|
Komentar
dibawah ini juga menarik. -----Original Message----- Assalamu`alaikum wr wb Tulisan Ulil tsb memang mengundang
polemik, tidak hanya di surat kabar tapi juga dibanyak mailing list. Bagi rekan-rekan yang belum sembat
membaca, saya kopikan para penanggap tulisan tersbut dari kompas 4 des 2002,
mulai dari mertua Ulil (Gus Mus), Haidar baqir, sampao tokok MMI. Maaf bagi yang tidak berkenan. Wassalamu`alaikum wr wb Ishom ================================= Menyegarkan Kembali Sikap Islam Oleh A.
Mustofa Bisri KETIKA harian Kompas (18/11/2002) menurunkan tulisan Ulil Abshar
Abdalla, Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, saya menduga bakal muncul banyak
reaksi. Benar. HP saya dibanjiri komentar reaktif beberapa orang atas artikel
itu. Semuanya bernada "mempertanyakan". Tulisan itu bernada "teror". Saya nyaris yakin, saat
menulis, di depan Ulil ada bayangan orang-orang berjubah dan berjenggot,
membawa pedang yang di bayangan Ulil terus meneriakinya agar dia juga
berpakaian dan berjenggot seperti mereka jika tidak mau masuk neraka. Dari awal
tulisan, nada geram sudah tercium. Selanjutnya, Ulil seperti hanya ingin
membuat geram mereka yang membayanginya. Mereka yang ia sebut sebagai
orang-orang yang memiliki kecenderungan "me-monumen-kan" Islam. Maka diulang-ulangnya kalimat yang mirip-atau sengaja diambil
dari-ungkapan-ungkapan kebanyakan orientalis Barat yang paling dibenci oleh
mereka yang "membayangi Ulil" itu. Bila dugaan saya benar, inilah kesalahan pertama Ulil. Tulisan itu
mestinya bukan di Kompas yang umumnya tidak dibaca oleh mereka yang ingin
dibuatnya geram. Pembaca Kompas-wallahua lam-umumnya mereka yang masih mau
menyisakan perhatian dan waktu untuk membaca atau mendengar pendapat orang
lain. Melihat nada tulisannya, Ulil jelas hanya menujukan kepada mereka yang ia
sendiri sepertinya sudah yakin tidak akan mau "mendengarkan"-nya.
Akibat salah memilih media, tulisan itu justru lebih membuat bingung mereka
yang selama ini tidak bertipe sebagaimana sasarannya. Mereka yang selama ini
menyikapi artikel sebagai penuangan pikiran-bukan untuk hal lain, seperti
men-"teror" orang-akan bertanya-tanya, apa maunya Ulil? Kesalahan kedua, sekali lagi bila dugaan saya itu benar: Ulil
menulis dengan geram! Kegeraman, sebagaimana sikap-sikap athifie lainnya, bisa mengacaukan
pikiran yang jernih; bisa membuat orang bersikap berlebihan; membuat orang
tidak bisa berlaku adil, jejeg. Sikap yang justru dia sendiri serukan sebagai
sesuatu yang mesti diutamakan. Itu sebabnya hakim yang sedang geram tidak boleh
memutuskan hukuman. Ulil pasti sudah hafal mahfuzhat yang berbunyi "Kaifa
yastiqiemudzillu wal uudu a
waj?", "Bagaimana bayangan bisa lurus bila tongkat yang menimbulkan
bayangan, bengkok?" Ya bagaimana kita akan meluruskan kalau kita sendiri
kacau? KESALAHAN lain yang mestinya tidak boleh terjadi dari seorang
intelektual ialah menggunakan kemampuannya untuk atau mencampurnya dengan
urusan "nafsu". Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Inna akhwafa
maa akhaafu alaa ummatie: asyirku
billah. Alaa inni laa aquulu ta buduuna watsanan walaa qamaran walaa syamsan;
walaakin al-a maal lighairillahi wa syahwatin khafiyyah." Au kamaa qaala
Rasulullah SAW. "Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku
ialah menyekutukan Allah. Ingat, aku tidak berkata kalian akan menyembah
berhala, rembulan, atau matahari; tapi yang kumaksud: amal-amal yang dilakukan
bukan karena Allah dan adanya kepentingan yang tersamar. Amar makruf nahi munkar yang populer itu, hakikatnya adalah
manifestasi dari kasih-sayang. Maka, ada dawuh, "Amar makruf nahi munkar,
hendaklah dilakukan secara makruf dan tidak boleh dilakukan secara
munkar." Untuk dapat ber-amar-makruf-nahi-munkar secara benar, menurut
saya, harus didahului kasih sayang. Orang yang tidak mempunyai rasa kasih
sayang, sulit dibayangkan dapat melakukan amar makruf nahi munkar. Dengan kata
lain, amar makruf nahi munkar adalah istilah lain dari rahmatan lil alamien. Wallahu a lam. Semua orang tahu, semangat yang berlebihan kadang menyeret orang
kepada perbuatan bodoh. Apalagi, bila tidak disertai pemahaman yang cukup atas
apa yang disemangati. Ulil sudah tahu, bahkan tampak sudah menjadi
"obsesi"-nya, banyak di antara kaum beragama yang terlalu bersemangat
dan tidak disertai pemahaman cukup atas agamanya, justru terbukti lebih banyak
merugikan, terutama bagi citra agama itu sendiri. Maka sudah semestinya Ulil
tidak bersikap sama. Terlalu bersemangat dalam "memerangi" apa yang
dianggapnya "musuh Islam", sehingga justru mengaburkan pikiran jernih
yang ingin dikemukakan. Kesalahan terakhir-mudah-mudahan benar-benar terakhir-Ulil menulis
itu pada bulan suci Ramadhan, dimana seharusnya umat Islam menyerap kasih
sayang Ilahi bagi merahmati sesama. Sengaja saya tidak menanggapi isi atau materi tulisan, karena
seperti dikemukakan di atas, saya tidak melihat tulisan Ulil kali ini
dimaksudkan untuk mengutarakan pikiran, bahkan wacana sekali pun. Saya yakin
kalau membaca lagi tulisannya, dia akan menyesal, minimal agak menyesal, atau
saya mengharapkan begitu. A. Mustofa Bisri, Mertua Ulil Abshar Abdalla -----
Original Message -----
Sent: Thursday, December 12, 2002
2:54 PM Subject:
[lsde_lovers] Fw: Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam FYI.
|
