Yth pak Popo, he..he...tapi jangan sampai pak Puspaka Ke GR-an, dia tahunya saya tuh...cuek aja, gengsi dong kalau kelihatan "terbengong2" Orang ganteng, khan belum tentu pintar.......!! Oh ya...sebenarnya saya dan beberapa teman (buka rahasia deh), ada rencana mau bikin film dokumenter tentang Bali sejak sebelum kemerdekaan-Bom Kuta. Beberapa film dokumenter sudah ada termasuk suasana Pelabuhan Buleleng tempo Doeloe/turis turun dari kapal di pelabuhan/pengiriman ternak, dll. Tapi mungkin mesti ngomong dulu sama yang hobinya ngumpulin film2 kuno (teman saya itu), karena saya sudah sempat ngobrol2 sama Mas Garin Nugroho, dan sedang belajar nyari dana buat membiayai film tersebut, dan segala persiapan kearah sana). Habis tadinya sudah hampir yakin dapat duit, ternyata batal...ya...usaha lagi deh. saya sedang kerja keras untuk ini lewat mas Garin. Mungkin nanti kalau udah jadi bisa dijadikan obyek tontonan disana (kayak teater Keong/TMII) Saya minta maaf belum bisa bilang apa2 dulu, karena teman satu ini sangat sayang dengan koleksinya dan saya harus menghargai dia, sampai nantinya jadi sesuatu yang bisa dinikmati. Sorry sekali lagi sorry banget, bukan pelit. Nanti khan juga buat semua, sabar....ya.
Cheers : widi --- popodanes <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Saya terharu pelung begitu mendapat semua respons > yang sangat positif dari semeton sinamian yang share > the same kind of concern regarding our sad Pabean. > Semoga dengan lebih besarnya peselan sampat kita > bisa lebih banyak membersihkan areal yang masih > romon. > > Beberapa materi tentang Buleleng doeloe sudah > dikumpulkan oleh team kami, antara lain hasil munuh > di google, baik yang text maupun image. Tentu kita > juga selalu appreciate segala jenis tuturan satua, > apalagi dari pinisepuh kita sekaliber pak Nyoman > Suwela, yang dari ceritanya banyak menelan pakeh dan > pahitnya ketimbang menghirup madunya. > > Teman-teman dari Denpasar berencana akan tiba di > Singaraja sekitar jam 12 siang, pada hari Jumat itu. > Sayang pak ketua Bappeda yang diam-diam dikagumi > kegantengannya oleh Made Widiasari akan berada di > Ujung Pandang saat itu, dan baru akan kembali ke > Singaraja hari Sabtu malam. Mudah-mudahan bukan > untuk munuh arsip lama dari bekas negara Indonesia > Timur. > > Untuk pesan pak Gde Wisnaya, saya akan bawa digital > camera, laptop dan LCD projector. Kayaknya layarnya > kegedean sehingga saya putuskan untuk pinjem sprei > saja nanti. Saya juga akan bawa file foto-foto yang > sudah kita ambil dalam kesempatan yang lalu. > > Untuk itu, tolong dong untuk mereka yang di > Singaraja, Pak Gde Wis misalnya, bisa kasih nomor > handphonenya, supaya kita bisa lebih mudah > komunikasi, atau juga bisa saling kirimin sms yang > buang-buang setelah itu. Saya sendiri bisa juga > dihubungi di 081 139 7076. > > Kanggoang deh sekian dulu, sudah rada kiap habis > lenged seharian. > > Salam, > Popo > > > > > ----- Original Message ----- > From: nyoman suwela > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Wednesday, July 23, 2003 11:37 AM > Subject: [bali] Re: pertemuan di Singaraja > > > Yth. Pak Popo, Ibu Widi ( kalau Ibu pasti cantik) > dan rekan-rekan yang lain. > > Saya yang sementara ini hanya Mandor Bangunan > di Karawang, yang sejak kenal Pak Wis diajari ngirim > dan nerima Email, jadi ikut-ikutan sok tahu budaya. > Apa yang saya sampaikan hanya ingatan waktu saya > masih kecil, waktu masih ngayah di Pemda Buleleng, > terutama tentang pelabuhan Buleleng dan sekitarnya. > > Saya masih ingat ditempat Tugu Yuda Mandala > sekarang, dahulu ada teras setengah lingkaran ( > seperti sepatu kuda ), tempatnya Encik-encik > nongkrong dan ngobrol pakai bahasa leluhurnya ( > China ). Bangunan disebelah selatan, yang pernah > jadi Kantor KPM, kemudian Pelni, bahkan Kafe, masih > seperti itu. Begitu juga dengan gudang-gudang > disebelahnya. Yang menarik disitu adalah adanya > JEMBATAN KAYU. Kapal-kapal berlabuh ditengah dan > skoci atau tongkang mengangkut penumpang, ternak > atau barang dari jembatan kayu itu. Jembatan kayu > itu juga dipakai tempat mancing penduduk lokal. > Jembatan itu, sekarang tinggal sejarah. Pernah ada > ide Pemda Buleleng untuk membangun kembali jembatan > itu, tapi entah apa, ide itu tinggal ide. Daerah > sekitar pelabuhan Buleleng disebut Kampung Tinggi, > yang kalau hujan sering banjir. Kalau Kampung Tinggi > saja kebanjiran, bagaimana dengan Kampung Rendah? > Yang menarik pula bangunan di Jalan Erlangga, > arsitekturnya bernuansa China. Saya kebetulan pernah > mimpi ke Singapura, Hongkong dan China. Waktu > disana, saya lihat bentuk seperti itu. Dijaman Bali > dibawah Pak Sukarmen sebagai Gubenrur dan Buleleng > dibawah Pak Hartawan Mataram sebagai Bupati, ada > program yang namanya : Bali Indah. Jalan-jalan > dikota diperlebar, dan bangunan toko harus > diremodeling, dengan gambar yang dibuat oleh PU dan > SERAGAM. Apakah kebijakan wajah toko ini seragam > merupakan TEROBOSAN atau KEKELIRUAN saya tidak > paham. Nenek saya bilang kalau apa saja yang > monotone dan seragam adalah membosankan. Keaneka > ragaman selalu menarik, Variety is spice of life, > kata nenek saya yang buta huruf. Tapi kaya tapel, > bangunan style China itu hanya pakai topeng > gambarnya PU tapi dibelakangnya masih ada bentuk > aslinya. > > Pelabuhan Buleleng, pernah menjadi pintu > gerbang kepariwisataan Bali. Kapal-kapal berlabuh di > Buleleng. Tante saya berangkat ke Surabaya dengan > kapal laut diantar oleh penduduk sekampung. Kalau > apa yang dimiliki Pemkab. Buleleng ini BISA > DILESTARIKAN, saya yakin akan bisa menjadi daya > tarik wisatawan, terutama wisatawan dari negeri > Londo. Karena wong Lono ada ikatan sentimen > historis. Yang menarik pula adalah adanya simbol > keharmonisan, toleransi. Disitu ada konco ( puranya > China ), ada mesjid dan pura. Ada jembatan lengkung > kuno berdampingan dengan jembatan beton dan baja > modern. Kalau semua ini, DIPROMOSIKAN dengan baik, > turis-turis akan banyak yang datang. Menurut saya, > tidak usah kita phobia dengan China, atau Londo > sebagai penjajah. Orang tidak bisa menghapus > sejarah, justru orang harus banyak menarik pelajaran > dari sejarah. > > Dikota Richmond, Visrginia, USA, tentara > Selatan dan Union, yang tercatat dalam sejarah > perang saudara AS, kedua jendral baik yang kalah > maupun menang, patungnya menghiasi kota tersebut. > Hanya kecendrungan pemimpin kita, ingin mematri > namanya dengan tidak menghargai nilai sejarah dan > tidak berminat melanjutkan apa yang telah dibangun > oleh pemimpin sebelumnya. Ketut Tantri dalam bukunya > Revolt in Paradise mengatakan HISTORY REPEATS > ITSELF sedangkan disuatu musium di AS saya pernah > menbaca : HISTORY WILL NEVER BE THE SAME. > > Semoga program Cultural Heritage Conservation > ini akan menyadarkan kita kepada perlunya > melestarikan nilai budaya kita sehingga jerih payah > Bapak dan Ibu tidak sia-sia. > > Sesonggan China mengatakan : nothing pain, nothing > gain. Nothing venture nothing have. > > I keep my fingers crossed for you all. > > Asapunika titiang matur. Yen wenten keiwangan > titiang, titiang nunas geng sinampura. As an old > saying goes TO ERR IS HUMAN . > > Titiang kawule duwene, > > Nyoman Suwela > > > > popodanes <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear All, > > Tanpa kita sadari, saat ini sudah terbentuk > beberapa kantong potensial yang mau mikirin nasib > Kabupaten terbesar di Bali, yang akhir ini banyak > diguncang berbagai isu, mulai politik, pembangunan, > pembangkangan, dan pembengkungan. > > Kami yang suka berkumpul di Denpasar dengan > topik Cultural Heritage Conservation ada rencana > membuat pertemuannya di Singaraja. Rencananya pada > hari Jumat siang, 25 Juli 2003. Ini juga sesuai > dengan permintaan pak Gde Wisnaya dulu yang minta > mbok sekali-sekali ketemuan di Buleleng. > > Tadi pagi saya sempat telponan dengan kelian > PHRI, pak Ketut Englan ( bukan bermaksud Banyuatis > sentris ), beliau tawarkan untuk bertemu di Bali > Taman Hotel saja sekitar jam 13.00 wita. Sebelum dan > sesudahnya teman-teman dari Denpasar bisa > melihat-lihat ke pelabuhan dan sebagainya. > > Sementara pimpro proyek CHC di Buleleng pak > Pande Sudarta sudah confirm untuk hadir, besok akan > saya coba lagi kontak ketua Bappeda pak Puspaka > untuk hadir juga, demikian juga pejabat tersangket > lainnya akan kita coba jajagi. > > Nah, begitu rencananya, besok akan saya > follow-up lagi melalui telpon dan sms, supaya besok > malam sudah bisa confirm. > > Wantah asapunika dumun, pamit, > > Popo > > > > > ------------------------------------------------------------------------------ > Do you Yahoo!? > Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site > design software > > > __________________________________ Do you Yahoo!? Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software http://sitebuilder.yahoo.com -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Berlangganan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]> Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
