artikel yg menarik pak sudja.
 
mengomentari tentang statementnya Kadin Bali gede Wirata yaitu: dari sekitar 
Rp150 triliun aset pariwisata, hanya 6% milik orang Bali.
 
membandingkannya dengan artikel berikut tentang pemilik hotel Panghegar Bandung 
yaitu Pak Ruhiat , dimana beliau mengawali karirnya sebagai pegawai biasa 
penerima tamu hingga akhirnya menjadi pemilik hotel itu sekarang, andikan semua 
orang bali yg bekerja di perhotelan di bali memiliki jiwa wiraswasta dan 
leadership seperti beliau, mungkin harkat dan martabat masyarakat bali akan 
lebih terangkat dan bisa menjadi Tuan Rumah di negeri sendiri...
 
 
http://www.liputan6.com/mobile/?c_id=4&id=75444
 
Jalan Panjang Ruhiat Merintis Hotel Panghegar 
 
Liputan6.com, Bandung: Keberuntungan memang bisa mengubah hidup seseorang. 
Tapi, tak banyak orang yang mampu memanfaatkannya jika kesempatan itu tiba. 
Salah seorang yang berhasil menggunakan kesempatan adalah H.M. Ruhiat, 
pengelola bisnis perhotelan di Kota Bandung, Jawa Barat. Asal tahu saja, 
pemilik Hotel Panghegar ini memulai kariernya di Hotel Van Heingel di Bandung, 
60 tahun silam, sebagai penerima tamu. "Tahun 1943 saya mulai kerja di sini 
[Van Heingel]. Itu karena saya berbahasa Belanda," kata Ruhiat, baru-baru ini. 

Perjalanan karier Ruhiat di hotel milik Nyonya Meister penuh liku. Apalagi, 
setelah Jepang menduduki Tanah Air, Ruhiat sempat ikut bergerilya di hutan. 
Bahkan dia sempat ditangkap tentara Jepang. Setelah Perang Dunia II berakhir, 
nasib membawa Ruhiat kembali ke Hotel Van Heingel. 

Kerja keras Ruhiat rupanya tak luput dari pemilik hotel yang berkebangsaan 
Italia itu. Pada 1958 ia diangkat menjadi manajer. Tapi, titik tolak 
keberhasilan Ruhiat terjadi saat Nyonya Meister memutuskan kembali ke negaranya 
dan menjual hotel. Ketika itu, Ruhiat memberanikan diri membeli hotel yang ikut 
dibesarkannya itu. "Kalau dicicil saya sanggup. Saya hitung-hitung delapan 
tahunlah," kata Ruhiat mengenang. 

Ada cerita lucu soal perubahan nama Van Heingel menjadi Panghegar. Pada 1962, 
pemerintah melarang penggunaan nama asing. Ruhiat pun sibuk mencari nama 
pengganti yang cocok. Rupanya Zaman Jepang melekat di dalam diri Ruhiat. Nama 
Panghegar diambil dari ketidakbecusan tentara Jepang menyebut Van Heingel. 
"Orang Jepang itu kalau bicara Van Heingel tidak bisa mengucapkan "V" dan "L". 
Kalau mau, bilangnya Hegaro. Jadi dari Van Heingel saya ubah jadi Panghegar," 
kata Ruhiat. 

Ruhiat mengelola hotel dibantu oleh sang istri Juariah dan ketujuh anaknya. 
Untuk mengembangkan usaha, Ruhiat mengirim anak-anaknya untuk bekerja di 
berbagai hotel luar negeri. Hasilnya, tamu berdatangan dan hotel terus 
berkembang. Kini, sejumlah hotel lain dibeli Ruhiat. 

Ketokohan Ruhiat juga diakui dalam bidang pariwisata Indonesia. Di era 1960-an, 
bersama sejumlah tokoh lain, Ruhiat mendirikan Indonesia Tours Association yang 
kemudian berubah menjadi Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Penghargaan 
Upakarti adalah salah satu bukti keberhasilannya selama ini

--- Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]> schrieb am Fr, 19.9.2008:

Von: Nengah Sudja <[EMAIL PROTECTED]>
Betreff: [bali] FW: Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan
An: [email protected]
Datum: Freitag, 19. September 2008, 4:09








Semeton,
Sebagai renungan langkah ke depan.
 
SALAM.
Nengah Sudja




From: B.DORPI P. [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Thursday, September 18, 2008 3:35 PM
To: ! B.DORPI P.
Subject: Re.: Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan
Importance: High
 

http://web.bisnis.com/artikel/2id1526.html

 

Sabtu, 13/09/2008 09:43 WIB
Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan
oleh : S. Ardiansyah
Gede Kapli, adalah salah satu sosok masyarakat desa Bidong, Datah, 
Karangasem-Bali. Dia hingga saat ini m asih merasakan belum merdeka karena 
beratnya tekanan ekonomi yang dipikulnya, bahkan untuk mendapatkan seteguk air 
minum, petani renta di kawasan Pulau Dewata ini terpaksa harus rela bangun 
setiap pukul 02.00 dan berjalan menuju sumber air sampai 5 km jauhnya.
Sementara itu, di sudut Kecamatan Ubud, awal bulan lalu menjadi ajang 
pertempuran massal antarwarga Banjar Semana, Singekerta, dan warga Ambengan, 
Sayan. Pemicunya, amarah ratusan massa kedua desa itu bergolak hanya berebut 
status tanah pekuburan (makam). Beruntung dua peleton Dalmas Polres dan satu 
kompi Brimob Polda Bali berhasil melerai aksi bentrokan massal itu, meski saat 
ini m asih status siaga.
Di bagian lain, satu sudut kota Denpasar terlihat hingar- bingar. Sejumlah 
remaja dan pelajar nampak riang, sesekali bertepuk dan bersorak menyaksikan 
lenggak-lenggok penari Janger. Kesan yang muncul adalah bangga, karena tarian 
khas daerahnya Bali yang konon lahir pada tahun 1930-an itu bangkit kembali, 
setelah sempat trauma karena 'dituduh' sebagai corong tarian salah satu partai 
terlarang di Indonesia.
Bali tetap 'cantik dan memikat', begitu kata salah satu turis Australia yang 
mengaku bernama Erick, saat dimintai tanggapannya pada tiga kejadian 
kontroversi itu. Dia juga membuktikan karena 'cantik dan memikat' itulah semua 
mata di dunia ingin melihat Bali .
Artinya menurutnya, adat dan tradisi budaya yang adiluhung, objek wisata yang 
mempesona, menjadikan Pulau Dewata ini mempunyai magnit kuat menarik wisatawan 
lokal dan asing.
Pendapat Erick memang tidak salah. Hanya saja jika semua mata ingin melihat 
Bali, tentunya Bali 'layak dijual mahal', sekaligus menarik dolar lebih banyak 
untuk menyejahterakan masyakatnya melalui pariwisata.
Tentunya tidak hanya berharap, tetapi perlu sentuhan dan kerja keras serta 
komitmen semua pihak terkait untuk mengemas, memoles, dan membangun Bali 
menjadi destinasi yang 'layak dijual mahal' itu.
Namun faktanya, meski sudah memasuki HUT ke-50 Pemerintah Provinsi Bali, dan 
bersamaan dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, juga Visit Indonesia Year 
2008, serta HUT ke-63 RI, Bali belum bisa mewujudkan hal itu, apalagi berambisi 
menjadi The Island of God.
Krisis komitmen 
Sebenarnya, semua akan sepakat jika dikatakan Bali identik dengan pariwisata, 
dan setuju juga jika dibilang tidak semua orang di Bali hidup dari industri 
jasa itu, karena industri pariwisata sampai saat ini hanya dinikmati masyarakat 
di Kuta, Nusa Dua, dan sejumlah kecil di Gianyar.
Sementara itu, krama Bali yang ada di perdesaan Karangasem, Buleleng, Jembrana, 
Tabanan, Bangli belum merasakan manisnya 'turis'. Lebih-lebih di Karangasem, 
sebagian besar masyarakatnya merasakan krisis air, juga Ubud m asih ada tragedi 
'amuk massa '.
Maka tidak salah jika saat ini banyak yang berpendapat karena terbuai dengan 
pariwisata, Bali jadi krisis komitmen. Kenapa, karena pariwisata lupa komitmen 
untuk terus menjaga stabilitas pangan, seni budaya, keamanan dan 
stabilitas-stabilitas sektor penting lainnya.
Singkatnya di satu sisi pariwisata layak sebagai leading sector, telah membawa 
Bali mengalami lompatan struktur ekonomi, dari sekunder yang berbasis agraris 
menuju tersier yang berbasis jasa.
Memang sebelum bom Bali I dan II lompatan itu ada hasilnya, karena menurut 
statistik terjadi peningkatan pendapatan, seiring dengan pergeseran dominasi 
sektor tadi, yaitu pendapatan per kapita penduduk Bali jika pada 1969 hanya 
Rp16.032, melonjak tajam menjadi Rp2,4 juta lebih pada akhir 2000.
Namun setelah bom Bali , untuk mencapai Rp2 juta per kapita sangatlah berat. 
Padahal hamper semua pejabat bilang pariwisata Bali telah melaju sedemikian 
pesat sehingga mengubah wajah sosial dan struktur perekonomian Bali .
Kemajuan pariwisata di daerah ini setidaknya telah mendongkrak indikator 
makroekonomi daerah ini, kendati faktanya biaya sosial yang harus dibayar 
masyarakat Bali untuk mendongkrak sektor 'tambang dolar' ini sangat mahal.
Made Suryawan, mantan Ketua Parasparos dan tokoh masyarakat Bali , mengatakan 
sependapat dengan hal itu. Bahkan dia menyebutkan secara kualitatif, quality of 
life masyarakat Bali mengalami penurunan.
Dia mencatat bahwa sampai pertengahan 2008 ini m asih terdapat 548.617 warga 
miskin yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali . Angka ini cukup 
tinggi karena setara dengan 15% penduduk Bali .
Demikian pula pengangguran terbuka dikatakan m asih sekitar 94.000 orang, dan 
yang memprihatinkan sebagian besar pengangguran itu adalah berpendidikan 
tinggi, yaitu diploma sampai S-1.
Pernyataan lainnya yang menyadarkan bahwa lompatan pariwisata Bali sudah 
kebablasan itu adalah dari Ketua Kadin Bali Gde Wiratha, yaitu dari sekitar 
Rp150 triliun aset pariwisata, hanya 6% milik orang Bali.
Melihat gambaran kesenjangan ekonomi Bali seperti ini, memang tidak seharusnya 
patah arang. M asih terbuka lebar kesempatan menata Bali menjadi lebih elok, 
seperti halnya menata dan membangkitkan kembali tari janger, jika sebelumnya 
disebut tarian 'politik', dengan komitmen pengembangan yang serius akhirnya 
menjadi tarian menarik dan layak tonton.
Yang pasti, komitmen masyarakat Bali dalam menjaga seni budaya patut diakui dan 
tidak ada duanya di negeri ini. ([EMAIL PROTECTED])
 
 
 
 
 
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Sie sind Spam leid? Yahoo! Mail verfügt über einen herausragenden Schutz gegen 
Massenmails. 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke