Dear Mr.Djuwarno, Cs.

Enclosed please find another Email from Mr.Nur R. Iskandar.

This is one of the best examples which describes about the devastating behavior of Indonesia People now. If we can not control our behavior in every sector in these few comming years from now, other nation will, ...yah dijajah lagi lah istilahnya. ( Jack Welch : If you can not control your destiny, someone else will ). Or, the people demontrations against the relocation plan to Buleleng might turn into violents.

" Bali Post, 13/11/2002 , Berita : Forum Komunikasi Penolakan PLTGU Pemaron akan demonstrasi ".

Sincerely,

Ngurah

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 Gde Wisnaya Wisna <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: "Gde Wisnaya Wisna" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bali] FW: [lsde_lovers] Uji daya ingat kepada Pancasila
Date: Thu, 14 Nov 2002 05:36:52 +0930

Ini ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan dari teman saya di LSDE-BPPT.
Saya melihat ada nilai universal dalam hal introspeksi diri, karena itu saya
forward kesini.

Salam
Gde Wisnaya

-----Original Message-----
From: Nur R. Iskandar [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, November 12, 2002 11:57 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [lsde_lovers] Uji daya ingat kepada Pancasila

LSDE_Lovers,
Khusus kepada Pak Youvial,

Pak Yopi, sudah ada komentar atau tanggapan dari
rekan-rekan di TK-79 ITB?

Dari LSDE_Lovers, saya ikut meramaikannya, ya?!

"Bagaimana dengan kesan selama kita hidup di negara
Republik Indonesia ?", demikian Pak Youvial bertanya.

Tentu saja saya senang. Apalagi secara kebetulan:
Negara Republik Indonesia bila disingkat menjadi NRI,
singkatan nama saya.

Akan menjadi lain bila disebutnya Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI), atau bahkan Negara "Hutan"
Republik Indonesia (NHRI), Negara "Aneh" Republik
Indonesia (NARI), atau Negara Kesatuan Republik
"Saksi/
Tersangka/Terdakwa/Terhukum" Indonesia (NKRS/T/T/TI),
karena satu per satu pemimpin(?)-nya menjadi saksi,
tersangka, terdakwa, dan terhukum.

Berkaitan dengan Pancasila, karena banyak pemimpin (?)
kita yang menjadi anggota NATO (No Action, Talk Only),
maka Pancasila hanya dijadikan komoditas untuk
menciptakan rupiah.

Di sini ngomong Pancasila, di sana berbuat
"Pancagila", dapat rupiah.
Di sana ngomong Pancasila, di situ berbuat
"Pancagila", dapat rupiah.
Di situ ngomong Pancasila, di "sono" berbuat
"Pancagila", dapat rupiah.

Maka, rakyat pun, kebanyakan ikut berbuat "Pancagila" ,
dapat rupiah.
Resultantenya (bukan resul-Oom-nya) adalah:
"Ing jaman edan, yen ora edan ora keduman. Nanging
isih luwih becik, wong sing eling lan waspada"

Maaf, saya menulis dalam bahasa Jawa. Bahasa kedua
saya, setelah bahasa Indonesia adalah bahasa Jawa.

Kira-kira artinya:

"Di zaman yang (serba) gila, bila tidak (ikut) gila
maka tidak (akan) mendapatkan apa-apa (= tidak
kebagian). Namun, masih lebih baik (mulia)
orang yang (selalu) ingat dan waspada".

Kesan lain yang "mendalam" dan "meresap" di hati
sanubari, selama saya bernafas di NRI (Negara Republik
Indonesia) ini adalah selalu, selalu, dan selalu
diajari plus dicontohi kepura-puraan, kemunafikan,
keangkaramurkaan. Dan, cenderung (selalu) ditertawai
atau dicibir atau dianggap bodoh bila bicara dan
mempraktekan tentang kesederhanaan, kejujuran,
kepintaran, dan hal-hal positif lainnya sebagaimana
layaknya manusia harus bersikap dan berperilaku
sebagai manusia.

Contoh nyata yang harus kita renungkan dalam-dalam,
selanjutnya dicoba untuk melakukan perubahan adalah
berkaitan dengan bulan puasa.

Dari tahun ke tahun, selalu dan selalu
digembar-gemborkan bahwa bulan puasa itu adalah bulan
penuh hikmah, bulan penuh pahala, bulan penuh
kemuliaan, dan sederetan hal-hal positif lainnya. Di
dalamnya pun kita mengenal ada malam lailatul qadar.

Betapa indahnya agama saya Islam ini. Betapa
selamatnya para pemeluknya bila betul-betul mampu
mempraktekannya dalam wujud praktek kehidupan
sehari-hari. Bukan hanya sekedar "ritual" ibadahnya
belaka.

Saya mohon maaf, bila salah dalam menuliskan, atau
bahkan salah dalam berpendapat.

Apa yang saya amati selama ini (= selama hidup di
NRI):

Setiap bulan puasa terjadi efek berantai dalam pacuan
nafsu.
Saya khawatir, nafsu yang dapat kita kendalikan hanya
dua: makan dan minum.

1. Menjelang awal Ramadhan, para ibu (kaum hawa)
"terpaksa" menggerutu karena pada saat berbelanja
harga-harga kebutuhan pokok melambung.
Beberapa orang Jawa Timur, mungkin, "misuh" (=
memaki);

2. Selama menjalani puasa para bapak (juga para ibu)
mulai berhitung, pengeluaran selama bulan puasa
menjadi naik. Acara buka puasa sering
mengada-ada dengan aneka variasi makanan dan minuman;

3. Selama menjalani puasa pula, para bapak (juga para
ibu) berhitung, berapa uang yang diperlukan untuk
pulang kampung. Harga karcis bis, kereta, pesawat,
kapal laut, mungkin juga ojek, ikut naik-naik ke
puncak gunung;

4. Selama menjalani puasa, para karyawan berharap
tentang THR (Tunjangan Hari Raya, bukan Tendangan Hari
Raya). Lucunya, terjadi juga "demo" tentang THR yang
tidak layak;

5. Maka selama berpuasa pula otak berputar untuk
"bekerja lebih keras" (?) agar pundi-pundi cepat
menggelembung. Ada efek negatifnya: selama bulan puasa
pula kasus-kasus korupsi, kolusi, nepotisme,
manipulasi, dan konco-konconya tidak mereda;

6. Puncaknya, saat mendekati lebaran, saling
berdesak-desakan untuk memperebutkan tempat duduk saat
mudik;

7. Dikhawatirkan, hasil akhir yang diperoleh tidak
lebih hanya lapar dan dahaga. Dan ini sudah
diperingatkan berkali-kali. Sayang sekali,
beberapa yang memperingatkan juga ikut serta
melakukannya.

Bayangkan, bila slogan indah dipraktekan:
1. Mulai awal Ramadhan: semua harga turun, kecuali
harga diri. Sehingga hanya dengan gaji saja, ternyata
malah menjadi cukup untuk pulang kampung sekeluarga.
Dan, tak perlu THR;
2. Saling berlomba-lomba untuk mengantre, sehingga
tidak ada satu pun rebutan atau desak-desakan dalam
memperoleh sesuatu;
3. Para pengusaha makin berlomba menyediakan bis-bis
angkutan lebaran secara gratis;
4. Dan seterusnya;
5. Dsb (= dan saya bingung, kata Bimbo).

Bila terus-menerus membayangkan, maka jadilah Negara
Kesatuan Republik Bayangan Indonesia dengan
praktek-praktek yang tidak Pancasila-is, melainkan
Pa ncagila-is.

Demikian (sangat) panjang dan (sangat) lebarnya
tambahan saya.

Sekian dan terima kasih.

Serpong, Selasa, 12 November 2002.
(pkl. 09.27 WIB)

Nur R. Iskandar


--- Mohamad Youvial <[EMAIL PROTECTED]>wrote:
> Bagaimana dengan kesan selama kita hidup di negara
> Republik Indonesia ?
>
> Bangunlah Putra-putri Ibu Pertiwi
>
> Sinar matamu tajam namun ragu
> Kokoh sayapmu semua tahu

----- Maaf, saya potong -----

__________________________________________________
Do you Yahoo!?
U2 on LAUNCH - Exclusive greatest hits videos
http://launch.yahoo.com/u2



Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/


----------------------------------------------------------------------------
Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 250.000 tunai
------------------------------------------------------------------------ ----

--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators :
Berlangganan :
Henti Langgan :



Do you Yahoo!?
U2 on LAUNCH - Exclusive medley & videos from Greatest Hits CD

Kirim email ke