Ysh. Pak Nyoman Suwela, Pak Popodanes dan teman-teman lp3b lainnya.

Sangat menarik uraian yang disampaikan oleh kawan kita Bapak Nyoman Suwela 
berkaitan dengan cerita di balik pelabuhan buleleng yang akan digarap oleh 
timnya Pak Popo.
Saya ingin mengajukan pertanyaan pada Pak Popo dan timnya, apakah kita punya 
arsip foto-foto yang menggambarkan wajah pelabuhan buleleng dari waktu ke 
waktu ?
Apakah ada catatan pabean yang berisi aktifitas apa saja yang pernah ada di 
pelabuhan buleleng ?
Apabila kita berbicara suatu obyek wisata, maka sudah barang tentu cerita di 
balik obyek wisata tersebut akan sangat penting artinya bagi setiap orang.
Pernah dalam milis ini salah seorang dari rekan kita menyinggung bahwa 
pelabuhan buleleng merupakan pelabuhan dimana orang-orang Bali bisa 
mengekspor babi dan hasil bumi. Mestinya ekspor sapi juga.
Apabila Pak Popo dan kawan-kawan ingin mendapatkan informasi berkaitan dengan 
kegiatan ekspor sapi dari pelabuhan buleleng pada masa sebelum kemerdekaan, 
nampaknya Pak Popo bisa mencari informasi ke desa Nagasepaha. Kenapa 
demikian ?
Pada waktu itu, beberapa saudagar sapi yang melayani ekspor sapi ke luar 
negeri kebetulan berasal dari desa Nagasepaha. Kalau saya tidak salah, salah 
seorang eksportirnya adalah warga Tionghoa, nama dan foto orang beserta 
keluarganya bisa ditanyakan di desa Nagasepaha.
Berangkat dari informasi yang diperoleh di Nagasepaha, mungkin nantinya 
sumber informasi bisa diperluas ke daerah lainnya, dimana para saudagar sapi 
(yang ada kala itu) berasal.
Bila Pak Popo tertarik, silahkan sekali sekali jalan-jalan ke desa. Sekali 
sekali meetingnya di desa khan lebih santai. Bila perlu meetingnya di tengah 
sawah atau di kandang sapi yang ada di sawah. Nuansanya mungkin lebih menarik 
daripada di hotel, he...he. Ide dari para peserta meeting bisa jadi lebih 
deras mengucur keluar.
Segitu dulu dari saya, selamat berkarya, sampai jumpa.

salam sejahtera dari
Nyoman Bangsing

On Tue, 22 Jul 2003 20:36:34 -0700 (PDT), nyoman suwela wrote
> Yth. Pak Popo, Ibu Widi ( kalau Ibu pasti cantik) dan rekan-rekan 
> yang lain.
> 
>      Saya yang sementara ini hanya Mandor Bangunan di Karawang, yang 
> sejak kenal Pak Wis diajari ngirim dan nerima Email, jadi ikut-
> ikutan sok tahu budaya. Apa yang saya sampaikan hanya ingatan waktu 
> saya masih kecil, waktu masih ngayah di Pemda Buleleng, terutama 
> tentang pelabuhan Buleleng dan sekitarnya.
> 
>       Saya masih ingat ditempat Tugu Yuda Mandala sekarang, dahulu 
> ada teras setengah lingkaran ( seperti sepatu kuda ), tempatnya 
> Encik-encik  nongkrong dan ngobrol pakai bahasa leluhurnya ( China 
> ). Bangunan disebelah selatan, yang pernah jadi Kantor KPM, kemudian 
> Pelni, bahkan Kafe, masih seperti itu. Begitu juga dengan gudang-
> gudang disebelahnya. Yang menarik disitu adalah adanya JEMBATAN 
> KAYU. Kapal-kapal berlabuh ditengah dan skoci atau tongkang 
> mengangkut penumpang, ternak atau barang dari jembatan kayu itu. 
> Jembatan kayu itu juga dipakai tempat mancing penduduk lokal. 
> Jembatan itu, sekarang tinggal sejarah. Pernah ada ide Pemda 
> Buleleng untuk membangun kembali jembatan itu, tapi entah apa, ide 
> itu tinggal ide. Daerah sekitar pelabuhan Buleleng disebut Kampung 
> Tinggi, yang kalau hujan sering banjir. Kalau Kampung Tinggi saja 
> kebanjiran, bagaimana dengan Kampung Rendah? Yang menarik pula 
> bangunan di Jalan Erlangga, arsitekturnya bernuansa China. Saya 
> kebetulan pernah mi mpi ke Singapura, Hongkong dan China. Waktu 
> disana, saya lihat bentuk seperti itu. Dijaman Bali dibawah Pak 
> Sukarmen sebagai Gubenrur dan Buleleng dibawah Pak Hartawan Mataram 
> sebagai Bupati, ada program yang namanya : Bali Indah. Jalan-jalan 
> dikota diperlebar, dan bangunan toko harus diremodeling, dengan 
> gambar yang dibuat oleh PU dan SERAGAM. Apakah kebijakan wajah toko 
> ini seragam merupakan TEROBOSAN atau KEKELIRUAN saya tidak paham. 
> Nenek saya bilang kalau apa saja yang monotone dan seragam adalah 
> membosankan. Keaneka ragaman selalu menarik, Variety is spice of 
> life, kata nenek saya yang buta huruf. Tapi kaya tapel, bangunan 
> style China itu hanya pakai topeng gambarnya PU tapi dibelakangnya 
> masih ada bentuk aslinya.
> 
>       Pelabuhan Buleleng, pernah menjadi pintu gerbang 
> kepariwisataan Bali. Kapal-kapal berlabuh di Buleleng. Tante saya 
> berangkat ke Surabaya dengan kapal laut diantar oleh penduduk 
> sekampung. Kalau apa yang dimiliki Pemkab. Buleleng ini BISA 
> DILESTARIKAN, saya yakin akan bisa menjadi daya tarik wisatawan, 
> terutama wisatawan dari negeri Londo. Karena wong Lono ada ikatan 
> sentimen historis. Yang menarik pula adalah adanya simbol 
> keharmonisan, toleransi. Disitu ada konco ( puranya China ), ada 
> mesjid dan pura. Ada jembatan lengkung kuno berdampingan dengan 
> jembatan beton dan baja modern. Kalau semua ini, DIPROMOSIKAN dengan 
> baik, turis-turis akan banyak yang datang. Menurut saya, tidak usah 
> kita phobia dengan China, atau Londo sebagai penjajah. Orang tidak 
> bisa menghapus sejarah, justru orang harus banyak menarik pelajaran 
> dari sejarah. 
> 
>      Dikota Richmond, Visrginia, USA, tentara Selatan dan Union, 
> yang tercatat dalam sejarah perang saudara AS, kedua jendral baik 
> yang kalah maupun menang, patungnya menghiasi kota tersebut. Hanya 
> kecendrungan pemimpin kita, ingin mematri namanya dengan tidak 
> menghargai nilai sejarah dan tidak berminat melanjutkan apa yang 
> telah dibangun oleh pemimpin sebelumnya. Ketut Tantri dalam bukunya 
> ?Revolt in Paradise? mengatakan ?HISTORY REPEATS ITSELF? sedangkan 
> disuatu musium di AS saya pernah menbaca : HISTORY WILL  NEVER BE 
> THE SAME.
> 
>     Semoga program Cultural Heritage Conservation ini akan 
> menyadarkan kita kepada perlunya melestarikan nilai budaya kita 
> sehingga jerih payah Bapak dan Ibu tidak sia-sia.
> 
> Sesonggan China mengatakan : nothing pain, nothing gain. Nothing 
> venture nothing have.
> 
> I keep my fingers crossed for  you all.
> 
> Asapunika titiang matur. Yen wenten keiwangan titiang, titiang nunas 
> geng sinampura. As an  old saying goes ? TO ERR IS HUMAN ?.
> 
> Titiang kawule duwene,
> 
> Nyoman Suwela
> 
> popodanes <[EMAIL PROTECTED]> wrote:Dear All, 
>  
> Tanpa kita sadari, saat ini sudah terbentuk beberapa kantong 
> potensial yang mau mikirin nasib Kabupaten terbesar di Bali, yang 
> akhir ini banyak diguncang berbagai isu, mulai politik, pembangunan, 
> pembangkangan, dan pembengkungan.
>  
> Kami yang suka berkumpul di Denpasar dengan topik Cultural Heritage 
> Conservation ada rencana membuat pertemuannya di Singaraja. 
> Rencananya pada hari Jumat siang, 25 Juli 2003. Ini juga sesuai 
> dengan permintaan pak Gde Wisnaya dulu yang minta mbok sekali-sekali 
> ketemuan di Buleleng.
>  
> Tadi pagi saya sempat telponan dengan kelian PHRI, pak Ketut Englan 
> ( bukan bermaksud Banyuatis sentris ), beliau tawarkan untuk bertemu 
> di Bali Taman Hotel saja sekitar jam 13.00 wita. Sebelum dan 
> sesudahnya teman-teman dari Denpasar bisa melihat-lihat ke pelabuhan 
> dan sebagainya.
>  
> Sementara pimpro proyek CHC di Buleleng pak Pande Sudarta sudah 
> confirm untuk hadir, besok akan saya coba lagi kontak ketua Bappeda 
> pak Puspaka untuk hadir juga, demikian juga pejabat tersangket 
> lainnya akan kita coba jajagi.
>  
> Nah, begitu rencananya, besok akan saya follow-up lagi melalui 
> telpon dan sms, supaya besok malam sudah bisa confirm. 
>  
> Wantah asapunika dumun, pamit,
>  
> Popo




--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>



--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke