Apa kabar Vieb?
Menarik ya apa lagi trend, Saya baru baca tentang ini
Crossroads Dispatches: The Next Renaissance?
Tjahjokartiko Gondokusumo on Beliefs Shared and Spread Can Change the
World More than Governments Can · John on The Dwelve Journey in Business Speak
...
evelynrodriguez.typepad.com/crossroads_dispatches/2004/10/the_next_renais_3.html
- 40k - Cached - Similar pages
Ini juga ada yang lebih berat,
[PDF] PUBLIC AND PRIVATE PARTNERSHIPS: ACCOUNTING FOR THE NEW RELIGION
File Format: PDF/Adobe Acrobat - View as HTML
PUBLIC AND PRIVATE PARTNERSHIPS. 17. D. New Knowledge and Infrastructure ...
grams may balkanize communities, produce less visibility or public access, ...
www.law.berkeley.edu/centers/kadish/minnow.pdf - Similar pages
Tapi bagi kita kan, kemana larinya moral science? padahal Indonesia butuh
kerjasama yang prodktif?
Mungkin Mahabharata bisa mengupas dimensi ini ya?
Crossroads Dispatches: 777: the religion of money, or, the river ...
07 07 07: The first Saturday of July was our cooperative day. Posted by:
Tjahjokartiko Gondokusumo | Oct 02, 2007 at 10:58 PM ...
evelynrodriguez.typepad.com/crossroads_dispatches/2007/07/the-religion-of.html
- 50k - Cached - Similar pages
Saya sih senang menikmati lukisan lukisannya karena sudah lama sekali tidak
melukis.
Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ATHEIS
Catatan Pinggir Goenawan Mohammad
Majalah Tempo Edisi. 23/XXXIIIIII/ 30 Juli - 05 Agustus 2007
Agama akan tetap bertahan dalam hidup manusia, tapi layakkah ia dibela?
Christopher Hitchens baru-baru ini menarik perhatian ketika bukunya terbit
dengan judul God Is Not Great: Religion Poisons Everything. Penulis Inggris
iniyang yakin bahwa Tuhan tidak akbar dan bahwa agama adalah racuntak
bersuara sendirian di awal abad ke-21 ini. Di tahun 2004 terbit The End of
Faith, oleh Sam Harris, yang tahun lalu mempertegas posisinya dengan menyerang
agama Kristen dalam Letter to a Christian Nation. Yang juga terkenal adalah
karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi, The God Delusion, yang mengutip
satu kalimat pengarang lain: Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan
disebut gila. Bil a banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut
agama.
Saya belum khatam membaca buku-buku itu, tapi saya telah merasa setengah
terusik, tersinggung, berdebar-debar, terangsang berpikir, tapi juga gembira.
Baiklah saya jelaskan kenapa saya gembira: kini datang beberapa orang atheis
yang sangat fasih dengan argumen yang seperti pisau bedah. Dengan analisa yang
tajam mereka menyerang semua agama, tanpa kecuali, di zaman ketika iman
dikibarkan dengan rasa ketakutan, dan rasa ketakutan dengan segera diubah jadi
kebencian. Dunia tak bertambah damai karenanya. Maka siapa tahu memang dunia
menantikan Hitchens, Harris, dan Dawkins. Siapa tahu para atheis inilah yang
akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti
bermusuhan.
Apalagi ada benarnya ketika Christopher Hitchens bicara tentang iman dan rasa
aman. Sepekan sebelum 11 September 2001, hari yang bersejarah itu, ia ditanya
dalam sebuah wawancara radio: Bayangkan Anda berada di sebuah kota asing di
waktu senjakala, dan sejumlah besar orang datang ke arah Anda. Akan lebih
merasa amankah Anda, atau justru merasa kurang aman, bila Anda tahu orang-orang
itu baru selesai berkumpul untuk berdoa?
Hitchens, yang pernah berada di Belfast, Beirut, Bombay, Beograd, Bethlehem,
dan Baghdad, menjawab, Kurang aman.
Ia tak bicara dari khayal. Ia telah menyaksikan permusuhan antara orang Katolik
dan Protestan di Ulster; Islam dan Kristen di Beirut dan Bethlehem; orang
Katolik Kroasia dan orang Gereja Ortodoks Serbia dan orang Islam di bekas
Yugoslavia; orang Sunni dan Syiah di Baghdad. Beribu-ribu orang tewas dan cacat
dan telantar.
Maka bagi Hitchens, agama adalah sebuah pengganda besar, an enormous
multiplier, kecurigaan dan kebencian antarpuak.
Tapi menarik bahwa Hitchens tak menyatakan agama sebagai sumber sikap negatif
itu.
Dalam hal ini ia berbeda dari Sam Harris. Bagi Harris, konflik antara umat
Katolik dan Protestan yang berdarah di Irlandiayang bermula baru di abad
ke-17bersumber pada teks Alkitab, tak ada hubungannya dengan politik
pertanahan di wilayah kekuasaan Inggris masa itu. Harris tak melihat endapan
sejarah dalam tiap tafsir atas akidahdan dalam hal ini ia mirip seorang
fundamentalis Kristen atau Islam. Pandangannya yang menampik sejarah akan bisa
mengatakan bahwa doktrin Quran itulah yang membuat sejumlah orang menghancurkan
Menara Kembar New York dan membunuh hampir 3.000 manusia pada 11 September
2001. Harris tak akan melihat bahwa hari itu Islam identik dengan amarah
karena ada kepahitan kolonialisme di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, dan
kekalahan dunia Arab di Palestina.
Dari sini, memang ada benarnya apologi yang terkenal itu: bukan agamanya yang
salah, melainkan manusianya.
Tapi persoalan tak selesai di situ. Orang-orang atheis semacam Hitchens akan
bertanya: Jika faktor manusia yang menyebabkan keburukan tumbuh dalam suatu
umat, berarti tak ada peran agama dalam memperbaiki umat itu. Jika demikian,
jika akidah ditentukan oleh sejarah, dan bukan sebaliknya, apa guna agama bagi
perbaikan dunia?
Mungkin sebuah nol. Bahkan melihat begitu banyak pembunuhan dilakukan atas nama
agama hari-hari ini, orang memang mudah sampai kepada atheisme
Hitchens dan kesimpulannya: agama meracuni segala hal.
Tapi kita dapat juga sampai pada kesimpulan yang lain: jangan-jangan agama
memang tak punya peran bagi perbaikan dunia. Perannya memang bisa lain sama
sekaliterutama bila dilihat dari awal lahirnya agama-agama.
Dalam ceramahnya yang diselenggarakan oleh MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura)
bulan Juni yang lalu, Karen Armstrong mengatakan sesuatu yang
tak lazim: agama lahir dari sikap jeri (recoil) atas kekerasan. Juga Islam,
yang kini tak urung dihubungkan dengan bom bunuh diri, konflik berdarah di
Irak, Afganistan, dan Pakistan. Agama ini hadir sebagai pembangun perdamaian di
sekitar Mekah, di tengah suku-suku Arab yang saling galak.
Tapi mungkin juga Karen Armstrong bisa menelusurinya lebih jauh: jika agama
memang lahir dari rasa jeri akan kekerasan, rasa jeri itu bertaut dengan
kesadaran akan ketakberdayaan. Agama sebab itu tak merasa kuasa untuk
memperbaiki dunia; ia justru berada di kancah yang tersisih, menemani mereka
yang daifsebuah posisi yang kian tampak dalam keadaan manusia teraniaya.
Tapi kini, dalam mencoba menyaingi gagahnya modernitas, agama cenderung
melupakan empati asali-nya sendiri. Orang-orang Islam merayakan Hijrah bukan
dengan rasa setia kawan dan bela rasa kepada mereka yang diteror,
walaupun Hijrah bermula dari nasib sekelompok minoritas yang dikejar-kejar.
Orang merayakan Hijrah lebih sebagai kemenangan. Mungkin dengan tendensi itu,
pengalaman kedaifan sendiri terlupa: pekan lalu atas nama Islam orang-orang
mengancam para biarawati Karmel yang hendak berkumpul untuk berdoa di lembah
Cikanyere di wilayah Cianjur.
Dalam keadaan lupa kepada yang tak berdaya itulah agama bisa jadi tenaga yang
dahsyat. Tapi ia juga bisa jadi tenaga yang tak tahu batas. Di saat seperti
itu, bukankah para atheis perlu datang dan bersuara?
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com