Mas Tjahjo,

Saya sementara mundur dan menjauh dulu dari kolaborasi NGO untuk Bali Climate 
Change, karena kurang paham dengan ideologynya dari Kolaborasi tersebut.

Saya belum bisa melihat teradopsinya Management Kinerja, strategi dan behaviour 
disamping itu debat kusir juga tidak produktif.  Ada sedikit salah pengertian 
dan saya mohon maaf tapi ternyata maaf saya di terima dengan syarat, jadi saya 
memilih untuk mundur saja; tapi tidak berarti saya mundur dari apa yang biasa 
saya lakukan langkah demi selangkah yang langsung bisa di aplikasi ke 
masyarakat.

Bisa saja UNFCCC terlalu besar untuk saya; jadi untuk teman-teman lain yang 
lebih berkompetensi saja.

Pemahaman saya tentang UN dan sistem mereka; yaitu bahwa NGO selalu akan diberi 
ruang dalam side event tapi tidak akan di adopsi dalam rumusan UN (mungkin sama 
dengan DPD vs DPR); jadi untuk menjadikan suara formal kita mau tidak mau harus 
melalui jalur pemerintah (G to G).  Maka usulan saya dari pertama adalah 
memperbaiki posisi kita di UN dulu dan gunakan jalur pemerintah.  Anyway 
pemahaman saya juga bisa saja salah karena mungkin sudah ada perubahan sistem 
di UN.

Saat ini di Bali juga sedang HOT membicarakan Pilkada.  Bali perlu sekali 
'cerdas' berpikir untuk memilih pemimpin kedepan; tapi kelihatannya kita tetap 
dalam sistem partai paling berkuasa siapa; jadi siapapun yang kita pilih akan 
tetap ditentukan oleh Ketua Umum Partainya.  Kita perlu pemimpin yang melayani 
dan memiliki visi ke sosial awareness yang tinggi dan program yang aplikatif 
dengan komitment yang pasti juga.  Kita sudah nggak bisa cukup dengan berharap 
saja, karena ketimpangan sosial sudah sangat tinggi di Bali dan bahaya dari 
akibat pemiskinan dan kemiskinan perkotaan yang mengerikan.  Ya, ini yang 
terjadi di Bali juga ditengah gemerlapan kejayaan tourism industry dan problem 
ignorance.  Wah banyak PR ya kita disini.

Terima kasih ya, tolong terus di beri masukan, siapa tau bisa saya aplikasikan 
di masyarakat, yang biasa biasa saja dulu deh supaya nggak ke 'gede' an untuk 
saya juga.

vieb
  ----- Original Message ----- 
  From: CHPStar 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, October 21, 2007 9:15 PM
  Subject: [bali] Re: Balasan: Eksistesialisme


  Vieb dan kawan kawan,

  Berikut informasi jelas Cooperative Enrgy

  http://www.cooperatives-uk.coop/NewVentures/co-operativeEnergy 

  Semoga bisa sampai UN Climate Chnange Conference di Bali ya. Amiin

  Wass: Tjahjo-


  Asana Viebeke Lengkong <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
     
    Senang sekali lo baca tulisan dari P Made Wiryana sangat mencerahkan dengan 
arahan cara berpikir yang bisa menjadi 'essence' (makna).

    Kalau P Ngurah .... agak sedikit 'pro' Taliban dengan memakai aliran 
'hindu' (namanya pa ya? fanatism mungkin) hehehehe... menjurus ke buat orang 
pengen berantem.... tidak bisa menjadi arahan berpikir 'what's next' dan tidak 
ada dasar untuk dapat di uji, tapi lebih mengandung perasaan dendam dengan 
menggunakan pengetahuan sejarah Veda.  Saya minta maaf secara tulus tapi ini 
juga pendapat saya secara terbuka, karena saya menganut azas 'keseimbangan' 
jadi saya berpikir suara militant pun harus kita dengar.... tidak mengurangi 
rasa hormat kepada P Ngurah, ini pendapat terbuka sekali ya dan tentunya saya 
tetap mengasihi P Ngurah sebagai manusia... sama dengan saya (kalau mau marah 
dengan saya di Japri aja ya, saya terima sekali marah nya P Ngurah).

    Untuk Mas Tjahjo,

    Banyak yang menarik kalau kita punya waktu untuk membaca, people pada 
dasarnya 'incredible' thinkers termasuk yang atheis ya.  Kabar saya baik saja, 
seminggu ini agak 'crowded' menyerahkan modal kerja koperasi (dalam bentuk 
micro-finance/loan)di Br. Kiadan, Plaga, Badung Utara; luar biasa sekali 
masyarakat disana bagaimana 'determination' mereka untuk membentuk koperasi 
pertanian utuk meningkatkan qualitas hidup mereka.  Lalu kemarin ke Butiyang 
share sepatu sekolah untuk 75 anak SD disana sekalian rembug tentang mekanisme 
micro finance ternak sapi sebagai salah satu upaya 'income generating' juga; 
sekalian evaluasi tentang jalan setapak yang sudah jadi; dan bicara soal 
kebutuhan 'cubang'.  Sempat juga interaktif di RRI Buleleng dengan P Wis; yang 
isinya orang komplen tentang kinerja pemerintah; saya berpendapat bahwa 
sekarang sudah bukan waktunya lagi kita menyerang/melawan pemerintah tetapi 
sebaliknya kita cari jalan untuk bermitra dan kalau memang kita mau masuk 
kedalam sistem ya buat partai saja seperti di Aceh buah partai Lokal untuk 
mengimbangi 'kekuasaan' partai besar di pusat hehehe tapi saya bukan orang 
politik.... hanya melihat dari fokus interhuman relation....

    Salam,

    vieb
      ----- Original Message ----- 
      From: made wiryana 
      To: [email protected] 
      Sent: Friday, October 19, 2007 10:54 AM
      Subject: [bali] Balasan: Eksistesialisme


      Terima KAsih atas tanggapan Pak Ngurah,
      Saya hanya lebih menfokuskan pada eksitensi manusia.
      Dan saya juga tidak meragukan keberadaan Tuhan/Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
      Malah dengan menyadari akan eksistensi manusia yang diberikan Hyang Widhi 
pada kita, saya merasa yakin saya harus berjuang dengan eksistensi saya untuk 
menuju kearahNya. Dan saya bersyukur dalam agama kita /kitab suci kita tidak 
ada doktrin untuk melenyapkan penganut lain (setahu saya) kecuali Adharma, 
barangkali karena agama hindu yang kita percaya sebagai agama tertua saat 
diwahyukan belum terpengaruh/bias karena belum ada agama lain saat itu. Namun 
marilah jangan diperpanjang diskusi tentang agama dalam milis ini (nanti 
dimarahin pak moderator).
      Kita fokus pada eksistensi manusia.
      Dengan menyadari eksistensi, semoga kita menggunakan eksitensi itu untuk 
menuju jalan pencerahan umat manusia yang heterogen dengan menebar kasih dan 
kedamaian, bukan memanfaatkan eksistensi yang dimiliki untuk menebar 
pertentangan dan teror.
      Damai di hati, di dunia dan damai selalu

      Salam

      "Ambara, Gede Ngurah (KPC)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Meng-generalisasi semua agama demikian sebenarnya kurang tepat..
        Dalam sejarah agama-agama dari satu rumpun (Abrahamik: Semitik: Yahudi, 
Kristen, Islam) mungkin pertentangan ini memang sering terjadi 
        Tapi dalam sejarah agama-agama Timur yang telah ada ribuan tahun 
sebelum Agama Semitik muncul : para penganut Veda, ataupun yang tidak setuju 
(menentang Veda) : seperti Buddha, Jain, termasuk Kongfucu, Tao, dsb, 
pertentangan sampai berdarah-darah ini tidak pernah terjadiâ?¦
        Buddha sebagai pembaharu Hindu, dimana Buddha menolak Veda,  tidak 
dianggap musuh oleh umat Hindu, dalam kitab Hindu malah disebutkan Buddha 
adalah salah satu dari Avatara, yaitu Avatara ke-9 (Setelah Rama dan Krisnha)â?¦

        Sangat menyedihkan sekali melihat patung-patung Buddha yang besar-besar 
(raksasa), yang merupakan warisan sejarah dunia, di-bom oleh Kelompok 
Talibanâ?¦.
        Padahal para pengikut Buddha adalah cinta damai, dan tidak pernah 
berinteraksi dengan kelompok Talibanâ?¦.
        Agama-agama Timur lebih introspeksi ke-dalam melalui yoga dan 
meditasiâ?¦

        Sebenarnya agama-agama Semitik (Kristen, Islam, Yahudi) punya juga 
aliran yang lebih menyempurnakan manusia ke-dalam batin dan bukan ekspansif dan 
external ..
        Misalnya para penekun Tasawuf dan Sufi dari kalangan Islam, dan juga 
ordo-ordo meditative gereja tertentu yang lebih mencari pencerahan ke-dalam 
jiwaâ?¦.
        Cuma masalahnya yang sekarang lebih menonjol adalah aspek-aspek 
External, expansif dan kekerasannya..mungkin karena mass-media yang tidak 
seimbang, selalu menampilkan hal-hal yang buruk/kekerasan, dan jarang sekali 
meliput hal-hal tentang kebaikan, kedamaian, kasih sayang dsbâ?¦

        Saya tidak melihat Atheistik, agnotisme dll, sebagai jawaban/alternatif 
atas, kekisruhan antar umat beragama dewasa ini, di setiap agama ada ajaran 
untuk proses kontemplatif, meditative, melihat kedalam batin, ke pencerahan 
jiwa, dan bukan hanya sekedar aksi kekuatan, pamer, expansif, yang lebih 
bersifat externalâ?¦

        -----Original Message-----
        From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of made 
wiryana
        Sent: Friday, October 19, 2007 8:44 AM
        To: [email protected]
        Subject: [bali] Eksistesialisme

        Diskusi seperti ini sangat bagus jika dimunculkan.
        Diperlukan toleransi dan kejujuran intelektual tanpa bias oleh
        fanatisme sempit tentang agama tertentu.

        Ternyata filsafat eksistensialisme memang benar adanya.
        Sangat lama saya berpikir hal yang sama seperti ditulis mbak vieb.
        Pikiran ini timbul dengan adanya pertanyaan dalam diri saya

        1. Jika Tuhan maha segalanya, mengapa tidak dengan ke-maha-annya 
menyatukan manusia untuk tidak saling menyakiti?
        2. Jika yang disebut Tuhan segala agama sama, mengapa dalam akidahnya 
sering bertentangan agama satu dengan yang lainnya?
        3. Jika akidah diturunkan Tuhan mengapa sejarah sering mempengaruhi 
akidah?

        Begitulalah pertanyaan yang sering timbul dalam benak saya.
        Akhirnya saya menemukan (menurut saya) dalam filsafat eksistensialisme, 
ternyata manusia memiliki "eksistensi" dalam dirinya yang mandiri dan tidak 
dipengaruhi oleh apapun selain apa yang ada dalam benaknya.

        Jika benaknya menginginkan sesuatu dan tekad bulat untuk mencapai 
sesuatu tentu dengan segala cara dijalankan untuk mencapai sesuatu itu.

        Jika dibenaknya menginginkan kedamaian dan tidak saling menyakiti, 
orang atheispun yang mungkin tidak kenal agama akan berbuat kebajikan bahkan 
melebihi orang yang beragama. Begitu sebaliknya jika dibenak orang ingin 
menguasai sesuatu untuk dirinya/kelompoknya, akidah apapun akan diinjak-injak 
bahkan dicari pembenarannya dalam agamanya untuk mencapai sesuatu itu.

        Jadi Eksistensi pikiran manusialah yang menentukan apa yang terjadi 
dalam kehidupannya. Ingat perang dan saling menyakiti telah terjadi sejak 
manusia diciptakan, kemudian mengenal agama, sampai saat ini.

        Yang diperlukan saat ini adalah eksistensi pikiran manusia yang saling 
mengasihi, apa yang ada dalam dirimu adalah sbagian dari diriku, begitupun apa 
yang ada dalam diriku sebagian adalah milikmu (kamu adalah aku, aku adalah 
kamu) lupakan akidah-akidah aku adalah aku kamu adalah kamu, kamu dan aku 
berbeda.
        Smoga pencerahan akan datang dari segala penjuru dan menyinari semua 
mahluk di dunia ini.

        Salam
        Wiryana

          

------------------------------------------------------------------------

        Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di 
Yahoo! Answers



--------------------------------------------------------------------------
      Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!


  __________________________________________________
  Do You Yahoo!?
  Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
  http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke