Bang Chepy,
     CD tentang informasi lapter Wisnu dan Buleleng Fly In telah saya kirim 
tanggal 24 April 2008 pagi. Apa akan ada lagi tahun ini Buleleng Fly in? Kalau 
memang akan ada, saya cukup jadi penonton ( itupun kalau tidak bayar). Dua kali 
jadi PR dalam kegiatan Buleleng Fly In, ya cukup mendapat pengalaman. Sayang 
sekarang saya sudah tua, nafsu sich besar, tapi phisik tidak menunjang lagi. 
Meskipun saya sudah dapat embel-embel titel baru : ST Msc (bukan Sarjana Tehnik 
Master of Science) tapi Sudah Tua Masih senang cewek, he..he….
      Di Pemda sekarang sudah banyak orang pinter (tidak tahu apa nereka minum 
Tolak Angin). Buktinya beberapa pejabat dan pegawai mundar mandir keluar negeri 
untuk promosi pariwisata (setidak-tidaknya begitulah kata mereka), baik itu 
Bupati, Sekda, Ketua Bapedda, Ketua, wakil dan anggota Komisi DPRD, rame-rame 
ke Jerman, Jepang, Australia, China, eh tidak tahu negara mana lagi. Kalau 
sudah promosi keluar negeri dengan brand “tourism promotion” pastilah mereka 
‘at least must be fluent in English’ (kan lucu kalau promosi diluar negeri 
pakai bahasa Bali halus) dan paham benar apa itu ‘tourism’. Apalagi di Pemda 
sudah punya Kantor Informasi dan Elektronika, pastilah yang disitu ahli IT. 
Belum lagi sudah ada Humas-nya.
      Yach, kalau sudah gitu, untuk apa orang swasta seperti saya mau dijadikan 
PR? Gak lucu, kan? Oleh karena itu, kalau ada lagi Buleleng Fly In, tunjuk saja 
mereka yang masih digaji dan sudah pinter-pinter menjadi anggota panitia. Saya 
wong swasta, ya nonton saja. 
       Gitu lho Bang Chepy. Flying is cheap, kata Lion. Flying is fun, kata 
Bang Chepy. Flying is bad, kalau yang dipakai fly adalah drug. 
        C U then. 
  NS


"Chepy R.Nasution" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:         v\:* 
{behavior:url(#default#VML);}  o\:* {behavior:url(#default#VML);}  w\:* 
{behavior:url(#default#VML);}  .shape {behavior:url(#default#VML);}             
   Sorry to know that Pak Suwella……., beberapa waktu lalu saya ada mampir ke 
Hotel, Bapak sudah pulang.
  Wass,
  CN 
   
    From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of nyoman suwela
Sent: 12 Maret 2008 10:18
To: [email protected]
Subject: [bali] Pengalaman buruk dengan camera digital cyber-shot Sony

   
    PENGALAMAN BURUK DENGAN CAMERA DIGITAL SONY CYBERSHOT

      Baru-baru ini saya membeli camera digital Sony Cyber-shot Type DSC-S700 
7,2 mega fixel di Toko Anugrah Denpasar telp. 0361 – 254333 dengan harga Rp. 
1.750.000,- Camera dicoba dan berfungsi baik, Camera dimasukkan dalam kotak 
dengan aksesorisnya seperti kabel data, software dan buku manualnnya. Saya 
mengira sebagai camera baru pasti ada garansinya,sehingga saja lupa me-cek 
kalau kartu garansi sudah ada didalam kota atau belum. 

       Camera itu saya pakai waktu pawai ogoh-ogoh di kawasan Lovina dan masih 
berfungsi dengan baik. Besoknya foto-foto yang saya ambil saya pindahkan dengan 
kabel data kekomputer. Ternyata camera tidak bisa dihidupkan. Tombol on/off 
sepertinya tidak berfungsi. Saya coba membaca trouble-shooter nya di buku 
manual. Petunjuknya: keluarkan paket battery, masukkan kembali, tunggu satu 
menit, kemudian di’on’kan. Setelah saya ikuti camera bisa hidup kembali 
sehingga berhasil memindahkan foto ke file computer. Kemudian camera saya 
matikan. Pada waktu saya hidupkan kembali, ternyata kembali tidak bisa 
dihidupkan. Saya ulangi lagi seperti yang disarankan. Hasilnya kadang-kadang 
bisa, kadang-kadang tidak dan lebih sering gagalnya. Keadaan seperti ini sangat 
mengecewakan saya sebagai pembeli dan pemakai. 

       Saya  bawa camera ke toko Anugrah, toko yang menjualnya. Diminta 
menunjukkan kartu garansi, ternyata didalam kotak memang tidak ada kartu 
garansi. Saya yakin 100% saya hanya pernah mengeluarkan kartu manualnya, 
sedangkan kartu-kartu lain tidak pernah saya keluarkan dari kotaknya. Ya ini 
memang kesalahan saya karena percaya saja kepada penjual. Oleh penjaga toko 
saya diminta untuk membawa ke agen Sony di Jalan Teku Umar yang akan bisa 
memperbaiki. Ditempat itu, dikatakan yang rusak adalah modulnya dan harganya 
mahal. Dikatakan biaya perbaikan dan alat sekitar Rp. 1.750.000,-. Tidak lucu, 
kan? Saya beli dengan harga segitu. Akhirnya camera saya bawa pulang untuk 
pelajaran sebagai tanda kebodohan saya membeli camera itu ditoko yang 
bersangkutan.

      Barangkali rekan-rekan di Milis ini ada yang punya pengalaman yang sama 
dan bisa memberikan saran kemana saya bisa memperbaiki camera itu dengan biaya 
yang tidak lebih mahal dari harga camera baru itu sendiri. Ternyata jadi orang 
bodoh ada ongkosnya. Benar juga kata nenek saya “PERCAYA ITU BAIK, TAPI TIDAK 
PERCALA AKAN LEBIH BAIK LAGI”.

       Experience is the best teacher but it is very costly. 

     NS

     

    
    
---------------------------------
  
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.



       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

Kirim email ke