Saya kira kita tidak perlu terpancing dengan kata-kata, bahwa pariwisata
menjadi lokomotif perekonomian Bali, walaupun kenyataannya memang seperti
itu. Selama ini banyak orang di Bali yang mengandalkan usaha/bisnis di
bidang pariwisata, karena memang peluang disana yang paling banyak ada.
Multiplier-effectnya juga banyak, pariwisata menghidupi sektor lainnya. Lalu
sekarang kehidupan pariwisata terancam, maka akan banyak pengusaha
pariwisata yang mulai ketar-ketir, akankah Bali bisa survive kedepan ? Saya
sendiri sangat optimis, bahwa Bali akan tetap survive. Kekhawatiran kita
yang berlebihan. Coba bayangkan, ketika Bali tahun '60-an. Kala itu Bali
belum memiliki nama yang terkenal seperti sekarang, paling-paling hanya
beberapa seniman asing yang tahu Bali. Bali kala itu juga belum memiliki
infrastruktur canggih dan lengkap seperti sekarang. Namun toh dengan kondisi
seperti itu, secara bertahap dan pasti Bali akhirnya berkembang seperti
sekarang. Bahkan percepatan perkembangannya eksponential sejak tahun '90-an,
yang cenderung amat mengkhawatirkan. Tapi akhirnya terjadi hukum alam: Tidak
semua tanpa batas ! BOM legian Kuta akhirnya yang memberi batas atas.
Namun demikian, saya kira dalam setahun Bali sudah bisa bangkit lagi, sudah
banyak negara menjanjikan membantu. Cara orang Bali merespon pengeboman ini
sudah bagus dan telah menimbulkan simpati banyak negara. Yang penting adalah
setiap orang bekerja sesuai dengan dharmanya.

Salam
Gde Wisnaya


-----Original Message-----
From: gmm01 [mailto:gmm01@;link.net.id]
Sent: Thursday, October 31, 2002 2:10 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Mari Berbagi Ide

Dear Bangsing,
Bukannya tidak mau menanggapi, tetapi kalau hanya sekedar bisa ngomong saja
untuk apa??. Untuk menghiburmu aku reply mail ini. Jawabannya.... singkat,
mari tingkatkan kemampuan SDM kita dengan memberikan Pendidikan yang BAGUS.
Kalau sudah maju pendidikannya maka arang Bali bisa menjadi seperti orang
INDIA, pergi ke manca negara menjual otak dan skillnya dan mengirim devisa
pulang ke Bali. Aku pernah melakukannya selama 11 tahun dan cukup kompetitif
tuh di luar! jangan hanya ekspor tenaga pelayan di kapal saja (walau itupun
sudah lumayan incomenya). Kita orang Bali termasuk ulet dan intelligent
(seperti kamu misalnya...he..he), mari kita mencoba membuat sebuah lembaga
pendidikan atau yayasan penyokong pendidikan atau apapun bentuknya yang
penting bisa meningkatkan kualitas SDM Bali. Bagi yang mampu mau membantu
saudaranya yang pintar tetapi kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan
setinggi mungkin - bikin networking untuk meningkatkan mutu pendidikan
(jangan hanya MLM doang yang dipikirin!!!)
Kalau idemu sih cukup bagus, masih ada hubungannya dengan teknologi dan
pemberdayaan SDM. Tetapi kalau masih hanya berkutat pada pariwisata/seni
saja, kita harus realistis bahwa seni itu harus ada bakatnya dan saya kira
berapa orang bali yang benar benar berbakat seni??? lihat Hawaii, orang
lokal hanya bisa goyang-goyang pinggul sama menjadi guide saja. Pemodalnya
orang AS daratan(white) dan merekalah yang paling banyak mendapat manfaat
materiilnya. In the long run, kita harus meningkatkan SDM disegala bidang
sehingga orang Bali bisa berkiprah dimana-mana disegala bidang (ingat APEC?,
bukan APEK lho!). Adik iparku sekarang mencontoh aku, bekerja sebagai
konsultan telekomunikasi di Arab Saudi- lumayan bisa saving diatas 7000 USD
per bulan, dia pakai membantu adiknya berusaha dan membuat usaha
dikampungnya --memperkerjakan beberapa orang. Jadi multiplier effectnya
kelihatan sekali. Bagi yang dianugerahi kemampuan seni (seperti kamu
misalnya)yah melakukannya dengan senang hati dan menghasilkan uang.
Aku sama Astana sempat berencana mendirikan sekolah tinggi di Bali, tetapi
sampai sekarang belum keruan juntrungannya---kurang dimasyarakatkan ( Astana
sibuk alasannya' sedangkan saya tidak tahu seluk beluk pengurusannya). bagi
yang punya ide lebih konkret (bukan khayalan seprti saya)tolong beri saya
insight apa yang sebaiknya kita lakukan supaya SDM kita sekuat SDM INDIA,
mereka miskin tetapi pintar-pintar dan pekerja keras. Jangan yang ditiru
cuma goyangnya saja, atau ritualnya saja.
Oke Bangsing, amonto malu apang sing enggalan med maca. baang timpale
kesempatan mengeluarkan ide.

Love,
Gede Madalila
-----Original Message-----
From: Nyoman Bangsing [mailto:bangsing@;tf.itb.ac.id]
Sent: Wednesday, October 30, 2002 2:53 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Mari Berbagi Ide


Ysh. Bapak Ngurah Ny. dan teman-teman LP3B

Saya tunggu-tunggu eh ternyata baru satu komentar yang muncul. Untuk itu,
nampaknya saya mesti perjelas lagi ide-ide yang saya sampaikan sebelumnya.
Mungkin teman-teman sependapat, bahwa Bali perlu mencari lokomotif baru.
selain pariwisata. Salah satunya adalah bidang seni. Kenapa demikian,
karya seni mestinya dihargai tinggi. Sebagai ilustrasi, akan saya
sampaikan satu cerita, dimana saya kebetulan menyaksikan acara siaran TV,
dimana acaranya berkaitan dengan pelukis tua dari Amerika. Umur beliau
       ====================dst, dst================================


--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>


----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke