> KEBIJAKAN NEGARA DAN FUNDAMENTALISME ISLAM INDONESIA
>
> oleh : He-Man
>
> Fundamentalisme Islam Indonesia memiliki ciri khas yang sangat jauh
berbeda
> dengan fundamentalis Islam di negara lain seperti Pakistan ataupun
> negara-negara timur tengah , antara lain dekatnya hubungan mereka dengan
> kalangan pemerintahan maupun militer padahal fundamentalisme Islam di
negara
> lain rata-rata menjauhinya bahkan melakukan konfrontasi secara terbuka ,
hal
> lainnya adalah gerakan garakan fundamentalis Islam Indonesia tidak berakar
> maupun berkembang di kalangan ulama maupun santri.
>
> Hubungan gerakan Islam dengan pemerintah yang didukung militer selama masa
> orde baru mengalami masa pasang surut. Pada awal kebangkitan orba ,
militer
> mendapat dukungan baik dari kalangan mahasiswa maupun kalangan Islam yang
> sakit hati terhadap PKI , bahkan militer melatih dan mempersenjatai laskar
> pemuda Islam terutama dari kalangan NU dan Muhammadiyah untuk
menghancurkan
> basis-basis PKI , laskar ini kemudian berubah jadi Banser dan KOKAM yang
> merupakan laskar sipil tidak bersenjata di lingkungan NU dan Muhammadiyah
> saat ini. Tapi ketika militer memperoleh kekuasaan , kelompok Islam mulai
> dipinggirkan , Masyumi gagal untuk diterima kembali menjadi partai politik
> dan akhirnya membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sebuah
> organisasi dakwah Islam militan yang dikenal sebagai think tank
> kelompok-kelompok fundamentalis.Organisasi ini tidak mengenal tradisi
kartu
> tanda anggota (KTA) untuk memudahkan pergerakan mereka. Hubungan kelompok
> Islam dengan pemerintah memanas dalam pembahasan RUU Perkawinan terutama
> menyangkut pasal 11 ayat 2 yang membolehkan pernikahan beda agama. RUU ini
> ditanggapi dengan walk out nya anggota dewan dari PPP dan diikuti oleh
> penyerbuan dan pendudukan gedung dewan oleh massa dari sejumlah ormas
> kepemudaan Islam.LetJen Soemitro mengambil inisiatif dalam krisis ini dan
> berhasil membuat kesepakatan dengan para ulama dan menghilangkan sejumlah
> pasal yang dianggap merugikan ataupun bertentangan dengan syari'at Islam ,
y
> ang kemudian ditandangani oleh Soeharto.Langkah ini menimbulkan kemarahan
> dari kelompok seterunya yaitu Ali Moertopo yang kemudian dicurigai
> merekayasa peristiwa Malari dengan melibatkan kelompok Islam buatan BAKIN
> yaitu GUPPI.Dari peristiwa peristiwa inilah dimulai operasi-operasi
> intelejen untuk menyusup bahkan menciptakan kelompok-kelompok
fundamentalis.
>
> Walaupun pemerintahan Soeharto adalah pemerintahan militer tapi semasa
rezim
> Soeharto kekuatan militer secara riil tidak begitu diperhatikan , belanja
> militer semasa rezim Soeharto sangat sedikit dan jarang dilakukan sehingga
> dari segi peralatan tempur jumlahnya menurun drastis dari masa rezim
> sebelumnya yang bahkan pernah tersohor sebagai salah satu negara dengan
> kekuatan udara dan laut terkuat di dunia (yang pada masa awal orba
> sebahagian besar discrap) begitu pula dari segi kesejahteraan prajurit
> sangat memprihatinkan. Akan tetapi Soeharto memberikan dana tak terbatas
> kepada aparat-aparat intelejen untuk melakukan intimidasi dan rekayasa
untuk
> menjinakkan kekuatan-kekuatan oposisi ataupun yang berpotensial untuk
> itu.Puncak perseteruan dengan kelompok Islam terjadi pada peristiwa priok
,
> yang menurut sejumlah kalangan hanya dijadikan tumbal untuk mendapatkan
dana
> bantuan/pinjaman luar negri karena setelah peristiwa tersebut pinjaman
luar
> negri mengalir dengan lancar ke Indonesia. Peristiwa itu mendapat balasan
> dari sejumlah kelompok radikal seperti pemboman maupun pembajakan
> pesawat.Peristiwa peristiwa itu dijadikan alasan bagi aparat untuk
bersikap
> lebih represif dengan membuat isu komando jihad yang menelan korban
sejumlah
> kyai NU di Jawa Timur. Walaupun ada sejumlah keanehan-keanehan yang tidak
> terungkap dalam peristiwa-peristiwa teror yang menghebohkan paska
peristiwa
> Priok yang mengesankan adanya rekayasa , bahkan salah satu tersangka kasus
> peledakan BCA merupakan keponakan Widjoyo Nitisastro yang merupakan
arsitek
> orba . Organisasi-organisasi formal pada masa itu berusaha mengambil sikap
> koperatif dengan pemerintah untuk mencegah semakin banyaknya korban ,
hanya
> beberapa kelompok saja yang menolak seperti PII dan HMI MPO juga sebuah
> ormas yang baru lahir seperti BKPMI (1978).
>
> Melihat semakin ditekan kekuatan-kekuatan radikal Islam malahan semakin
> melawan maka pemerintah melalui intelejennya menggunakan teknik seperti
yang
> dilakukan CIA untuk melawan gembong obat bius di Amerika Selatan yaitu
> dengan cara tidak mengeliminirnya secara total melainkan dengan cara
> mengontrolnya.Karena dengan anggapan bahwa dengan mengeliminir sebuah
> potensi konflik malahan akan melahirkan potensi konflik lainnya sehingga
> malahan meningkatkan instabilitas , karena itulah potensi konflik itu
> akhirnya dipertahankan dalam batas dimana pemerintah memiliki akses untuk
> mengontrolnya.
>
> FENOMENA HAROKAH
> Seiring dengan diberlakukannya NKK/BKK sejumlah ormas kepemudaan/mahasiswa
> yang selama itu berbasis di kampus mejadi tersingkir.Salah satu pergerakan
> Islam yang kemudian memamfaatkan hal ini adalah gerakan Tarbiyah yang
> mengambil model gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir.Gerakan ini pada
mulanya
> bergerak di rumah-rumah anggotanya dalam sistim sel yang cangih dan sangat
> tertutup lalu bergerak ke masjid atau mushola-mushola kecil , biasanya
> dipilih yang terletak di tengah permukiman yang sulit dijangkau karena
> harus melewati gang-gang sempit setelah itu mereka mulai bergerak ke
masjid
> masjid kampus dan berusaha memamfaatkan pola kaderisasi yang mereka format
> sesuai dengan metode jama'ah mereka untuk menarik anggota.Pada anggota
usroh
> awal yang bergerak di luar kampus bahasan utama pertama mereka biasanya
> masalah tauhid yang diikuti bacaan-bacaan wajib dari Said Hawwa , tapi di
> kampus-kampus nama usroh biasanya diganti dengan nama mentoring dan
> materinya pun diperlunak walaupun pada akhirnya menuju kesana.Gerakan ini
> bahkan terlihat dibiarkan bahkan terkesan dilindungi oleh
> pemerintah.Penerbitan buku-buku yang memuat tulisan-tulisan dari
tokoh-tokoh
> IM yang diterjemahkan sangat marak , begitu pula kegiatan-kegiatan mereka
> jarang diusik aparat. Padahal pada masa itu lazimnya sebuah gerakan yang
> mengatasnamakan Islam selalu mendapat reaksi represif dari aparat.Gerakan
> Tarbiyah ini pada masa reformasi menjadi cikal bakal gerakan mahasiswa
KAMMI
> , Partai Keadilan dan gerakan perempuan Salimah.Pada era 90 an seiring
> dengan bertambah menguatnya gerakan tarbiyah sejumlah harokah Islam
lainnya
> mencoba masuk ke kampus , yang paling utama adalah Hizbut Tahrir dan
Salafy.
> Hizbut Tahrir yang lebih menekankan di bidang politik tapi dengan cara
> berjuang di luar sistim dikenal beraliran lebih keras dari tarbiyah tapi
> kurang begitu mendapat dukungan.Gerakan Salafy dikenal jauh lebih keras
dari
> dua kelompok tersebut.Gerakan Salafy atau lebih dikenal dengan Wahaby
> merupakan sebuah mazhab ekstrim di kalangan Islam Sunni yang menerapkan
> aturan-aturan kaku dan keras.Pada era 80-90 an gerakan ini dipopulerkan
oleh
> sejumlah warga keturunan Arab utamanya dari kalangan yang memiliki
hubungan
> dengan Al Irsyad yang merupakan organisasi warga Arab keturunan non
> Sayyid.Gerakan ini menjadi terkenal seiring dengan berdirinya Laskar
> Jihad.Interaksi harokah-harokah tersebut seringkali menimbulkan friksi
> bahkan bentrokan-bentrokan di masjid-masjid kampus , karena lazimnya
> gerakan-gerakan ini hanya mengenal islam secara hitam putih belaka
sehingga
> lebih cenderung untuk konfrontasi dengan kelompok lain di luar mereka.
Tapi
> clash antar harokah tersebut tidak sebesar pemusuhan mereka terhadap
> organisasi-organisasi Islam yang lebih lama tumbuh di tanah air.Paham yang
> dianut kelompok tradisionalis islam dituduh hanya mengajarkan fanatisme
buta
> terhadap mazhab dan ketaatan penuh mereka terhadap kaum ulama atau yang
> sering diistilahkan taqlid buta (bahkan istilah ini sering dipakai untuk
> menghantam kelompok lain yang tidak sepaham) , sementara kelompok modernis
> Islam yang dianut ormas besar lainnya dituduh sebagai kepanjangan tangan
> antek barat yang hendak merusak Islam dari dalam.Padahal kedua paham
> tersebut memiliki penganut terbesar di Indonesia dan telah berdiri selama
> puluhan tahun bahkan sebelum indonesia merdeka.
>
> Selain itu kelompok fundamentalis memiliki rasa permusuhan sangat besar
pada
> kaum non muslim utamanya kristen (dan yahudi) yang dibangun melalui
> penafsiran-penafsiran sepihak terhadap sejumlah ayat-ayat Al Qur'an .Dari
> sini bisa terlihat bahwa kelompok-kelompok fundamentalis lebih memiliki
> potensi konflik baik dengan kalangan non muslim maupun kalangan muslim
> sendiri (yang tidak sepaham). Dan potensi konflik inilah yang dipelihara
> oleh pemerintah/milter bahkan kalau perlu dimamfaatkan untuk kepentingan
> mereka bahkan dengan mudahnya bisa dikorbankan begitu saja.Selain
> kelompok-kelompok radikal dari agama lain seperti Katholik dan Protestan .
>
> KELOMPOK MODERNIS-MODERAT
> Meruncingnya perbedaan antara Soeharto dengan kelompok militer berhaluan
> keras , memberikan durian runtuh bagi kelompok-kelompok modernis moderat
> untuk masuk ke dalam struktur pemerintahan utamanya melalui HMI Conection
> dan ICMI.Walaupun tidak disangkal bahwa banyak juga kalangan yang
> meamfaatkannya untuk kepentingan pribadi.Semakin mesranya hubungan
> pemerintah dengan Islam mengendurkan tekanan yang selama ini dilakukan
> dengan keras kepada Islam , dibukanya Bank Muamalat indonesia , penerbitan
> koran Republika , dilegalkannya jilbab ,sampai pendirian jaringan BMT
maupun
> TKA/TPA yang rata-rata dibangun melalui jaringan kelompok
modernis-moderat.
> Akan tetapi hal hal tersebut tidak begitu memuaskan kaum fundamentalis ,
> mereka menuduh kalangan modernis-moderat sebagai kalangan yang hendak
> merusak Islam dari dalam , pengadilan terhadap Nurcholis Madjid di TIM
pada
> bulan desember 1992 yang dilakukan sejumlah aktivis DDII dan tarbiyah
> termasuk Hidayat Nur Wahid Presiden PK sekarang memperlihatkan hal
> tersebut.Di kalangan NU sendiri semenjak dipimpin oleh Gus Dur
> memperlihatkan kecenderungan menjadi lebih liberal , kalangan muda NU
mulai
> tanpa canggung-canggung mengkaji dan membaca buku-buku maupun menelaah
> pemikiran-pemikiran di luar mereka , dari pemikiran klasik islam seperti
mu'
> tadzilah , khawarij , syi'ah , qadariyah sampai ke paham Islam kontemporer
> seperti mazhab teologi pembebasan , neo ataupun post modernis islam dll ,
> begitu juga pemikiran-pemikiran liberal bahkan kiri dan mazhab-mazhab
> kritis yang bekembang di dunia barat juga menjadi santapan mereka ,
sesuatu
> yang dijauhi bahkan diharamkan oleh kaum fundamentalis.
>
> ERA REFORMASI
> Era reformasi yang berkembang paska jatuhnya Soeharto membuka jalan bagi
> kelompok-kelompok fundamentalis untuk mulai menunjukkan jati dirinya.
> Sejumlah kelompok , organisasi maupun partai politik berhaluan
fundamentalis
> islam mulai bermunculan secara terang-terangan.Akan tetapi walaun
nampaknya
> kuat dengan kemampuan untuk mengerahkan massa secara besar-besaran akan
> tetapi secara riil dukungan terhadap kaum fundamentalis sangat sedikit.
> Pada pemilu 1999 Partai Keadilan yang berhaluan fundamentalis hanya mampu
> mendapatkan 1,3 % suara , begitu pula Partai Bulan Bintang yang walaupun
> dipimpin oleh seorang modernis-moderat tapi di dalam tubuh Partai tersebut
> banyak becokol tokoh-tokoh berhaluan keras , partai inipun hanya
memperoleh
> sekitar 2 % suara.Sehingga dengan hasil ini partai-partai berhaluan
> fundamentalis hanya menjadi partai gurem dalam kancah perpolitikan
nasional.
>
> Ini sebenarnya tidak aneh , partai-partai fundamentalis itu hanya
> mengandalkan dukungan dari anggota kelompoknya belaka , sama sekali tidak
> mempedulikan dukungan dari luar kelompoknya alias pada massa
> mengambang.Keberhasilan pengerahan massa secara besar-besaran
mengakibatkan
> mereka memiliki kepercayaan diri yang terlalu besar.Selain itu masyarakat
> muslim Indonesia pada dasarnya berhaluan moderat dan dipengaruhi oleh
mazhab
> yang dianut dua ormas islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama
dan
> Muhammadiyah. Sementara Persatuan Islam (Persis) yang berhaluan Wahaby
> sehingga dekat dengan pemikiran kaum fundamentalis juga menganut paham
yang
> lebih moderat walaupun dikenal sebagai kelompok garis keras , ini
tercermin
> dari pemikiran-pemikiran A Hassan tokoh Persis pada masa pra kemerdekaan
> yang sampai sekarang masih mempengaruhi mazhab yang dianut Persis pada
saat
> ini.Sehingga tidaklah mengherankan kalau partai berhaluan fundamentalis
itu
> dijauhi masyarakat.
>
> Selain bergerak dalam wadah politik praktis , kelompok fundamentalis juga
> membentuk organisasi-organisasi di luar parlemen yang sebagiannya bersikap
> sangat radikal dan sering melakukan kekerasan.Kelompok yang berhaluan
> moderat biasanya hanya membatasi pada aksi-aksi demonstrasi untuk menekan
> parlemen dari luar , tapi kelompok yang lebih radikal bahkan membentuk
> laskar-laskar bersenjata , kelompok radikal yang terkenal adalah Front
> Pembela Islam yang dipimpin oleh para Habib/ahlul bayt dan kelompok Laskar
> Jihad yang berhaluan wahaby garis keras dan ultra ortodox.Sebagian dari
> kelompok-kelompok ini muali bermunculan pada era kepemimpinan habibie ,
> terutama pada saat pengambil alihan gedung dewan dari mahasiswa pada saat
> Habibie baru dilatik , juga pada saat pengamanan Sidang Istimewa MPR yang
> melibatkan laskar sipin bersenjata PAM Swakarsa yang berasal dari sejumlah
> kelompok kelompok Islam.Kelompok-kelompok inilah yang kemudian berkembang
> menjadi laskar-laskar islam berhaluan keras.
>
> Pada perkembangannya kelompok-kelompok berhaluan fundamentalis ini mulai
> menjalin aliansi diantara mereka untuk menggolkan agenda utama mereka
yaitu
> membentuk negara Islam/khilafah dan melegalkan hukum syari'at yang hanya
> dibatasi pada hukum hudud.Akan tetapi pada dasarnya kelompok-kelompok
> fundamentalis sendiri sulit untuk mampu bekerja sama karena masing-masing
> mereka memiliki kadar fanatisme golongan yang sangat kuat.Walaupun diatas
> kertas maupun di dalam aksi-aksi seperti demonstrasi kadang bergabung ,
tapi
> di tatanan riil akar rumput sering terjadi pergesekan diantara mereka
> sendiri yang sebagian besar diakibatkan oleh sentimen mazhab/aliran.
>
> TUNTUTAN KAUM FUNDAMENTALIS
> Tuntutan kaum fundamentalis terfokus pada dua hal yaitu legalisasi hukum
> syariah dan pendirian negara Islam/khilafah.Khusus mengenai hukum syariah
,
> pada dasarnya dalam sistim hukum dan perundang-undangan Indonesia , hukum
> syariah sebagian besar sudah dilegalkan khususnya pada bidang muamalah.UU
> Perkawinan sebagian besar mengadopsi hukum islam , walaupun kubu
> fundamentalis masih menganggapnya tidak islami karena adaya pasal yang
> mengatur mengenai pembatasan poligini misal dengan keharusan mendapat izin
> dari istri sebelumnya , sementara kaum fundamentalis berusaha
mempromosikan
> poligini.Begitu juga UU Zakat , UU Peradilan Agama ,
> juga kompilasi Hukum Islam sebagai pedoman Hakim Peradilan Agama sudah
lama
> diundang-undangkan , dan yang baru maupun akan dibuat seperti UU Bank
> Syariah dan UU koperasi Syariah tinggal menunggu waktu saja.Sehingga pada
> dasarnya tuntutan kaum fundamentalis sendiri menjadi janggal.Kebanyakan
dari
> mereka menafsirkan hukum Islam sebatas pada hukum pidana islam terhadap
> jenis kejahatan hudud dan qishash seperti rajam
> ,
> potong tangan dsb , padahal dalam islam sendiri hukum pidana islam sendiri
> dikenal juga ta'zir yang tidak pernah dibahas oleh mereka.Demikian juga
> dalam hal muamalah tidak pernah menjadi perhatian serius dari mereka ,
yang
> mengkaji , memperjuangkan dan menggolkannya menjadi UU justru dari kaum
> moderat-modernis yang mereka anggap akan merusak islam dari
dalam.Sementara
> sistim politik islam/khilafah menurut versi mereka kebanyakan justru
> mengarah kepada sistim pemerintahan totaliter atau kediktatoran bertopeng
> agama , dengan memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada
> pemimpin/khalifah termasuk kepemimpinan agama , alias seorang khalifah
> berhak memberikan penafsiran agama atas kehendaknya dan seluruh rakyat
wajib
> mematuhinya (dan yang menolak bisa dianggap bughot).Dan ini ditunjang pula
> oleh sikap maupun budaya anti demokrasi yang berkembang di kalangan mereka
> seperti yang telah saya singgung dalam posting sebelumnya.
>
> Dari sini bisa dilihat bahwa tuntutan kaum fundamentalis pada dasarnya
> sangat tidak masuk akal dan hanya ditunjang arguentasi seadanya yang
dihiasi
> kutipan-kutipan dari nash agama yang ditafsirkan secara tekstual ,
sehingga
> hanya mampu mempengaruhi pengikutnya saja , dan bagi yang menolak wacana
> tersebut dianggap tidak mengikuti Al Qur'an dan As Sunnah secara benar
> bahkan bisa dinggap menyimpang bahkan sesat.Sehingga nampaklah jelas bahwa
> paham mereka disebarkan secara doktrinisasi bahkan terhadap yang berbeda
> melakukan pemaksaan kehendak dan tuduhan bukan melalui konsep dialogis dan
> konstruktif , sehingga budaya dan etika politik yang egaliter , inklusif ,
> humanis dan demokratis sangat sulit sekali diharapkan untuk muncul dari
> kalangan mereka , walaupun di luarnya nampak baik tapi pada dasarnya cuma
> srigala berbulu domba bagi sistim demokrasi dan kaum muslimin lainnya.
>
>
>


--  
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke