Teman-teman di milis ini,
Saya sependapat kalau pariwisata, oleh Bapak Pitana, diibaratkan sebagai lokomotif. Saya yang hidup dari sektor pariwisata sangat merasakan hal ini. Saya mengusahakan hotel dan mini market. Waktu perang teluk, yang jauh terjadi disana, saya merasakan dampaknya. Lalu tragedi WTC.Teman bilang WTC ternyata tidak tangguh, dihantam pesawat sudah hancur sedangkan dinegara kita WTS dihantam peluru kendali bertubi-tubi bahkan tambah kuat. Lalu ada tragedi Bali. Tamu di hotel merosot drastis. Ternyata hasil jualan di mini market juga menurun, karena masyarakat hidup dari pariwisata. Kalau wisatawan tidak datang, mereka tidak punya duit.
Ada pemikiran, perlu dikembangkan sektor lain. Pertanyaannya: apa Bali punya pilihan? Mari kita kembangkan seni? Dahulu masyarakat Bali menjadi seniman bukan untuk cari nafkah, karena untuk agamanya dan barangkali untuk kepuasan. Sekarang kan semuanya sudah berubah. Barangkali tidak ada lagi rumah atap alang-alang kalau tidak ada pariwisata. Saya sependapat pariwisata menghidupkan tradisi, seni, hanya yang tidak bisa dihindari adalah �komersialisme�.
Saya baru saja menghadiri Rakernas I PHRI 2002 di Solo. Anggota PHRI ( Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ) mengeluhkan bahwa pariwisata oleh Pemerintah Daerah dijadikan �sapi perahan�. Susunya diperas tapi sapinya tidak pernah diberi makan. Tolong tanyakan kepada Bapak Pitana berapa prosen dari Pajak Hotel dan Restoran ( PHR ) yang disisihkan untuk memelihara dan mengembangkan pariwisata, termasuk untuk memelihara budaya?. Tanyakan berapa penghasilan wakil-wakil kita di DPRD? Dari mana sumbernya? Berapa biaya studi banding keluar negeri?
Pemerintah Pusat sendiri sejak jaman Orba mengharapkan pariwisata akan menjadi andalan kedua sebagai penerimaan negara setelah minyak bumi. Apalagi Bali, pulau kecil yang miskin akan sumber kekayaan alam dan padat penduduk. Pilihan apa yang kita miliki?
Kenyataan kita sangat menggantungkan diri kepada lokomotif yang kita sebut pariwisata ini. Buleleng misalnya, sangat mengandalkan Lovina.Tapi apa harapannya? PLTGU Pemaron telah merupakan momok yang mengerikan. Dan sekarang ini ��.. listrik tiga malam berturut-turut mati dikawasan Lovina. Wajar kalau masyarakat bertanya : ada apa? Nampaknya kita cukup bergerak, hanya tidak kemuka, tapi kebelakang.
Sekian saja sampai jumpa lagi di forum ini.
Hormat saya,
Nyoman Suwela
Nyoman Bangsing <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ysh. teman-teman LP3B.
Belum lama ini saya sempat mengikuti acara bincang-bincang antara Bapak
Gede Pitana dan salah seorang reporter TV di tanah air. Dalam pembicaraan
itu, disebutkan oleh Bapak Pitana, bahwa Pariwisata tak ubahnya lokomotif
bagi daerah Bali.
Saya tercenung sejenak, apa tidak terlalu gegabah, bila kita memilih
sektor yang cukup rentan terhadap gangguan luar(yaitu pariwisata), kita
pilih sebagai lokomotif bagi Bali ?
Bila lokomotifnya mandek, maka barisan gerbong-gerbong kereta yang ada,
juga akan berhenti.
Nampaknya dalam masa-masa mendatang, kita perlu memikirkan lokomotif lain
selain pariwisata. Melalui media ini, mungkin kita bisa melakukan
penampungan dari ide-ide yang ada. Bila teman-teman punya ide, silahkan
lontarkan lewat media kita ini.
Menurut hemat saya, kita bisa memulai dari sisi kekuatan yang dimiliki
orang Bali. Salah satunya adalah bida ng seni, apakah itu seni lukis, seni
ukir, patung, kerajinan emas/perak, seni tari/karawitan dsb. Seni tak bisa
dilepaskan dari hidup keseharian orang Bali. Satu hal yang masih kurang
menurut saya yaitu apresiasi orang terhadap suatu karya seni. Rasanya
kurang tepat kalau suatu lukisan dihargai murah. Mestinya karya seni mesti
dihargai tinggi. Contah lain dalam seni kerajinan emas/perak, karya
kerajinannya dihargai rendah. Mereka belum menghitung nilai desainnya.
Coba kita bandingkan dengan harga kerajinan sejenis di luar negeri, maka
selisih harganya akan cukup besar. Dalam kaitan ini, perlu disiapkan
orang-orang yang khusus mempelajari desain, sehingga karyanya nanti
dihargi tinggi.
Khusus untuk para pelukis, Bali mempunyai segudang pelukis, maka perlu
dipikirkan suatu terobosan, bagaimana kita bisa memberi kesempatan kepada
mereka untuk berpameran. Melalui pameran, mereka akan semakin dikenal.
Mengingat saat ini sudah ada fasilitas internet, mungkin lp3b bisa
m embantu para pelukis kita dalam urusan promosi, yaitu dengan jalan
membuatkan mereka satu homepage yang tentunya memuat biodata serta
karya-karya mereka. Dengan adanya situs di internet, maka informasi
tentang para pelukis kita bisa diakses dari seluruh belahan dunia.
Bidang lain, dimana orang Bali menonjol adalah dalam memberi
pelayanan(service). Saya menjadi teringat dengan obrolan saya dengan
seorang yang berasal dari Surabaya, yang sudah lama tinggal di Singaraja.
Dia memiliki restoran di Lovina, dan pada saat saya diundang makan di
restorannya, dia menerangkan bahwa pekerjanya dia pilih orang Bali. Alasan
yang dia kemukakan ternyata sederhana sekali. Menurut dia, orang Bali
tidak perlu diajari tersenyum lagi, mengingat senyum mereka sudah alami.
Hal yang kelihatan sepele, namum punya dampak yang luar biasa.
Pemberian jasa pelayanan ini bisa kita perluas ke bidang pariwisata,
perbankan, asuransi, pelayanan kesehatan dsb.
Hal lain yang tidak kalah pentingn ya menurut saya, Bali mesti mempunyai
kelompok pemikir, yang akan mempersiapkan generasi penerus kita.
Kelompok ini diharapkan memberikan sumbangan pemikiran tentang
bidang-bidang mana yang perlu diterjuni/ditekuni oleh generasi mendatang.
Bila dimungkinkan kita perlu mempersiapkan orang-orang yang akan mengisi
level Manager ke atas, khususnya dalam bidang-bidang unggulan di atas.
Dalam kondisi yang kritis, toh kita bisa mengekspor mereka. Berbekal skill
tinggi dan pengetahuan luas, maka posisi tawar mereka akan sangat baik.
Mereka siap bersaing dalam percaturan global.
Bali perlu juga membuka jaringan bisnis di luar negeri, seperti Singapura,
Australia, Jepang dsb. Bila tamu tidak datang, minimal ekspor kita tidak
terganggu.
Saya kira segitu dulu dari saya, dan saya tunggu komentar dan ide-ide dari
teman-teman.
Salam sejahtera dari
Nyoman Bangsing
===================================
Nyoman Bangsing
Engineering Physics Department
Ba ndung Institute of Technology
Ganesha 10. Bandung
Indonesia
Phone/fax : +62-22-2504424/2504424
e.-mail : [EMAIL PROTECTED]
===================================
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators :
Do you Yahoo!?
Y! Web Hosting - Let the expert host your web site
