Pak Made Wiratha yth,

Panjang sekali uraiannya, dan itu adalah urusan rumah tangga PT DI dan
yang tertarik buat saya :
1. Berapa total investasi yang di taman sejak LIPNUR - IPTN dan menjadi
PT DI , dan menurut pandangan Pak Made apakah businiss ini masih
memiliki harapan untuk bisa membayar operasional masa datang , tetu
anggapan yang sudah lewat di bahas secara terpisah, sehingga manajemen
yang akan datang lebih focus ke bisnis  
2. Kami orang luar sekarang ini, melihat PT DI hidup segan mati-pun tak
mau, mestinya ada kemauan ada jalan, atau bisa juga rubah lahan dan
tempat yang begitu luas di Bandung menjadi bisnis sirkuit Formula 1,
yang lebih menjanjikan, ini misalnya membangun bisnis
3.Atau menjadi tukang jahit, kerjakan saja bagian Verical Wing Airbus
atau seperti F16 dulu ?

Begitu sederhananya saya berfikir agar PT DI bisa berpaling mencari
sulusi baru untuk maju seperti industri lainnya yang berhasil

Sukseme 

Teja

-----Original Message-----
From: Made Wirata [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: 17 January, 2003 7:06 PM
To: '[EMAIL PROTECTED]'
Subject: [bali] Re: Bagaimana kelanjutan ide ' Waste to energy"-nya ?

Mungkin saya coba berkomentar sedikit karena menyangkiut PT DI, sbb:
((catatan : maaf bagi temen-temen yang tidak tertarik silahkan delete
saja))

1. Perlu diketahui bahwa NC212 adalah lisensi dari CASA 100 % sehingga
kebanyakan partnya dari CASA, sedangkan CN 235 50% CASA dan 50% PT DI,
jadi partnya juga 50%-50%. Yang 100% adalah N250, namun belum terjual
karena belum sertifikasi, keburu kekurangan modal sejak krisis 1997,
yaitu untuk sertifikasi (perlu dana tambahan cukup besar). Jadi sekarang
primadonanya masih CN235 militer version, bukan civilian. Perlu
diketahui, kita memang mampu produksi per tahun 12 s/d 18 CN, sekitar 10
Helicopter. NC 212 sudah selesai karena sudah produksi 110 buah sesuai
lisensi dari CASA. Kalau N250 ada, mampu kapasitas produksinya s/d 12
buah juga. Serta peralatan Militer 100-an set. 
Yang tersebut diatas bukan teori tapi kenyataan, kecuali untuk N250
karena prototipe yang diperlukan saat ini sudah di stop s/d 3 buah saja.

2. Soal penjualan, kita mampu menjual sesuai produksi, contoh yang ada
saat ini mulai tahun lalu, Korea 8 CN, thaeland 4 CN, Malaysia 8 CN,
Pakistan 4 CN, Brunai 1CN, TNI AL 6 NC, TNI AU 2 CN, 14 Helicopter, dan
lain-lain masih banyak yang jumlahnya rata-rata 1 s/d 2 helicopter dan
CN. Disamping itu yang sedang dinego pada beberapa Negara lainnya
seperti Iran, Taiwan, Venisuela, dll puluhan CN235.

3. Produksi tidak bisa secepat permintaan, kenapa ?     sejak krisis
kita kekurangan modal kerja, sedang IMF tidak membolehkan minta bantuan
pemerintah karena takut disaingin (takut kalau PT DI maju di Asia
Tenggara). Perlu diketahui Boeing di Amerika dan Airbus di Eropa yang
demikian majunya, masih dibantu pemerintahnya, bukan sendiri seperti PT
DI., Apalagi perusahaan yang lebih kecil seperti Bombardier di Canada,
ATR di Perancis, dll.

4. Untuk itu, maka saat ini selain tidak bisa memperdayakan seluruh
karyawan yang ada, juga tidak bisa mengandalkan modal kerja hanya dari
uang muka saja, makanya.... oleh GusDur (presiden RI yang baru lalu)
lantas merubah sedikit kebijakan untuk PT DI, yaitu boleh mengadakan
bisnis diluar core, dan diputuskan oleh pemegang saham (pemerintah-red),
sebagai kebijakan di BUMN PT DI 70% Core dan 30% bisnis non core, dan
sekarang hampir menjadi 50-50. Dan kemudian dibentuklah unit-unit bisnis
yang bergerak dibidang non core. Contohnya LMT yang presentasi ke
Buleleng waktu itu adalah merupakan satu Unit "Revenue Center" yang
bergerak di Core vs non Core 50-50.
Perlu saya informasikan juga bahwa, kita (PT DI) sudah kerjasama dengan
bebagai pihak dalam bisnis non core ini sejaka 4 th lalu, misalnya
dengan GECI di Perancis, dengan Aselsan di Turki, dengan HESA di Iran,
dengan Malaysia, dengan BAE di Inggris, dengan Taiwan, dan didalam
negeri dengan PLN, Pertamina, Kereta Api, Garuda, PT Dok Kodja Bahari,
Krakatau Daya Listrik, dll., sehingga pendapatan PT DI bertambah lebih
dari 40% dari non core. Nah, termasuk LMT membuat incinerator ini,
walaupun hanya 0,...% dari pendapatan PT DI, tetap kita jalankan
kebijakan tersebut sebelum dicabut oleh pemerintah.

5. Soal jabatan Kepala Divisi di PT DI, syarat utamanya tentu adalah
yang berpengalaman di pesawat terbang lebih dari 15 th, bisa menanage
staf nya, punya kompetensi dibidangnya (sesuai Unitnya), dll banyak
lagi. Dan yang terakhir berlaku bahwa semua pejabat dibolehkan hanya 3
th memangku, kecuali ada hal yang lebih istimewa boleh nambah 1 s/d 2
th, tetapi kalau kurang bisa berkurang bahkan s/d cuma 6 bulan saja lalu
lengser. 
Nah bukan terget semata-mata bisa menjual 1 pesawat terbang, yang
penting bisa menjalankan fungsi dan wewenangnya sesuai aturan, (tentu
yang berlaku di pemegang saham alias pemerintah RI).


Terimakasih atas perhatiannya

MW

----------
From:   ketut.tejawibawa[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To:       [EMAIL PROTECTED]
Sent:   Friday, January 17, 2003 11:18 AM
To:     [EMAIL PROTECTED]
Subject:        [bali] Re: Bagaimana kelanjutan ide ' Waste to
energy"-nya ?

Pak Sudarma yth,

Usul yang selalu susah di laksanakan :

1. Setiap kepala divisi di PTD harus mampu menjual minimum 1 ( satu )
pesawat terbang per tahun, sekali lagi cukup satu saja.
Kalau bisa tetap menjadi kepala divisi dan itu target yang tidak muluk,
kemudian hitung berapa kepala divisi atau setingkatnya di PTD, saya
yakin lebih dari 15 orang...., baru namanya kepala divisi di PTD
Sederhanakan teori yang ada, karena saya tahu karyawan PTD mampu membuat
pesawat tersebut lebih dari jumlah itu pe tahun....

2. Konsentrasilah PTD di pembuatan, penjualan dan pemeliharaan pesawat
terbang, suku cadang dsbgnya , agar airliner / customer PTD bias
mengoperasikan pesawat yang dia beli ibarat angkot, dan jangan sampai CN
235 atau 212 yang grounded

Terimakasih

Ketut Teja

-----Original Message-----
From: Sudarma [mailto:[EMAIL PROTECTED]] 
Sent: 16 January, 2003 10:25 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [bali] Re: Bagaimana kelanjutan ide ' Waste to energy"-nya ?

Yth. Pak M.Wirata,

saya pikir, ide "waste to energy" dari PT Dirgantara 
Indonesia tersebut sangat bagus. Seperti saran saya 
terdahulu, sebaiknya ide ini dikembangkan, misalnya sbb :

1. PT.Dirgantara Indonesia jual solusi ( barang + 
technology + financing arrangement) pada PEMDA.
2. PEMDA menyetujuinya dengan syarat: (a) pada lahan tidak 
produktif dan tidak daerah wisata, (b)masyarakat 
sekitarnya berkenan, (c) dalam kerangka " sustainable 
Development" yang meminimisasi pengerusakan lingkungan.   
3. Karena PEMDA tidak akan cukup uang untuk bayar "Waste 
to Energy" yang cukup baik dan andal, maka kita carikan 
alternati-alternatif pembiayaan dari International Finance 
Corp. or Agency ( IDA, ADB, UNDP, etc.) dengan konsep LEC 
( Loan/grant for environmental Conservation in accordance 
with UN's Sustainable Development ), dimana baik 
"Feasibility Study, proposal, and credit arrangement" dan 
pengurusannya dilaksanakan oleh PT DI dan LP3B.

Pada tgl 21-22 Januari akan ada sidang RI & CGI di Bali 
dengan topik bahasan menggali konsep-konsep pembiayaan 
modern sbb:
1. DSC ( Debt Swap for Forest Conservation )
2. DSE ( Debt Swap for Education )
3. Bagaimana kalau ditambah "Debt Swap for underwater 
living conservation ? ", dst

Mungkinkah kita bisa menyelisipkan " Waste To Energy" ini 
pada meeting RI & CGI ini ?

Salam, Sudarma


On Wed, 15 Jan 2003 19:04:19 +0700
  Made Wirata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Yth Pak Gde Wisnaya,
>
>Saya juga terima kasih untuk segala layanan yang baik 
>Anda dan temen-temen Panitia lainnya serta Pak Sudarma 
>selama di Bali. Mudah-mudahan suasana seperti itu dapat 
>berlanjut, minimal saya dan rekan lain dari Bandung dapat 
>ikut berpartisipasi dalam pembangunan di Buleleng 
>khususnya.
>Sekali lagi trims juga untuk fotonya.
>
>MW
========================================================================
===========
Meriahkan Hari Valentine Anda dan Ikuti Lomba Design Kartu Eletronik
dengan Tema Valentine 
========================================================================
===========

--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke