ATHEIS
Catatan Pinggir Goenawan Mohammad

Majalah Tempo Edisi. 23/XXXIIIIII/ 30 Juli - 05 Agustus 2007

Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela?

Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit 
dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris 
ini-yang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racun-tak 
bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini. Di tahun 2004 terbit The End of 
Faith, oleh Sam Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan menyerang 
agama Kristen dalam Letter to a Christian Nation. Yang juga terkenal adalah 
karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, yang mengutip 
satu kalimat pengarang lain: "Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan 
disebut gila. Bil a banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut 
agama."

Saya belum khatam membaca buku-buku itu, tapi saya telah merasa setengah 
terusik, tersinggung, berdebar-debar, terangsang berpikir, tapi juga gembira. 
Baiklah saya jelaskan kenapa saya gembira: kini datang beberapa orang atheis 
yang sangat fasih dengan argumen yang seperti pisau bedah. Dengan analisa yang 
tajam mereka menyerang semua agama, tanpa kecuali, di zaman ketika iman 
dikibarkan dengan rasa ketakutan, dan rasa ketakutan dengan segera diubah jadi 
kebencian. Dunia tak bertambah damai karenanya. Maka siapa tahu memang dunia 
menantikan Hitchens, Harris, dan Dawkins. Siapa tahu para atheis inilah yang 
akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti 
bermusuhan.

Apalagi ada benarnya ketika Christopher Hitchens bicara tentang iman dan rasa 
aman. Sepekan sebelum 11 September 2001, hari yang bersejarah itu, ia ditanya 
dalam sebuah wawancara radio: "Bayangkan Anda berada di sebuah kota asing di 
waktu senjakala, dan sejumlah besar orang datang ke arah Anda. Akan lebih 
merasa amankah Anda, atau justru merasa kurang aman, bila Anda tahu orang-orang 
itu baru selesai berkumpul untuk berdoa?"

Hitchens, yang pernah berada di Belfast, Beirut, Bombay, Beograd, Bethlehem, 
dan Baghdad, menjawab, "Kurang aman."

Ia tak bicara dari khayal. Ia telah menyaksikan permusuhan antara orang Katolik 
dan Protestan di Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem; orang 
Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan orang Islam di bekas 
Yugoslavia; orang Sunni dan Syiah di Baghdad. Beribu-ribu orang tewas dan cacat 
dan telantar.

Maka bagi Hitchens, agama adalah "sebuah pengganda besar", an enormous 
multiplier, "kecurigaan dan kebencian antarpuak".

Tapi menarik bahwa Hitchens tak menyatakan agama sebagai sumber sikap negatif 
itu.

Dalam hal ini ia berbeda dari Sam Harris. Bagi Harris, konflik antara umat 
Katolik dan Protestan yang berdarah di Irlandia-yang bermula baru di abad 
ke-17-bersumber pada teks Alkitab, tak ada hubungannya dengan politik 
pertanahan di wilayah kekuasaan Inggris masa itu. Harris tak melihat endapan 
sejarah dalam tiap tafsir atas akidah-dan dalam hal ini ia mirip seorang 
fundamentalis Kristen atau Islam. Pandangannya yang menampik sejarah akan bisa 
mengatakan bahwa doktrin Quran itulah yang membuat sejumlah orang menghancurkan 
Menara Kembar New York dan membunuh hampir 3.000 manusia pada 11 September 
2001. Harris tak akan melihat bahwa hari itu "Islam" identik dengan amarah 
karena ada kepahitan kolonialisme di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, dan 
kekalahan dunia Arab di Palestina.

Dari sini, memang ada benarnya apologi yang terkenal itu: bukan agamanya yang 
salah, melainkan manusianya.

Tapi persoalan tak selesai di situ. Orang-orang atheis semacam Hitchens akan 
bertanya: Jika faktor manusia yang menyebabkan keburukan tumbuh dalam suatu 
umat, berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat itu. Jika demikian, 
jika akidah ditentukan oleh sejarah, dan bukan sebaliknya, apa guna agama bagi 
perbaikan dunia?

Mungkin sebuah nol. Bahkan melihat begitu banyak pembunuhan dilakukan atas nama 
agama hari-hari ini, orang memang mudah sampai kepada atheisme
Hitchens dan kesimpulannya: agama meracuni segala hal.

Tapi kita dapat juga sampai pada kesimpulan yang lain: jangan-jangan agama 
memang tak punya peran bagi perbaikan dunia. Perannya memang bisa lain sama 
sekali-terutama bila dilihat dari awal lahirnya agama-agama.

Dalam ceramahnya yang diselenggarakan oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) 
bulan Juni yang lalu, Karen Armstrong mengatakan sesuatu yang
tak lazim: agama lahir dari sikap jeri (recoil) atas kekerasan. Juga Islam, 
yang kini tak urung dihubungkan dengan bom bunuh diri, konflik berdarah di 
Irak, Afganistan, dan Pakistan. Agama ini hadir sebagai pembangun perdamaian di 
sekitar Mekah, di tengah suku-suku Arab yang saling galak.

Tapi mungkin juga Karen Armstrong bisa menelusurinya lebih jauh: jika agama 
memang lahir dari rasa jeri akan kekerasan, rasa jeri itu bertaut dengan 
kesadaran akan ketakberdayaan. Agama sebab itu tak merasa kuasa untuk 
memperbaiki dunia; ia justru berada di kancah yang tersisih, menemani mereka 
yang daif-sebuah posisi yang kian tampak dalam keadaan manusia teraniaya.

Tapi kini, dalam mencoba menyaingi gagahnya modernitas, agama cenderung 
melupakan "empati asali"-nya sendiri. Orang-orang Islam merayakan Hijrah bukan 
dengan rasa setia kawan dan bela rasa kepada mereka yang diteror,
walaupun Hijrah bermula dari nasib sekelompok minoritas yang dikejar-kejar. 
Orang merayakan Hijrah lebih sebagai kemenangan. Mungkin dengan tendensi itu, 
pengalaman kedaifan sendiri terlupa: pekan lalu atas nama "Islam" orang-orang 
mengancam para biarawati Karmel yang hendak berkumpul untuk berdoa di lembah 
Cikanyere di wilayah Cianjur.

Dalam keadaan lupa kepada yang tak berdaya itulah agama bisa jadi tenaga yang 
dahsyat. Tapi ia juga bisa jadi tenaga yang tak tahu batas. Di saat seperti 
itu, bukankah para atheis perlu datang dan bersuara?

Kirim email ke