Pertama-tama, saya mohon maaf, karena baru sempat mengirimkan catatan hasil pertemuan beberapa waktu lalu (bertempat di Studio Popo Danes, Jl. Hayam Wuruk 159 Denpasar).
Selamat berjumpa kembali melalui millis ini, berupa penyajian "secangkir" resume kecil hasil urun rembug bersama krama "Bulelenge" tempo hari, yang telah dilalui sebanyak 3 (tiga) kali pertemuan (tgl. 9 Mei, 20 Mei dan 28 Mei 2003). Apa yang saya tulis ini singkat-singkat saja (terutama pada pertemuan pertama, yang lebih bersifat "introduction"-menurut Popo).
Perlu ditambahkan bahwa rekan-rekan yang ikut/pernah hadir selama beberapa kali pertemuan tsb. di atas antara lain (mohon maaf bila ada yang pernah hadir, tapi tak tertulis, pun tanpa menyebut gelar, dsb.) Bapak-bapak/Ibu/Sdr. : Popo Danes, Purnomo, Wayan Sutarman, Wayan Hartana, Yudha Saka, Catrini Ari, Bagus Saka, Yudi Gautama, Putu Agus Budiana, Wayan Silur, Englan, Suma Arjawa, Made Hardika, Ngurah Paramartha, Agus Agam, I Nyoman Gde Suardana, Gde Agra Kumara, Bagus Suhandy, Demer, Suhadi, K Rana Wiarcha, Ayip, Jaya, Komang Wijaya, Putu Rumawan Salain, Kt. Sarjana, Kt. Agus Sulendra, Cahyo P., Soegianto S., Darma Dipta, Yudi gautama, dll.
I. CATATAN PERTEMUAN TGL. 9 MEI 2003 (SEKITAR 19.50 WITA) .
* Bapak Purnomo memberikan penjelasan secara umum :
- As dari pelabuhan Buleleng ke Puri
- Dari perempatan ke Pelabuhan
- Sosialisasi sudah dilakukan sebanyak 4 kali (mengungkap prihal yang mernyangkut fisik dan non fisik).
* Bapak Yudha Saka:
- Tahun 1996 merupakan sebagai awal kegiatan;
- Dengan sebutan "Bali Urban Infrastructure Poject";
- Tahun 1997 disetujui Bank Dunia;
- Studi Pelestarian Warisan Budaya, Kasus : Karangasem, Jembrana dan Buleleng.
- Titik "Core" di jam dinding. Bukan pembangunan fisik saja, namun juga menyangkut elemen-elemen sosial lainnya, misalnya seperti peranan desa-desa adat.
- Perlu visi dan misi yang yang jelas, secara konseptual dan holistik.
- Dana untuk konservasi tersebut sejumlah 1,3 milliar.
* Bpk Sila dan Ardika dari Buleleng: - Perencanaan kami dilibatkan, tapi pada pelaksanaan kami tidak dilibatkan; - Buleleng sebagai pusat pendidikan dan bekas pusat pemerintahan Sunda kecil; - Buleleng juga sebagai daerah pariwisata;
* Peserta yang lain : - Mungkin lebih cocok sebagai pelabuhan kapal pesiar; - Perlu adanya pasar buah.
* Pembahas lain : - Bagaimana menangkap peluang itu dengan potensi yang sangat minimal; - Pengembangannya perlu dana yang cukup; - Belum mampu melihat visi dan misi yang ada di dalam masyarakat; - Bagaimana menjaring aspirasi masyarakat; - Yang paling urgen di Singaraja itu apa? - Berbicara proyek tak hanya berbicara fisik; - Nilai balik apa yang bisa diperoleh? - Goal dalam kapasitas Singaraja; - Goal dalam kapasitas Buleleng.
* Bpk. K. Rana Wiarcha : - Metode Perencanaan : Pembangunan dengan basis kemasyarakatan; - Stake holder, apa pengertian yang sesungguhnya (= mereka yang bertaruh?).
* Suardana :
- Perlu dipahami lebih dalam kandungan makna di dalamnya (misalnya makna historisnya);
II. RESUME PERTEMUAN TGL. 20 MEI 2003 (JAM : 19.45 WITA)
* Bp. Popo : - Bapak Bupati sering memaksakan kehendak; - Bapak Bupati ingin menandai masa jabatannya.
* Bapak Suhadi : - Ingin mendengar komentar dulu dari forum.
* Bpk. Englan : - Di Kawasan Lovina agar dibangun tidak jauh dari nafas kebudayaan.
* Bp. Suma Arjawa :
- Saya dari kecil sebagai pengukir;
- Ada kontroversi, bangunan-bangunan fisik menelantarkan ciri khas Bangunan Buleleng;
- Ornamen Buleleng kini tidak khas, tidak menunjukkan jatidir Buleleng;
- Patung tidak memvisualkan khas Buleleng;
- Lovina, bagaimana agar kembali ke alam;
- Saya hanya mengkritisi "plan-plan" yang tidak sesuai dengan alam Buleleng.
* Bp. Putu Rumawan S :
- Hasil studi tempohari sebagai suatu contoh yang menantang;
- Mengambil satu situs kota (untuk di Singaraja), sedangkan di Karangasem (tentang arsitektur di ujung Timur)..
- Menyangkut aspek tangible dan intangible (desa adat, norma-norma yang mesti masuk di dalamnya).
- Pengalaman: Konservasi kota berbeda dengan konservasi gedung;
- Sebuah kota isinya macam-macam. Bukan hanyapeninggalan, tapi masyarakat di dalamnya ikut berperan;
- Urban/kota, harus dikenal titik pusat kota Singarajanya (di pusat pemerintahan/ purinya);
- dari titik puri-pura Dalem-sampai ke pura Segara melewati bangunan-bangunan: ada gaya Spanish, Belanda, ada patung Bugis, dll. Multikultur ada di Singaraja. Begitupula pelabuhan yang disebut...."Marina".
- Ada konservasi "re-fungsi" (fungsinya dirubah), sebagai pelabuhan, juga sebagai museum bahari dan gudang.
- Tempat pendidikannya sangat menjajikan;
- Museum bisa mem-back-up. Ada got kecil deperti di Monaco, serta bangunan toko yang memiliki keunikan (lisplanknya khas). Di sungai akan ditambatkan kapal.
- Diharapkan tidak mengubah nuansa, punya nggak visi ke depan;
- Tolong dibuatkan SK-nya.
* Bpk. Suhadi:
- Ada kerisauan tentang sisi budaya yang sudah mulai menghilang, demikian juga dari segi fisik;
- Banyak mengandung pelajaran-pelajaran, upaya-upaya untuk menyelamatkan aset ini;
- Bertukar pikiran untuk menyelamatkan aset ini;
- Bagaimana agar potensi ini menjadi suatu kekuatan;
- Ada aset non fisik seperti : sastra, hukum-hukum, keahlian lokal, pengobatan, dll;
- Apa yang bisa diperbuat, bagaimana masyarakat Singaraja meng-"apresiate" Budaya di Singaraja;
- Teman-teman dari Pariwisata bersemangat untuk "mengemas" seni budaya masyarakatnya, agar kembali menjadi milik masyarakat;
- Kita sering lebih mudah menyampaikan kepada apa yang tidak kita sukai, tapi lebih sulit mengutarakan apa yang kita sukai;
- Ada aturan-aturan yang spesifik, juga mekanismenya, kemudian siapa yang merumuskan itu;
- Perlu mengumpul menjadi kelompok-kelompok bina;
- potensi tersebut bisa menjadi energi yang lebih konkret, bisa dari organisasi profesi, usaha swasta, maupun perorangan-perorangan yang mungkin punya pemikiran yang sangat bagus yang akan melahirkan konsep-konsep yang terukur dan teratur.
* Bp. Agus Sulendra : - Apa komitmen pemerintah; - Penekanannya pada "Historic Core"; - SMP 1 dibangun pintu gerbang.......
* Bp. Suhadi :
-Itu bukan perumusan final;
-Membutuhkan dialog-dialog yang panjang lagi oleh para budayawan Bali;
-Bangunan-bangunan perlu dinilai sebagai suatu proses, apa yang boleh dan tidak boleh, masih membutuhkan proses pendekatan satu persatu (suatu proses yang hidup);
- Mendengarkan masukan dari masyarakat;
- Alangkah baiknya kekuatan-kekuatan (misalnya: dana) tumbuh dari kekuatan di masyarakat (bukan berupa pinjaman).
* Bp. Popo : - Sedang menyusun Proposal (disusun oleh Bp. Pusphaka).
* Bp.Ketut Sarjana:
- Apa yang telah dibuat dalam studi dituangkan hendaknya dalam bentuk desain;
- Studi itu masih memerlukan tindak lanjut/perencanaan yang lebih detail;
- Dari Bappeda sudah mencoba untuk menentukan "guideline" nya;
- Ada saran dari Bapak Bupati agar dibongkar (ada bangunan);
- Permasalahan-permasalahan yang kita hadapi di lapangan:
1. Di Puri kita sudah melihat kondisi di Puri;
2. Pagar dibuat modern, berbeda dari usulan perencanaannya;
3. Ada dua perencanaan, dari kantor Bupati ke Selatan - menata pertamanan;
4. Di sudut kantor Camat, dialokasikan dana untuk membuat patung (tapi masih berubah-ubah, pertama: patung panji Tisna).
*Bpk. Ngurah Paramartha: -Perlu ada apresiasi terhadap warisan budaya; -ada eksplorasi.
*Bpk. Demer :
-Buleleng amburadul, belum punya penataan jangka pendek, menengah dan jangka panjang;
-Diperlukan tata ruang yang integrated dengan sosial budaya.
* Bpk. Yudha Saka: -CHC mencoba membangun kota Buleleng; -Pemerintah berbicara terhadap aspirasi-aspirasi yang ada di sini; -Pemerintah tidak melihat problematik (contoh di Puri); -Gambar rencana di Puri kurang detail; -Perlu merupakan suatu yang holistik.
* Bp. Putu Agus Budiana: -Kok sepertnya kini lebih bodoh merancang kota daripada dulu; -Bisa dicontoh DKI jaya, ada respon-respon tertentu.
* Bpk. Putu Rumawan S : -CHCI satu-satunya di Indonesia;
*Bp. Anindya Putra: -Fokus: laporan dari teman-teman, seperti apa perencanaan itu; -Bagaimana pendekatan terhadap pemerintah; -Eksplorasi memang sangat penting, seperti yang diungkap tadi.
*Bp. Suhadi: -Yang di pelabuhan dan di Puri, apa yang bisa, dan apa yang tidak bisa; -Master plan: bagaiman struktur kotanya, aspek-aspek seni budaya, dll.
*Bp. Suma Arjawa: -Di puri ada peninggalan budaya; -Barang-barang lama terpendam dan rusak; -Puri Kanginan (memiliki rangda); -Puri Gede (memiliki barong); -Ornamen Buleleng sudah lenyap; -Ornamen Buleleng (dulu) dari Abasan; -Di Listibya Buleleng akan mengadakan "workshop" tentang ornamen Bali.
* Suardana:
-Perlu dilakukan inventarisasi terhadap arsitektur kota yang hendak dilestarikan, sehingga
kemudian dikompilasikan berupa data-data, sehingga bisa diprosentasekan, berapa bagian yang di-koservasi, berapa persen yang di-gentrifikasi, di rehabilitasi, renovasi, restorasi, atau mungkin ada yang di rekonstruksi.
III. RESUME PERTEMUAN "BULELENG HERITAGE" TGL 28 MEI 2003 (PKL. 19.55).
* Bpk. Popo :
-Mengenai millis di internet (diungkap oleh pak Rumawan) dan hasil pertemuan kita waktu lalu sudah dibicarakan di kantor Gubernur (hari Selasa 27 Mei kemarin). Hadir di sana antara lain : Bpk. WaGub. I Gst. Ngr. Alit Putra, Bp. Ida Bgs. rai, Bu Armita, Bp. Purnomo, pak Rumawan;
-Hari Senin depan akan menghadap ke Bappeda Singaraja.
* Bpk. Putu Rumawan S.:
-Mohon dibentuk suatu wadah (dilembagakan) acara kumpul-kumpul/pertemuan seprti ini;
-Mungkin nanti ada yang menangani bidang konservasi, budaya, dll., supaya visi tak berubah-ubah;
-Sosialisasi lebih ke dalam sudah merupakan informasi;
-Pak Pusphaka selaku Ketua Bappeda Buleleng, tidak tahu menahu;
-Ada 4 tahap proyek sampai dengan th. 2005.
-Pelabuhan akan dibuat sebagai pusat rekreasi kota (taman Bahari);
-Konservasi energi;
-Konservasi arsitektur: mesti ada pertimbangan-pertimbangan;
-Hasil CHC sebagai pedoman "Bali Development";
-Kenapa gedung Duane mau dihancurkan?
-Ada kode etik, pendekatan persuasif untuk mengadakan kerjasama dengan konsultan (Kt. Sarjana);
- Ada morfologis arsitektur;
-Tempatkan teman yang ahli di Pemda;
-Penempatan patung perlu studi yang lama;
*Peserta diskusi yang lain (dari Gigir Manuk?): -Kubutambahan sebagai pusat........... -Nopember depan akan ada lagi event (tentang kearifan lokal).
*Selanjutnya : acara penayangan gambar-gambar dan foto-foto tentang kota Singaraja
(via LCD) oleh Bp. Putu Rumawan S dan Popo (diselingi dengan diskusi).
* Bpk. Soegianto S : -Singaraja tidak hanya dilihat dari teknis saja; -Berikan kesempatan untuk JSA (Job Savety Analysis); -Dulu Gedong Kirtya pernah hampir dipindahkan......... -Perlu trnsparansi (kepada Bupati); -Ada konsep budaya di Buleleng (konsep "Mararaton"?) dari Sukasada; -Informasi perlu diberikan kepada orang-orang.
*Bpk. Yudha Saka: -Aspirasi masyarakat kita harapkan; -Pembangunan yang akan dilakukan perlu dikoreksi; -Perlu ada rumusan-rumusan sebelum menghadap ke Pemda; -Konservasi kok larinya ke Bina Marga.
*Bpk. Putu Rumawan:
-Konsultan lokal yang diobrak-abrik;
-Tentang konservasi di Bali sudah diseminarkan secara internasional dan nasional;
-Contoh : Tabanan (mengenai Museumnya), Singaraja (tentang kotanya), desa-desa
tradisional (intangible), dll.
*Peserta lain (maaf, lupa mencatat nama): -Persoalan itu ada dimana; -Pembicaraan distorsinya ada dimana; -Yang dipresentasikan Bpk. Rumawan usulan dari CHC; -Sebetulnya konservasi Singaraja lebih luas dari yang dipresentasikan tadi.
* Bpk.Agus Agam: -Problemnya adalah perlu ada penyamaan bahasa, perlu komponen lain; -Perlu bahasa yang sama tentang konservasi.
*Bpk. Putu Rumawan:
-Bp. Mustita Rai perlu disertakan;
-Mohon perkenaan menunda sesaat, untuk mengkaji ulang dalam batas waktu tertentu
(ada kalender, misalnya Desember selesai, tentang urusan keuangan dengan world bank
final);
-Disikapi dan dilakukan pembicaraan dengan Gapensi, misalnya.
* Bpk. Popo : -Usaha-usaha yang perlu diluruskan ini perlu mendapat support dari masyarakat.
*Bpk. Yudha Saka: -Suatu kesalahan perlu dibuatkan "statement"; -Perlu ada pengawas yang tahu dengan pekerjaannya.
* Pertemuan berikutnya : Hari Rabu, tgl. 4 Juni 2003, jam : 19.30 wita.
Demikian seputar hasil pertemuan kita yang bisa saya sematkan sebagai catatan di sini kepada rekan-rekan yang sangat menaruh perhatian pada konservasi dan pembangunan Buleleng pada umumnya dan kota Singaraja khususnya. Mohon maaf bila ada kesalahan penulisan kata, penulisan nama (tanpa pencantuman nama gelar, misalnya), dll. Maafkan pula jika ada yang tak sempat saya catat. Mudah-mudahan masukan dari rekan-rekan bisa menjadi "input" yang sangat berharga bagi pelestarian dan pembangunan Buleleng umumnya, dan kota Singaraja khususnya, yang lebih baik dan berkelanjutan. Mohon diteruskan pula catatan kecil ini buat rekan-rekan kita yang belum saya sempat catat "e-mail address"nya. Matur Suksma. Sampai jumpa di lain kesempatan.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Salam dan hormat kami: Pencatat, I Nyoman Gde Suardana.
-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.
Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
