interesting article... vieb
----- Original Message -----
From: Abdul Rohim
To: s t ; [email protected]
Sent: Saturday, January 10, 2009 3:22 AM
Subject: [media-bali] Saat Ketut Bersanding dengan Muhammad
Saat Ketut Bersanding dengan Muhammad
oleh Ade P Marboen
Ada anekdot tentang Bali.
Syahdan, seorang muda dari Jakarta datang ke Denpasar untuk liburan dan
mencari Made, teman karibnya waktu masih kuliah di Yogyakarta. Patokan alamat
rumah sudah ditemukan, dan tibalah untuk menanyakan di mana rupanya si Made,
temannya itu, kepada warga setempat yang sedang santai merokok di ujung gang.
"Pak, di mana ya rumahnya Made?," begitu orang Jakarta itu bertanya.
Bapak tua yang ditanya itu balas bertanya, "Made siapa? Anaknya siapa?
Banjarnya mana? Di sini banyak sekali yang namanya Made, ibu itu juga Made
namanya..." Alhasil, orang Jakarta itu jadi melongo karena bagi kebanyakan
warga Ibukota Indonesia, nama orang cukup tunggal dan itupun terkadang cuma
nama panggilan.
Itulah satu sisi Bali, nama boleh sama tetapi asal-usul kelahiran dan
dusun (banjar) sangat penting. Belum lagi kalau si orang Bali itu memiliki
pekerjaan spesifik, misalnya tukang kenteng logam, maka nama pokoknya,
katakanlah Putu, diimbuhi Pande. Jadinya, orang itu dinamai Putu Pande, dan
masih banyak lagi contoh serupa.
Bali selama ini dan sejak sebelum masa Mataram, dikenal sebagai "enklave"
agama Hindhu di Tanah Air, berbarengan dengan satu wilayah di Kalimantan
Tengah, yang menganut agama itu.
Nyaris seluruh penduduknya beragama Hindhu (Bali), yang berbeda dalam
beberapa ritualnya dengan Hindhu Kaharingan di Kalimantan Tengah, atau Hindhu
Tengger di Gunung Bromo, Jawa Timur.
Di tengah-tengah mayoritas pemeluk Hindhu Bali-nya, ada juga komunitas
non Hindhu Bali di sana, yang bisa hidup berdampingan secara serasi dari abad
ke abad dengan saudaranya yang beragama mayoritas.
Berkendara dari Denpasar ke Singaraja di utara, menyusuri Gunung Batu
Karu yang bertetangga dengan Gunung Agung, selepas Danau Bedugul, tibalah di
satu desa komunitas Islam di Kabupaten Singaraja.
Namanya Desa Pagayaman, atau Desa Pegayaman, menurut lafal bahasa Bali
setempat. Desa ini diketahui kalangan ilmuwan, bukan dihuni orang Bali asli,
alias Bali Age.
Desa itu terletak di ketinggian dengan kesejukan yang membuat orang malas
berlalu dari sana. Tentu saja, ukiran di berbagai tempat tertentu, bahkan itu
pagar rumah, bisa disapu mata.
Pakaian warganya yang tidak sama dengan orang Bali lain, yaitu mengenakan
"kamen" (kain) atau sarung dan peci bagi kalangan lelakinya, demikian juga
bahasanya, dialek Singaraja yang cepat sekali pengucapannya.
Menyusuri bibir Desa Pagayaman, di Kecamatan Sukasada, Kabupaten
Singaraja, ada sesuatu yang berbeda, yaitu mesjid di beberapa lokasi yang
sangat mudah dilihat.
Desa itu memang dihuni sebagian besar warga muslim, namun juga ada warga
Hindhu Bali-nya. Di desa itu, tata pergaulan lelaki dan perempuan sangat jelas
diatur, karena perempuan yang berbusana tertutup dilarang berjalan keluar rumah
dengan lelaki bukan muhrimnya.
Bukan cuma hal itu saja karena dalam hal berpakaian ini, aturan "ketat"
juga masih berlaku dari dulu hingga kini.
Yang lelaki wajib hukumnya memakai sarung dengan peci sekalipun
belakangan ini banyak anak mudanya yang mulai keluar dari "pakem" ini, dengan
memilih memakai celana panjang atau celana pendek dan berkaus biasa.
Sedangkan perempuannya, masih patuh dengan "pakem" memakai kamen,
selendang, dan kerudung. Di kaki mereka dan kaum lelakinya, biasanya sandal
jepit atau sandal kulit. Salah satu tujuan praktisnya adalah untuk ke mesjid
bershalat agar mudah saat mengambil air wudhu.
Itu baru di tataran busana, karena dalam tataran pelaksanaan akidah
religi, mereka sangat mematuhi shalat lima waktu.
Pada subuh hari, saat udara masih sangat dingin, mesjid-mesjid sudah
dipenuhi umat. Azan juga berkumandang dengan pelafalan yang fasih, layaknya
kalangan muslim di Pulau Jawa.
Bukan cuma sekedar bershalat, karena mereka juga menjalankan ajaran Islam
secara baik, termasuk dalam berdampingan hidup dengan saudaranya yang bukan
muslim.
Tidak pernah terdengar terjadi kerusuhan berlatar agama di sana dan
sekitarnya, semisal di Mesjid Jami di tepi Danau Bedugul, karena peran pondok
pesantren masih sangat penting di sana.
Seorang penghulu desa, Nengah Zakaria al-Ansyori, berkomentar, "Kami
hidup dalam Islam yang juga hidup di sini sehari-hari, jadi tidak akan
menimbulkan masalah berarti.." Penghargaan terhadap adat-istiadat juga terjadi,
seperti pada bulan puasa.
Masyarakat Desa Pagayaman biasa merayakan bulan suci itu dengan nilai
adat lokal. Membuat tape alias "penapean", menyembelih hewan konsumsi
(penampahan), dan membuat aneka kue untuk disantap bersama atau "penyajanan",
yang kemudian dibagi-bagikan kepada tetangga juga dilakukan mereka.
Dalam budaya orang Bali, hal-hal ini biasa dilakukan saat Galungan dan
Kuningan.
Demikianlah, kalau dirunut ke belakang, warga Desa Pagayaman sebanyak
sekitar 5.000 jiwa itu berasal dari Pulau Jawa, karena pada 1664 sebagian
tentara Blambangan mengirimkan laskarnya ke Bali untuk membantu Raja Buleleng
yang sedang berperang dengan Raja Blambangan.
Para tentara Blambangan ini kebanyakan pawang gajah yang berperang dari
punggung hewan darat terbesar itu.
Mereka membantu kemenangan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Panji Sakti, dan
sebagai hadiahnya mereka diangkat menjadi pengawal puri dan boleh bermukim di
selatan Singaraja. Itulah yang kemudian menjadi Desa Pegayaman, dari asalnya
satu "hutan gatep".
Akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya Bali kemudian terjadi, di
antaranya tentang penamaan orang-orang yang tetap menjadi muslim ini. Makanya,
mudah saja mencari orang bernama I Made Zulkarnain, Ni Nyoman Fatimah, atau
Ketut Muhammad Soleh.
Akan tetapi, ada beda antara mereka dan orang Bali kebanyakan dalam
menamakan anaknya.
Orang Bali mengenal catur warga, yaitu empat anak, dengan urutan Putu
atau Gde atau Wayan (anak pertama), Made atau Kadek atau Nengah (anak kedua),
Nyoman atau Komang (anak ketiga), dan Ketut (anak keempat).
Kalau anaknya lima atau lebih, maka penamaan anak-anak itu akan berulang
lagi ke Putu dan seterusnya. Bagi warga Desa Pagayaman, jika anaknya lebih dari
empat, maka "kelebihan" anak itu akan tetap dinamakan Ketut, hanya dibedakan
nama kedua setelah Ketut itu.
Bersandingnya Ketut dan Muhammad dalam satu nama di Pagamayaman merupakan
cermin terbiasanya warga muslim bersanding baik dengan saudaranya yang lain di
Bali. (*)
COPYRIGHT © 2009
http://antara.co.id/arc/2009/1/9/saat-ketut-bersanding-dengan-muhammad/
http://media-klaten.blogspot.com/
salam
Abdul Rohim
__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar
MARKETPLACE
--------------------------------------------------------------------------------
>From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe Recent Activity
a.. 5New Members
Visit Your Group
Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.
Need traffic?
Drive customers
With search ads
on Yahoo!
Sitebuilder
Build a web site
quickly & easily
with Sitebuilder.
.
__,_._,___