Berikut ini cuplikan sebuah gambaran desa Tarumajaya yang memiliki PLTGU.
Akankah Pemaron dan Lovina bernasib sama seperti desa Tarumajaya ini setelah
PLTGU dibangun ? Marilah kita jangan mengulangi kesalahan yang pernah ada.

Salam
Gde Wisnaya


TARUMAJAYA


Sepuluh tahun yang lalu, saya meninggalkan Tarumajaya untuk studi ke luar
negeri. Bagi anda yang belum sempat melihat peta, inilah gambaran "kota" di
mana saya dilahirkan itu. Tarumajaya adalah kecamatan di "pedalaman" Bekasi.
Oleh para pendirinya, Tarumajaya diharapkan menjadi kecamatan yang, seperti
namanya, rumah yang mendatangkan kejayaan, ketentraman dan kesejahteraan.
Fakta berikut ini bisa membantu anda menilai apakah cita-cita para leluhur
itu sudah tercapai atau belum.

Ke arah selatan, Tarumajaya berbatasan dengan Kecamatan Bekasi Utara. Gebyar
pembangunan kota Bekasi sebagai penyangga Jakarta menjadikan Bekasi Utara
"kota baru" yang dalam rumusan Mac Beith melahirkan "an impresive
development of Indonesia." Kemajuan pembangunan ekonomi nasional pada dekade
90-an menjadikan Bekasi umumnya, dan Kec. Bekasi Utara khususnya kota baru
yang kaya dengan keterkejutan sosial.

Ke arah barat, Tarumajaya berbatasan langsung dengan Jakarta. Imbas
pembangunan ibukota yang melulu menekankan pembangunan fisik -- dan bukan
budaya -- menjadikan sisa pembangunan dihirup masyarakat Tarumajaya.
Sisa-sisa produksi Jakarta mulai dari limbah pabrik, pembuangan sampah
plastik, barang rongsokan dan bahkan (maaf!) perempuan pelacur eks Kramat
Tunggak pun dapat ditemukan di sana.

Ke arah timur, Tarumajaya bertetangga dengan Kec. Babelan. Nasib Babelan
sedikit lebih beruntung sebab kecamatan itu masih memiliki pesantren besar
di Bekasi, Attaqwa. Sedikit banyak sentuhan kota santri masih dapat
dirasakan kesegarannya. Dan, kehadiran perumahan Wisma Asri (Untuk pensiunan
TNI), Taman Kebalen Indah dan Babelan Kota menjadikan Babelan lebih
"berperadaban" ketimbang Tarumajaya. Setidaknya, "area of concern"
pembangunan Kec. Babelan lebih manusiawi. Bahwa ia diperuntukan sebagai kota
perumahan.

Sedangkan ke Utara, Tarumajaya berbatasan langsung dengan "batas akhir
kehidupan." Ke utara itulah Tarumajaya berbatasan dengan laut Jawa.
Kehidupan tepi pantai yang semestinya menjadi tempat rekreasi, di Tarumajaya
menjadi tempat yang seram. Selain berdiri proyek Pembangkit Listrik Muara
Tawar yang sarat dengan KKN itu, di sana juga terdapat tempat kremasi buat
orang-orang kaya (Cina) Jakarta yang telah menemui ajalnya. Laut yang selama
ini mejadi sumber kehidupan mereka kini tak lagi bisa dimanfaatkan.
Ikan-ikan di tepi pantai tak hidup lagi sebab limbah produksi listrik dari
PLTGU Muara Tawar terlalu panas hingga membunuh setiap benih ikan. Kalaupun
ada ikan, sebagian dari mereka tak lagi berani mengkonsumsinya sebab sisa
pembakaran mayat-mayat Cina dibuang ke laut.

Tarumajaya, sepuluh tahun yang lalu, adalah warna kemiskinan yang dibalut
dengan suasana sepi persawahan. Sepuluh tahun kemudian, ia tetap menjadi
kota dengan "kemiskinan" sebagai menu harian penduduknya. Ketika masyarakat
di Jakarta menghabiskan puluhan bahkan ratusan ribu untuk konsumsi
hariannya, di Tarumajaya masih ada warga desa yang setia dengan kail guna
memancing di tepi pantai yang tak lagi berikan. Masih ada warga desa yang
menghabiskan malam dengan perut melilit akibat lapar.

Analisa James Clad dalam "Beyond The Myth, Business, Money and Power in
Southeast Asia" (Harfer Collin Publisher, 1991) mungkin bisa menjelaskan
mengapa ketimpangan-ketimpangan tersebut bisa terjadi. Pertama, sentralisasi
ekonomi yang dipusatkan di kota telah mereduksi peran daerah. Jakarta
menjadi metropolitan yang gebyar, tetapi efek dari teori "trickle down
economy" tak menemui wacananya. Ekonomi dikuasi oleh pemilik modal besar
dari hulu hingga hilirnya. Lihatlah bagaimana Indofood menguasai produksi
keperluan dapur dan -- pada saat yang sama -- menguasai penjualannya lewat
Indomart yang didukung iklan besar di Indosiar..

Kedua, pembangunan Orde Baru lebih mengejar pertumbuhan nasional dengan
melihat pada indeks produk nasional bruto. Akibatnya, kesejaheraan diukur
dengan angka-angka di tabel pertumbuhan ekonomi, bukan pada pemerataan kue
pembangunan. Ratna Megawangi, dosen Institute Pertanian Bogor (IPB),
mengkritisi hal ini dengan menyebut bahwa marginalisasi kelas ekonomi bawah
menjadi hal tak terbantahkan. Apalagi bila kita lihat bagaimana kaum
wanita -- sebagai pekerja yang dapat digaji dengan murah -- dengan sangat
mudah dieksploitasi oleh para pemilik modal besar.

Contoh itu terlihat dengan nyata di proyek PLTGU Muara Tawar. Pekerja
berdasi datang dari Jakarta, Cina dan (sebagian) orang bule. Warga setempat
harus rela bekerja pada bagian keras dan mendulang uang dengan keringat
bercucur. Inilah gambaran nyata dari yang dikatakan Tibor Scitovsky tentang
mudharat ekonomi kapitalisme. Katanya, "Kita telah menciptakan kemiskinan di
tengah kekayaan yang melimpah dan kemewahan di tengah keterpurukan sosial."
(Islam and The Economic Challange, Umar Chapra, 1997)



----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke