P Sudja yang baik, Seperti yang kita semua sadar bahwa permasalahan ini bukan baru saja terjadi tetapi sudah berproses ketika kita memilih industri pariwisata menjadi industri inti tanpa adanya pemberdayaan untuk penguatan masyarakat. Yang ada malahan lahan-lahan di buru oleh konglomerat Jakarta dan tentunya hotel chain international. Kemudian para investor diberi kekuatan untuk bisa 'memiliki' tanah di bali dan sekarang ini dengan globalisasi malahan bisa memiliki bisnis dan malahan bisa jadi pekerja... yang semua ini mengambil peran komunitas lokal karena kalah saing. Teman teman 'bule' saya bilang... too bad for the locals dan ini bukan hanya terjadi di Bali saja, tapi rata rata di semua tempat tempat di dunia yang menjual pariwisata.
Tentunya kalau kita lihat Paris, London, New York, ceritanya manjadi lain karena mereka 'matured nation' jadi sudah berproses dengan system. Lalu apa yang bisa kerjakan??? Kemiskinan Struktural dan Budaya yang Memiskinkan adalah artika yang bagus oleh GPB Suka Arjawa kemarin di Bali Post, mengangkat cermin bangsa kita melalui rebutan zakat di Pasuruan. Kita kembali soal Bali, sharing dari industri pariwisata memang kurang untuk komunitas lokal. Investor luar hanya mau berkomunikasi dengan sama warna, mereka tidak terlalu interest dengan warna kita, kalaupun mereka merasa perlu untuk berdampingan dengan kita tapi tetap dengan konsep superiority bukan sharing. Disamping itu juga gaya hidup dan polanya orang lokal yang sudah berubah, serta pendidikan yang sama sekali tidak lagi ke arah sustaibility, padahal konsepnya sudah di atur di Trihitakarana dan DesaKalaPatra semua kalau dengan persaingan antar manusia saja bukan keseimbangannya. Bayangkan, gaji rata rata 600.000 rp tapi bisa cicil motor dan beli handphone yang membutuhkan pulsa dan kemudian di pakai sms meraih hadiah lewat acara tv, bayangkan 'togel' sudah tidak ada tapi melalui acara tv diajak untuk kirim sms dengan harga 1000 sampai 5000 per sms.... habis uangnya dipakai untuk itu saja. segitu dulu P Sudja, nanti kebablasan lagi.... salam, Vieb ----- Original Message ----- From: Nengah Sudja To: [email protected] Sent: Friday, September 19, 2008 10:09 AM Subject: [bali] FW: Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan Semeton, Sebagai renungan langkah ke depan. SALAM. Nengah Sudja ------------------------------------------------------------------------------ From: B.DORPI P. [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, September 18, 2008 3:35 PM To: !B.DORPI P. Subject: Re.: Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan Importance: High http://web.bisnis.com/artikel/2id1526.html Sabtu, 13/09/2008 09:43 WIB Lompatan industri pariwisata di Bali sudah kebablasan oleh : S. Ardiansyah Gede Kapli, adalah salah satu sosok masyarakat desa Bidong, Datah, Karangasem-Bali. Dia hingga saat ini masih merasakan belum merdeka karena beratnya tekanan ekonomi yang dipikulnya, bahkan untuk mendapatkan seteguk air minum, petani renta di kawasan Pulau Dewata ini terpaksa harus rela bangun setiap pukul 02.00 dan berjalan menuju sumber air sampai 5 km jauhnya. Sementara itu, di sudut Kecamatan Ubud, awal bulan lalu menjadi ajang pertempuran massal antarwarga Banjar Semana, Singekerta, dan warga Ambengan, Sayan. Pemicunya, amarah ratusan massa kedua desa itu bergolak hanya berebut status tanah pekuburan (makam). Beruntung dua peleton Dalmas Polres dan satu kompi Brimob Polda Bali berhasil melerai aksi bentrokan massal itu, meski saat ini masih status siaga. Di bagian lain, satu sudut kota Denpasar terlihat hingar- bingar. Sejumlah remaja dan pelajar nampak riang, sesekali bertepuk dan bersorak menyaksikan lenggak-lenggok penari Janger. Kesan yang muncul adalah bangga, karena tarian khas daerahnya Bali yang konon lahir pada tahun 1930-an itu bangkit kembali, setelah sempat trauma karena 'dituduh' sebagai corong tarian salah satu partai terlarang di Indonesia. Bali tetap 'cantik dan memikat', begitu kata salah satu turis Australia yang mengaku bernama Erick, saat dimintai tanggapannya pada tiga kejadian kontroversi itu. Dia juga membuktikan karena 'cantik dan memikat' itulah semua mata di dunia ingin melihat Bali. Artinya menurutnya, adat dan tradisi budaya yang adiluhung, objek wisata yang mempesona, menjadikan Pulau Dewata ini mempunyai magnit kuat menarik wisatawan lokal dan asing. Pendapat Erick memang tidak salah. Hanya saja jika semua mata ingin melihat Bali, tentunya Bali 'layak dijual mahal', sekaligus menarik dolar lebih banyak untuk menyejahterakan masyakatnya melalui pariwisata. Tentunya tidak hanya berharap, tetapi perlu sentuhan dan kerja keras serta komitmen semua pihak terkait untuk mengemas, memoles, dan membangun Bali menjadi destinasi yang 'layak dijual mahal' itu. Namun faktanya, meski sudah memasuki HUT ke-50 Pemerintah Provinsi Bali, dan bersamaan dengan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, juga Visit Indonesia Year 2008, serta HUT ke-63 RI, Bali belum bisa mewujudkan hal itu, apalagi berambisi menjadi The Island of God. Krisis komitmen Sebenarnya, semua akan sepakat jika dikatakan Bali identik dengan pariwisata, dan setuju juga jika dibilang tidak semua orang di Bali hidup dari industri jasa itu, karena industri pariwisata sampai saat ini hanya dinikmati masyarakat di Kuta, Nusa Dua, dan sejumlah kecil di Gianyar. Sementara itu, krama Bali yang ada di perdesaan Karangasem, Buleleng, Jembrana, Tabanan, Bangli belum merasakan manisnya 'turis'. Lebih-lebih di Karangasem, sebagian besar masyarakatnya merasakan krisis air, juga Ubud masih ada tragedi 'amuk massa'. Maka tidak salah jika saat ini banyak yang berpendapat karena terbuai dengan pariwisata, Bali jadi krisis komitmen. Kenapa, karena pariwisata lupa komitmen untuk terus menjaga stabilitas pangan, seni budaya, keamanan dan stabilitas-stabilitas sektor penting lainnya. Singkatnya di satu sisi pariwisata layak sebagai leading sector, telah membawa Bali mengalami lompatan struktur ekonomi, dari sekunder yang berbasis agraris menuju tersier yang berbasis jasa. Memang sebelum bom Bali I dan II lompatan itu ada hasilnya, karena menurut statistik terjadi peningkatan pendapatan, seiring dengan pergeseran dominasi sektor tadi, yaitu pendapatan per kapita penduduk Bali jika pada 1969 hanya Rp16.032, melonjak tajam menjadi Rp2,4 juta lebih pada akhir 2000. Namun setelah bom Bali, untuk mencapai Rp2 juta per kapita sangatlah berat. Padahal hamper semua pejabat bilang pariwisata Bali telah melaju sedemikian pesat sehingga mengubah wajah sosial dan struktur perekonomian Bali. Kemajuan pariwisata di daerah ini setidaknya telah mendongkrak indikator makroekonomi daerah ini, kendati faktanya biaya sosial yang harus dibayar masyarakat Bali untuk mendongkrak sektor 'tambang dolar' ini sangat mahal. Made Suryawan, mantan Ketua Parasparos dan tokoh masyarakat Bali, mengatakan sependapat dengan hal itu. Bahkan dia menyebutkan secara kualitatif, quality of life masyarakat Bali mengalami penurunan. Dia mencatat bahwa sampai pertengahan 2008 ini masih terdapat 548.617 warga miskin yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali. Angka ini cukup tinggi karena setara dengan 15% penduduk Bali. Demikian pula pengangguran terbuka dikatakan masih sekitar 94.000 orang, dan yang memprihatinkan sebagian besar pengangguran itu adalah berpendidikan tinggi, yaitu diploma sampai S-1. Pernyataan lainnya yang menyadarkan bahwa lompatan pariwisata Bali sudah kebablasan itu adalah dari Ketua Kadin Bali Gde Wiratha, yaitu dari sekitar Rp150 triliun aset pariwisata, hanya 6% milik orang Bali. Melihat gambaran kesenjangan ekonomi Bali seperti ini, memang tidak seharusnya patah arang. Masih terbuka lebar kesempatan menata Bali menjadi lebih elok, seperti halnya menata dan membangkitkan kembali tari janger, jika sebelumnya disebut tarian 'politik', dengan komitmen pengembangan yang serius akhirnya menjadi tarian menarik dan layak tonton. Yang pasti, komitmen masyarakat Bali dalam menjaga seni budaya patut diakui dan tidak ada duanya di negeri ini. ([EMAIL PROTECTED])
