Krisis Keuangan Global (Artikel 1)
Kamis, 06 Nopember 08


Sebab-sebab dan Dampaknya terhadap Indonesia 

Bahwa terjadi krisis maha dahsyat di Amerika Serikat yang menyebar ke semua 
negara di dunia sudah sangat banyak kita baca. Namun tidak banyak yang 
menjelaskan tentang sebab-sebabnya, dan juga tidak banyak yang menguraikan 
tentang landasan dari sebab-sebab itu, yaitu mashab pikiran atau ideologi yang 
memungkinkan dipraktekannya cara-cara penggelembungan di sektor keuangan. 

Tentang yang pertama, media massa di negara-negara maju banyak yang 
mengulasnya. Intinya sebagai berikut. 

Bank hipotik yang mengkhususkan diri memberikan kredit untuk pembelian rumah, 
dengan sendirinya mempunyai tagihan kepada penerima kredit yang menggunakan 
uangnya untuk membeli rumah. Jaminan atas kelancaran pembayaran cicilan utang 
pokok dan bunganya adalah rumah yang dibiayai oleh bank hipotik tersebut. Kita 
sebut tagihan ini tagihan primer, karena langsung dijamin oleh rumah, atau 
barang nyata. Tagihannya bank hipotik kepada para penerima kredit berbentuk 
kontrak kredit yang berwujud kertas. Istilahnya adalah pengertasan dari barang 
nyata berbentuk rumah. Karena kertas yang diciptakannya ini mutlak mewakili 
kepemilikan rumah sebelum hutang oleh pengutang lunas, maka kertas ini disebut 
surat berharga atau security. Pekerjaan mengertaskan barang nyata yang 
berbentuk rumah disebut securitization of asset. 

Katakanlah bank hipotik ini bernama Bear Sterns. Bear Sterns mengkonversi uang 
tunainya ke dalam kewajiban cicilan utang pokok beserta pembayaran bunga oleh 
para penghutang atau debitur. Jadi uang tunai atau likuiditasnya berkurang. 
Namun Bear Sterns memegang surat berharga atau security yang berbentuk kontrak 
kredit atau tagihan kepada para debiturnya. Bear Sterns mengelompokkan 
surat-surat tagihan tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang setiap kelompoknya 
mengandung surat tagih dengan tanggal jatuh tempo pembayaran yang sama. Setiap 
kelompok ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang yang dijual 
kepada Lehman Brothers (misalnya) dan bank-bank lain yang semuanya mempunyai 
nama besar. Yang sekarang dilakukan oleh Bear Sterns bukan menerbitkan surat 
piutang, tetapi surat janji bayar atau surat utang. Atas dasar surat piutang 
kepada ratusan atau ribuan debiturnya, Bear Sterns menerbitkan surat utang 
kepada Lehman. Uang tunai hasil hutangnya dari Lehman dipakai untuk memberi 
kredit lagi kepada mereka yang membutuhkan rumah. Seringkali untuk membeli 
rumah kedua, ketiga oleh orang yang sama, sehingga potensi kreditnya macet 
bertambah besar. 

Penerbitan surat berharga berbentuk surat janji bayar atau promes disebut 
securitization of security. Bahasa Indonesianya yang sederhana ?engertaskan 
kertas.?Surat berharga ini kita namakan surat berharga sekunder, karena tidak 
langsung dijamin oleh barang yang berbentuk rumah, melainkan oleh kertas yang 
berwujud surat janji bayar oleh bank hipotik yang punya nama besar. 

Lehman memegang surat utang dari Bear Sterns dan juga dari banyak lagi 
perusahaan-perusahaan sejenis Bear Sterns. Seluruh surat ini dikelompokkkan 
lagi ke dalam wilayah-wilayah geografis, misalnya kelompok debitur California, 
kelompok debitur Atlanta dan seterusnya. Oleh Lehman kelompok-kelompok 
surat-surat utang dari bank-bank ternama ini dijadikan landasan untuk 
menerbitkan surat utang yang dibeli oleh Merril Lynch dan bank-bank lainnya 
dengan nama besar juga. Kita namakan surat utang ini surat utang tertsier. 

Demikianlah seterusnya, satu rumah sebagai jaminan menghasilkan uang tunai ke 
dalam kas dan bank-bank ternama dengan jumlah keseluruhan yang berlipat ganda. 
Media massa negara-negara maju menyebutkan bahwa bank-bank tersebut melakukan 
sliced and diced, yang secara harafiah berarti bahwa satu barang 
dipotong-potong dan kemudian masing-masing diperjudikan. Maka banyak bank yang 
debt to equity ratio-nya 35 kali. 

Sekarang kita bayangkan adanya pembeli rumah yang gagal bayar cicilan utang 
pokok beserta bunganya. Kalau satu tagihan dipotong-potong (sliced) menjadi 5, 
yang masing-masing dibeli oleh bank-bank yang berlainan, maka gagal bayar oleh 
satu debitur merugikan 5 bank. Ini sebagai contoh. Dalam kenyataannya bisa 
lebih dari 5 bank yang terkena kerugian besar, karena kepercayaan bank-bank 
besar di seluruh dunia kepada nama-nama besar investment banks dan hedge funds 
di AS. 

Dampak pertama adalah bahwa bank tidak percaya pada bank lain yang minta kredit 
kepadanya melalui pembelian surat berharganya. Ini berarti bahwa bank-bank yang 
tadinya memperoleh likuiditas dari sesama bank menjadi kekeringan likuiditas, 
sedangkan bank-bank yang termasuk kategori investment bank atau hedge fund 
tidak mendapatkan uangnya dari penabung individual, tetapi dari bank-bank 
komersial atau sesama investment bank atau sesama hedge funds. Jadi dampak 
pertama adalah kekeringan likuiditas. 

Dampak kedua adalah bahwa bank yang menagih piutangnya yang sudah jatuh tempo 
tidak memperoleh haknya, karena bank yang diutanginya tidak mampu membayarnya 
tepat waktu, karena pengutang utamanya, yaitu individu yang membeli rumah-rumah 
di atas batas kemampuannya memang tidak mampu memenuhi kewajibannya. 
Lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat dengan sadar memberikan kredit 
rumah kepada orang yang tidak mampu. Itulah sebabnya namanya subprime mortgage. 
Sub artinya di bawah. Prime artinya prima atau bonafid. Jadi dengan sadar 
memang memberikan kredit rumah kepada orang-orang yang tidak bonafid atau tidak 
layak memperoleh kredit. Bahwa kepada mereka toh diberikan, bahkan berlebihan, 
karena adanya praktek yang disebut sliced and diced tadi. Dampak kedua ini, 
yaitu bank-bank gagal bayar kepada sesama bank mengakibatkan terjadinya rush 
oleh bank-bank pemberi kredit, antara lain kepada Lehman Brothers. Maka Lehman 
musnah dalam waktu 24 jam. 

Ketika surat utang inferior yang disebut subprime mortgage macet, barulah 
ketahuan bahwa begini caranya memompakan angin ke dalam satu surat utang yang 
dijual berkali-kali dengan laba sangat besar. 

Ketika balon angin keuangan meledak, Henry Paulson sudah menjabat menteri 
keuangan AS. Dia melakukan tindakan-tindakan yang buat banyak orang 
membingungkan, tetapi buat beberapa orang, dia manusia yang hebat, tegas, dan 
menurutnya sendiri bersenjatakan bazooka. (Newsweek tanggal 29 September 2008 
halaman 20). Ada alasan untuk menganggapnya orang hebat. Dia mahasiswa Phi Beta 
Kappa dari Dartmouth. Penghubung antara gedung putihnya Nixon dan Departemen 
Perdagangan. MBA dari Harvard, bergabung dengan Goldman Sachs Chicago di tahun 
1974, menjadi CEO-nya dari 1998 sampai 2006. Dan sekarang menteri keuangan AS. 

Maka dialah yang ketiban beban berat menghadapi krisis yang maha dahsyat yang 
sedang berlangsung. Tindakan-tindakannya seperti semaunya sendiri atau bingung. 
Dia memfasilitasi JP Morgan untuk membeli Bear Sterns dengan harga hanya US$ 2 
per saham, yang dalam waktu singkat direvisi menjadi US$ 10. Fannie Mae dan 
Freddie Mac, perusahaan quasi milik pemerintah telah memberikan jaminan kredit 
sebesar US$ 5,4 trilyun. Untuk menyelamatkannya dua perusahaan penjaminan 
kredit tersebut dibeli oleh pemerintah dengan jumlah uang US$ 80 milyar. Lehman 
Brothers disuruh bangkrut saja. Merril Lynch dijual kepada Bank of America. 
Akhirnya dia menyodorkan usulan supaya pemerintah AS menyediakan uang US$ 700 
milyar untuk menanggulangi krisis. Kongres marah, karena alasan ideologi. 
Bagaimana mungkin bangsa yang kepercayaannya pada keajaiban mekanisme pasar 
bagaikan agama mendadak disuruh intervensi dengan uang yang begitu besar? Wall 
Street guncang luar biasa. Kongres rapat lagi dan ?erpaksa?menyetujui usulan 
Hank Paulson dan Bernanke, Presiden Federal Reserve, supaya pemerintah AS 
menggunakan uang rakyat pembayar pajaknya sebesar Rp 700 milyar untuk mencoba 
menyelesaikan masalah keuangan yang maha dahsyat itu. Saya katakan mencoba, 
karena setelah disetujui, Wall Street tetap saja terpuruk. 

Maka masyarakat menjadi panik, kepercayaan kepada siapapun hilang. Dengan 
adanya pengumuman bahwa perusahaan-perusahaan besar dengan nama besar dan 
sejarah yang panjang ternyata bangkrut, saham-sahamnya yang dipegang oleh 
masyarakat musnah nilainya. Masyarakat bertambah panik. 

Seperti telah dikemukakan sangat banyak kertas-kertas derivatif diciptakan oleh 
bank-bank dengan nama besar, sehingga tanpa ragu banyak bank-bank besar di 
seluruh dunia membelinya sebagai investasi mereka. Kertas-kertas berharga ini 
mendadak musnah harganya, sehingga banyak bank yang menghadapi kesulitan sangat 
kritis. 

Dampaknya terhadap Indonesia 

Secara rasional dampaknya terhadap Indonesia sangat kecil, karena hubungan 
ekonomi Indonesia dengan AS tidak ada artinya. Praktis tidak ada uang Indonesia 
yang ditanam ke dalam saham-saham AS yang sekarang nilainya merosot atau 
musnah. Hanya milik orang-orang Indonesia kaya dan super kaya yang tertanam 
dalam saham-saham perusahaan-perusahaan AS. Uang inipun jauh sebelum krisis 
sudah tidak pernah ada di Indonesia. 

Dampak yang riil dan sekarang terasa ialah dijualnya saham-saham di Bursa Efek 
Indonesia oleh para investor asing karena mereka membutuhkan uangnya di 
negaranya masing-masing. Maka IHSG anjlok. Uang rupiah hasil penjualannya 
dibelikan dollar, yang mengakibatkan nilai rupiah semakin turun. Namun sayang 
bahwa kenyataan yang kasat mata ini tidak mau diakui oleh pemerintah, sehingga 
pemerintah memilih membatasi Bursa Efek dalam ruang geraknya dengan cara 
mengekang Bursa Efek demikian rupa, sehingga praktis fungsi Bursa Efek 
ditiadakan. 

Kebijakan lain ialah mengumumkan memberikan jaminan keamanan dan keutuhan uang 
yang disimpan dalam bank-bank di Indonesia sampai batas Rp 2 milyar. Ini sama 
saja mengatakan kepada publik di seluruh dunia supaya jangan menyimpan uangnya 
di bank-bank di Indonesia yang melebihi Rp 2 milyar. 

Karena pengaruh teknologi informasi yang demikian canggihnya, semua 
berita-berita tentang krisis yang melanda negara-negara maju dapat diikuti. 
Pengaruh psikologisnya ialah kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya yang 
berarti konsumsi akan menyusut dengan segala akibatnya. 

Setelah Bank Indonesia menjadi independen ada kecenderungan terjadinya ego 
sektoral. Karena tugas pimpinan BI terfokus pada menjaga stabilitas nilai 
rupiah dan menjaga tingkat inflasi, semuanya dipertahankan at any cost. Maka di 
banyak negara maju yang menjadi cikal bakal pikiran independennya bank sentral 
menurunkan tingkat suku bunga, di Indonesia dinaikkan sangat tinggi yang lebih 
memperpuruk sektor riil yang sudah terpuruk karena menurunnya drastis 
permintaan dari negara-negara tujuan ekspor. 

Hal yang kurang dipahami adalah faktor-faktor, kekuatan-kekuatan serta 
mekanisme yang bekerja setelah meletusnya gelembung angin (bubble) keuangan 
menyeret perekonomian global ke dalam spiral yang menurun. 

Sejak lama kita mengenal adanya gejala gelombang pasang surutnya ekonomi atau 
business cycle atau conjunctuur yang selalu melekat pada sistem kapitalisme dan 
mekanisme pasar. Cikal bakal tercapainya titik balik teratas menuju pada 
kemerosotan, dan sebaliknya, cikal bakal tercapainya titik balik terendah 
menuju pada kegairahan dan peningkatan ekonomi bisa macam-macam. Tetapi pola 
kemerosotan dan pola peningkatannya selalu sama. 

Seberapa besar pemerintah mempunyai kemampuan mempengaruhinya tergantung pada 
struktur ekonomi dalam aspek perbandingannya antara ketersediaan modal dan 
ketersediaan tenaga kerja. Bagian ini dari ekonomi tidak banyak dibicarakan 
oleh para ahli. Apakah karena mereka kurang paham, ataukah gejala business 
cycle sudah mati, sudah kuno dan tidak berlaku lagi? 

Kita telusuri dalam tulisan berikutnya. 

Kirim email ke