Bangli,
Kintamani, Kubu Tambahan, Singaraja, Pemaron
balik ke timur, lewat Singaraja, Tejakula, Bugbug,
Tirtagangga,
Amlapura, Ujung Karangasem, Candidasa, Gua
Lawah pulang kampung di Dawan. Berangkat jam 0700 pagi
kembali 1900
malam. Sungguh menyegarkan, jadi
turis dari Bukit Buluh.
Di Pamaron saya melewati PLTGU, Combined Cycle (
disingkat CC) Power
Plant, yang dulu saya ikut turut menolak
rencana pembangunannya. Dasar penolakan kita, karena
lokasinya tak
tepat. Dibangun di kawasan wisata dan jauh dari
lokasi pusat beban yang ada diselatan. Pusat beban
listrik Bali ada di
Badung, Kuta, Nusa Dua, Sanur, Gianyar,
Tabanan, sebesar 90 % beban seluruh Bali. Mengapa
pemenuhan beban,
pembangkit itu dibangun jauh di utara,
minyaknya diangkut dari Terminal Minyak Manggis di
selatan dibawa ke
Pemaron di utara. Listriknya dibangkitkan di
Pemaron di utara dikirim ke selatan melalui saluran
transmisi 150 kV
yang panjangnya lebih dari 100 km?
Perencanaan yang jelas tak efisien, uli kelod nganyanang
- uli kaja
ngelodang. Cakcag-Cikcig , tepat seperti sigkatan CC
diatas tadi, CCPP Pemaron. Dalam bahasa Dauh Tukadnya,
Cakcag-Cikcig,
Ngalor-Ngidul.
Di Pemaron saya kunjungi (tanpa pemberitahuan terlebih
dahulu) kawan
seperjuangan. Ibu Silvia, Beate dan P Anom
dari Puri Bagus. Ibu Silvia tidak ada karena sedang
pulang kampung. Dari
Ibu Beate, saya diminta datang ke Warung
Kota, ketemu P Tirtawan dan P Gde Wisnaya. Disana kami
berkelakar
nostalgia dengan disuguhi ikan bakar oleh P Tirtawan.
Terima kasih Pak.
P K Astawa, saran yang menarik mengenai pengembangan
energi terbarukan
yang pantas untuk diteruskan dan
dipertimbangkan. Tapi maaf, ijinkan saya menyampaikan
tanggapan berikut
ini.
Pengembangan energy terbarukan umumnya dalam skala
kecil. Untuk 1 kW
perlu pasokan kotoran sapi 10 ekor ( sapi eropa yang
gede, sapi bali
lebih kecil). Siapa perorangan punya sapi 10 ekor di
Bali? Sedangkan 1
kW hanya cukup untuk memberi pasokan listrik 2 (dua)
rumah tangga sangat
sederhana @ 450 VA. Secara teknis bisa diterapkan,
secara ekonomis
sering mahal, tidak/ belum mampu bersaing. Mickro hydro
bisa
dikembangkan. Teknologinya mapan, ekonomi bisa bersaing,
tergantung lokasinya, data teknisnya. [ Sesuai saran P
Ambara]. Yang
kita perlukan pasokan energi, listrik untuk Bali.
Di negara industri sumberdaya energi terbarukan (SDEB)
berhasil
dikembangkan, karena adanya subsidi dari pemerintah
tapi juga karena kesadaran masyarakat yang ingin SDEB
dikembangkan dan
untuk itu mereka mau dan bisa membayar mahal.
Tapi tanpa dukungan tulang punggung (back bone) energy
system, seperti
tersedianya jarigan listrik, pipa gas, pipa minyak (
stasion
minyaknya), SDEB tidak akan dapat menjamin keamanan
(security) pasokan
energi. Contoh Denmark yang membagun banyak sekali
energi angin (EA)
kelabakan ketika angin tak cukup kencang embusannya.
Terpaksa
mengandalkan kembali pada pasokan back bone dari
interconection energy
system dari bahan bakar fossil. Guna pengamanan pasokan
negara dan
bangsa secara keseluruhan. Tanpa adanya jaringan
interkoneksi listrik,
bagaimana dapat mengamankan pasokan dan penyediakan
listrik bagi kawasan
pedesaan kita?
Pada konferensi iklim saya mendapat kesempatan
mengunjungi " energy
park" Nusa Penida 12-12-07. Akan dibangun
9 wind power plant @ 80 kW, photo voltaic dan bio-fuel
dari pohon jarak.
Kesan saya, proyek yang dibangun terkait dengan
konferensi iklim. Seperti tanpa perencanaan (
mudah-mudahan saya
salah!!). Ketika saya tanya berapa biaya proyek ini, apa
ada studi kelayakannya, di mana bisa melihatnya, saya
tak mendapat
jawaban. Malahan mengundang pertanyaan balik , bapak
siapa ? ( Untung
tak bilang Bapak kok cerewet banget). Saya rakyat yang
ingin tahu
penggunaan uang negara, kalau ada studi kelayakan dengan
tujuan
proyeknya , kelak bisa dilakukan post audit dengan
lebih mudah untuk
mengetahui pelajaran apa yang dapat ditarik dari proyek
itu?
Pada peninjauan wind plant pertama saya hanya melihat di
panel, listrik
yang dibangkitkan hanya 1 kW (dari daya terpasang 80 kW)
pada kecepatan
angin 2,3 m/detik. Bayangkan bagaimana keamanan pasokan
listrik kalau
pada sistem ini tidak ada pembangkit diesel sebagai
tulang punggung
penjamin pasokan. Patut diketahui kecepatan angin makin
kecil di kawasan
mendekati equator.Kelayakan wind energy di Indonesia
masih perlu
dibuktikan, di lokasi mana layak kiranya? .
Sehubungan dengan pembangunan PLTU Batubara Celukan
Bawang sebesar 2
unit @ 65 MW, saya ragukan kelayakan lokasi dan
keekonomiannya. Seperti
CC PP Pemaron, jauh dari pusat beban. Perkiraan biaya
pembangunan
pembangkit Celukan Bawang dan biaya penyalurannya ke
selatan tak
berbeda dengan biaya saluran udara 500 kV Paiton-
Denpasar. Tapi daya
dari Celukan Bawang hanya 130 MW dibandingkan daya dari
Paiton 1000 MW.
Kalau pertumbuhan beban Bali 7-8 % per tahuh, Bali perlu
tambahan daya
pembangkitan 40 MW setiap tahun. Dalam waktu 3 tahun
daya dari Celukan
Bawang sudah habis dan perlu ada tambahan pembangkit
lagi. Selain itu
daya Celukan Bawang tidak cukup besar untuk dapat
menggantikan pemakaian
minyak dari pembangkit diesel di Bali yang jumlahnya
300 MW. Sedangkan
pasokan melalui saluran 500 kV cukup untuk kebutuhan 15
tahun
mendatang.
Pembangunan PLTU Celukan Bawang yang akan menggunakan
pembangkit dari
China, perlu dikaji berapa efisiensi termisnya ( berapa
pemakaian bahan
bakarnya) dan bagaimana pengamanannya terhadap dampak
lingungannya,
seperti berapa tinggi cerobong asapnya? Karena itu demi
kepentingan
publik rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang patut
dipertanyakan !!
Sebagai kata akhir, mohon dapat dimengerti saya bukan
tidak menyetuji
pengembangan SDEB, tapi untuk itu perlu direncanakan
secara profesional
dan dilakukan pembahasan mendalam. Saran, dukungan dan
bantuan P K
Astawa dari Inggeris tetap diharapkan demi kemajuan di
tanah air.
Batubara masih tetap diperlakukan dunia sebagai
sumberdaya energi yang
murah, karena itu ramai diperdangangkan dan dimanfaatkan
secara
mendunia (world wide). Kita jangan sampai menghilangkan
sendiri
kesempatan pemakaiannya secara optimal. Masalahnya
bagaimana
mengendalikan polusinya. Itulah satu pesan dari
konferensi iklim.
Inggih, sapunika dumun, matur suksema.
SALAM.
Nengah Sudja.
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Ketut Astawa
Sent: Friday, January 04, 2008 6:28 PM
To: [email protected]
Subject: [bali] Re: konferensi iklim dan bakar batu bara
Dear rekan Silvia, dan rekan2 sekalian,
Ide brilliance,
saya pernah ke nortfolk, norwich-UK, dan saya lihat
langsung bagaimana
project spt ini berjalan sangat baik.
1. Dua tower wind turbine dgn daya 30Kw, dan beberapa
Solar panel (c-si)
sebesar 10Kw, juga bebrapa chamber utk biogas sudah
terinstall.
2. Seluruh samapah di ke-3 desa yg terlibat diberdayakan
utk biogas, dan
juga peternakan di kawasan ini ikut menyumbang bahan utk
sumber ini.
3. Kompos terjual ke bebrapa super market (kalau tdk
salah dibeli oleh
'tesco')
4. 2 Universitas terlibat utk research disini
5. County councilnya mendapat support dr goverment utk
pengembangan (ini
setelah project ini jalan)
6. Setiap saat anak2 dari sekolah2 berkunjung kesini utk
ilmu
pengetahuan praktis.
sekali lagi saya support, apa bisa saya bantu dari jauh
rekan silvia..??
oh iya masalah biogas, betul sekali (spt uraian rekan
silvia).. di
India, dan banglades,.. biogas malah tdk saja di
desa2,.. bahkan juga di
pasar2 tradisional, malah di pasar tradisional di
kawasan padat penduduk
di bangladesh sebuah powerplant dengan kapasitas 50KW
dihasilkan dari
sampah pasar dan warga sekitarnya.
Salam
k astawa
uk
note: apa ini bu silvia rekan civil-unud yg dari
belanda-belgia..???
(istrinya patric..)
bila iya..salam dari astawa-sri dan keluarga di UK
_____
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Kubu Lalang
Sent: 04 January 2008 05:27
To: [email protected]
Subject: [bali] konferensi iklim dan bakar batu bara
Dear Pak Tjahjo dan teman,
semoga semua sehat dan dengan bahagia masuk ke tahun
baru!
Saya mau bertanya apakah Bapak jadi dapat bertanya Pak
Gubernur tentang
planning di Brongbong? Bagaimana jawabanya?
Saya dengan teman2 tahun yang lalu beli tanah di pantai
Kalisada
(sekitar 3 km dari Brongbong...) dengan rencana
membangun Kalisada Eco
Village, kombinasi perusaha dan perumahan pribadi dengan
fokus -
sustainable tourism, organic agriculture and sustainable
living for
residents and tourists. (waste water garden dari IDEP,
sistem recycling
sampah untuk Eco Village dan - on the longer run - untuk
desa Kalisada,
composting, alternative energy, reef project, river
cleaning, tempat
seminar, dll) Untuk sementara kami sudah 7 party, orang
dari Bali dan
seluruh dunia. Kami baru mulai dengan infrastructure
seperti jalan dan
bor untuk air.
Kami pada saat ini bingun sekali dengar kabar PLN akan
membangun
pembangkit listrik bakar batu bara dengan modal dari
Cina di daerah
itu...Apalagi saya, sekarang saya dekat Pemaron...dulu
berjuang,
sekarang mau menjual perusaha disini dan pindah ke
tempat lebih
alami...Where can we still run to in Bali???
Masalah harga pembangun pembangkit listrik - ya, saya
mengerti, batu
bara relatif murah, tetapi jangan kami kalkulasi ongkos
semantara saja,
sebenarnya harus kalkulasi harga untuk climate, warisan
untuk
anaknya.....banyak yang sekarang kelihatan murah jadi
mahal sekali kalau
kalkulasi yang benar...
Lagi satu bertanyaan untuk temanya - apakah ada teman
yang tahu tentang
biogas untuk produksi listrik atau punya experience? Di
Europa sudah
banyak yang pakai, banyak desa kecil yang sudah
independent total dengan
biogas including heating, sampai kembali mejual ke grid.
Katanya sampah
dari 10 sapi bisa menunjukkan 1kw.
Minyak dari grease trap juga bisa dipakai sampai 30 %
dari volume total.
Itu sangat tertarik karena orang yang pakai waste water
garden systems
untuk air limbah sampai sekarang belum tahu kemana
dengan minyaknya.
Itu saja dulu,
Selamt Tahun Baru! dan selanjut berjuang melawan global
warming!
Salam,
Silvia.
Silvia Binder and her team from
KUBU LALANG
International Restaurant and Beach Bungalows
Pantai Tukadmungga - Lovina - Singaraja
Bali
0062/362/42207
+62 819 3309 6983
[EMAIL PROTECTED]
http://kubu.balihotelguide.com
-------Originalmeldung-------
Von: CHPStar <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Datum: 11/23/2007 8:40:51 PM
An: [email protected]
Betreff: [bali] Re: aksi greenpeace konferensi iklim
Mana dia koq web nya bilang "Sorry! We couldn't find
that page! "
bisa di ulang?
Yang pasti saya jadi bertanya apakah Pak Gubernur benar
benar sedang
kesulitan memanfaatakan SDM Perencana Pemerintah atau
tidak percaya ?
Tjahjo-
kubu lalang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear friends,
Ayo ikutan aksi Greenpeace di Konferensi Iklim di Bali
dengan mengirim
pesan pada balon
http://www.greenpeace.org/internatio..._campaign=bali
As I heard yesterday that our governor was in Celukan
Bawang and
surroundings confirming a new power plant in Brongbong -
di luar areal
Celukan Bawang, my balloon message is:
Pak Governor - please say NO to coal power plant in
Brongbong, North
Bali!!!
Mereka mau pikin pelabuahan untuk cruise ship dan di
sebelas, di desa
Brongbong, power plant yang akan bakar batu bara dengan
modal dari
Cina....apakah ada teman di mailinglist yang punya
informasi lebih tetap
tentang planning itu? Katanya tanah sudah siap 30 ha di
pantai yang
sebelumnya sudah dibeli oleh orang pribadi untuk menjual
ke PLN...
Semua mgomong tentang global warming dan climate change,
climate
conference di Bali dekat, bagaimana orang politik di
pulau ini???
Bingun,
Silvia.
_____
Never miss a thing. Make
<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
Yahoo your
homepage.
<http://www.incredimail.com/index.asp?id=102275> Die
schönsten
E-Mail-Animationen nur von IncrediMail. KOSTENLOS!
Hier Klicken!
__________ NOD32 2759 (20080101) Information __________
This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com