Hari ini Balipost memuat tentang gonjang-ganjing privatisasi Indosat,
berikut ini saya forward topik yang sama sekedar untuk menambah
perbendaharaan wawasan.

Salam
Gde Wisnaya

-----Original Message-----
From: Syafril Hermansyah [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Tuesday, December 31, 2002 2:13 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [el77itb] Fw: [GENETIK@] Komedi Privatisasi Indosat

Ini yg lagi rame di Milis lain :-)

Begin forwarded message:

Date: Sun, 29 Dec 2002 21:52:18 -0700
From: Irwan Hadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Subject: [GENETIK@] Komedi Privatisasi Indosat


http://www.detik.com/peristiwa/2002/12/30/20021230-112158.shtml

Komedi Privatisasi Indosat
Oleh : Abdul Rahman

detikcom - Jakarta, Sesuatu yang menyedihkan seringkali jadi terasa
lucu. Kalau Anda menonton film komedi Roberto Benigni, Life is
Beautiful, Anda tentu tahu maksud saya. Atau mengikuti cerita-cerita
seputar privatisasi Indosat di bawah ini.

Indosat aset strategis? Lucu sekali

Amien Rais bilang, penjualan Indosat kepada Singapore Technologies
Telemedia (STT), bukan hanya menghilangkan kedaulatan Indonesia dalam
mengelola informasi tetapi juga membuat Indonesia seolah-olah menjadi
propinsi Singapura.

Lebih jauh dia berkata begini: .Implikasinya sangat jauh. Implikasi
ekonomi, jelas. Implikasi finansial, perdagangan, juga jelas. Karena
informasi juga sangat signifikan untuk pengembangan ekonomi, finansial,
dan lain-lain." Jika menginginkan, tambahnya, .Singapura dengan mudah
dapat mengkoyak-koyak integrasi bangsa Indonesia. Misalnya mem-black out
dengan alasan satelitnya rusak, tidak ada hubungan antar-pulau, antar
angkatan dan lain-lain."

Saya tak tahu bagaimana Amien Rais bisa berkesimpulan begitu. Entah
karena betul-betul na�f (tak tahu apa-apa mengenai bisnis dan
teknologi), entah karena ia memang mau melucu.

Saya kasih tahu Anda: Indosat tanpa bisnis telepon seluler Satelindo
(dan IM3) sama sekali tak ada artinya. Sungguh. Hari ini perusahaan ini
ditutup, besok dengan sangat mudah digantikan perusahaan lain.
Masyarakat tidak akan kehilangan. Tidak akan ada black out informasi,
hubungan antarpulau akan lancar-lancar saja, dan Indonesia tak usahlah
menjadi provinsi Singapura.

Anda mungkin bertanya, kenapa dong kalau begitu labanya bisa ratusan
miliar dan STT mau membayar mahal? Karena dia memiliki Satelindo serta
dipersenjatai secarik kertas . yang isinya memberi dia hak untuk menjadi
satu-satunya penyedia jasa sambungan telepon internasional (SLI).
Dicabut lisensi itu dan dibuang bisnis ponselnya, Indosat akan rontok
begitu saja.

Mengapa? Karena SLI adalah bisnis yang secara teknologi sangat gampang.
Siapa pun bisa melakukannya. Tinggal menyewa sambungan keluar Indonesia
. banyak perusahaan internasional yang menyediakannya baik berupa kabel
bawah laut maupun satelit . dalam waktu sekejap bisnis jalan. Karena
ketatnya persaingan, ongkos sewa sambungan itu murah sekali, tak sampai
10% tarif SLI Indosat. Kalau monopoli Indosat dicabut, dalam sekejap
akan banyak yang menggantikannya.

Sekarang pun, ketika monopolinya belum dicabut, bisnis SLI Indosat dari
tahun ke tahun terus meredup. Omsetnya mengkerut, labanya makin habis.
Mengapa? Karena sekarang ada email, ada fasilitas chatting semacam Yahoo
Messenger dan ICQ yang popular itu (dan gratis lagi).

Kalau Anda ingin berbicara bukan mengetik di komputer, penyelenggara
VOIP baik legal maupun liar sudah banyak (termasuk Telkom dengan
TelkomSavenya). Melalui Yahoo! Messenger, Anda juga bias ngobrol seperti
bertelepon (dan tetap gratis). Mulai Agustus nanti, setelah Telkom
diperbolehkan berbisnis SLI, percayalah tanpa dukungan dari perusahaan
seperti STT Indosat akan merana.

Lha penguasaannya akan satelit dan sebagainya tersebut? Satelit, bung,
di atas bumi Indonesia ada berpuluh-puluh. Telkom punya beberapa biji
(karena itu tak perlu khawatir hubungan antar pulau kita seperti
dikhawatirkan Amien Rais, itu urusan Telkom bukan Indosat). PSN
(sebagian saham dimiliki Telkom) punya. Hampir semua negara ASEAN punya.


Lalu ada pula satelit-satelit milik multinasional asing. Hampir semuanya
tidak di bawah kontrol Singapura. Satelitnya Satelindo (yang berarti
juga milik Indosat) tidaklah begitu penting lagi artinya. Sekarang pun
ratusan perusahaan Indonesia sudah menyewa satelit tanpa melewati
Indosat. Bahkan warnet di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta pun
melakukannya.

Kehilangan Indosat menjadikan Indonesia propinsi Singapura? Silahkan
ketawa keras-keras.

Satelit dan SLI bukanlah hal yang menarik STT masuk. Yang paling
berharga dari Indosat adalah bisnis telepon selulernya (lewat Satelindo
dan IM2). Ponsel adalah bisnis sangat besar yang dalam tahun 2002 ini di
Indonesia tumbuh lebih dari 100%.

Satelit Satelindo justru merupakan beban . yang menyebabkannya menumpuk
hutang dan menimbulkan kerugian selama bertahun-tahun. Karena beban
hutang itu Satelindo tak mampu investasi untuk mengembangkan jaringan
selulernya. Karena itu perusahaan ini butuh pendukung yang punya uang .
seperti STT.

Seperti Polisi Pinggir Jalan

Anda sangat boleh jadi pernah mengalaminya. Suatu ketika, tanpa sadar,
Anda belok di sebuah persilangan jalan tanpa menyadari ada tanda
larangan. Tahu-tahu di depan berdiri polisi menyetop Anda dan memberi
tahu bahwa Anda telah melakukan pelanggaran. Selanjutanya.Anda tahu
sendiri lah.

Tentu saja sikap polisi seperti itu adalah sikap yang lucu. Kalau
niatnya adalah memperlancar lalu lintas dengan mengingatkan orang, ia
seharusnya berdiri sebelum belokan. Jadi, Anda tak perlu salah belok
karena sudah lebih dulu diberitahu polisi. Sayangnya, seperti Anda tahu,
niat sang polisi memang bukan itu.

Apa yang dilakukan Amien Rais dan beberapa politisi lain yang menentang
privatisasi, khususnya Indosat (cukup banyak) tak beda jauh dari itu.
Tak mungkin mereka tak tahu bahwa privatisasi akan dilakukan. Tak
mungkin mereka tak tahu kalau Indosat akan dilego wong masalah ini
sebelumnya sudah dibicarakan dalam beberapa rapat dengan DPR yang di
dalamnya pasti juga ada unsur dari Fraksi Reformasi.

Karena itu, kalau mereka menganggapnya salah dan ingin menentang
harusnya mereka lakukan dari dulu, yaitu ketika rencana privatisasi
termasuk ikutnya STT dalam tender mulai muncul . bukan ketika transaksi
sudah dilakukan seperti sekarang ini. Tentu saja ini menimbulkan
pertanyaan: seperti pak polisi di pinggir jalan, jangan-jangan mereka
memang memiliki niatan lain yang tak ada hubungannya dengan menjaga
lepasnya aset strategis negara.

Dalam hal ini, pak polisi pinggir jalan masih lebih baik karena
kesalahan yang kita (pengemudi) lakukan memang riil sementara pemerintah
dalam kasus privatisasi Indosat kesalahannya baru ada di pikiran si
pengeritik.

Bahwa politisi-politisi kita bisa terjebak dalam sikap seperti itu,
silahkan Anda memilih apakah akan tertawa atau merasa sedih.

Pemerintah Yang tidak Pede

Sebuah kasus privatisasi yang sangat jelas alasannya, dan karena itu
seharusnya bisa dilakukan dengan lancar, akhirnya menimbulkan keributan
besar. Itu tak akan terjadi kalau bukan pemerintah Indonesia yang
melakukannya.

Pemerintah tidak memberi penjelasan yang cukup, baik kepada DPR, kepada
masyarkat maupun kepada karyawan Indosat. Kesan yang muncul seolah-olah
pemerintah memang ingin melakukan privatisasi Indosat secara
sembunyi-sembunyi . dan karena itu jadi wajar kalau kemudian ada yang
curiga ada apa-apa di baliknya.

Terlepas dari benar tidaknya kecurigaan itu, acap kali pemerintah kita
ini memang menunjukkan kelakuan yang kurang pede (percaya diri).
Sepertinya pemerintah takut akan mendapat kritik keras di depan . dan
upayanya menjadi gagal -- kalau mendiskusikan sebuah langkah sebelum
dilakukan. Maka banyak kebijakan dilaksanakan dengan penjelasan
sesedikit mungkin.

Kalau kemudian menjadi persoalan di belakang, barulah dibuatkan
penjelasan yang lebih lengkap (itu pun belum tentu: sampai sekarang
pemerintah belum bersuara tegas dalam masalah ini). Tentu saja ini tidak
baik. Semakin sering cara seperti ini dilakukan, semakin merosot
kepercayaan orang kepada pemerintah. Akan lebih baik kalau pemerintah
berani bersikap tegas . menjelaskan secara terbuka apa-apa yang akan
dilakukannya di depan dan siap menghadapi setiap kritik yang kemudian
muncul.

Privatisasi Indosat bisa dengan mudah dijelaskan sejak awal. Seperti
dikatakan di depan, Indosat adalah perusahaan yang sudah kehilangan
nilai strategisnya. Bisnis utama dia yang lama (sambungan internasional)
meredup dan segera akan kehilangan monopolinya.

Bisnis utama yang baru (seluler) butuh investasi besar sementara Indosat
dan pemegang sahamnya (pemerintah) kesulitan membiayainya karena masih
menanggung beban utang yang tak sedikit. Karena itu, lebih baik dijual.

Kenapa ke STT yang merupakan anak perusahaan sebuah perusahaan yang
memiliki saham cukup banyak di operator seluler lain (Telkomsel, 35%)?
Ya karena perusahaan ini yang menawar paling tinggi dan berani membuat
kesepakatan yang menguntungkan karyawan. Kenapa tidak menunggu sampai
mendapat harga lebih bagus dari pembeli lain? Karena semakin lama
ditunggu Indosat akan semakin kehilangan nilai strategisnya dan karena
itu harganya bisa-bisa bukannya naik malah akan turun.

Serikat Pekerja yang kebablasan

Kalau sebuah perusahaan oleh pemiliknya akan dijual dan pekerja takut
pemilik baru akan merugikan mereka . melakukan PHK besar-besaran,
misalnya . wajar kalau mereka protes, mogok, atau demo untuk mencoba
menghalangi penjualan itu. Tetapi kalau mogoknya dilakukan dengan alasan
penjualan itu akan merugikan pemilik lama tentu menggelikan.

Tetapi itulah yang dilakukan serikat pekerja Indosat. Dalam demo-demo
mereka mereka selalu menjadikan kerugian negara . harganya terlalu
murah, Indosat adalah asset strategis . sebagai alasan penolakan, bukan
nasib mereka pasca penjualan saham.

Kenapa Serikat Pekerja Indosat tidak mengusung persoalan perburuhan
sebagai alasan penolakan? Karena tampaknya dalam hal ini memang tak ada
yang bisa mereka keluhkan. Mereka mendapatkan opsi kepemilikan saham 5%
(karyawan BUMN mana yang mendapatkannya?) Kalau terkena PHK mereka
mendapat pesangon sangat besar . konon 6 kali peraturan yang berlaku
(PMTK, Peraturan Menteri Tenaga Kerja). Lalu mau apa lagi?

Tentu saja boleh pekerja Indosat concern terhadap masalah-masalah
nasional seperti itu. Tetapi kalau mereka terus menggunakan kekuatan
yang ada pada mereka termasuk kekuatan untuk mengganggu jalannya
perusahaan agar penjualan dibatalkan itu sudah kelewat batas. Pemerintah
adalah wakil rakyat Indonesia yang menjadi pemilik saham Indosat yang
dijual ke STT.

Selama penjualan itu dilakukan dengan prosedur yang benar, tak ada
alasan buat pekerja Indosat untuk merintanginya. Kalaupun prosedurnya
dianggap tak benar, juga bukan tugas mereka untuk kemudian
merintanginya. Itu tugas DPR.


Bagaimana kalau penjualan saham ke STT akhirnya dibatalkan? Maka
privatisasi Indosat pun menjadi tragi-komedi yang lengkap.

--
syafril
-------
Syafril Hermansyah<syafril-at-dutaint.co.id>

--
Milis Internal Elektro-77 ITB Bandung - Indonesia

Henti Langgan : Cepek dulu donk!
Moderators    : [EMAIL PROTECTED]
Arsip         : http://el77itb.bhaktiganesha.or.id
Publikasi     : http://pub.bhaktiganesha.or.id
URL           : http://www.bhaktiganesha.or.id


----------------------------------------------------------------------------
 Ikuti polling TELKOM Memo 166 di www.plasa.com dan menangkan hadiah masing-masing Rp 
250.000 tunai
 ----------------------------------------------------------------------------

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke