Ini ada artikel bagus untuk direnungkan.

-----Original Message-----
From: Herliyani Suharta [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, December 12, 2002 3:24 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [lsde_lovers] Fw: Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam

FYI.
Tulisan berikut ini nampaknya menimbulkan polemik.
Pengungkapan pemikirannya mendapat kritik tajam.

Wassalam

Herliyani Suharta

----- Original Message -----
From: "General-Info" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, November 19, 2002 4:33 AM
Subject: [unair] Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam


> Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam
>
> Oleh Ulil Abshar-Abdalla
>
> SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah "organisme" yang hidup;
> sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan
manusia.
> Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu
> dianggap sebagai "patung" indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.
>
> Saya melihat, kecenderungan untuk "me-monumen-kan" Islam amat menonjol
saat
> ini. Sudah saatnya suara lantang dikemukakan untuk menandingi
kecenderungan
> ini.
>
> Saya mengemukakan sejumlah pokok pikiran di bawah ini sebagai usaha
> sederhana menyegarkan kembali pemikiran Islam yang saya pandang cenderung
> membeku, menjadi "paket" yang sulit didebat dan dipersoalkan: paket Tuhan
> yang disuguhkan kepada kita semua dengan pesan sederhana, take it or leave
> it! Islam yang disuguhkan dengan cara demikian, amat berbahaya bagi
kemajuan
> Islam itu sendiri.
>
> Jalan satu-satunya menuju kemajuan Islam adalah dengan mempersoalkan cara
> kita menafsirkan agama ini. Untuk menuju ke arah itu, kita memerlukan
> beberapa hal.
>
> Pertama, penafsiran Islam yang non-literal, substansial, kontekstual, dan
> sesuai denyut nadi peradaban manusia yang sedang dan terus berubah.
>
> Kedua, penafsiran Islam yang dapat memisahkan mana unsur-unsur di dalamnya
> yang merupakan kreasi budaya setempat, dan mana yang merupakan nilai
> fundamental. Kita harus bisa membedakan mana ajaran dalam Islam yang
> merupakan pengaruh kultur Arab dan mana yang tidak.
>
> Islam itu kontekstual, dalam pengertian, nilai-nilainya yang universal
harus
> diterjemahkan dalam konteks tertentu, misalnya konteks Arab, Melayu, Asia
> Tengah, dan seterusnya. Tetapi, bentuk-bentuk Islam yang kontekstual itu
> hanya ekspresi budaya, dan kita tidak diwajibkan mengikutinya.
>
> Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak
> usah diikuti. Contoh, soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot,
> jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular
Islam
> di Arab.
>
> Yang harus diikuti adalah nilai-nilai universal yang melandasi
> praktik-praktik itu. Jilbab intinya adalah mengenakan pakaian yang
memenuhi
> standar kepantasan umum (public decency). Kepantasan umum tentu sifatnya
> fleksibel dan berkembang sesuai perkembangan kebudayaan manusia. Begitu
> seterusnya.
>
> Ketiga, umat Islam hendaknya tidak memandang dirinya sebagai "masyarakat"
> atau "umat" yang terpisah dari golongan yang lain. Umat manusia adalah
> keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri.
> Kemanusiaan adalah nilai yang sejalan, bukan berlawanan, dengan Islam.
>
> Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan
> lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi. Quran sendiri tidak pernah
> dengan tegas melarang itu, karena Quran menganut pandangan universal
tentang
> martabat manusia yang sederajat, tanpa melihat perbedaan agama. Segala
> produk hukum Islam klasik yang membedakan antara kedudukan orang Islam dan
> non-Islam harus diamandemen berdasarkan prinsip kesederajatan universal
> dalam tataran kemanusiaan ini.
>
> Keempat, kita membutuhkan struktur sosial yang dengan jelas memisahkan
mana
> kekuasaan politik dan mana kekuasaan agama. Agama adalah urusan pribadi;
> sementara pengaturan kehidupan publik adalah sepenuhnya hasil kesepakatan
> masyarakat melalui prosedur demokrasi. Nilai-nilai universal agama tentu
> diharapkan ikut membentuk nilai-nilai publik, tetapi doktrin dan praktik
> peribadatan agama yang sifatnya partikular adalah urusan masing-masing
> agama.
>
> Menurut saya, tidak ada yang disebut "hukum Tuhan" dalam pengertian
seperti
> dipahami kebanyakan orang Islam. Misalnya, hukum Tuhan tentang pencurian,
> jual beli, pernikahan, pemerintahan, dan sebagainya. Yang ada adalah
> prinsip-prinsip umum yang universal yang dalam tradisi pengkajian hukum
> Islam klasik disebut sebagai maqashidusy syari'ah, atau tujuan umum
syariat
> Islam.
>
> Nilai-nilai itu adalah perlindungan atas kebebasan beragama, akal,
> kepemilikan, keluarga/keturunan, dan kehormatan (honor). Bagaimana
> nilai-nilai itu diterjemahkan dalam konteks sejarah dan sosial tertentu,
itu
> adalah urusan manusia Muslim sendiri.
>
>
> ***
> BAGAIMANA meletakkan kedudukan Rasul Muhammad SAW dalam konteks pemikiran
> semacam ini? Menurut saya, Rasul Muhammad SAW adalah tokoh historis yang
> harus dikaji dengan kritis, (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang
> dikagumi saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang
juga
> banyak kekurangannya), sekaligus panutan yang harus diikuti (qudwah
> hasanah).
>
> Bagaimana mengikuti Rasul? Di sini, saya mempunyai perbedaan dengan
> pandangan dominan. Dalam usaha menerjemahkan Islam dalam konteks
> sosial-politik di Madinah, Rasul tentu menghadapi banyak keterbatasan.
Rasul
> memang berhasil menerjemahkan cita-cita sosial dan spiritual Islam di
> Madinah, tetapi Islam sebagaimana diwujudkan di sana adalah Islam
historis,
> partikular, dan kontekstual.
>
> Kita tidak diwajibkan mengikuti Rasul secara harfiah, sebab apa yang
> dilakukan olehnya di Madinah adalah upaya menegosiasikan antara
nilai-nilai
> universal Islam dengan situasi sosial di sana dengan seluruh kendala yang
> ada. Islam di Madinah adalah hasil suatu trade-off antara "yang universal"
> dengan "yang partikular".
>
> Umat Islam harus ber-ijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan
> nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. "Islam"-nya Rasul
di
> Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal
di
> muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara
lain,
> dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others,
> salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.
>
> Oleh karena itu, umat Islam tidak sebaiknya mandek dengan melihat contoh
di
> Madinah saja, sebab kehidupan manusia terus bergerak menuju perbaikan dan
> penyempurnaan. Bagi saya, wahyu tidak berhenti pada zaman Nabi; wahyu
terus
> bekerja dan turun kepada manusia. Wahyu verbal memang telah selesai dalam
> Quran, tetapi wahyu nonverbal dalam bentuk ijtihad akal manusia terus
> berlangsung.
>
> Temuan-temuan besar dalam sejarah manusia sebagai bagian dari usaha menuju
p
> erbaikan mutu kehidupan adalah wahyu Tuhan pula, karena temuan-temuan itu
> dilahirkan oleh akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan. Karena itu,
> seluruh karya cipta manusia, tidak peduli agamanya, adalah milik orang
Islam
> juga; tidak ada gunanya orang Islam membuat tembok ketat antara peradaban
> Islam dan peradaban Barat: yang satu dianggap unggul, yang lain dianggap
> rendah. Sebab, setiap peradaban adalah hasil karya manusia, dan karena itu
> milik semua bangsa, termasuk milik orang Islam.
>
> Umat Islam harus mengembangkan suatu pemahaman bahwa suatu penafsiran
Islam
> oleh golongan tertentu bukanlah paling benar dan mutlak, karena itu harus
> ada kesediaan untuk menerima dari semua sumber kebenaran, termasuk yang
> datangnya dari luar Islam. Setiap golongan hendaknya menghargai hak
golongan
> lain untuk menafsirkan Islam berdasarkan sudut pandangnya sendiri; yang
> harus di-"lawan" adalah setiap usaha untuk memutlakkan pandangan keagamaan
> tertentu.
>
> Saya berpandangan lebih jauh lagi: setiap nilai kebaikan, di mana pun
> tempatnya, sejatinya adalah nilai Islami juga. Islam-seperti pernah
> dikemukakan Cak Nur dan sejumlah pemikir lain-adalah "nilai generis" yang
> bisa ada di Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, agama dan
> kepercayaan lokal, dan sebagainya. Bisa jadi, kebenaran "Islam" bisa ada
> dalam filsafat Marxisme.
>
> Saya tidak lagi memandang bentuk, tetapi isi. Keyakinan dan praktik
> keIslam-an yang dianut oleh orang-orang yang menamakan diri sebagai umat
> Islam hanyalah "baju" dan forma; bukan itu yang penting. Yang pokok adalah
> nilai yang tersembunyi di baliknya.
>
> Amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan "baju" yang dipakai,
> sementara mereka lupa, inti "memakai baju" adalah menjaga martabat manusia
> sebagai makhluk berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat
> untuk menuju tujuan pokok: penyerahan diri kepada Yang Maha Benar.
>
> Ada periode di mana umat beragama menganggap, "baju" bersifat mutlak dan
> segalanya, lalu pertengkaran muncul karena perbedaan baju itu. Tetapi,
> pertengkaran semacam itu tidak layak lagi untuk dilanggengkan kini.
>
>
> ***
> MUSUH semua agama adalah "ketidakadilan". Nilai yang diutamakan Islam
adalah
> keadilan.
>
> Misi Islam yang saya anggap paling penting sekarang adalah bagaimana
> menegakkan keadilan di muka Bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi
> (tentu juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung kembali
> perempuan, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek
> masalah yang menurut saya amat bersifat furu'iyyah. Keadilan itu tidak
bisa
> hanya dikhotbahkan, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk sistem dan aturan
> main, undang-undang, dan sebagainya, dan diwujudkan dalam perbuatan.
>
> Upaya menegakkan syariat Islam, bagi saya, adalah wujud ketidakberdayaan
> umat Islam dalam menghadapi masalah yang mengimpit mereka dan
> menyelesaikannya dengan cara rasional. Umat Islam menganggap, semua
masalah
> akan selesai dengan sendirinya manakala syariat Islam, dalam penafsirannya
> yang kolot dan dogmatis, diterapkan di muka Bumi.
>
> Masalah kemanusiaan tidak bisa diselesaikan dengan semata-mata merujuk
> kepada "hukum Tuhan" (sekali lagi: saya tidak percaya adanya "hukum
Tuhan";
> kami hanya percaya pada nilai-nilai ketuhanan yang universal), tetapi
harus
> merujuk kepada hukum-hukum atau sunnah yang telah diletakkan Allah sendiri
> dalam setiap bidang masalah. Bidang politik mengenal hukumnya sendiri,
> bidang ekonomi mengenal hukumnya sendiri, bidang sosial mengenal hukumnya
> sendiri, dan seterusnya.
>
> Kata Nabi, konon, man aradad dunya fa'alihi bil 'ilmi, wa man aradal
> akhirata fa 'alihi bil 'ilmi; barang siapa hendak mengatasi masalah
> keduniaan, hendaknya memakai ilmu, begitu juga yang hendak mencapai
> kebahagiaan di dunia "nanti", juga harus pakai ilmu. Setiap bidang ada
> aturan, dan tidak bisa semena-mena merujuk kepada hukum Tuhan sebelum
> mengkajinya lebih dulu. Setiap ilmu pada masing-masing bidang juga terus
> berkembang, sesuai perkembangan tingkat kedewasaan manusia. Sunnah Tuhan,
> dengan demikian, juga ikut berkembang.
>
> Sudah tentu hukum-hukum yang mengatur masing-masing bidang kehidupan itu
> harus tunduk kepada nilai primer, yaitu keadilan. Karena itu, syariat
Islam,
> hanya merupakan sehimpunan nilai-nilai pokok yang sifatnya abstrak dan
> universal; bagaimana nilai-nilai itu menjadi nyata dan dapat memenuhi
> kebutuhan untuk menangani suatu masalah dalam periode tertentu, sepenuhnya
> diserahkan kepada ijtihad manusia itu sendiri.
>
> Pandangan bahwa syariat adalah suatu "paket lengkap" yang sudah jadi,
suatu
> resep dari Tuhan untuk menyelesaikan masalah di segala zaman, adalah wujud
> ketidaktahuan dan ketidakmampuan memahami sunnah Tuhan itu sendiri.
> Mengajukan syariat Islam sebagai solusi atas semua masalah adalah sebentuk
> kemalasan berpikir, atau lebih parah lagi, merupakan cara untuk lari dari
> masalah; sebentuk eskapisme dengan memakai alasan hukum Tuhan.
>
> Eskapisme inilah yang menjadi sumber kemunduran umat Islam di mana-mana.
> Saya tidak bisa menerima "kemalasan" semacam ini, apalagi kalau
> ditutup-tutupi dengan alasan, itu semua demi menegakkan hukum Tuhan.
Jangan
> dilupakan: tak ada hukum Tuhan, yang ada adalah sunnah Tuhan serta
> nilai-nilai universal yang dimiliki semua umat manusia.
>
> Musuh Islam paling berbahaya sekarang ini adalah dogmatisme, sejenis
> keyakinan yang tertutup bahwa suatu doktrin tertentu merupakan obat
mujarab
> atas semua masalah, dan mengabaikan bahwa kehidupan manusia terus
> berkembang, dan perkembangan peradaban manusia dari dulu hingga sekarang
> adalah hasil usaha bersama, akumulasi pencapaian yang disangga semua
bangsa.
>
> Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara "kami" dengan "mereka",
> antara hizbul Lah (golongan Allah) dan hizbusy syaithan (golongan setan)
> dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara "Barat" dan
"Islam";
> doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai
dasar
> Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang
> manusia sebagai warga dunia yang satu.
>
> Pemisah antara "kami" dan "mereka" sebagai akar pokok dogmatisme,
> mengingkari kenyataan bahwa kebenaran bisa dipelajari di mana-mana, dalam
> lingkungan yang disebut "kami" itu, tetapi juga bisa di lingkungan
"mereka".
> Saya berpandangan, ilmu Tuhan lebih besar dan lebih luas dari yang
> semata-mata tertera di antara lembaran-lembaran Quran.
>
> Ilmu Tuhan adalah penjumlahan dari seluruh kebenaran yang tertera dalam
> setiap lembaran "Kitab Suci" atau "Kitab-Tak-Suci", lembaran-lembaran
> pengetahuan yang dihasilkan akal manusia, serta kebenaran yang belum
sempat
> terkatakan, apalagi tertera dalam suatu kitab apa pun. Kebenaran Tuhan,
> dengan demikian, lebih besar dari Islam itu sendiri sebagai agama yang
> dipeluk oleh entitas sosial yang bernama umat Islam. Kebenaran Tuhan lebih
> besar dari Quran, Hadis dan seluruh korpus kitab tafsir yang dihasilkan
umat
> Islam sepanjang sejarah.
>
> Oleh karena itu, Islam sebetulnya lebih tepat disebut sebagai sebuah
> "proses" yang tak pernah selesai, ketimbang sebuah "lembaga agama" yang
> sudah mati, baku, beku, jumud, dan mengungkung kebebasan. Ayat Innaddina
> 'indal Lahil Islam (QS 3:19), lebih tepat diterjemahkan sebagai,
> "Sesungguhnya jalan religiusitas yang benar adalah
> proses-yang-tak-pernah-selesai menuju ketundukan (kepada Yang Maha
Benar)."
>
> Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah
> tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar.
> Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan
> kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu.
> Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga
pencinta
> jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.
>
> Maka, fastabiqul khairat, kata Quran (QS 2:148); berlombalah-lombalah
dalam
> menghayati jalan religiusitas itu.
>
> Syarat dasar memahami Islam yang tepat adalah dengan tetap mengingat, apa
> pun penafsiran yang kita bubuhkan atas agama itu, patokan utama yang harus
> menjadi batu uji adalah maslahat manusia itu sendiri.
>
> Agama adalah suatu kebaikan buat umat manusia; dan karena manusia adalah
> organisme yang terus berkembang, baik secara kuantitatif dan kualitatif,
> maka agama juga harus bisa mengembangkan diri sesuai kebutuhan manusia itu
> sendiri. Yang ada adalah hukum manusia, bukan hukum Tuhan, karena
manusialah
> stake holder yang berkepentingan dalam semua perbincangan soal agama ini.
>
> Jika Islam hendak diseret kepada suatu penafsiran yang justru berlawanan
> dengan maslahat manusia itu sendiri, atau malah menindas kemanusiaan itu,
> maka Islam yang semacam ini adalah agama fosil yang tak lagi berguna buat
> umat manusia.
>
> Mari kita cari Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi
maslahat
> manusia. Mari kita tinggalkan Islam yang beku, yang menjadi sarang
> dogmatisme yang menindas maslahat manusia itu sendiri.
>
> ULIL ABSHAR-ABDALLA, Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL), Jakarta
>
> Senin, 18 November 2002
>
> Design By KCM
> Copyright (c) 2002 Harian KOMPAS
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>





Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/


----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke