Ysh. Ketut Arthana dan teman-teman lp3b Hallo Tut, wah rasanya sudah lama kita tidak pernah bersua, mungkin sekitar 20 tahun ya. He...he tanpa terasa waktu terus merayap, pelan namun pasti dan umur kitapun semakin bertambah. Saya sependapat dengan Ketut, bahwa bila bukan kita yang melakukannya, yah siapa lagi ! Khusus untuk butir kedua saya agak surprise, mengingat banyaknya sepeda motor dan mobil mewah di Bali. Hanya saja saya masih ragu, apakah pemiliknya orang Bali, mengingat penduduk Bali khan bukan orang Bali saja. Seandainya pemiliknya orang Bali, saya jadi bertanya-tanya apakah uang pembelian barang- barang tersebut berasal dari kucuran keringatnya atau dari hasil penjualan warisan seperti tanah dsb ? Ketut juga mengamati banyak kawan-kawan kita yang menguasai bagian ujung simpul pariwisata, dan mereka sukses. Perlu kita sadari bersama mata rantai kegiatan pariwisata khan cukup panjang. Salah satu mata rantainya adalah kegiatan riset. Sebagai contoh konkret, tamu australia senangnya apa saja, tamu jepang senangnya apa, hal tersebut memerlukan riset lapangan. Informasi yang pernah saya peroleh, orang australia senang dengan pantai, senang ke cafe dan minum bir, anggur, dan senang memilih angkutan umum bukannya naik taksi dsb. Hal-hal seperti itu mesti kita lakukan. Jika tidak maka orang asing yang melakukannya. Teman saya secara berkelakar bercerita, bahwa kenalan dia, seorang warga negara asing, kerjanya hanya santai-santai berjemur di pantai yang ada di Bali, sambilmelakukan riset mengenai apa-apa saja kesukaan tamu-tamu yang datang ke Bali. Sambil santai tidur-tiduran di pantai, rejekinya ternyata jauh lebih baikdari rata-rata penghasilan kita. Nah hal-hal seperti ini nampaknya perlu menjadi bahan pemikiran buat kita semua. Menurut hemat saya salah satu kunci jawabannya adalah kualitas SDM yang ada mesti ditingkatkan. Orang Bali jangan puas menjadi kacung saja.
Ada fenomena yang kelihatan sepele di masyarakat kita, dimana anak-anak muda Bali berbondong-bondong mencari peluang untuk bekerja di kapal pesiar. Dari sisi materi nampaknya tidak ada yang salah, toh mereka menghasilkan dollar. Hanya saja saya tetap merasa khawatir, bila tendensinya terus seperti itu, nanti jangan-jangan tidak ada lagi yang mau meneruskan studi ke perguruan tinggi. Akhirnya akan semakin mengukuhkan predikat yang sudah lama disandang Bali yaitu kita hanya puas sebagai buruh saja. Apabila kita perluas cakrawala pandang kita, teman-teman yang bermukim di negara maju sudah berfikir tentang teknologi Nano, sementara kita di Indonesia, iklim risetnya belum menunjang. Melihat anggaran pendidikan kita yang minim, interes pemerintah terhadap riset yang kurang, plus budaya jalan pintas, budaya pragmatis yang ada di masyarakat kita, membuat saya khawatir. Nampaknya kita telah berikrar ingin menjadi Bangsa Buruh. Teman- teman kita orang Singapura sudah sesumbar bahwa lulusan perguruan tinggi mereka akan menjadi Boss lulusan ITB. Nah lho. Butir-butir ini sengaja saya lemparkan ke milis ini, agar kita sama-sama berfikirkeras, apa yang mesti kita lakukan, biar masyarakat kita lebih tercerahkan. Mudah-mudahan melalui diskusi di milis ini, kita bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi Bali dan tanah air kita tercinta Indonesia. Saya sudahi dulu tulisan saya, mohon maaf bila ada hal-hal yang kurang berkenan di hati teman-teman. Semoga kedamaian selalu menyertai kita. Salam sejahtera dari Nyoman Bangsing Purnawarman 45. Bandung e.-mail : [EMAIL PROTECTED] -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
