Dear friends,
ya...emang susaah ....merubah kebiasaan orang, juga kebijakan pemerintah. Kami di Clean up Bali butuh waktu 2 tahun, sampai akhirnya instansi mau bikin program yang sama. tahun 2000 kami adakan Clean up besar-besaran di pesisir selatan Bali, melibatkan semua stakesholder, dari masyarakat, pemerintah, consulat, murid2, etc. Beberapa pura sudah disumbangkan tong sampah terpisah "organik" hijau dan "anorganik" kuning, dengan item masing-masing jenis (misalnya: sisa canang, daun pembungkus, dll u/ organik dan plastik kresek, botol palstik, pecah belah, dll u/ anorganik), kita sudah berulang kali juga berusaha mendorong masing-masing desa adat untuk mengelola hal ini (dengan memberi alamat perusahaan daur ulan, alamat belajar kompos, dll), tapi ya.....namanya merubah gaya hidup....susahhh...banget!!
Tapi saya yakin suatu saat nanti (5tahun kedepan), kita dapat lebih memahami bagaimana bersikap terhadap sampah. Kalau semua saling tunggu dan harap-harapan, saya tidak setuju. Pokoknya mulai saja dulu, dan lama-lama juga pada ngerti kok....termasuk pemerintah. Kalau dimarah-marahin mereka ternyata defensif, ya.....ajak bareng raga ngelahang. Selama ini kita disupport Travel agent, BTB, BTDC, waka Groups, Grands Bali Beach, sanur Beach, santika, Kuta Executif Club, hatten Wine, Bali Hai, Jaya warna, Saritaksu, Putri bali, Mc Donald dan banyak lagi personal (sampai yang punya karaoke segala, boleh...dong!).
Kita memang membentuk kelompok participant yang setiap ada Clean up dimanapun juga selalu kita rapatkan dulu. Kita paling sering Clean up di TNBB, karena memang itu daerah "play ground" kita dengan teman-teman divers, juga tempat yang sangat saya cintai....he...he...tenang, damai, dan wuih.....
dalam waktu dekat kita ingin Clean up di beberapa point coastal area Buleleng (Pojok Batu, Bungkulan, dan Pantai di Singaraja-Lovina), tapi menyadari sedang susahnya teman-teman di pariwisata, saya coba kontak teman-teman USAID, mudah-mudahan mereka mau bantu, ya...tong sampahnya kek, ya....papan peringatannya kek....., atau karung kampil bekas (yang biasa kita pakai naruh sampah anorganik).
Ya..intinya bikin kita nggak bosan untuk membuat masyarakat sadar bagaimana menjaga kebersihan pulau Bali (terapkan 3R), kalau "ngambul" gara-gara masyarakat kita susah...kapan dong beresnya? mulainya aja masih saling nyalahin.
Come on.....Keep Our Bali Clean.
salam:
widi
At 05:47 PM 11/14/02 +0700, you wrote:
Yth Rekan-rekan,
Saya setuju sekali tentang tanggung jawab setiap individu demikian, tapi semuanya itu harus ada yang memulai alias meng "create" sesuatu. Kita sudah coba juga di Bandung misalnya, tapi karena "kebiasaan dan faktor lingkungan" yang sangat dominan, sehingga tidak gampang merubah "budaya"-nya tertib. Tentu semuanya itu sebaiknya diawali dari "polecy" pemerintah atau Pemda setempat yang dibarengi dengan suatu perusahaan yang mau bergerak dibidang "operational"-nya. Jadi selain "aturan/ polecy" juga sosialisasi, kemudian langsung menyiapkan tempat sampah dua atau tiga bak yang ditulisi, misalnya : "sampah kertas dan sejenisnya", "hanya untuk kaleng", dsb.nya, seperti yang kita tahu juga di Negara maju seperti Singapura atau Jerman sudah seperti itu.
Dari situ baru kemudian bicara TPS, kalau bisa jangan sampai TPA (setuju pendapat Ni Made Widi bahwa setelah dipisahkan di masing-masing tempat sampah awal, kemudian diolah per area misalnya setiap pasar satu pengolahan, dan setiap banjar atau kelurahan/desa satu pengolahan sebagai TPS).
Salam
mw
----------
From: Ni Made Widiasari[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Thursday, November 14, 2002 9:45 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Produk Sampah u/ Mr Gde Wisnaya
Dear Friends
,Kebetulan saya orang yang sangat hobi ngurusin sampah di Bali. Pada
dasarnya teknologi pengolahan sampah emang udah banyak atawa bejibun. Kalau
ngomongin itu terus kagak bakalan pernah bisa menyelesaikan masalah karena
inti masalahnya adalah : MASYARAKAT MASIH MEMCAMPUR SAMPAH ORGANIK DAN
ANORGANIK.
Merubah ini bukan hal yang gampang. Kalau Clean up Bali masih bisa terus
bikin program-program sosialisasi pemisahan sampah, itu lebih didorong
panas hati , karena saya kesel sama bule-bule itu, yang bilang your peoples
jorok2. Emang iya sih, tapi kan butuh waktu....cing!!!
Program sampah sebagus apapun, kalau masyarakat tidak ikut bertanggung
jawab sama dengan: "Basi"
Jadi masyarakat harus mulai diajarkan membayar retribusi sampah sebanding
dengan jumlah sampah/jenis sampahnya.
Masyarakat harus diajarkan 3R (reduce, Reuse, Recycle).
Makanya saya dari awal sangat tidak setuju (karena capai ngasi tahu
akhirnya tak diemin) program Sarbagita. Bahwa program pengolahan sampah di
Sembung, Kerambitan itu, akan sia-sia, kalau masyarakat belum
diajarkan/diberi aturan/dikontrol, untuk" memisahkan sampah organik dan
anorganik. Siapa yang mau kampungnya jadi tempat pemilahan sampah dari 4
kabupaten/kota yang semuanya masih kecampur??? Jadi tahapannya yang salah,
harusnya masyarakat siap dulu......baru bikin fasilitas (yang katanya bukan
TPA, sekali lagi bukan TPA, katanya......, how if I call it dump
site???? patuh dogen!!!!he...he...).
Sampah sebaiknya dikelola desentralisasi, bukan sentralisasi (ngapain
buang2 uang tranportasi???)
Masalah pemulung; kalau di Bali ada oknum pemulung yang suka gatal tangan,
jadi mekanismenya harus dibuat, sehingga pemulung nggak harus masuk kawasan
banjar/gang/jalan yang bersangkutan. Kawasan yang kelola (setelah terpisah)
and then yang organik bisa diberikan kepada pemulung/recycle company. Yang
organik dikomposkan setempat atau gabung dengan tempat pengomposan lainnya.
Issuenya jangan ke pemulung. Karena yang peduli dengan sampah anorganik,
bukan cuman pemulung!!! Main kasih penghargaan aja........wong dia
melakukan itu bukan karena peduli lingkungan...kok, tapi karena "Bhetara
Dalem" alias "perut". Kalau nggak percaya coba anda lihat cara hidupnya,
mau buang air, mau buang sampah .....semua seenaknya!!!
Kalau mau bantu mereka dengan alasan kemanusiaan itu wajar, tapi kalau
tiba-tiba dijadikan pahlawan, itu bahaya.
Tidak ada pahlawan dalam "kepedulian", karena " Once You Buy Something its
Your Rubbish".
salam: Widi
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
