*Ada sesuatu yang menarik di Balipost, hari ini (5 Oktober 2007)*

**

*Semangat** Multikultur   --**
Kemerdekaan** Indonesia karena Perjuangan Multietnis*

-----------------------------------------------

Kesadaran multikultur penting terus ditumbuhkan dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara. Perbedaan mesti dimaknai sebagai berkah perekat bangsa.
Diperlukan paradigma baru yang pluralis yang lebih menghargai keberbedaan,
kepercayaan, kultural maupun politik. Seperti apa bentuknya?

------------------------------------------------

*ITU* antara lain terungkap dalam seminar bertajuk ''Kesadaran multikultural:
Antara kegelisahan dan harapan'' yang digelar PS Kajian Budaya Unud dalam
rangka dies natalis ke-49 Fak. Sastra Unud dan dies natalis ke-45 Unud,
Kamis (4/10) kemarin.

Ketua Program Studi Magister Kajian Budaya Unud Prof. Dr. Emiliana Mariyah
menyatakan betapa penting menumbuhkan kesadaran multikultur di kalangan
masyarakat. Sebab, perbedaan itu bukanlah berarti perselisihan.

Kata Emiliana, kemerdekaan Indonesia dicapai karena perjuangan berbagai
etnis. Tetapi kenyataannya, terjadi berbagai konflik di beberapa daerah.
Karena itu semangat multikultur penting dimaknai.

Hal yang sama dikatakan Direktur PPS Unud Prof. Dr. Dewa Suprapta. Dalam
sambutannya saat membuka seminar, dia mengatakan perlu terus ditumbuhkan
semangat multikultur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.



*Ruang** Publik *

Sementara narasumber Aridus (Made Sudira) mengatakan betapa pentingnya
membuka ruang publik dan opini publik untuk mencegah disintegrasi bangsa.
Menurut Aridus, ruang publik bisa dijadikan tempat mengembalikan modal
sosial dan sikap saling percaya (trust) yang terkikis akibat politik adu
domba sejak zaman kolonial hingga abad teknologi informasi yang menyebar
hedonisme dan konsumerisme secara merata.

Pemahaman tentang alasan dipakainya Bhineka Tunggal Ika sebagai sesanti
perekat bangsa yang multietnis, multibahasa dan multiagama bisa dibicarakan
di ruang publik. Dengan demikian segala perbedaan bisa dijadikan berkah,
bukan musibah seperti saat ini. Demikian juga Pancasila sebagai dasar negara
dan pandangan hidup bangsa perlu didiskusikan di ruang publik dengan suasana
lebih akrab dan terbuka. Sebab, Pancasila terbukti bisa merekatkan bangsa.

''Mudah-mudahan dengan logika Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila yang
dikonstruksi di ruang-ruang publik dengan semangat kemerdekaan, Indonesia
tetap tegak, damai dan sejahtera,'' katanya.

Prof. Dr. Ir. Wayan Supartha yang memaparkan materi otonomi khusus untukBali
mengatakan, wacana otsus untuk Bali bukan arogansi sikap untuk memisahkan
diri dari NKRI. Namun, bagian dari pengembangan dan penumbuhan jati diri
orang Bali yang takwa kepada Tuhan, bersahabat dengan sesama, menghargai
kebhinekaan. Wacana itu sudah bergulir sejak 2001 dan sudah masuk agenda
legislasi nasional DPR-RI (2005-2009).

Wacana itu terus bergulir dan melalui eksekutif dibentuk tim otsus Bali. Tim
ini berhasil merumuskan draf pokok-pokok pikiran. Talenta yang digunakan
adalah pariwisata dan budaya, dengan harapan Bali mendapat tax sharing dari
kegiatan pariwisata.

Perjuangan otsus Bali tidaklah mudah, karena nuansa politiknya sangat kental
. Karena itu otsus Bali perlu diwacanakan dengan baik, dikawal dengan baik
dengan konsep naskah akademik dan rancangan undang-undang yang matang.
Dengan demikian tidak ada pementahan substansi di pusat.

Alumni Magister Kajian Budaya Unud Ervantia Restulita L. Sigai mengatakan
kebijakan yang sentralistik dan pengawasan yang ketat terhadap isu perbedaan
telah menghilangkan kemampuan masyarakat untuk memikirkan, membicarakan dan
memecahkan persoalan yang muncul dari perbedaan secara terbuka, rasional dan
damai.

Kekerasan antarkelompok yang meledak secara sporadis di akhir tahun 1990-an
di berbagai kawasan di Indonesia menunjukkan betapa rentannya rasa
kebersamaan yang dibangun dalam negara ini. Karena itu diperlukan paradigma
baru yang pluralis yang lebih menghargai keberbedaan, kepercayaan, kultural
maupun politik. *(lun)*





-- 
Gde Wisnaya Wisna
Jl.Dewi Sartika Utara 32A
Singaraja-Bali

Kirim email ke