Yth Rekan-rekan,

Saya setuju sekali tentang tanggung jawab setiap individu demikian, tapi semuanya itu 
harus ada yang memulai alias meng "create" sesuatu. Kita sudah coba juga di Bandung 
misalnya, tapi karena "kebiasaan dan faktor lingkungan" yang sangat dominan, sehingga 
tidak gampang merubah "budaya"-nya tertib. Tentu semuanya itu sebaiknya diawali dari 
"polecy" pemerintah atau Pemda setempat yang dibarengi dengan suatu perusahaan yang 
mau bergerak dibidang "operational"-nya.  Jadi selain "aturan/ polecy"  juga 
sosialisasi, kemudian langsung menyiapkan tempat sampah dua atau tiga bak yang 
ditulisi, misalnya : "sampah kertas dan sejenisnya", "hanya untuk kaleng", dsb.nya, 
seperti yang kita tahu juga di Negara maju seperti Singapura atau Jerman sudah seperti 
itu. 
Dari situ baru kemudian bicara TPS, kalau bisa jangan sampai TPA (setuju pendapat Ni 
Made Widi bahwa setelah dipisahkan di masing-masing tempat sampah awal, kemudian 
diolah per area misalnya setiap pasar satu pengolahan, dan setiap banjar atau 
kelurahan/desa satu pengolahan sebagai TPS).

Salam
mw

----------
From:   Ni Made Widiasari[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To:       [EMAIL PROTECTED]
Sent:   Thursday, November 14, 2002 9:45 AM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [bali] Re: Produk Sampah u/ Mr Gde Wisnaya

Dear Friends
,Kebetulan saya orang yang sangat hobi ngurusin sampah di Bali. Pada 
dasarnya teknologi pengolahan sampah emang udah banyak atawa bejibun. Kalau 
ngomongin itu terus kagak bakalan pernah bisa menyelesaikan masalah karena 
inti masalahnya adalah : MASYARAKAT MASIH MEMCAMPUR SAMPAH ORGANIK DAN 
ANORGANIK.
Merubah ini bukan hal yang gampang. Kalau Clean up Bali masih bisa terus 
bikin program-program sosialisasi pemisahan sampah, itu lebih didorong 
panas hati , karena saya kesel sama bule-bule itu, yang bilang your peoples 
jorok2. Emang iya sih, tapi kan butuh waktu....cing!!!
Program sampah sebagus apapun, kalau masyarakat tidak ikut bertanggung 
jawab sama dengan: "Basi"
Jadi masyarakat harus mulai diajarkan membayar retribusi sampah sebanding 
dengan jumlah sampah/jenis sampahnya.
Masyarakat harus diajarkan 3R (reduce, Reuse, Recycle).
Makanya saya dari awal sangat tidak setuju (karena capai ngasi tahu 
akhirnya tak diemin) program Sarbagita. Bahwa program pengolahan sampah di 
Sembung, Kerambitan itu, akan sia-sia, kalau masyarakat belum 
diajarkan/diberi aturan/dikontrol, untuk" memisahkan sampah organik dan 
anorganik. Siapa yang mau kampungnya jadi tempat pemilahan sampah dari 4 
kabupaten/kota yang semuanya masih kecampur???  Jadi tahapannya yang salah, 
harusnya masyarakat siap dulu......baru bikin fasilitas (yang katanya bukan 
TPA, sekali lagi bukan TPA, katanya......, how if I call it dump 
site????  patuh dogen!!!!he...he...).
Sampah sebaiknya dikelola desentralisasi, bukan sentralisasi (ngapain 
buang2 uang tranportasi???)
Masalah pemulung; kalau di Bali ada oknum pemulung yang suka gatal tangan, 
jadi mekanismenya harus dibuat, sehingga pemulung nggak harus masuk kawasan 
banjar/gang/jalan yang bersangkutan. Kawasan yang kelola (setelah terpisah) 
and then yang organik bisa diberikan kepada pemulung/recycle company. Yang 
organik dikomposkan setempat atau gabung dengan tempat pengomposan lainnya.
Issuenya jangan ke pemulung. Karena yang peduli dengan sampah anorganik, 
bukan cuman pemulung!!! Main kasih penghargaan aja........wong dia 
melakukan itu bukan karena peduli lingkungan...kok, tapi karena "Bhetara 
Dalem" alias "perut". Kalau nggak percaya coba anda lihat cara hidupnya, 
mau buang air, mau buang sampah .....semua seenaknya!!!
Kalau mau bantu mereka dengan alasan kemanusiaan itu wajar, tapi kalau 
tiba-tiba dijadikan pahlawan, itu bahaya.
Tidak ada pahlawan dalam "kepedulian", karena " Once You Buy Something its 
Your Rubbish".


salam: Widi





--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke