Dear Bangsing,
Makanya kalian yang pintar-pintar ini mbok sekali-sekali bantuin riset, atau seminar atau apalah namanya.Kalau mengharapkan dari pelaku pariwisat disini, ya joh para lah, mereka hanya berhitung berapa dollar yang bisa saya buat dari satu kepala turis. Tetapi beberapa dari mereka sangat peka terhadap permintaan pasar, suatu saat saya dapat project yang bangunannya tidak boleh ada jendela dan pintu tertutup rapat, AC harus bagus. Apa ini project gila ? ternyata ini diperuntukkan untuk orang australia yang datang ke Bali cuman pingin minum di bar malam hari, mabuk, pulang pagi dan tidur sepanjang siang, sore-sore ke pantai, malamnya ke bar lagi, apa ini tidak smart?
Masalah kesuksesan orang Bali, saya pikir kita harus sedikit bangga, tidak semua sukses tentunya, tetapi beberapa dari mereka ternyata sangat sukses, sedihnya adalah ada perubahan attitude dari beberapa orang tersebut, dulu ketika saya baru pulang ke Bali, sangat susah membedakan antara orang kaya (raya) dengan orang kelas menengah., mereka sama sama memakai Colt Station atau paling banter Corolla bekas, sekarang ya sedikit pamerlah. Tapi kalau di ukur dari kriteria melayu, saya pikir orang bali tidak malu2in. Tentu saja begitu banyak juga kita masih bermental priyayi, artinya yang penting punya status bekerja, yang paling penting lagi harus pake seragam. Dulu saya pernah jadi dosen, ceritanya biar gaya aja, habis walaupun waktu itu saya punya mobil dua, tetapi bape jumah selalu mengatakan saya belum punya kerja, be megae kala konden tetep. Tidak membanggakan orang tua lah singkatnya. Banyak orang kerja di swalayan, restaurant dan sebagainya, pake seragam, tapi uang kost masih dikirim dari rumah.
Tentang kerja di luar negeri, saya pikir ada bagusnya, banyak dari mereka pulang ke Bali dengan membawa etos kerja yang tinggi ( yang sebenarnya sudah mendarah daging pada Bali, tetapi terpolusi oleh kondisi lingkungan sekarang ). Bahwa ada beberapa dari mereka yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, itu bagus, biarlah yang berpotensi saja yang ke perguruan tinggi, jangan sampai jadi sarjana tapi kemampuan STM. Saya sendiri sekarang sudah malu memakai IR, habis client saya kebanyakan tidak bergelar sarjana alias drop out. Dan kalau sudah jadi sarjana, kayaknya kok terperangkap pada gelar tersebut ya, contohnya saya arsitek, jadi malu kalau jadi calo tanah, padahal rejekinya jauh lebih banyak.Yang penting gaya, Arsitek lho ( binatang apa itu )
Okelah, Bangsing kalo pulang mampir ya
Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail Plus - Powerful. Affordable. Sign up now
