Dear Pak Eka,

mungkin saya coba jawab sebisanya nggih, berdasarkan

apa yang saya pelajari, lihat (di Jawa barat) dan tahu

tentang geothermal dan sedikit tentang Bedugul.

Pada dasarnya lama tahun produksi suatu PLTP tidak

akan menunggu reservoar habis. Jadi kalau diperkirakan

Reservoar habis 100 tahun, maka ijinnya 30 tahun

misalnya. Sebenarnya reservoarnya nggak kayak kolam

dibawah sana (ribuan meter) tapi terperangkap dalam di

sela2 bongkahan2 batu.

 

>>> Yth. Ibu Widi,

Nggih tyang sedikit terbayang masalah itu, dalam asumsi tyang saat kirim email pertama kemaren uap air dalam reservoir itu seperti gas dalam balon yang senantiasa akan berusaha mendesak keluar tapi tidak bisa karena dihalangi oleh lapisan balon, dalam hal ini adalah cap rock, mohon dikoreksi kalau salah.

 

suatu PLTP akan diketahui seberapa lama berproduksi

setelah diteliti besarnya Reservoar yang terperangkap

dibawah Cap rock (batuan kedap air yang biasanya

tebalnya ribuan meter). Kalau nggak salah di bedugul

sekitar 1500 m tebal cap rocknya.

 

>>> ini yang sebenarnya inti dari dari pertanyaan saya yang pertama, tyang terus terang ingin tahu berapa sebenarnya cadangan reservoir yang ada di Bedugul dan itu diprediksikan untuk berapa lama operasinya……? mungkin ini yang sebenarnya harus “dibuka” kepada masyarakat, selain isu lingkungan dan keuntungan dari segi ekonomisnya.

 

Antara air danau dan air didalam reservoar sama sekali

tidak ada hubungan, karena dibatasi oleh ribuan meter

jenis batuan lain plus cap rock yang kedap air

tersebut diatas.

 

>>> Nggih tyang mengerti, ini sama nggih dengan asumsi tyang tentang balon gas tadi?

 

Cadangan uap didalam reservoar bukan diambil ataupun

berasal dari danau, sangat naif kalau uap yang

terbentuk disebabkan oleh air danau. itu bukan PLTPB

(pembangkit listrik tenaga panas bumi) namanya.

yang jelas yang dijadikan target profit dari suatu

proyek seperti ini adalah penghargaan CDM (Clean

Development Mechanism) yang merupakan kesepakatan

Protokol Kyoto bagi industri ramah lingkungan

(termasuk pembangkit listrik) dari negara-negara maju

bagi negara berkembang.

 

>>> Nggih teori niki juga tyang setuju, sebenarnya pertanyaan tyang “…. Bagimana kalau ternyata prediksi volume reservoir meleset….”   sehingga mengakibatkan usia produksi akan lebih pendek dari perkiraan, tentu akan ada usaha “memperbaharui” kondisi tersebut sehingga apa yang disebut oleh orang ekonomi sebagai BEP (?) dan profit akan tercapai.

 

CDM juga bisa untuk hutan yang kita jaga, nanti

dihitung luasnya ketebalannya dan diperkirakan karbon

kreditnya, lalu kita dibayar karena sudah menjaga

hutan. Uangnya bisa untuk mendidik masyarakat sekitar

hutan agar lebih dapat menyayangi hutan. Informasi CDM

(kebetulan saya penggemar yang ramah2) dapat dilihat

di http://www.uneprisoe.org

 

PLTPB (Geothermal dapat CDM 100%) karena pengurangan

emisi udara. Artinya industri ini tidak bakar sesuatu

misalnya fosil (batubara, solar, dll).Apalagi manasin

air dari permukaan, wah...itu bukan PLTPB namanya.

penilaian CDM amat ketat, jadi kalau ingin PLTPB

Bedugul dapat CDM, maka harus melakukan mekanisme yang

sesuai dengan aturan industri geothermal yang ramah

lingkungan.

 

>>> tentang manasin air permukaan tyang dari dulu pikir juga bukan konsep PLTP, tapi “manasin air permukaan yang telah diinjeksikan ke reservoir” tentu mungkin khan? Disini terkait dengan pertanyaan tyang “…… apa makna renewable pada PLTP……”  dan bilamana serta bagaimana (secara teori) hal itu diterapkan…….

 

Air danau dan air tanah dalam (air tanah yang

disebabkan karena keberadaan hutan dan lain-lain(bukan

run off) maksimum berada pada kedalam sekitar 200m.

Kawasan sekitar kedalaman ini yang mempengaruhi mata

air, dan lain-lain. Bukan air yang berada dibawahnya,

apalagi ribuan meter. 

 

>>> nggih betul, teorinya memang berkata demikian

 

Biasanya Reservoar Geothermal tidak diisi oleh air

yang ada di daerah up flow (atasnya), karena dibatasi

cap rock. Tetapi diisi secara perlahan dari air yang

diluar panutupan Cap rock. Setahu saya untuk Bedugul,

Reservoar dipengaruhi oleh masuknya air laut secara

perlahan (bertahun-tahun)ke dalam reservoar.

Karena sistem Geothermal (PLTPB) adalah sistem

tertutup, dimana air dari uap yang sudah digunakan

disuntikkan kembali kedalam reservoar, dan uapnya yang

bertekanan kembali diambil, jadi tidak ada yang keluar

atau masuk dari luar sistem.

 

>>> Nggih betul Ibu Widi, secara teori uap air dalam reservoir datang dari rembesan air laut dalam waktu yang lama (bukan hanya tahunan, ribuan tahun mungkin) yang kemudian dipanasi oleh magma…… begitu tyang tangkap teorinya.

Tapi dibalik itu, kembali ke perhitungan volume plus konsep renewable, masak kita harus menunggu ribuan tahun untuk menunggu PLTP tersebut dapat beroperasi kembali, jika kekhawatiran tyang tentang volume tersebut terjadi (mudah-mudahan saja tidak). Sekali lagi ini berangkat dari volume reservoir plus metode renewable……. 

Dalam suatu system tertutup apa tidak ada kemungkinan akan hilangnya “sesuatu”, entah apa istilahnya secara teknis. Dan kalau memang terjadi bagaimana cara “mengisi sesuatu yang hilang” itu, tentunya ini diperlukan waktu yang cepat, tidak harus menunggu rembesan air laut nggih……

 

Mudah2an bisa menjawab kekhawatiran kita. Yang jelas

pembangkit listrik tenaga matahari, angin, ombak,

geothermal (PLTPB) dan segala yang renewable sedang

didorong untuk diterapkan. Kita tunggu adanya

investor2 lain dibidang pembangkit yang ramah

lingkungan. Mungkin matahari di Nusa Penida, dan

lain-lain. Oleh karena itu tidak ada Geothermal yang

tertutup informasinya (nggak boleh), saya dengar dulu

sejarahnya agak bergaya top down, jadi udah salah itu.

Memang semua orang harus tahu sedetail mungkin.

Mungkin itulah sebabnya sekarang dibuka secara umum

karena pemiliknya udah ganti menjadi oarng daerah,

salah satunya orang Bali. Makanya dibuka information

center, pameran di mall, ke sekolah-sekolah dan

lin-lain.

 

>>> tyang garis bawahi, salah satunya orang Bali, ini salah satu alasan tyang “cerewet” untuk bertanya…. Alangkah tidak nyamannya dan alangkah kasihannya ada semeton Bali yang baru memulai sebegai investor energy kalau ternyata prediksi “umur PLTP” tersebut meleset, tentunya banyak kerugian terutama dari segi materi yang harus ditanggung. Tapi memang kata orang berbisnis itu penuh dengan resiko….. J

 

Tyang pernah disindir oleh salah satu professor tamu tyang “…. Negaramu ini termasuk lucu, negaramu dianugerahi tempat dengan sumber energi yang sangat melimpah…… matahari…..  tapi kenapa kamu tidak bisa memanfaatkannya secara optimal……. Gedung-gedung dan rumah dibuat dengan bentuk yang tidak dapat menerima sinar secara optimal, sehingga siang hari pun pake lampu, suatu pemborosan yang amat sangat. Begitu juga pemanfaatan matahari  sebagai pembangkit listrik sangat jarang di negaramu, lucu…….”

 

kalau niatnya nggak dapat CDM, mungkin mereka

tertutup. tapi kalau mau dapat CDM harus terbuka,

karena ini bukan PLTGU Pemaron. he.he...he...

Kalau masih khawatir juga, mungkin ada baiknya kita

desak pemerintah bikin kabel udara atau perbaiki kabel

bawah laut aliran listrik dari Jawa. Gimana???

 

>>> Pada intinya tyang tidak menolak dengan adanya PLTP, apalagi yang menurut teorinya system ini sangat ramah lingkungan.

Seperti  yang ibu Widi sebutkan diatas, “keterbukaan” itu sangat penting, tapi koq tyang tetap pikir ada sesuatu yang “tersembunyi”…. yang mana dampak “sesuatu yang tersembunyi” itu dapat menggangu hajat hidup orang banyak……. J

 

Mohon ma’af kalo ada kata-kata maupun pemahaman tyang tentang konsep-konsep PLTP salah……

 

Suksma,

 

Eka Mardika

 

Kirim email ke