Widiasari dan kawan-kawan Yth. Komite Nasional Indonesia (KNI) WEC (World Energy Conference), perkumpulan energi dunia dengan keanggotaan di setiap negara, sedang cari Logo Energi. Logo apa yang kiranya dapat diusulkan yang diambil dari budaya/ mitologi Bali atau pewayangan ? Saya ingat , seperti pada lukisan para dewa menggergaji gunung dengan naga untuk mencari merta(energi?). Setelah merta diketemukan dan dibagikan kepada para dewa agar dapat hidup kekal, ada raksasa yang ikut menyamar, ikut makan merta itu, tetapi ketahuan, dipanah oleh betara indera(?), putus lehernya, badannya mati,tapi kepalanya masih hidup terus berkat merta yang telah ditelannnya. Kepala raksasa ini -kala rau- lalu membalas dendam menelan dewa ratih/isteri indera , tapi tak sampai mematikan bulan, terjadinya gerhana bulan! Pengetahuan saya tak memadai untuk hal yang berkaitan dengan budaya ini. Kiranya ada kawan-kawan yang lebih tahu dan dapat memberi saran, logo apa yang sepantasnya diambil dari budaya kita untuk dipakai logo energi? Bila dapat diterima akan jadi kebanggaan kita.Dapat ditanyakan kepada para dalang , budayawan kita bila ada kesempatan! Energi begitu penting artinya bagi kehidupan modern, kiranya dapat dicarikan simbolnya dari budaya kita. Terima kasih atas saran/sumbangan Sdr. Nengah Sudja. ----- Original Message ----- From: "nimade widiasari" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, July 16, 2003 10:04 PM Subject: [bali] Re: Buleleng & Cultural Heritage Conservation
> Yth Pak Popo, > sorry saya nggak bisa datang ke acara di hayam wuruk, > saya sebenarnya pengin dengar perkembangannya dan > ikutan nimbrung, kalau memang "mudeng'. Tapi saya > pikir masukan pak suwela tentang, bangunan bea cukai > bisa dipertimbangkan. > Pada dasarnya konsepnya harus jelas, mau ambil start > dari jaman kapan, atau mau kombinasi beberapa periode, > untuk menentukan yang mana mau dipertahankan, dan yang > mana akan dibongkar. Untuk suatu landscape yang bagus, > tentu pak Popo lebih paham. Kalau mau ambil tema jaman > kolonialnya, tentu beda style, kalau mau kombinasi > dengan jaman berikutnya, lihat2 dulu....jangan-jangan > malah jadi tambah "aneh" Mengkombinasikan sesuatu > memang cukup sulit, apalagi dengan "pengaruh style" > yang asalnya beda jauh. > Itu baru pada bentuk bangunan yang saling mendukung, > belum lagi masalah warna2 yang ada di sekitarnya. Juga > jenis pohon yang akan ditanam, dan lain-lain. > Kalau buat saya yang terpenting adalah keterlibatan > masyarakat sekitarnya, karena hal ini akan sangat > menentukan keberlanjutan program. Jangan sampai, udah > dibuat keren, terus disitu..nongkronglah...pedagang > siobak yang buang sampah sembarangan, atau masyarakat > yang merasa nggak pernah dijemput sampahnya, yang > akhirnya buang sampah ke tepi pantai. Saya sampai > kesal ngelihat sampah berulat besar2 di pantai sekitar > pelabuhan. Dinas Cipta Karya mesti ikut menganggarkan > program penyadaran masyarakat dan pola pengelolaan > sampah yang baik, terutama bagi masyarakat sekitar > pelabuhan, dan ini terus berlanjut. walaupun saya agak > pesimis, selalau masalah lingkungan tidak menjadi > prioritas. > Sorry sekali lagi, saya bisanya urun dari sini. > Ya...kalaupun belum bisa tuntas sekarang, asal jangan > dimulai dengan konsep yang aneh2, masih bisalah > kedepan kita cicil program2 ikutannya. > > salam : widi > > --- popodanes <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear All, > > > > Maaf kalau informasi sempat mandeg, karena saya > > sempat minggat sebentar ke negeri orang, tapi > > sungguh, bukan karena ngambul. > > > > Sementara di Singaraja, perkembangan sudah > > menunjukkan arah yang sangat membaik, dengan > > kesediaan beliau-beliau disana untuk meluruskan > > beberapa materi proyek. Bangunan ex-Bea Cukai tidak > > jadi diempug, dan kita segera akan memulai restorasi > > bangunan-bangunan pergudangan yang nyaris hancur, > > dengan mengembalikan ke bentuk aslinya. Duitnya > > didapat dengan membatalkan proyek pavingisasi > > kawasan pelabuhan, yang memang sebetulnya tidak di > > butuhkan. > > > > Rencana pembangunan candi bentar di pelabuhan juga > > kita hold dulu, untuk alasan pelurusan sejarah. > > Karena waktu sosialisasi bahwa disana ada rencana > > pembangunan candi bentar bermotif cina, katanya > > sempat ditolak masyarakat. Padahal menurut study > > yang ada aslinya memang begitu, namun yang melakukan > > sosialisasi tidak pernah melihat hasil studynya, > > sehingga tidak mengemukakan alasan kenapa bentuknya > > jadi seperti itu. Ini mengingatkan kita kepada > > bacaan bahasa Bali kita saat SD dulu, cerita tentang > > I Buta ajak I Rumpuh. > > > > Terakhir, saya mendapat telpon dari pimpronya pak > > Pande beberapa hari lalu, kalau mereka juga > > mengalokasikan dana sejumlah 60 juta rupiah untuk > > membersihkan loloan yang ada di pelabuhan itu. > > > > Untuk lebih jelasnya, kita akan bicarakan ini lagi > > dalam pertemuan peduli Buleleng kita yang akan > > diadakan besok, Rabu, 16 Juli 2003, jam 19.30 wita, > > di Jalan hayam Wuruk 159 Denpasar. > > > > Mohon kehadirannya, terimakasih, sampai jumpa. > > > > Salam, > > > > Popo Danes > > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month! > http://sbc.yahoo.com > > -- > Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. > > Publikasi : http://www.lp3b.or.id > Arsip : http://bali.lp3b.or.id > Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> > > -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
