahal di Denpasar, > khususnya di Pesanggaran, Tidak adanya GI dan > jaringan transmisi di Bali > Utara bagian timur, Sistem Jaringan dari Gilimanuk > ke Pemaron hanya satu > saluran, sedikit sekali GI yang dekat laut, Banyak > GI di Kawasan Wisata. > 3. Problem Bali adalah beban pada malam hari, > sementara beban siang hari > masih sangat mencukupi. > 4. Jika pembangunan PLTGU berbenturan dengan kawasan > wisata, haruskah > dipaksakan ??? > 5. Solusi terbaik untuk Bali: Hindarkan pembangkit > listrik yang berbenturan > dengan kawasan wisata, tambah dan perbesar kabel > bawah laut karena listrik > Paiton cukup besar, bangun GI dan transmisi di > wilayah Bali Utara bagian > Timur, PLTG Pesanggaran dan Gilimanuk dikembangkan > menjadi PLTGU, pindahkan > rencana PLTGU di Pemaron ke Gilimanuk. > 6. Posisi PLTGU di Gilimanuk akan berfungsi selain > sebagai untuk tambahan > pasokan Bali, juga untuk cadangan bila Kabel bawah > laut terputus atau PLTG > Gilimanuk yang sekarang mengalami perbaikan. > 7. Insan Bali jangan melakukan hal-hal ironi. Bali > hidup dari wisata, tetapi > ketika pembangunan pembangkit listrik itu dapat > mengancam kehidupan wisata > di Lovina, mengapa harus dipaksakan ? > Diskusi yang berkembang: > 1. Ketua Komisi A DPRD Buleleng mempertanyakan > ketidak-hadiran PT. Indonesia > Power, dan mempertanyakan apakah diskusi perlu > dilanjutkan ? Namun demikian, > sebagian besar peserta yang hadir menganggap perlu > diskusi dilanjutkan, > setidakya diskusi yang berkembang ini dapat > dijadikan masukan kepada > pemerintah daerah melalui Bp. Ir. Beteng Wismaya. > 2. Mengapa PLN merencanakan pembangkit ini > berdasarkan 'by accident' dan > bukan 'by design' dan kesannya tambal sulam. Mengapa > tidak ada transparansi > dari PLN mengenai semua rencana yang dibuat untuk > Pemaron. > 3. Pemaron dalam 5-10 tahun mendatang sudah berada > di dalam keramaian kota, > karena perkembangan kota Singaraja sudah mengarah > kesana. Secara perencanaan > jangka panjang, lokasi Pemaron tidak cocok untuk > PLTGU. > 4. Mengapa kebutuhan listrik Bali tidak disiapkan > untuk 10-15 tahun kedepan > ? PLTGU yang akan direncanakan ini hanya untuk > mengatasi persoalan listrik > dalam 2 tahun saja, setelah itu apakah harus > membangun pembangkit berikutnya > ? > 5. Mengapa bukan kabel bawah laut saja yang > dioptimalkan, yaitu dengan > menambah kabel yang ada sekarang, karena biaya untuk > membangun/memasang > tambahan kabel bawah laut jauh lebih murah > dibandingkan dengan relokasi > PLTGU Tanjung Priok ke Pemaron. > 6. Menjadi pertanyaan besar, mengapa pihak PT. > Indonesia Power ngotot > menempatkan PLTGU di Pemaron ? > 7. Mengapa pihak PT. Indonesia Power tidak pernah > mengatakan, bahwa > pembangkit yang akan dipindahkan ke Pemaron adalah > pembangkit yang sudah > tua, yang telah terpasang di Tanjung Priok sejak > tahun 1972. Bagaimana > kondisi pembangkit itu sekarang ? > 8. Mengapa studi banding dilakukan ke Gresik dan > Grati, tetapi tidak ke > Tanjung Priok ke tempat mesin yang akan dipindahkan > itu ? > 9. Sistem pemasokan minyak dari laut dengan > mengandalkan pipa yang terbenam > di dasar laut juga dipertanyakan oleh sebagian > peserta, terutama > keandalannya, bahaya kebocorannya dll. Cara yang > paling aman dlam suplai > minyak solar melalui laut adalah dengan dermaga, > bukan melalui pipa yang > menjorok 400 m ke tengah laut. > 10. Jika ada pembangkit di suatu daerah, itu berarti > daerah tersebut dan > sekitarnya dengan radius 1 km merupakan daerah > berbahaya (danger area), dan > jika itu berada didaerah wisata, berarti daerah > wisata itu termasuk danger > area, sehingga bisa dibayangkan jika akhirnya daerah > seperti itu kurang > disukai oleh wisatawan. > 11. Pemerintah Kabupaten Buleleng sepertinya sedang > mencari alasan yang > tepat untuk menolak PLTGU, namun sampai sekarang > masih mengambangkannya. > Menjadi pertanyaan, apakah pemerintah Buleleng belum > menemukan alsan yang > tepat ? > 12. Persoalan listrik Bali seharusnya dipikirkan > oleh pemerintah tingkat I > Bali atau bersama-sama dengan seluruh pemerintah > kabupaten di Bali, dan > jangan hanya dibebankan kepada pemerintah Buleleng. > > Demikian kira-kira pokok-pokok pemikiran yang > berkembang saat diskusi. Mohon > maaf kalau resume ini agak terlambat, karena sempat > dikagetkan dengan > peristiwa tragedi Kuta 12 Oktober yang lalu. > Mohon tanggapan, dan tambahannya bila ada yang belum > tertulis. > Salam > Gde Wisnaya > > === message truncated ===
__________________________________________________ Do you Yahoo!? Faith Hill - Exclusive Performances, Videos & More http://faith.yahoo.com -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://buleleng.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
