Menuju PLTU Ramah Lingkungan
(Dari majalah Elektro Indonesia, No. 34, Nov. 2000 )
Oleh : Mukhlis Akhadi, Alhi Peneliti Muda di Badan Tenaga
Nuklir Nasional
Meski batubara termasuk sumber energi tak terbarukan,
namun hasil penelitian menunjukkan bahwa cadangan batubara
di dunia saat ini masih sangat melimpah. Terhitung pada
tahun 1990, jumlah cadangan batubara dunia diperkirakan
mencapai 1.079 milyar ton dan masih dapat diandalkan
sebagai sumber energi dunia hingga lebih dari 230 tahun,
bahkan diperkirakan dapat mencapai hingga 300 tahun
mendatang. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data pada
P.T. Tambang Batubara Bukit Asam, hingga tahun 1991 jumlah
batubara yang ditambang baru sebesar 14.478 ribu ton, dari
total cadangan yang diperkirakan sebesar 34 milyar ton.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar
batubara memiliki dua reputasi yang saling bertolak
belakang. Di satu fihak PLTU betubara mempunyai reputasi
baik karena mampu memproduksi listrik dengan biaya paling
murah dibandingkan sistim pembangkit listrik lainnya.
Biaya operasi PLTU batubara kurang lebih 30 % lebih rendah
dibandingkan sistim pembangkit listrik yang lain. Namun di
lain fihak, PLTU batubara juga mempunyai reputasi buruk
karena merupakan sumber pencemar utama terhadap atmosfer
kita.
Selama ini reputasi bahan bakar fosil, terutama batubara,
memang sangat buruk apabila dikaitkan dengan masalah
pencemaran lingkungan. Walaupun stasiun pembangkit listrik
batubara saat ini telah menggunakan alat pembersih endapan
(presipitator) untuk membersihkan partikel-partikel kecil
dari asap pembakaran batubara, namun senyawa-senyawa
seperti SOx dan NOx yang berbentuk gas dengan bebasnya
naik melewati cerobong dan terlepas ke udara bebas. Kedua
gas tersebut dapat bereaksi dengan uap air yang ada di
udara sehingga membentuk H2SO4 (asam sulfat) dan HNO3
(asam nitrat). Keduanya dapat jatuh bersama-sama air hujan
sehingga mengakibatkan terjadinya hujan asam. Berbagai
kerusakan lingkungan serta gangguan terhadap kesehatan
dapat muncul karena terjadinya hujan asam tersebut.
Fenomena hujan asam sebetulnya sudah dikenali oleh para
pemerhati lingkungan sejak tahun 1950-an. Namun masalahnya
menjadi bertambah parah seiring dengan semakin
meningkatnya permintaan energi listrik yang disuplai
melalui PLTU batubara. Masalah hujan asam mungkin akan
merupakan masalah lingkungan jangka panjang yang teramat
serius.
Hujan asam bisa juga menjadi isu politik besar terutama
karena sumber asal dan para korbannya sering berada di
tempat yang berbeda. Bahan pencemar NOx dan SOx dapat
bergerak terbawa udara hingga ratusan bahkan ribuan
kilometer, mencapai lintas batas antar negara.
Di samping itu, sangat sulit untuk menunjukkan secara
pasti sumber-sumber polutan yang menyebabkan terjadinya
hujan asam di suatu kawasan/negara tertentu. Emisi gas
asam dari negara-negara bagian di Lembah Sungai Ohio di
Amerika Serikat yang padat industri, termasuk Missouri dan
Tennessee, terbang ke timur dan utara keluar dari wilayah
AS menuju ke New England dan Kanada.
Keasaman Air :
Dalam keadaan udara bersih, air hujan bersifat agak asam
dengan derajad keasaman (pH) 5,6. Penyebab keasaman ini
adalah adanya senyawa carbon dioksida (CO2), suatu senyawa
alamiah penyusun udara yang dalam air hujan membentuk asam
lemah. Senyawa ini dikeluarkan baik oleh manusia, hewan
maupun tanaman melalui sistim pernafasan. Air hujan
dikatagorikan sebagai asam apabila nilai pH-nya di bawah
5,6.
Air untuk konsumsi manusia harus memiliki nilai pH antara
6-9. Asam dalam air hujan menambah kemampuan air itu untuk
melarutkan dan membawa lebih banyak logam-logam berat
keluar dari tanah, seperti merkuri (Hg) dan aluminium
(Al). Air asam ini juga dapat melarutkan tembaga (Cu) dan
timbal (Pb) dari pipa-pipa logam untuk menyalurkan air.
Peristiwa ini tentu saja akan menggganggu persediaan air
untuk konsumsi manusia. Air dengan pH 5 menyebabkan ikan
salem dan farel tidak mampu berkembang biak. Pada pH
sekitar 4,5, ikan lenyap dari danau. Sedang pada pH 4,
danau menjadi tanpa kehidupan. Pada pH mendekati 3, daun
tanaman menjadi rusak.
Di berbagai belahan dunia, manusia mulai semakin menyadari
perlunya menyelamatkan lingkungan hidup. Tindakan-tindakan
protektif kini sedang digiatkan untuk melindungi
sumber-sumber alam yang tak ternilai harganya ini dari
kehancuran total. Salah satu upaya protektif untuk
melindungi kekayaan hayati ekosistim alam ini adalah
dengan memperkenalkan berbagai jenis teknologi yang dapat
dipakai untuk memperkecil emisi gas-gas asam yang keluar
pada saat pembakaran batubara.
Dewasa ini manusia di berbagai belahan dunia mulai sadar
akan perlunya menyelamatkan lingkungan dengan cara
mereduksi maupun menjinakkan polutan-polutan yang terlepas
ke lingkungan. Beberapa negara maju telah mengeluarkan
peraturan sangat ketat dan menanamkan investasi cukup
besar dalam rangka mengurangi polusi udara dari gas buang.
Untuk penyelesaian jangka panjang, salah satu cara yang
dapat ditempuh untuk menghindari terjadinya hujan asam
adalah dengan menghentikan sumber hujan asam tersebut.
Teknologi FBC :
Dewasa ini telah dikembangkan sistim peralatan
berteknologi tinggi yang mampu mengurangi emisi polutan
dalam gas buang yang dikeluarkan cerobong, baik dari pusat
pembangkit listrik maupun industri lainnya yang membakar
batubara. Berbagai upaya untuk memperbaiki reputasi
batubara terus dilakukan dengan mewujudkan clean coal
technology, salah satunya adalah dengan teknologi
fluidised bed combustion (FBC). Teknologi ini di samping
mempunyai efisiensi pembakaran batubara yang tinggi, juga
mampu meredam secara drastis emisi gas-gas polutan seperti
SOx dan NOx.
Emisi gas buang pada pembakaran batubara dengan teknik FBC
bisa ditekan menjadi lebih rendah karena suhu operasi
pembakaran batubaranya relatif rendah. Pada teknologi FBC,
suhu operasinya sekitar 750-950 _C, sehingga batubara
dapat terbakar secara efisien, tidak meleburkan abu serta
sisa pembakaran lainnya. Pada suhu pembakaran 800 _C,
emisi NOx dapat dikurangi hingga 33 %. Karena prestasinya
itu, teknologi FBC mampu menggeser teknologi pembakaran
batubara cara kuno yang telah berumur lebih dari satu
abad, yang dikenal dengan pulverised coal combustion
(PCC). Pada teknologi PCC, karena suhu pembakarannya lebih
tinggi, maka emisi gas NOx juga tinggi.
Dari Polutan ke Gipsum :
Selain memperbaiki efisiensi dan sistim pembakaran
batubara, sebagai upaya untuk mencegah berlanjutnya krisis
ekologi dewasa ini juga telah dikembangkan sistim
peralatan berteknologi tinggi yang mampu memisahkan
gas-gas polutan seperti SOx dan NOx dalam gas buang dari
pembakaran batubara. Salah satu metode untuk memisahkan
polutan SOx dalam gas buang adalah dengan teknik flue-gas
desulfurization (FGD).
Pemisahan polutan dapat dilakukan menggunakan penyerap
batu kapur atau Ca(OH)2. Gas buang dari cerobong
dimasukkan ke dalam fasilitas FGD. Ke dalam alat ini
kemudian disemprotkan udara sehingga SO2 dalam gas buang
teroksidasi oleh oksigen menjadi SO3. Gas buang
selanjutnya "didinginkan" dengan air, sehingga SO3
bereaksi dengan air (H2O) membentuk asam sulfat (H2SO4).
Asam sulfat selanjutnya direaksikan dengan Ca(OH)2
sehingga diperoleh hasil pemisahan berupa gipsum (gypsum).
Gas buang yang keluar dari sistim FGD sudah terbebas dari
oksida sulfur. Hasil samping proses FGD disebut gipsum
sintetis karena memiliki senyawa kimia yang sama dengan
gipsum alam.
Selain dapat mengurangi sumber polutan penyebab hujan
asam, gipsum yang dihasilkan melalui proses FGD ternyata
juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan
untuk berbagai keperluan, misal untuk bahan bangunan.
Sebagai bahan bangunan, gipsum tampil dalam bentuk papan
gipsum (gypsum boards) yang umumnya dipakai sebagai plafon
atau langit-langit rumah (ceiling boards), dinding
penyekat atau pemisah ruangan (partition boards) dan
pelapis dinding (wall boards).
Amerika Serikat merupakan negara perintis dalam
memproduksi gipsum sintetis ini. Pabrik wallboard dari
gipsum sintetis yang pertama di AS didirikan oleh Standard
Gypsum LLC mulai November tahun 1997 lalu. Lokasi
pabriknya berdekatan dengan stasiun pembangkit listrik
Tennessee Valley Authority (TVA) di Cumberland yang
berkapasitas 2600 Mega Watt.
Produksi gipsum sintetis merupakan suatu terobosan yang
mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan
menjadi suatu produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai
bahan wallboard, gipsum sintetis yang diproduksi secara
benar ternyata memiliki kualitas yang lebih baik
dibandingkan gipsum yang diperoleh dari penambangan.
Gipsum hasil proses FGD ini memiliki ukuran butiran yang
seragam. Mengingat dampak positifnya cukup besar, tidak
mustahil suatu saat nanti, setiap PLTU batubara akan
dilengkapi dengan pabrik gipsum sintetis.
Mengubah Polutan Menjadi Pupuk :
Peralatan berteknologi tinggi lain yang kini mulai dipakai
untuk menjinakkan polutan penyebab hujan asam adalah
electron beam machine atau mesin berkas elektron (MBE).
Prinsip kerja alat ini adalah menghasilkan berkas elektron
dari filamen logam tungsten yang dipanaskan. Berkas
elektron selanjutnya difokuskan dan dipercepat dalam
tabung akselerator vakum bertegangan tinggi 2 juta Volt.
Jika gas buang yang mengandung polutan sulfur dan nitrogen
diirradiasi dengan berkas elektron dalam suatu tempat yang
mengandung gas ammonia, sulfur dan nitrogen itu dapat
berubah menjadi ammonium sulfat dan ammonium nitrat.
Teknik irradiasi elektron untuk menjinakkan polutan dalam
gas buang ini telah dipelajari di Jepang sejak tahun
1970-an.
Proses pembersihan gas buang dilakukan pertama-tama dengan
mendinginkan SOx dan NOx dengan semburan air (H2O). Ke
dalam campuran senyawa ini selanjutnya ditambahkan gas
ammonia dan dialirkan ke dalam tabung pereaksi (vessel).
Campuran senyawa yang mengalir dalam tabung pereaksi ini
selanjutnya diirradiasi dengan berkas elektron. Karena
mendapatkan tambahan energi dari elektron itu, maka
gas-gas polutan akan berubah, SOx menjadi SO3 dan NOx
menjadi NO3.
Masih dalam pengaruh irradiasi elektron, kedua senyawa
tersebut bereaksi dengan air sehingga dihasilkan produk
antara (intermediate product) berupa asam sulfat dan asam
nitrat. Setelah 0,1 detik dari proses irradiasi, produk
antara (asam sulfat dan asam nitrat) bereaksi dengan
ammonia sehingga dihasilkan produk akhir berupa ammonium
sulfat dan ammonium nitrat. Kedua senyawa ini dapat
dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk sulfat dan pupuk
nitrogen. Wujud fisiknya pun berubah, yaitu dari gas
menjadi kristal/partikel.
Penelitian skala laboratorium yang dilakukan oleh Lembaga
Penelitian Tenaga Atom Jepang (JAERI) bekerjasama dengan
perusahaan Ebara menunjukkan bahwa dosis radiasi berkas
elektron sebesar 15 kilo Gray (kGy) mampu mengubah 95 %
SOx dan 85 % NOx menjadi senyawa yang tidak berbahaya.
Sementara itu, penelitian pembersihan gas buang sisa
penyinteran bijih besi yang dilakukan oleh Nippon Steel
Corporation menunjukkan bahwa MBE ini dapat mereduksi 85 %
SOx dan 95 % NOx yang terlarut dalam gas buang. Penelitian
yang telah dilakukan di AS dan Jerman bahkan mencatat
bahwa irradiasi dengan MBE ini mampu mereduksi polutan
hingga 99 %.
Pemakaian berkas elektron untuk menjinakkan gas-gas
polutan seperti SOx dan NOx ini mempunyai beberapa
keuntungan, antara lain : proses penjinakan dapat
dilakukan secara serentak dalam waktu yang sangat singkat,
merupakan proses kering dan langsung satu tingkat, serta
hasil akhirnya berupa bahan baku untuk pembuatan pupuk
yang bernilai ekonomi dan dapat digunakan dalam sektor
pertanian.
Daftar Pustaka :
ANONIM, Desulfurization System : Technology that Prevents
Air Pollution, Kenshu-In, No. 74, JICA, Japan (1994) pp.
6-8.
ANONIM, Persistent Quest, Research Activity 1997, JAERI,
Chiyoda-ku, Tokyo 100-0011, Japan (1997) pp. 22.
GORE, A., Bumi Dalam Keseimbangan (terjemahan oleh Hira
Jhamtani), Yayasan Obor Indonesia (1994).
LANSFORD, H., Pencemaran Lingkungan, Ilmu Pengetahuan
Populer, Vol. 4, Grolier International Inc./P.T.
Widyadara, Jakarta (1997) Hal. 52-68.
LARASATI, T.R.D., Penggunaan Teknologi Radiasi Dalam
Pengendalian Polusi Gas Buang, Warta, No. 9, tahun IV,
BPPT, Jakarta 10340 (1992), hal. 18-21.
NISBET, I., Hujan Asam, Ilmu Pengetahuan Populer, Vol. 4,
Grolier International Inc./P.T. Widyadara, Jakarta (1997)
Hal. 73-76.
RIDWAN, M., Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan
Lingkungan Hidup, Prosiding dialog PLTN dalam kerangka
kebijaksanaan energi jangka menengah dan panjang, Pusat
Studi Energi UGM, Yogyakarta (9-10 September 1998), hal.
88-91.
SLAMET, J.S., Kesehatan Lingkungan, Gajah Mada University
Press, Yogyakarta (1996).
SOEDOMO, M., Pencemaran Udara (kumpulan karya ilmiah),
Penerbit ITB, Bandung (1999).
WEST, B., SANDMAN, P.M. dan GREENBERG, M.R., Panduan
Pemberitaan Lingkungan Hidup (terjemahan oleh Sudiro),
Yayasan Obor Indonesia (1998). q
-----#####-------
===================================================================================
Meriahkan Hari Valentine Anda dan Ikuti Lomba Design Kartu Eletronik dengan Tema Valentine
Promosikan bisnis Anda melalui http://iklanbaris.plasa.com
===================================================================================
--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id
Arsip : http://bali.lp3b.or.id
Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
- [bali] Sudarma
- [bali] Re: (No subject)To: [email protected] nimade widiasari
- [bali] Sudarma
- [bali] bangsing
- [bali] Asana Viebeke Lengkong
- [bali] Asana Viebeke Lengkong
- [bali] Re: (No subject)Date: Sat, 19 Sep 2... Chepy R.Nasution
- [bali] Asana Viebeke Lengkong
