Suksma Pak Nengah, serta rekan2 dimilist yg titiang hormati,

Titing selalu mengikuti posting2 bapak Nengah, tiyang sangat setuju dgn apa yg bapak sampaikan. tiyang melihat memang PLN di Tanah air sangat sulit berangkat maju, sebab dgn harga energy yg sangat murah di Tanah air membuat investasi di bidang energy kurang diminati. PLN dgn kondisinya yg berat menanggung segala beban, dr pembangkitan, distribusi, pelayanan, marketing dan maintenance. Kita semua pasti setuju, dgn murahnya harga energy bukan membuat semakin baik, malah semakin buruk. ajang korupsi pun terbuka lebar.. hanya utk orang2 tertentu...pokoknya jauh dr kepentingan rakyat. Kita menjadi tdk menghargai energy dgn cara hidup boros, segala perencanaan akan hal tsb (baik utk kebutuhan perumahan, gedung, sampai transportasi ...dll) terasa tidak terlalu penting. Akan hal ini, masy Eropa sedang meng gelar yg namany eco house/ building , artinya saat jual-beli properti, baik rumah, flat, gedung dll, pihak penjual, agen, pembeli, solisitor pokoknya semua yg terlibat harus melibatkan serifikat dalam kelas apa suatu rumah, flat atau gedung itu berada. Maksudnya ke-hematan rumah tsb diuji, berapa energy yg dibutuhkan, berapa tingkat emisi karbon yg dihasilkan, sehingga perencannan suatu penggunaan energy ke arah lebih hemat menjadi penting keberaddannya, sekali lagi itu semua terlahir dgn mahalnya harga energy., eh... (UK misalnya perliter premium unleaded 95, £1,25 (1,025 x Rp 18 000), padahal jkalau di rumah unleaded 90 saja masih sangat murah).

Tiyang memandang, seperti halnya di Jepang, bagaimana govermentnya investasi mahal di th 80-an bukan utk pembangunan power plant, bukan utk pabrik renewable energy (solar cell) namun untuk mengajarkan masyarakat bagaimana renewable sangat baik, melalui sekolah2, iklan 2 layanan, poster2 dijalan2 dll. Sehingga kita lihat saat ini khususnya solar cell menjadi wajib disana. th 80-an tsb Fosil energy sudah di Tax (dipajaki)tingi, namun renewable di subsidi, namun sejak 2003 yg lalu renewable pun malah sudah di tax, dan fosil ehm.. berkali2 lipat di taxnya . tiyang wenten cerita menarik, saat Euro-sun conference th lalu, ketemu dgn rekan dr Jepang, dia cerita bagaimana kakeknya mewajibkan dia dan anak2nya utk hidup di perumahan dgn renewable sbg sumber energynya,.. rupanya japan govermnent tahu betul cara promosi yg baik dgn para sesepuh dan orang tua sbg target distribusi informasi sebab menghormati orang tua adalah harga mati culture disana.

Dgn kemampuan yg dibawah 50 KW yg di hasillkan memang kemampuan renewable sama sekali bukan utk komsumsi suplay ke grid, namun tiyang melihat sebagai kebutuhan sendiri. Kalau setiap perumahan bisa menghemat 20 % saja listrik PLN, juga gedung2 dgn perencanaan listrik hijaunya (pada siang hari dgn design jendela dan kaca yg tepat...mengurangi penggunaan lampu dan pendingin ruangan). Juga utk dearah2 terpencil bisa mengurangi bebban PLN utk suplay jaringan hanya utk beberapa KW, akan membantu PLN.

Dengan hasil climate change conference yg barulalu, memaksa kita semua, goverment khususnya belajar dan mengembangkan renewable.

Sehingga seperti Pndapat tiyang dalm bebra artikel yg tiyang sempat sampaikan, bahwa akhirnya PLN bisa menjual Powernya lebih banyak utk Industri, yg menjadi kendala dunia investasi selama ini, dgn harga yg jauh lebih reasonable PLN akhirnya bisa mengembangkan diri. Saya yakin masyarakat pasti kecewa dgn kondisi byar-pet seperti sekarang, juga PLN sebagi penjual juga merasa tidak happy akan hal tsb... So mengapa kita tdk instal renewable utk kebutuhan sendiri dulu. Ehm.. ' mahal ' pasti kata itu yg keluar,.. sebab
1. pembandingnya adalah murahnya listrik PLN
2. Investasi diawal yg cukup besar ( di Philipina dan Mexico melibatkan semacam koperasi utk pendanaan awalnya, kemuidan dia cicil sebagai pembayaran listrik bulanan) 3. Belum mengerti akan manfaat, instalasi juga maintenance (ngiring sareng sami rekan2 kita support disini)

Nah bila kendala2 ini kita selesaikan bersama dgn membantu menyebarkan informasi seluas-luasnya akan renewable energy mungkin kondisinya sedikit berubah.

Ingih samunika dumun, ampure titiang, ngelantur,..


Matur suksma semeton sami,

k astawa













tara -Timur melalui lintasan Klungkung,
Bangli,
Kintamani, Kubu Tambahan, Singaraja, Pemaron
balik ke timur, lewat Singaraja, Tejakula, Bugbug, Tirtagangga, Amlapura, Ujung Karangasem, Candidasa, Gua Lawah pulang kampung di Dawan. Berangkat jam 0700 pagi kembali 1900 malam. Sungguh menyegarkan, jadi turis dari Bukit Buluh.

Di Pamaron saya melewati PLTGU, Combined Cycle ( disingkat CC) Power
Plant, yang dulu saya ikut turut menolak
rencana pembangunannya. Dasar penolakan kita, karena lokasinya tak tepat. Dibangun di kawasan wisata dan jauh dari lokasi pusat beban yang ada diselatan. Pusat beban listrik Bali ada di Badung, Kuta, Nusa Dua, Sanur, Gianyar, Tabanan, sebesar 90 % beban seluruh Bali. Mengapa pemenuhan beban,
pembangkit  itu dibangun jauh di utara,
minyaknya diangkut dari Terminal Minyak Manggis di selatan dibawa ke
Pemaron di utara. Listriknya dibangkitkan di
Pemaron di utara dikirim ke selatan melalui saluran transmisi 150 kV
yang panjangnya lebih dari 100 km?
Perencanaan yang jelas tak efisien, uli kelod nganyanang - uli kaja
ngelodang. Cakcag-Cikcig , tepat seperti sigkatan CC
diatas tadi, CCPP Pemaron. Dalam bahasa Dauh Tukadnya, Cakcag-Cikcig,
Ngalor-Ngidul.

Di Pemaron saya kunjungi (tanpa pemberitahuan terlebih dahulu) kawan
seperjuangan. Ibu Silvia, Beate dan P Anom
dari Puri Bagus. Ibu Silvia tidak ada karena sedang pulang kampung. Dari Ibu Beate, saya diminta datang ke Warung Kota, ketemu P Tirtawan dan P Gde Wisnaya. Disana kami berkelakar
nostalgia dengan disuguhi ikan bakar oleh P Tirtawan.
Terima kasih Pak.

P K Astawa, saran yang menarik mengenai pengembangan energi terbarukan yang pantas untuk diteruskan dan dipertimbangkan. Tapi maaf, ijinkan saya menyampaikan tanggapan berikut
ini.

Pengembangan energy terbarukan umumnya dalam skala kecil. Untuk 1 kW perlu pasokan kotoran sapi 10 ekor ( sapi eropa yang gede, sapi bali lebih kecil). Siapa perorangan punya sapi 10 ekor di Bali? Sedangkan 1 kW hanya cukup untuk memberi pasokan listrik 2 (dua) rumah tangga sangat sederhana @ 450 VA. Secara teknis bisa diterapkan, secara ekonomis sering mahal, tidak/ belum mampu bersaing. Mickro hydro bisa
dikembangkan. Teknologinya mapan, ekonomi bisa bersaing,
tergantung lokasinya, data teknisnya. [ Sesuai saran P Ambara]. Yang
kita perlukan pasokan energi, listrik untuk Bali.

Di negara industri sumberdaya energi terbarukan (SDEB) berhasil
dikembangkan, karena adanya  subsidi dari pemerintah
tapi juga karena kesadaran masyarakat yang ingin SDEB dikembangkan dan untuk itu mereka mau dan bisa membayar mahal. Tapi tanpa dukungan tulang punggung (back bone) energy system, seperti tersedianya jarigan listrik, pipa gas, pipa minyak ( stasion minyaknya), SDEB tidak akan dapat menjamin keamanan (security) pasokan energi. Contoh Denmark yang membagun banyak sekali energi angin (EA) kelabakan ketika angin tak cukup kencang embusannya. Terpaksa mengandalkan kembali pada pasokan back bone dari interconection energy system dari bahan bakar fossil. Guna pengamanan pasokan negara dan bangsa secara keseluruhan. Tanpa adanya jaringan interkoneksi listrik, bagaimana dapat mengamankan pasokan dan penyediakan listrik bagi kawasan
pedesaan kita?

Pada konferensi iklim saya mendapat kesempatan mengunjungi " energy park" Nusa Penida 12-12-07. Akan dibangun 9 wind power plant @ 80 kW, photo voltaic dan bio-fuel dari pohon jarak.
Kesan saya, proyek yang dibangun terkait dengan
konferensi iklim. Seperti tanpa perencanaan ( mudah-mudahan saya salah!!). Ketika saya tanya berapa biaya proyek ini, apa ada studi kelayakannya, di mana bisa melihatnya, saya tak mendapat jawaban. Malahan mengundang pertanyaan balik , bapak siapa ? ( Untung tak bilang Bapak kok cerewet banget). Saya rakyat yang ingin tahu penggunaan uang negara, kalau ada studi kelayakan dengan tujuan proyeknya , kelak bisa dilakukan post audit dengan lebih mudah untuk mengetahui pelajaran apa yang dapat ditarik dari proyek itu? Pada peninjauan wind plant pertama saya hanya melihat di panel, listrik yang dibangkitkan hanya 1 kW (dari daya terpasang 80 kW) pada kecepatan angin 2,3 m/detik. Bayangkan bagaimana keamanan pasokan listrik kalau pada sistem ini tidak ada pembangkit diesel sebagai tulang punggung penjamin pasokan. Patut diketahui kecepatan angin makin kecil di kawasan mendekati equator.Kelayakan wind energy di Indonesia masih perlu
dibuktikan, di lokasi mana layak kiranya? .

Sehubungan dengan pembangunan PLTU Batubara Celukan Bawang sebesar 2 unit @ 65 MW, saya ragukan kelayakan lokasi dan keekonomiannya. Seperti CC PP Pemaron, jauh dari pusat beban. Perkiraan biaya pembangunan pembangkit Celukan Bawang dan biaya penyalurannya ke selatan tak berbeda dengan biaya saluran udara 500 kV Paiton- Denpasar. Tapi daya dari Celukan Bawang hanya 130 MW dibandingkan daya dari Paiton 1000 MW. Kalau pertumbuhan beban Bali 7-8 % per tahuh, Bali perlu tambahan daya pembangkitan 40 MW setiap tahun. Dalam waktu 3 tahun daya dari Celukan Bawang sudah habis dan perlu ada tambahan pembangkit lagi. Selain itu daya Celukan Bawang tidak cukup besar untuk dapat menggantikan pemakaian minyak dari pembangkit diesel di Bali yang jumlahnya 300 MW. Sedangkan pasokan melalui saluran 500 kV cukup untuk kebutuhan 15 tahun
mendatang.

Pembangunan PLTU Celukan Bawang yang akan menggunakan pembangkit dari China, perlu dikaji berapa efisiensi termisnya ( berapa pemakaian bahan bakarnya) dan bagaimana pengamanannya terhadap dampak lingungannya, seperti berapa tinggi cerobong asapnya? Karena itu demi kepentingan publik rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang patut dipertanyakan !!

Sebagai kata akhir, mohon dapat dimengerti saya bukan tidak menyetuji pengembangan SDEB, tapi untuk itu perlu direncanakan secara profesional dan dilakukan pembahasan mendalam. Saran, dukungan dan bantuan P K Astawa dari Inggeris tetap diharapkan demi kemajuan di tanah air. Batubara masih tetap diperlakukan dunia sebagai sumberdaya energi yang murah, karena itu ramai diperdangangkan dan dimanfaatkan secara mendunia (world wide). Kita jangan sampai menghilangkan sendiri kesempatan pemakaiannya secara optimal. Masalahnya bagaimana mengendalikan polusinya. Itulah satu pesan dari konferensi iklim.
Inggih, sapunika dumun, matur suksema.

SALAM.
Nengah Sudja.




-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Ketut Astawa
Sent: Friday, January 04, 2008 6:28 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara



Dear rekan Silvia, dan rekan2 sekalian,

Ide brilliance,

saya pernah ke nortfolk, norwich-UK, dan saya lihat langsung bagaimana
project spt ini berjalan sangat baik.

1. Dua tower wind turbine dgn daya 30Kw, dan beberapa Solar panel (c-si) sebesar 10Kw, juga bebrapa chamber utk biogas sudah terinstall. 2. Seluruh samapah di ke-3 desa yg terlibat diberdayakan utk biogas, dan juga peternakan di kawasan ini ikut menyumbang bahan utk sumber ini. 3. Kompos terjual ke bebrapa super market (kalau tdk salah dibeli oleh
'tesco')
4. 2 Universitas terlibat utk research disini
5. County councilnya mendapat support dr goverment utk pengembangan (ini
setelah project ini jalan)
6. Setiap saat anak2 dari sekolah2 berkunjung kesini utk ilmu
pengetahuan praktis.


sekali lagi saya support, apa bisa saya bantu dari jauh rekan silvia..??

oh iya masalah biogas, betul sekali (spt uraian rekan silvia).. di India, dan banglades,.. biogas malah tdk saja di desa2,.. bahkan juga di pasar2 tradisional, malah di pasar tradisional di kawasan padat penduduk di bangladesh sebuah powerplant dengan kapasitas 50KW dihasilkan dari
sampah pasar dan warga sekitarnya.


Salam
k astawa
uk

note: apa ini bu silvia rekan civil-unud yg dari belanda-belgia..???
(istrinya patric..)
bila iya..salam dari astawa-sri dan keluarga di UK


_____ From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Kubu Lalang
Sent: 04 January 2008 05:27
To: [email protected]
Subject: [bali] konferensi iklim dan bakar batu bara



Dear Pak Tjahjo dan teman,
semoga semua sehat dan dengan bahagia masuk ke tahun baru!

Saya mau bertanya apakah Bapak jadi dapat bertanya Pak Gubernur tentang
planning di Brongbong? Bagaimana jawabanya?

Saya dengan teman2 tahun yang lalu beli tanah di pantai Kalisada (sekitar 3 km dari Brongbong...) dengan rencana membangun Kalisada Eco Village, kombinasi perusaha dan perumahan pribadi dengan fokus - sustainable tourism, organic agriculture and sustainable living for residents and tourists. (waste water garden dari IDEP, sistem recycling sampah untuk Eco Village dan - on the longer run - untuk desa Kalisada, composting, alternative energy, reef project, river cleaning, tempat seminar, dll) Untuk sementara kami sudah 7 party, orang dari Bali dan seluruh dunia. Kami baru mulai dengan infrastructure seperti jalan dan
bor untuk air.
Kami pada saat ini bingun sekali dengar kabar PLN akan membangun pembangkit listrik bakar batu bara dengan modal dari Cina di daerah itu...Apalagi saya, sekarang saya dekat Pemaron...dulu berjuang, sekarang mau menjual perusaha disini dan pindah ke tempat lebih
alami...Where can we still run to in Bali???

Masalah harga pembangun pembangkit listrik - ya, saya mengerti, batu bara relatif murah, tetapi jangan kami kalkulasi ongkos semantara saja, sebenarnya harus kalkulasi harga untuk climate, warisan untuk anaknya.....banyak yang sekarang kelihatan murah jadi mahal sekali kalau
kalkulasi yang benar...

Lagi satu bertanyaan untuk temanya - apakah ada teman yang tahu tentang biogas untuk produksi listrik atau punya experience? Di Europa sudah banyak yang pakai, banyak desa kecil yang sudah independent total dengan biogas including heating, sampai kembali mejual ke grid. Katanya sampah dari 10 sapi bisa menunjukkan 1kw. Minyak dari grease trap juga bisa dipakai sampai 30 % dari volume total. Itu sangat tertarik karena orang yang pakai waste water garden systems untuk air limbah sampai sekarang belum tahu kemana dengan minyaknya.

Itu saja dulu,
Selamt Tahun Baru! dan selanjut berjuang melawan global warming!
Salam,
Silvia.

Silvia Binder and her team from
KUBU LALANG
International Restaurant and Beach Bungalows
Pantai Tukadmungga - Lovina - Singaraja
Bali
0062/362/42207
+62 819 3309 6983
[EMAIL PROTECTED]
http://kubu.balihotelguide.com

-------Originalmeldung-------

Von: CHPStar <mailto:[EMAIL PROTECTED]> Datum: 11/23/2007 8:40:51 PM
An: [email protected]
Betreff: [bali] Re: aksi greenpeace konferensi iklim

Mana dia koq web nya bilang "Sorry! We couldn't find that page! "
bisa di ulang?

Yang pasti saya jadi bertanya apakah Pak Gubernur benar benar sedang kesulitan memanfaatakan SDM Perencana Pemerintah atau tidak percaya ?

Tjahjo-

kubu lalang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


Dear friends,
Ayo ikutan aksi Greenpeace di Konferensi Iklim di Bali dengan mengirim pesan pada balon
http://www.greenpeace.org/internatio..._campaign=bali


As I heard yesterday that our governor was in Celukan Bawang and surroundings confirming a new power plant in Brongbong - di luar areal
Celukan Bawang, my balloon message is:

Pak Governor - please say NO to coal power plant in Brongbong, North
Bali!!!

Mereka mau pikin pelabuahan untuk cruise ship dan di sebelas, di desa Brongbong, power plant yang akan bakar batu bara dengan modal dari Cina....apakah ada teman di mailinglist yang punya informasi lebih tetap tentang planning itu? Katanya tanah sudah siap 30 ha di pantai yang sebelumnya sudah dibeli oleh orang pribadi untuk menjual ke PLN... Semua mgomong tentang global warming dan climate change, climate conference di Bali dekat, bagaimana orang politik di pulau ini???
Bingun,
Silvia.



_____
Never miss a thing. Make
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs> Yahoo your homepage.

<http://www.incredimail.com/index.asp?id=102275> Die schönsten E-Mail-Animationen nur – von IncrediMail. KOSTENLOS! Hier Klicken!

__________ NOD32 2759 (20080101) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com



-- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Berlangganan  : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>
Henti Langgan : <mailto: [EMAIL PROTECTED]>

Kirim email ke