Mungkin saya coba berkomentar sedikit karena menyangkiut PT DI, sbb:
((catatan : maaf bagi temen-temen yang tidak tertarik silahkan delete saja))

1. Perlu diketahui bahwa NC212 adalah lisensi dari CASA 100 % sehingga kebanyakan 
partnya dari CASA, sedangkan CN 235 50% CASA dan 50% PT DI, jadi partnya juga 50%-50%. 
Yang 100% adalah N250, namun belum terjual karena belum sertifikasi, keburu kekurangan 
modal sejak krisis 1997, yaitu untuk sertifikasi (perlu dana tambahan cukup besar). 
Jadi sekarang primadonanya masih CN235 militer version, bukan civilian. Perlu 
diketahui, kita memang mampu produksi per tahun 12 s/d 18 CN, sekitar 10 Helicopter. 
NC 212 sudah selesai karena sudah produksi 110 buah sesuai lisensi dari CASA. Kalau 
N250 ada, mampu kapasitas produksinya s/d 12 buah juga. Serta peralatan Militer 100-an 
set. 
Yang tersebut diatas bukan teori tapi kenyataan, kecuali untuk N250 karena prototipe 
yang diperlukan saat ini sudah di stop s/d 3 buah saja.

2. Soal penjualan, kita mampu menjual sesuai produksi, contoh yang ada saat ini mulai 
tahun lalu, Korea 8 CN, thaeland 4 CN, Malaysia 8 CN, Pakistan 4 CN, Brunai 1CN, TNI 
AL 6 NC, TNI AU 2 CN, 14 Helicopter, dan lain-lain masih banyak yang jumlahnya 
rata-rata 1 s/d 2 helicopter dan CN. Disamping itu yang sedang dinego pada beberapa 
Negara lainnya seperti Iran, Taiwan, Venisuela, dll puluhan CN235.

3. Produksi tidak bisa secepat permintaan, kenapa ?     sejak krisis kita kekurangan 
modal kerja, sedang IMF tidak membolehkan minta bantuan pemerintah karena takut 
disaingin (takut kalau PT DI maju di Asia Tenggara). Perlu diketahui Boeing di Amerika 
dan Airbus di Eropa yang demikian majunya, masih dibantu pemerintahnya, bukan sendiri 
seperti PT DI., Apalagi perusahaan yang lebih kecil seperti Bombardier di Canada, ATR 
di Perancis, dll.

4. Untuk itu, maka saat ini selain tidak bisa memperdayakan seluruh karyawan yang ada, 
juga tidak bisa mengandalkan modal kerja hanya dari uang muka saja, makanya.... oleh 
GusDur (presiden RI yang baru lalu) lantas merubah sedikit kebijakan untuk PT DI, 
yaitu boleh mengadakan bisnis diluar core, dan diputuskan oleh pemegang saham 
(pemerintah-red), sebagai kebijakan di BUMN PT DI 70% Core dan 30% bisnis non core, 
dan sekarang hampir menjadi 50-50. Dan kemudian dibentuklah unit-unit bisnis yang 
bergerak dibidang non core. Contohnya LMT yang presentasi ke Buleleng waktu itu adalah 
merupakan satu Unit "Revenue Center" yang bergerak di Core vs non Core 50-50.
Perlu saya informasikan juga bahwa, kita (PT DI) sudah kerjasama dengan bebagai pihak 
dalam bisnis non core ini sejaka 4 th lalu, misalnya dengan GECI di Perancis, dengan 
Aselsan di Turki, dengan HESA di Iran, dengan Malaysia, dengan BAE di Inggris, dengan 
Taiwan, dan didalam negeri dengan PLN, Pertamina, Kereta Api, Garuda, PT Dok Kodja 
Bahari, Krakatau Daya Listrik, dll., sehingga pendapatan PT DI bertambah lebih dari 
40% dari non core. Nah, termasuk LMT membuat incinerator ini, walaupun hanya 0,...% 
dari pendapatan PT DI, tetap kita jalankan kebijakan tersebut sebelum dicabut oleh 
pemerintah.

5. Soal jabatan Kepala Divisi di PT DI, syarat utamanya tentu adalah yang 
berpengalaman di pesawat terbang lebih dari 15 th, bisa menanage staf nya, punya 
kompetensi dibidangnya (sesuai Unitnya), dll banyak lagi. Dan yang terakhir berlaku 
bahwa semua pejabat dibolehkan hanya 3 th memangku, kecuali ada hal yang lebih 
istimewa boleh nambah 1 s/d 2 th, tetapi kalau kurang bisa berkurang bahkan s/d cuma 6 
bulan saja lalu lengser. 
Nah bukan terget semata-mata bisa menjual 1 pesawat terbang, yang penting bisa 
menjalankan fungsi dan wewenangnya sesuai aturan, (tentu yang berlaku di pemegang 
saham alias pemerintah RI).


Terimakasih atas perhatiannya

MW

----------
From:   ketut.tejawibawa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To:       [EMAIL PROTECTED]
Sent:   Friday, January 17, 2003 11:18 AM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [bali] Re: Bagaimana kelanjutan ide ' Waste to energy"-nya ?

Pak Sudarma yth,

Usul yang selalu susah di laksanakan :

1. Setiap kepala divisi di PTD harus mampu menjual minimum 1 ( satu )
pesawat terbang per tahun, sekali lagi cukup satu saja.
Kalau bisa tetap menjadi kepala divisi dan itu target yang tidak muluk,
kemudian hitung berapa kepala divisi atau setingkatnya di PTD, saya
yakin lebih dari 15 orang...., baru namanya kepala divisi di PTD
Sederhanakan teori yang ada, karena saya tahu karyawan PTD mampu membuat
pesawat tersebut lebih dari jumlah itu pe tahun....

2. Konsentrasilah PTD di pembuatan, penjualan dan pemeliharaan pesawat
terbang, suku cadang dsbgnya , agar airliner / customer PTD bias
mengoperasikan pesawat yang dia beli ibarat angkot, dan jangan sampai CN
235 atau 212 yang grounded

Terimakasih

Ketut Teja

-----Original Message-----
From: Sudarma [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: 16 January, 2003 10:25 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Bagaimana kelanjutan ide ' Waste to energy"-nya ?

Yth. Pak M.Wirata,

saya pikir, ide "waste to energy" dari PT Dirgantara 
Indonesia tersebut sangat bagus. Seperti saran saya 
terdahulu, sebaiknya ide ini dikembangkan, misalnya sbb :

1. PT.Dirgantara Indonesia jual solusi ( barang + 
technology + financing arrangement) pada PEMDA.
2. PEMDA menyetujuinya dengan syarat: (a) pada lahan tidak 
produktif dan tidak daerah wisata, (b)masyarakat 
sekitarnya berkenan, (c) dalam kerangka " sustainable 
Development" yang meminimisasi pengerusakan lingkungan.   
3. Karena PEMDA tidak akan cukup uang untuk bayar "Waste 
to Energy" yang cukup baik dan andal, maka kita carikan 
alternati-alternatif pembiayaan dari International Finance 
Corp. or Agency ( IDA, ADB, UNDP, etc.) dengan konsep LEC 
( Loan/grant for environmental Conservation in accordance 
with UN's Sustainable Development ), dimana baik 
"Feasibility Study, proposal, and credit arrangement" dan 
pengurusannya dilaksanakan oleh PT DI dan LP3B.

Pada tgl 21-22 Januari akan ada sidang RI & CGI di Bali 
dengan topik bahasan menggali konsep-konsep pembiayaan 
modern sbb:
1. DSC ( Debt Swap for Forest Conservation )
2. DSE ( Debt Swap for Education )
3. Bagaimana kalau ditambah "Debt Swap for underwater 
living conservation ? ", dst

Mungkinkah kita bisa menyelisipkan " Waste To Energy" ini 
pada meeting RI & CGI ini ?

Salam, Sudarma


On Wed, 15 Jan 2003 19:04:19 +0700
  Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Yth Pak Gde Wisnaya,
>
>Saya juga terima kasih untuk segala layanan yang baik 
>Anda dan temen-temen Panitia lainnya serta Pak Sudarma 
>selama di Bali. Mudah-mudahan suasana seperti itu dapat 
>berlanjut, minimal saya dan rekan lain dari Bandung dapat 
>ikut berpartisipasi dalam pembangunan di Buleleng 
>khususnya.
>Sekali lagi trims juga untuk fotonya.
>
>MW
========================================================================
===========
Meriahkan Hari Valentine Anda dan Ikuti Lomba Design Kartu Eletronik
dengan Tema Valentine 
========================================================================
===========

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>


--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke