Saya mohon bantuan kepada forum ini agar bisa kirim balik cerpen tersebut akan 
saya kirim ke Bali Post
Saya tak ada arsip lagi karena laptop saya hilang
Salam
Artika
----- Original Message ----
From: Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, January 8, 2008 9:35:05 AM
Subject: [bali] Re: Terima kasih atas penyebaran cerpen saya

Message


 


DIV {
MARGIN:0px;}



Yth. P 
Wayan Artika , Semeton Sareng Sami,

 

Pertama kali ketika baca Cerita Pendek  Ilalang saya terkesima 
, bingung. Watak yang kritis bertanya , apa  memang 


begitu 
makna asas adat nyentana  itu? 

 

Setelah saya baca ada posting yang memuji CerPen Ilalang ini,  
kubaca ulang Ilalang, tapi karena tetap bingung dan 
penasaran,

kutulis posting ini dengan permintaan  diberi pencerahan 
mengenai apa konsep Nyentana, yang menjadi dasar topik CerPen P 
Artika?

 

Terutama saya terganggu dengan kalimat ini:

 

" 
Kelak aku mengerti, ketika cinta adalah tanah, bahwa pilihanku, nyentana, 
tidak sepenuhnya tepat. Selaku laki-laki Bali, cara 
pernikahan

ini 
sangat hina di mata masyarakat. Memang keluarga istriku sayang kepadaku namun 
itu semua tidak pernah mengembalikan kehormatanku 

yang 
direnggut di sini." ( Apa benar pernikahan  nyentana 
itu sangat  hina?, kehormatan mana direnggut?, tidak sepenuhnya tepat, 
mungkin).

 

Perlu 
saya jelaskan  yang membuat saya bingung karena: 

(1). 
apa makna, tujuan nyentana ( sesuai adat umumnya ) tidak 
dijelaskan; 

(2). konsep  nyentana  yang 
dijadikan topik, latar belakang budayanya  tidak diberi 
penjelasan memadai.

 

Setahuku  Nyentana yang patriarki  itu dilakukan  
atas permintaan  Orang Tua Yang Meminta Calon Pengantin Laki-laki 
Untuk

Nyentana ( OTYMCPLUN),  misalnya  karena mereka ini 
tidak mau  generasi keluarga mereka  terputus (njampud). 
Kehilangan soroh,

tidak  ada, dapat  lagi meneruskan tugas kewajiban ke 
banjar,  desa, ke sanggah , pemujaan pura leluhur 
oleh keturunan mereka.

 

Seperti unggapan   kalimat awal  penulis sendiri 
yang  dimulai dengan  : 

" Bali, kini aku lebih mengerti sebagai pulau patriarki". 
(mengerti ke- patriarki-an 
!?).

 

Sesuai 
dengan Asas Patriarki  Agama Hindu, oleh  
OTYMCPL UN  Si Nyentana akan dijadikan Kepala Keluarga 


( laki-laki)   dirumahnya untuk 
meneruskan tugas keluarga generasi  OTYMCPLUN. Tentunya 
sebagai  Kepala Keluarga

si 
Nyentana diharapkan akan menjalankan tugas baktinya sebagai laki-laki/kepala 
keluaga dengan sungguh-sungguh 

menjalankankan 
tugas kewajiban,dharmanya 
sesuai dengan ajaran Hindu. Karena itu tentunya  ia tidak 
diharapkan

akan 
kehilangan ke 
laki-lakiannya.

 

Begitulah 
pengertian saya mengenai menyentana itu. Karena itu mohon diberi pencerahaan 
apa 
saya salah?

 

Kembali 
ke CerPen, karena latar belakang nyentana itu tidak dijelaskan, saya lalu 
tak mengerti mengapa Bapak,

Ibu,bahkan 
 Ilalang  (bahkan sesudah jadi isterinya) dan si 
nyentana  sendiri berpendapat : 

“Keputusan 
kamu salah. Kamu akan menjadi laki-laki hina di keluarga istrimu. Jangan 
lakukan 
itu. Bapak bisa 

menanggung 
hidup keluargamu. Pilih pernikahan biasa, sebagai adat umum, bawa saja Ilalang 
ke rumah ini.” (Bapak).

 

“Jangankan 
laki-laki Bali seperti bapakmu, ibu selaku perempuan pun, akan kehilangan 
ketika 
kamu memilih nyentana. 

Pernikahan 
ini akan merenggut kamu dari ibu. Jangan. Di rumah istrimu kamu tidak akan 
dihormati sebagai laki-laki 
Bali,”  

                                                                                
                                                                                
   
 (Ibu).


“Komang, 
ternyata tidak ada gunanya aku membahagiakan dan menyelamatkan harkat orang 
tuaku, sementara aku

tidur dengan 
laki-laki tanpa kehormatan. Biar saja aku menangisi malam ini, Komang.”         
                            ( Illalang).

“Ilalang, 
pernikahan ini menjadikan aku laki-laki hanya pada segi biologis, pada sperma, 
demi keturanan yang bisa didapat untuk kehormatan dan penerus keluarga ini. 
Secara kultural aku tak lagi seorang laki-laki.”                                
                               ( 
Komang).


 

Seakan 
-akan ke -empat  tak mengerti makna, tujuan , makna nyentana, .......apa 
ya?


Padahal si  nyentana itu akan diangkat  ke posisi 
terhormat sebagai kepala keluarga. Megapa 
orang  tua, istrinya 

dan 
dia  sendiri 
berpendapat  jelas bertentangan dengan 
pengertian  asas nyentana  yang saya diuraikan diatas? 


 


Saya 
menduga karena nyentana itu  seperti yang dinyatakan penulis dilakukan atas 
dasar tawar menawar (tanpa prinsip) :

 " 
Inilah aku, yang mencoba ada di tanah dewata, dengan tawar-menawar itu." ?? 


 Atau 
memang Komang ini tidak punya prinsip, tak tahu arti nyentana , cinta biologis, 
tak punya etos kerja,

 hanya 
mau hidup gampang di rumah mertua indah , megah ? 
( 
jadi gigolo, seperti  tanggapan yang 
disampaikan?).

 


Saya 
khawatir, CerPen yang  dibaca khalayak luas ( kususnya orang 
luar)  yang tidak mengerti konsep Hindu , 


akan 
mengira.............. oh begitu ya 
....  
konsep nyentana  yang patriarki itu, adat   dan agama yang 
dianut? 

 

 

Maaf 
 P Astawa, kritik saya ini bukan dimaksud untuk mematikan kreativitas Sdr. 
Saya rasa,  Sdr. punya bakat dan 

kesenangan 
 menulis. Tapi pendalaman  latar belakang budaya  asas nyentana 
 perlu diperjelas.  


 

Saya 
berpendapat CerPen, novel baik perlu  dilandasi akar masalah 
 budaya padat yang  dalam. Karena itu 
anggaplah

posting 
saya ini sekedar  sebagai masukan, sumbangan 
pemikiran. Sebagai 
peserta milis ini , karena CerPen ini telah 


menjadi 
ranah publik saya 
terpanggil untuk menyampaikan 
tanggapan ini.

 

Mudah-mudahan  
saya salah menafsirkan  CerPen P Artika. Karena banyak juga yang bisa/dapat 
 menikmati serta  memujinya.

 

Inggih 
sapunika dumun, nunas ampura , matur suksama.

 

SALAM.

Nengah 
Sudja.

 

 

 

 


  

  -----Original Message-----
From: 
  [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
  wayan artika
Sent: Monday, January 07, 2008 10:44 
  AM
To: [email protected]
Subject: [bali] Terima kasih atas 
  penyebaran cerpen saya



  
  Saya 
  panggil Pak atau Nyoman saja?

Saya senang sekali atas tanggapan ini. 
  Memang sejak lama saya nulis cerpen, selalu soal Bali. Satu novel saya juga 
  telah terbit berjudul Incest tentang kembar buncing di suatu desa tua di 
Bali. 
  Saat ini sedang menunggu terbit novel Rumah Kepompong, tentang Bali yang jadi 
  surga gay internasional. Saya akan kirim karya terbaru saya. Semoga kiranya 
  berkenaan.

Salam
 Artika




  
  Looking for last minute shopping deals? Find 
  them fast with Yahoo! Search.

__________ NOD32 2759 (20080101) 
  Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus 
  system.
http://www.eset.com






      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke