http://www.sinarharapan.co.id/berita/0804/26/hib03.html
Semarapura, Sumber Seni dan Budaya yang Terlupakan
Denpasar - Kota Semarapura yang terletak di Kabupaten Klungkung, Bali kini tak
banyak dikenal orang. Padahal, selama berabad-abad, sejak abad XV lalu, Kota
Semarapura ini sempat mengalami zaman keemasan, karena dikenal sebagai daerah
sumber seni dan budaya di Bali. Bahkan, kemahsyuran Kota Semarapura hingga ke
mancanegara.
Kini, Kota Semarapura seolah-olah tidak pernah dikenal sebagai pusatnya seni
dan budaya di Bali. “Saya sungguh sedih dan prihatin karena nama Kota
Semarapura sebagai sumber seni dan budaya sudah terlupakan,” kata Maestro Lukis
Nyoman Gunarsa kepada pers, Kamis (24/4), di Semarapura, Klungkung.
Ia menyebutkan, secara historis, seni dan budaya Bali lahir dan berpusat di
Semarapura, baik seni tari, kerawitan, ukiran, patung, arsitektur, wayang dan
tata upacara keagamaan. “Kita jangan sampai melupakan sejarah, baik itu
mengenai perjuangan bangsa maupun seni dan budaya,” ucap Gunarsa yang dikenal
gigih memperjuangkan penegakan UU Hak Cipta ini.
Tulis Buku
Untuk “menghidupkan” kembali nama Kota Semarapura, Nyoman Gunarsa kini telah
menulis sebuah buku berjudul “Smarapura The Birthplace Of Balinese Culture”.
Buku setebal 146 halaman yang diterbitkan bersama Gateway Books ini,
menurutnya, sengaja dicetak dalam bahasa Inggris.
“Buku terbitan pertama ini sengaja dicetak dalam bahasa Inggris agar dunia
internasional bisa lebih mengenal Kota Semarapura. Nanti buku ini akan
diterbitkan juga dalam bahasa Indonesia,” kata Gunarsa. Dia mengatakan, Bali
hingga kini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara (wisman) karena seni dan
budayanya. Namun, paparnya, tidak banyak kalangan turis asing itu mengetahui
bahwa Semarapura adalah pusat atau sumber seni dan budaya di Bali.
Karena hal itu pula, diakui Gunarsa, sampai saat ini Kota Semarapura masih sepi
dari kunjungan pelancong asing. “Buku ini saya persembahkan untuk Kota
Semarapura agar dikenal kembali sebagai sumber seni dan budaya,” imbuhnya.
Dengan diterbitkannya buku ini, Gunarsa berharap nantinya Kota Semarapura bisa
lebih dikenal lagi di dunia internasional sebagai sumber seni dan budaya di
Bali. Buku ini diluncurkan Jumat (25/4), terkait dengan peringatan 100 Tahun
Perang Puputan di Bali. (cmg)
__________________________________________________________
Gesendet von Yahoo! Mail.
Dem pfiffigeren Posteingang.
http://de.overview.mail.yahoo.com