Seneton, 
Artikel menarik , terkait RUU Pornografi.
 
SALAM.
Nengah Sudja.
 
  _____  

From: B.DORPI P. [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Friday, September 26, 2008 7:54 AM
To: !B.DORPI P.
Subject: Re.: Goenawan Mohamad - Ulysses
Importance: High
 
http://www.tempointeraktif.com/
 
32/XXXVII 29 September 2008
 
Ulysses
 
ADA seorang perempuan yang mudah dilupakan dunia tapi seharusnya tak
dilupakan kesusastraan. Namanya Margaret Anderson. 
Ia lahir pada 1886 di Indianapolis, Amerika Serikat, di sebuah keluarga yang
berada, dengan seorang ibu yang hampir setiap tahun tergerak untuk pindah ke
rumah baru—dengan mebel, taplak, gorden, dan lukisan dinding baru. 
Margaret tak seperti ibunya, tapi ia punya keresahannya sendiri. 
Pada suatu malam, ketika ia berumur 21 tahun, setelah seharian merasa
murung, ia terbangun dari tidur. ”Pikiran persis pertama: aku tahu kenapa
aku murung,” demikianlah tulisnya, mengenang. ”Tak ada yang bersemangat yang
terjadi—nothing inspired is going on. Kedua: aku menuntut hidup harus
bersemangat tiap saat. Ketiga: satu-satunya cara untuk menjamin itu adalah
mendapatkan percakapan yang bersemangat tiap saat. Keempat: kebanyakan orang
tak bisa jauh dalam percakapan….” 
Akhirnya kelima: ”Kalau aku punya sebuah majalah, aku akan dapat mengisi
waktu dengan percakapan yang terbagus yang bisa disajikan dunia….” 
Syahdan, pada umur 28 tahun, ketika ia sudah lumayan dikenal sebagai penulis
resensi buku di beberapa media, di Chicago, Margaret menerbitkan majalah The
Little Review. ”Omong-omong tentang seni”, itulah semboyannya. 
Tapi tentu saja tak sembarang omong-omong. Nomor pertama majalah kecil itu
berbicara soal Nietzsche, feminisme, dan psikoanalisis—hal-hal yang bisa
menyentakkan orang Amerika dari tidur borjuis mereka yang tertib dan taklid.

Seperti lazimnya majalah seni dan sastra, The Little Review tak laku. Juga
sulit mendapat sponsor. Margaret kehabisan uang, diusir dari rumah
sewaannya, dan harus menutup kantor majalahnya. Tapi ia tetap menginginkan
percakapan yang bersemangat, dan ketika ia ketemu Jane Heap, seorang seniman
yang aktif dalam gerakan seni rupa baru Chicago, cita-citanya bangkit lagi.
Kedua perempuan itu, yang kemudian berpacaran, meneruskan The Little Review
dengan memindahkannya ke New York. Seraya membuka toko buku di Washington
Square, di sudut kota tempat inspirasi tak mudah mati itu, kedua perempuan
itu membuat sejarah. 
The Little Review memuat karya para sastrawan yang kemudian jadi percakapan
seluruh dunia: T.S. Eliot, Hemingway, Amy Lowell, Francis Picabia, Sandburg,
Gertrude Stein…. Sejak awal, Ezra Pound jadi penasihat dan koresponden
majalah itu di London, dan dari Eropa André Breton dan Jean Cocteau
mengirimkan tulisan mereka. 
Juga: James Joyce, dengan Ulysses-nya. 
Tapi sejarah sastra tak pernah mudah, terutama di masa ketika modernisme
bersedia membenturkan diri menghadapi apa yang ”normal”—yakni segala hal
yang ukurannya dibentuk oleh tata sosial yang ada, oleh bahasa yang
diwariskan, dan oleh ketakutan terhadap yang tak pasti, yang tak jelas, yang
beda. Sejarah sastra memang jadi berarti ketika sastrawan dan karyanya tak
memilih kenyamanan yang ditentukan oleh kelaziman sosial. 
Margaret membuktikan itu dengan dirinya—sejak ia, dalam ketiadaan uang,
berani hidup di bawah tenda yang didirikannya sendiri di tepi Danau
Michigan, sampai dengan ketika ia berani menerbitkan Ulysses, dalam bentuk
cerita bersambung sejak 1918. 
Joyce baru merampungkan karya besarnya yang setebal 732 halaman ini pada
akhir Oktober 1921. Sengaja disandingkan dengan epos Yunani kuno karya
Homeros, Ulysses tak berkisah tentang para pahlawan, melainkan tentang
kehidupan sehari-hari Kota Dublin, Irlandia, dengan dua tokoh yang berbeda,
Stephen Daedalus dan Leopold Bloom. 
Novel yang terdiri atas tiga bagian besar dengan 18 episode ini tak mudah
dibaca, meskipun tiap bagian memukau, liris, juga ketika ”arus kesadaran”
sang tokoh merasuk ke dalam paragraf seakan-akan puisi yang meracau. Joyce
sendiri mengatakan—mungkin serius, mungkin main-main—bahwa ke dalam Ulysses
ia memasukkan ”begitu banyak teka-teki dan enigma hingga para profesor akan
berabad-abad sibuk berdebat tentang apa yang saya maksud”. 
Tapi di dunia ini ada para profesor, atau para peminat sastra yang
bersungguh-sungguh yang menemukan kenikmatan dan kearifan dalam percakapan
(”percakapan yang bersemangat,” kata Margaret Anderson), dan ada orang yang
tak begitu berminat meskipun teramat bersungguh-sungguh: para sensor. 
Dalam Ulysses sang sensor merasa menemukan ”pornografi”. Pada 1920,
orang-orang yang merasa diri bermoral dan saleh yang bergabung dalam ”The
New York Society for the Suppression of Vice” berhasil memenangkan
dakwaannya di pengadilan, dan hakim menyetop The Little Review memuat novel
itu. 
Majalah itu disita. Margaret Anderson dan Jane Heap dihukum sebagai penyebar
kecabulan. Masing-masing didenda $ 100. The Little Review yang miskin dana
itu pun kehilangan masa depan. Akhirnya kedua perempuan itu memutuskan untuk
meninggalkan Amerika—di mana kekuasaan uang dan ”moralitas” dipergunakan
untuk mengimpit mereka yang berbeda—dan melanjutkan The Little Review di
Eropa.  Ulysses juga telantar. Tak ada penerbit baik di Amerika maupun di
Inggris yang mau mencetak dan menyebarkan novel itu. Baru pada 1931, di
Paris, seorang perempuan lain, Sylvia Beach, berani melakukannya, diam-diam
dari toko bukunya yang sampai kini tak mentereng di tepi Sungai Seine,
”Shakespeare and Co”. 
Sejak itu, zaman berubah, juga ”moralitas” dan kecemasan. Pada 1933, hakim
John M. Woolsey mengizinkan novel itu beredar. Porno? Merangsang? Hakim itu
telah membacanya dan ia mengatakan bahwa ia, bersama dua orang temannya, tak
bangkit syahwatnya karena Ulysses. 
Pada akhirnya seorang lelaki bisa mengerti kearifan yang dibawa Margaret
Anderson, Jane Heap, dan Sylvia Beach: ”moralitas” itu hanya bangunan
kekuasaan mereka yang waswas akan libido diri sendiri. 
Goenawan Mohamad
 
 
 
 
 
 

Kirim email ke