.Yth Bapak Djuwarno dan rekan-rekan di milis ini.

Kami adalah sebagian yang hidup disekitar Pemaron, maka tidak ada jalan lain selain berjuang untuk menolak PLTGU "butut" ini. Berikut adalah komentar kami item demi item dari email Bapak.

 

Mengenai ketidak hadiran kami saat di Bali Taman sebenarnya kami ingin hadir, tetapi atas permintaan Bapak Bupati, beliau yang mewakili kami dalam dialog, sehingga kami tidak ada disana, kecuali perwakilan dari PLN Buleleng. 

 

Yth. Pak Djuwarno, LP3B terus terang amat sangat kecewa dengan ketidak-hadiran PT. Indonesia Power dalam pertemuan ilmiah tanggal 10 Oktober 2002 yang lalu, karena kami sudah menyebarkan undangan dan menyiapkan acara dengan kerja "ekstra-keras". Sepertinya PT.IP kurang menghargaiundangan baik kami. Ada memang kesan dari peserta yang 60 orang tersebut, bahwa PT. IP "takut" berargumentasi teknis secara langsung pada waktu itu, dan cenderung "sembunyi di belakang punggung" Bapak Bupati. Padahal wakil dari Bapak Bupati samasekali tidak menyebutkan dalam pertemuan itu bahwa beliau yang mewakili PT. IP. Tidak ada klarifikasi pada waktu itu oleh wakil Bapak Bupati. Jadi untuk kedepan, Bapak perlu hati-hati kalau mau mewakilkan diri dengan siapa saja.

 

Namun demikian LP3B sudah memaafkan kejadian itu, dan seandainya kami ingin mengundang PT. IP lagi untuk 'debat publik" masalah teknis PLTGU Pemaron, apakah kira-kira PT.IP masih bersedia untuk hadir ?

 

Namun sekali lagi bahwa pemasangan PLTGU di Buleleng itu kami kembalikan pada masyarakat Bali sendiri, meskipun kami sudah mempunyai izin amdal dan izin yang lain lengkap.

 

Kami meragukan bahwa PT. IP sudah mengantongi izin amdal dan izin yang lain lengkap, seperti halnya kami meragukan bahwa PT. IP sudah melakukan sosialisasi sebanyak 15 kali. Barangkali sebelum diperdebatkan, Bapak bisa menjelaskan yang dimaksud dengan izin amdal dan izin-izin yang lain ? Kami punya dokumen tertulis dari Bapedalda Bali, bahwa amdal PT. IP tidak lulus, karena Bapedalda tidak pernah menyetujui elanjutkan pembangunan PLTGU itu di Pemaron, melainkan ke Celukan Bawang. Juga persetujuan Gubernur adalah bukan persetujuan prinsip, tetapi sebuah surat yang isinya "prinsip menyetujui" dan didasarkan pada surat Sekwilda Buleleng. Kalau ijin ini akan digunakan oleh PT.IP, maka ada peluang PT. IP membawa Gubernur Bali kepada proses pelanggaran PERDA 4/1999, dan ini berpeluang digugat secara PTUN.

 

.

Sebagai informasi, secara ekonomi sebenarnya PLN lebih baik mengoperasikan PLTG tersebut di Priok, karena disana ada gas, sehingga beaya operasinya lebih murah, bilamana di Buleleng akan pakai minyak, apalagi 2003 sudah membeli dengan harga internasional, belum lagi harus menambah beaya investasi, namun mengingat sangat pentingnya Bali maka keputusan ini diambil.

 

Kalimat ini sepertinya, Bapak lebih cinta Bali daripada kami-kami yang tinggal di sekitar Pemaron. Kalau memang ini tidak mengandung unsur tricking kami harus angkat topi kepada Bapak. Tapi, karena Bapak adalah Direktur Niaga dari PT. IP, maka kami harus melihat dari sudut yang lain. Tidak mungkin sebuah perusahaan mau rugi. Kenapa tidak dioperasikan saja tetap di Tanjung Priok kalau memang disana biaya operasinya lebih murah ? Toh Bali tidak suka dengan PLTGU usur. Janganlah menganggap kami terlalu bodoh untuk itu. Bali sebagai darah wisata dimana prasyarat lingkungan menjadi sangat penting, Bali tidak cocok untuk PLTGU Minyak maupun PLTU Batubara.

 

Demikianlah diharapkan masing masing pihak dapat berfikir dengan jernih dan demi kepentingan masyarakat banyak, kami tahu Bali sedang bersedih namun kami tidak ingin melihat Bali sedih dalam kegelapan.

 

Kami berharap Bapak bisa berfikir lebih jernih. Syukurlah Bapak tahu bahwa Bali sedang bersedih, namun jangan membuat kami lebih sedih lagi dengan hadiah PLTGU tua ini.

 

Demikian atas perhatian bapak bapak kami ucapkan terima kasih

 

Mohon Maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan, dan terimakasih kami ucapkan atas email, Bapak.

  

LP3B Buleleng,

Ketua

 

Gde Wisnaya Wisna

 

-----Original Message-----
From: Djuwarno [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, October 08, 2002 2:13 PM
To: Ngurah Ny
Cc: Hardiv Situmeang; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; Firdaus Akmal; Bambang Isti Eddy; Praktimia; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Refurbished 30 years-old PLTGU Machines with crude oil energy to be relocated to Tourist Destination Lovina/Pemaron, Bali ?

 

Trima kasih atas Email yang dikirim kepada kami.

 

Sebenarnya kami sudah jelaskan melalui Email tentang bagaimana sebenarnya mesin yang akan dipasang di Pemaron tsb.

Namun bilamana belum terima akan saya ulang lagi.

Kami akan menjelaskan yang menjadikan keberatan bapak sekalian, apakah itu mesin bekas, saya juga menerima Email yang menanyakan harganya, yang katanya mahal.

Sebenarnya PLN melalui Indonesia Power sangat memperhatikan keandalan listrik khususnya Bali, bilamana daerah lain banyak terjadi pemadaman, seperti di Sumatra, Kalimantan, Ambon, Irian semuanya ada lebih 30 daerah telah terjadi pemadaman. Hal itu karena PLN tidak mempunyai dana lagi untuk investasi.Khusus untuk Bali disamping untuk mengantisipasi perkembangan beban tahun mendatang, juga untuk menjaga kemungkinan adanya ketergantungan Bali terhadap pasokan dari Jawa, terutama terhadap adanya kemungkinan kerusakan kabel laut. Pembangkit ini kapasitasnya 150 MW sedang pasokan dari Jawa 180 MW ( 2 kabel), menggunakan PLTG 2x50 MW dari Priok dan ditambah peralatan 50 MW Botoming Cycle ex Seimens ( kondisi baru ). 

Dalam paper terlampir kami jelaskan panjang lebar PLTGU yang akan dipasang tersebut, sehingga tidak lagi meragukan masyarakat Bali.

Mengenai ketidak hadiran kami saat di Bali Taman sebenarnya kami ingin hadir, tetapi atas permintaan Bapak Bupati, beliau yang mewakili kami dalam dialog, sehingga kami tidak ada disana, kecuali perwakilan dari PLN Buleleng. 

Namun sekali lagi bahwa pemasangan PLTGU di Buleleng itu kami kembalikan pada masyarakat Bali sendiri, meskipun kami sudah mempunyai izin amdal dan izin yang lain lengkap.

Namun hendaknya semua khalayak tahu bahwa bilamana terjadi kekurangan daya yang sampai pada pemadaman baik pada saat ada pemeliharaan mesin secara rutin, akibat gangguan mesin pembangkit di Pesanggaran, dan yang lebih memprihatinkan bilamana terjadi kerusakan satu kabel Bali-Jawa, maka pemadaman akan berkisar 90 MW , sedang penggantian / perbaikannya butuh waktu sangat lama, yang perlu dicatat bahwa PLN sudah berusaha semaksimal mungkin mengatasi dari awal.

Indonesia Power sangat menghargai bilamana ada pihak pihak yang mempunyai ide misalkan pembangkit sampah atau macam yang lainnya , tetapi masalahnya adalah hal ini harus dilakukan secara cepat, paling tidak pertengahan tahun 2003 sudah selesei, bilamana ada yang sanggup silahkan, pemadaman sudah didepan mata.Pertengahan Oktober kemarin contoh bahwa pada waktu PLTG Gilimanuk dilakukan pemeliharaan , terjadi pemadaman 40 MW, sehingga Bali terjadi pemadaman bergilir selama 10 hari.

Perlu diketahui bahwa apapun yang akan dibangun Bali tidak ada yang lebih cepat dari 1 tahun. Sekarang masalahnya bilamana PLN mempunyai uang apakah dengan membangun dengan mesin baru dijamin tidak ada masalah ?

Sebagai informasi, secara ekonomi sebenarnya PLN lebih baik mengoperasikan PLTG tersebut di Priok, karena disana ada gas, sehingga beaya operasinya lebih murah, bilamana di Buleleng akan pakai minyak, apalagi 2003 sudah membeli dengan harga internasional, belum lagi harus menambah beaya investasi, namun mengingat sangat pentingnya Bali maka keputusan ini diambil.

Demikianlah diharapkan masing masing pihak dapat berfikir dengan jernih dan demi kepentingan masyarakat banyak, kami tahu Bali sedang bersedih namun kami tidak ingin melihat Bali sedih dalam kegelapan.

 

Demikian atas perhatian bapak bapak kami ucapkan terima kasih

  

----- Original Message -----

From: Ngurah Ny

To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]

Cc: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED]

Sent: Sunday, November 10, 2002 7:52 PM

Subject: Refurbished 30 years-old PLTGU Machines with crude oil energy to be relocated to Tourist Destination Lovina/Pemaron, Bali ?

 

Dear Mr.Djuwarno,

Enclosed please find a copy of Email from LP3B.

Your faithfully,

Ngurah

------------------------------------------------------------------------


Wisnaya.eml To: [EMAIL PROTECTED]
Date: Mon, 04 Nov 2002 23:03:11 -0800
From: "dwi yani" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [bali] Penting U/ Pak Gde Wisnaya

Tolong segera jawabannya.

Emang udah panas.

Pak Gde, Senin, 4Nov' kemarin saya ketemu dengan Mentamben si Hendro.

Awalnya saya tanya tentang pemanfaatan sampah -- sistem Jerman -- yang investasinya relatif 1/3 dari investasi sistem matahari untuk memandirikan listrik di Bali.

Dia menantang kajian teknis dan ekonomisnya, mana yang lebih efisien, lebih ekonomis antara sampah dan matahari -- termasuk harga jualnya.

Kalau sudah ada yang punya -- ini lucu, kenapa tidak dia dengan BPPT yang melakukannya -- ajukan ke PLN dan langsung ke dia -- menteri.

Kemudian saya langsung konfirmasi tentang Pemaron. Saya sudah tekankan masyarakat tidak menolak, dengan catatan bukan di Pemaron sesuai saran yang diberikan komisi amdal yaitu di kawasan industri Celukan Bawang atau tempat lain.

Keberatan masyarakat setempat adalah hal ''mesin yang kedaluarsa''. Masyarakat Pemaron menunggu penjelasan teknis dan dampak lingkungannya -- dengan penggunaan mesin --dia sudah mengaku itu barang usur dari Tanjung Priok -- . Saya ntegaskan pihak PLN dan ''mitranya'' Indonesian Power tidak berani berhadapan dengan masyarakat setempat dan tidak hadir saat diundang dialog.

Saat itu pak menteri langsung panggil PLN dan Indonesia Power, -- mereka berdua membantah tidak hadir dan mengaku sudah 15 kali melakukan sosialisasi --

Saat itu saya langsung jawab, ''Saya tidak tanya anda berapa kali sosialisasi. Anda jelas tidak datang saat di undang dialog dengan masyarakat setempat di Hotel Bali Taman. Masyarakat sudah menunggu. last minute anda berdua membatalkan kehadiran anda. ''

Lantas saya tinggal pergi.

Menteri, mengejar saya dan tegas mengatakan hal tersebut diajukan ke pihaknya -- kirim ke Jakarta. Pak menteri tidak keberatan hadir berdialog dengan Lp3B di Buleleng.

Dengan tantangan ini, saya sarankan:
LP3B -- Buleleng yang punya pakar- pakar teknologi -- mencari tahu dulu sistem pengolahan sampah -- kalau tidak salah ingat sistem ini di pakai di Comptown, Jerman --. Hasilnya tidak hanya listrik tetapi sisa pembakaran menghasilkan sirtu. Udara pun dibersihkan melalui proses pembakaran tersebut.

Jika kita bisa mencari pembandingnya, kita bisa undang menteri -- kalau masih menjabat -- untuk membicarakan ini.

Anda bisa hubungi Jro Karang Tangkid Suarshana? Pemilik Suar Tour di By Pass Tohpati, dia sempat mendapat ekspose sistem ini.

Oh ya, Pak Gde aku bisa di e- mail ulang persoalan PLTGU, resume pertemuan di Bali Taman dan kajian teknis mesin rongsok dari Tanjung Priok itu. File saya ikut ''ketendang'' gara- gara bom Legian. Jadi semua liputan diubah, jadi tidak disengaja file dalam komputer terhapus. Maklum terlalu banyak tangan kreatif di redaksi.

Aku tunggu segera, akan saya turunkan terbitan minggu lengkap dengan pernyataan Mentamben.

Okey saya tunggu

Dwi

 


Do you Yahoo!?
U2 on LAUNCH - Exclusive medley & videos from Greatest Hits CD


Online Polling

Kirim email ke