Re: [bali] KRISIS KEUANGAN GLOBALlama-lama popo transmigran ke India ne....

Po, aku pikir melalui perdana BOS kita bisa melakukan sesuatu yang 
bermanfaat... kita harus berbuat tidak bisa hanya ngobrol aja.... ini sudah 
kebutuhan dan kita pasti bisa berbuat sesuatu... pelan mungkin tapi pasti....

memonitor dan mengevaluasi pekerjaan - pekerjaan muka muka yang terpampang itu 
lah yang musti jadi agenda kita kedepan, bagaimana? kita ngomongin lagi melalui 
BOS.....

Beliin oleh oleh dari india ya.... kecil aja yang murah aja.... hihihi (i know 
what you have in your mind....)

vieb
  ----- Original Message ----- 
  From: Popo Danes 
  To: [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Monday, November 17, 2008 1:37 PM
  Subject: [bali] Re: KRISIS KEUANGAN GLOBAL


  Semetons,

  Walaupun kita kita ini para pelaku ekonomi yang sangat keciiiillll .... ( 
kecuali Viebeke tentu ), memang kita tidak boleh berpaling dari realita ini, 
sebagai bagian dari peduli terhadap hidup dan perut kita masing masing. 
Semenjak terjadinya crash ini, saya selalu berfikir sangat positif, bahwa ini 
akan membawa banyak kebaikan. Paling tidak para pemain spekulan dan pemain 
coba-coba akan menyingkir dari arena, sementara yang bermain aman dan 
konservatif akan tetap menjadi penggerak ekonomi yang, mungkin lamban, tapi 
tidak beresiko.

  Di Bali gejala itu sudah nampak, dan sedikit menyejukkan, karena tidak 
sehiruk pikuk dulu melihat orang petantang-petenteng kepingin beli ini itu, jeg 
telah warisan ida dane mepatok, bawa surveyor,  mejajal ajak nyama tugelan di 
notaris, dsb. Saya merasa Bali akan bisa sedikit bernafas, sambil mudah-mudahan 
para ida dane bisa menahan diri untuk tidak tergiur iklan barang konsumtif yang 
tidak produktif, mungkin bisa bikin upakara yang lebih bersahaja dan lebih 
khusuk, dan seterusnya, ..............

  Saya lagi berada di New Delhi dan 3 hari terakhir banyak ketemu para pelaku 
ekonomi disini, yang ternyata punya pemikiran yang sama. Dan yang menarik, 
salah satu mereka bilang, modal itu kan tidak hanya uang, manusia juga modal. 
Dahulu populasi itu disadvantage, sekarang kita pikir ini sebuah advantage. 
Tentunya memang super benar, kalau kita semua produktif, punya kemauan, dan 
berpandangan jauh ke depan, dan siap dengan situasi yang serba kompetitif.

  Nah, sekarang giliran semeton yang dueg dueg, membantu kita untuk melihat 
posisi kita selanjutnya. Mestinya, ini sebuah kesempatan bagi  kita untuk 
mendapat jawabannya dari mereka yang wajahnya terpampang di setiap celah jalan 
di Bali. 

  Salam,
  pd


  On 11/16/08 11:41 AM, "Asana Viebeke Lengkong" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


    Krisis Keuangan Global (Artikel 1)
    Kamis, 06 Nopember 08

    Sebab-sebab dan Dampaknya terhadap Indonesia 

    Bahwa terjadi krisis maha dahsyat di Amerika Serikat yang menyebar ke semua 
negara di dunia sudah sangat banyak kita baca. Namun tidak banyak yang 
menjelaskan tentang sebab-sebabnya, dan juga tidak banyak yang menguraikan 
tentang landasan dari sebab-sebab itu, yaitu mashab pikiran atau ideologi yang 
memungkinkan dipraktekannya cara-cara penggelembungan di sektor keuangan. 

    Tentang yang pertama, media massa di negara-negara maju banyak yang 
mengulasnya. Intinya sebagai berikut. 

    Bank hipotik yang mengkhususkan diri memberikan kredit untuk pembelian 
rumah, dengan sendirinya mempunyai tagihan kepada penerima kredit yang 
menggunakan uangnya untuk membeli rumah. Jaminan atas kelancaran pembayaran 
cicilan utang pokok dan bunganya adalah rumah yang dibiayai oleh bank hipotik 
tersebut. Kita sebut tagihan ini tagihan primer, karena langsung dijamin oleh 
rumah, atau barang nyata. Tagihannya bank hipotik kepada para penerima kredit 
berbentuk kontrak kredit yang berwujud kertas. Istilahnya adalah pengertasan 
dari barang nyata berbentuk rumah. Karena kertas yang diciptakannya ini mutlak 
mewakili kepemilikan rumah sebelum hutang oleh pengutang lunas, maka kertas ini 
disebut surat berharga atau security. Pekerjaan mengertaskan barang nyata yang 
berbentuk rumah disebut securitization of asset. 

    Katakanlah bank hipotik ini bernama Bear Sterns. Bear Sterns mengkonversi 
uang tunainya ke dalam kewajiban cicilan utang pokok beserta pembayaran bunga 
oleh para penghutang atau debitur. Jadi uang tunai atau likuiditasnya 
berkurang. Namun Bear Sterns memegang surat berharga atau security yang 
berbentuk kontrak kredit atau tagihan kepada para debiturnya. Bear Sterns 
mengelompokkan surat-surat tagihan tersebut ke dalam kelompok-kelompok yang 
setiap kelompoknya mengandung surat tagih dengan tanggal jatuh tempo pembayaran 
yang sama. Setiap kelompok ini dijadikan landasan untuk menerbitkan surat utang 
yang dijual kepada Lehman Brothers (misalnya) dan bank-bank lain yang semuanya 
mempunyai nama besar. Yang sekarang dilakukan oleh Bear Sterns bukan 
menerbitkan surat piutang, tetapi surat janji bayar atau surat utang. Atas 
dasar surat piutang kepada ratusan atau ribuan debiturnya, Bear Sterns 
menerbitkan surat utang kepada Lehman. Uang tunai hasil hutangnya dari Lehman 
dipakai untuk memberi kredit lagi kepada mereka yang membutuhkan rumah. 
Seringkali untuk membeli rumah kedua, ketiga oleh orang yang sama, sehingga 
potensi kreditnya macet bertambah besar. 

    Penerbitan surat berharga berbentuk surat janji bayar atau promes disebut 
securitization of security. Bahasa Indonesianya yang sederhana 搈engertaskan 
kertas.?Surat berharga ini kita namakan surat berharga sekunder, karena tidak 
langsung dijamin oleh barang yang berbentuk rumah, melainkan oleh kertas yang 
berwujud surat janji bayar oleh bank hipotik yang punya nama besar. 

    Lehman memegang surat utang dari Bear Sterns dan juga dari banyak lagi 
perusahaan-perusahaan sejenis Bear Sterns. Seluruh surat ini dikelompokkkan 
lagi ke dalam wilayah-wilayah geografis, misalnya kelompok debitur California, 
kelompok debitur Atlanta dan seterusnya. Oleh Lehman kelompok-kelompok 
surat-surat utang dari bank-bank ternama ini dijadikan landasan untuk 
menerbitkan surat utang yang dibeli oleh Merril Lynch dan bank-bank lainnya 
dengan nama besar juga. Kita namakan surat utang ini surat utang tertsier. 

    Demikianlah seterusnya, satu rumah sebagai jaminan menghasilkan uang tunai 
ke dalam kas dan bank-bank ternama dengan jumlah keseluruhan yang berlipat 
ganda. Media massa negara-negara maju menyebutkan bahwa bank-bank tersebut 
melakukan sliced and diced, yang secara harafiah berarti bahwa satu barang 
dipotong-potong dan kemudian masing-masing diperjudikan. Maka banyak bank yang 
debt to equity ratio-nya 35 kali. 

    Sekarang kita bayangkan adanya pembeli rumah yang gagal bayar cicilan utang 
pokok beserta bunganya. Kalau satu tagihan dipotong-potong (sliced) menjadi 5, 
yang masing-masing dibeli oleh bank-bank yang berlainan, maka gagal bayar oleh 
satu debitur merugikan 5 bank. Ini sebagai contoh. Dalam kenyataannya bisa 
lebih dari 5 bank yang terkena kerugian besar, karena kepercayaan bank-bank 
besar di seluruh dunia kepada nama-nama besar investment banks dan hedge funds 
di AS. 

    Dampak pertama adalah bahwa bank tidak percaya pada bank lain yang minta 
kredit kepadanya melalui pembelian surat berharganya. Ini berarti bahwa 
bank-bank yang tadinya memperoleh likuiditas dari sesama bank menjadi 
kekeringan likuiditas, sedangkan bank-bank yang termasuk kategori investment 
bank atau hedge fund tidak mendapatkan uangnya dari penabung individual, tetapi 
dari bank-bank komersial atau sesama investment bank atau sesama hedge funds. 
Jadi dampak pertama adalah kekeringan likuiditas. 

    Dampak kedua adalah bahwa bank yang menagih piutangnya yang sudah jatuh 
tempo tidak memperoleh haknya, karena bank yang diutanginya tidak mampu 
membayarnya tepat waktu, karena pengutang utamanya, yaitu individu yang membeli 
rumah-rumah di atas batas kemampuannya memang tidak mampu memenuhi 
kewajibannya. Lembaga-lembaga keuangan di Amerika Serikat dengan sadar 
memberikan kredit rumah kepada orang yang tidak mampu. Itulah sebabnya namanya 
subprime mortgage. Sub artinya di bawah. Prime artinya prima atau bonafid. Jadi 
dengan sadar memang memberikan kredit rumah kepada orang-orang yang tidak 
bonafid atau tidak layak memperoleh kredit. Bahwa kepada mereka toh diberikan, 
bahkan berlebihan, karena adanya praktek yang disebut sliced and diced tadi. 
Dampak kedua ini, yaitu bank-bank gagal bayar kepada sesama bank mengakibatkan 
terjadinya rush oleh bank-bank pemberi kredit, antara lain kepada Lehman 
Brothers. Maka Lehman musnah dalam waktu 24 jam. 

    Ketika surat utang inferior yang disebut subprime mortgage macet, barulah 
ketahuan bahwa begini caranya memompakan angin ke dalam satu surat utang yang 
dijual berkali-kali dengan laba sangat besar. 

    Ketika balon angin keuangan meledak, Henry Paulson sudah menjabat menteri 
keuangan AS. Dia melakukan tindakan-tindakan yang buat banyak orang 
membingungkan, tetapi buat beberapa orang, dia manusia yang hebat, tegas, dan 
menurutnya sendiri bersenjatakan bazooka. (Newsweek tanggal 29 September 2008 
halaman 20). Ada alasan untuk menganggapnya orang hebat. Dia mahasiswa Phi Beta 
Kappa dari Dartmouth. Penghubung antara gedung putihnya Nixon dan Departemen 
Perdagangan. MBA dari Harvard, bergabung dengan Goldman Sachs Chicago di tahun 
1974, menjadi CEO-nya dari 1998 sampai 2006. Dan sekarang menteri keuangan AS. 

    Maka dialah yang ketiban beban berat menghadapi krisis yang maha dahsyat 
yang sedang berlangsung. Tindakan-tindakannya seperti semaunya sendiri atau 
bingung. Dia memfasilitasi JP Morgan untuk membeli Bear Sterns dengan harga 
hanya US$ 2 per saham, yang dalam waktu singkat direvisi menjadi US$ 10. Fannie 
Mae dan Freddie Mac, perusahaan quasi milik pemerintah telah memberikan jaminan 
kredit sebesar US$ 5,4 trilyun. Untuk menyelamatkannya dua perusahaan 
penjaminan kredit tersebut dibeli oleh pemerintah dengan jumlah uang US$ 80 
milyar. Lehman Brothers disuruh bangkrut saja. Merril Lynch dijual kepada Bank 
of America. Akhirnya dia menyodorkan usulan supaya pemerintah AS menyediakan 
uang US$ 700 milyar untuk menanggulangi krisis. Kongres marah, karena alasan 
ideologi. Bagaimana mungkin bangsa yang kepercayaannya pada keajaiban mekanisme 
pasar bagaikan agama mendadak disuruh intervensi dengan uang yang begitu besar? 
Wall Street guncang luar biasa. Kongres rapat lagi dan 搕erpaksa?menyetujui 
usulan Hank Paulson dan Bernanke, Presiden Federal Reserve, supaya pemerintah 
AS menggunakan uang rakyat pembayar pajaknya sebesar Rp 700 milyar untuk 
mencoba menyelesaikan masalah keuangan yang maha dahsyat itu. Saya katakan 
mencoba, karena setelah disetujui, Wall Street tetap saja terpuruk. 

    Maka masyarakat menjadi panik, kepercayaan kepada siapapun hilang. Dengan 
adanya pengumuman bahwa perusahaan-perusahaan besar dengan nama besar dan 
sejarah yang panjang ternyata bangkrut, saham-sahamnya yang dipegang oleh 
masyarakat musnah nilainya. Masyarakat bertambah panik. 

    Seperti telah dikemukakan sangat banyak kertas-kertas derivatif diciptakan 
oleh bank-bank dengan nama besar, sehingga tanpa ragu banyak bank-bank besar di 
seluruh dunia membelinya sebagai investasi mereka. Kertas-kertas berharga ini 
mendadak musnah harganya, sehingga banyak bank yang menghadapi kesulitan sangat 
kritis. 

    Dampaknya terhadap Indonesia 

    Secara rasional dampaknya terhadap Indonesia sangat kecil, karena hubungan 
ekonomi Indonesia dengan AS tidak ada artinya. Praktis tidak ada uang Indonesia 
yang ditanam ke dalam saham-saham AS yang sekarang nilainya merosot atau 
musnah. Hanya milik orang-orang Indonesia kaya dan super kaya yang tertanam 
dalam saham-saham perusahaan-perusahaan AS. Uang inipun jauh sebelum krisis 
sudah tidak pernah ada di Indonesia. 

    Dampak yang riil dan sekarang terasa ialah dijualnya saham-saham di Bursa 
Efek Indonesia oleh para investor asing karena mereka membutuhkan uangnya di 
negaranya masing-masing. Maka IHSG anjlok. Uang rupiah hasil penjualannya 
dibelikan dollar, yang mengakibatkan nilai rupiah semakin turun. Namun sayang 
bahwa kenyataan yang kasat mata ini tidak mau diakui oleh pemerintah, sehingga 
pemerintah memilih membatasi Bursa Efek dalam ruang geraknya dengan cara 
mengekang Bursa Efek demikian rupa, sehingga praktis fungsi Bursa Efek 
ditiadakan. 

    Kebijakan lain ialah mengumumkan memberikan jaminan keamanan dan keutuhan 
uang yang disimpan dalam bank-bank di Indonesia sampai batas Rp 2 milyar. Ini 
sama saja mengatakan kepada publik di seluruh dunia supaya jangan menyimpan 
uangnya di bank-bank di Indonesia yang melebihi Rp 2 milyar. 

    Karena pengaruh teknologi informasi yang demikian canggihnya, semua 
berita-berita tentang krisis yang melanda negara-negara maju dapat diikuti. 
Pengaruh psikologisnya ialah kehati-hatian dalam membelanjakan uangnya yang 
berarti konsumsi akan menyusut dengan segala akibatnya. 

    Setelah Bank Indonesia menjadi independen ada kecenderungan terjadinya ego 
sektoral. Karena tugas pimpinan BI terfokus pada menjaga stabilitas nilai 
rupiah dan menjaga tingkat inflasi, semuanya dipertahankan at any cost. Maka di 
banyak negara maju yang menjadi cikal bakal pikiran independennya bank sentral 
menurunkan tingkat suku bunga, di Indonesia dinaikkan sangat tinggi yang lebih 
memperpuruk sektor riil yang sudah terpuruk karena menurunnya drastis 
permintaan dari negara-negara tujuan ekspor. 

    Hal yang kurang dipahami adalah faktor-faktor, kekuatan-kekuatan serta 
mekanisme yang bekerja setelah meletusnya gelembung angin (bubble) keuangan 
menyeret perekonomian global ke dalam spiral yang menurun. 

    Sejak lama kita mengenal adanya gejala gelombang pasang surutnya ekonomi 
atau business cycle atau conjunctuur yang selalu melekat pada sistem 
kapitalisme dan mekanisme pasar. Cikal bakal tercapainya titik balik teratas 
menuju pada kemerosotan, dan sebaliknya, cikal bakal tercapainya titik balik 
terendah menuju pada kegairahan dan peningkatan ekonomi bisa macam-macam. 
Tetapi pola kemerosotan dan pola peningkatannya selalu sama. 

    Seberapa besar pemerintah mempunyai kemampuan mempengaruhinya tergantung 
pada struktur ekonomi dalam aspek perbandingannya antara ketersediaan modal dan 
ketersediaan tenaga kerja. Bagian ini dari ekonomi tidak banyak dibicarakan 
oleh para ahli. Apakah karena mereka kurang paham, ataukah gejala business 
cycle sudah mati, sudah kuno dan tidak berlaku lagi? 

    Kita telusuri dalam tulisan berikutnya. 




Kirim email ke