andai di semua tempat, dunia memang seindah itu... 
hehehehe

--- On Sun, 1/11/09, Asana Viebeke Lengkong <[email protected]> wrote:

From: Asana Viebeke Lengkong <[email protected]>
Subject: [bali] Fw: [media-bali] Saat Ketut Bersanding dengan Muhammad
To: [email protected], [email protected]
Date: Sunday, January 11, 2009, 5:34 PM


 
interesting article... vieb
----- Original Message ----- 
From: Abdul Rohim 
To: s t ; [email protected] 
Sent: Saturday, January 10, 2009 3:22 AM
Subject: [media-bali] Saat Ketut Bersanding dengan Muhammad











Saat Ketut Bersanding dengan Muhammad

oleh Ade P Marboen

Ada anekdot tentang Bali.

Syahdan, seorang muda dari Jakarta datang ke Denpasar untuk liburan dan mencari 
Made, teman karibnya waktu masih kuliah di Yogyakarta. Patokan alamat rumah 
sudah ditemukan, dan tibalah untuk menanyakan di mana rupanya si Made, temannya 
itu, kepada warga setempat yang sedang santai merokok di ujung gang.

"Pak, di mana ya rumahnya Made?," begitu orang Jakarta itu bertanya.

Bapak tua yang ditanya itu balas bertanya, "Made siapa? Anaknya siapa? 
Banjarnya mana? Di sini banyak sekali yang namanya Made, ibu itu juga Made 
namanya..." Alhasil, orang Jakarta itu jadi melongo karena bagi kebanyakan 
warga Ibukota Indonesia, nama orang cukup tunggal dan itupun terkadang cuma 
nama panggilan.

Itulah satu sisi Bali,  nama boleh sama tetapi asal-usul kelahiran dan dusun 
(banjar) sangat penting. Belum lagi kalau si orang Bali itu memiliki pekerjaan 
spesifik, misalnya tukang kenteng logam, maka nama pokoknya, katakanlah Putu, 
diimbuhi Pande. Jadinya, orang itu dinamai Putu Pande, dan masih banyak lagi 
contoh  serupa.

Bali selama ini dan sejak sebelum masa Mataram, dikenal sebagai "enklave" agama 
Hindhu di Tanah Air, berbarengan dengan satu wilayah di Kalimantan Tengah, yang 
menganut agama itu.

Nyaris seluruh penduduknya beragama Hindhu (Bali), yang  berbeda dalam beberapa 
ritualnya dengan Hindhu Kaharingan di Kalimantan Tengah, atau Hindhu Tengger di 
Gunung Bromo, Jawa Timur.

Di tengah-tengah mayoritas pemeluk Hindhu Bali-nya, ada juga komunitas non 
Hindhu Bali di sana, yang bisa hidup berdampingan secara serasi dari abad ke 
abad dengan saudaranya yang beragama mayoritas.

Berkendara dari Denpasar ke Singaraja di utara, menyusuri Gunung Batu Karu yang 
bertetangga dengan Gunung Agung, selepas Danau Bedugul, tibalah di satu desa 
komunitas Islam di Kabupaten Singaraja. 

Namanya Desa Pagayaman, atau Desa Pegayaman, menurut lafal bahasa Bali 
setempat. Desa ini diketahui kalangan ilmuwan, bukan dihuni orang Bali asli, 
alias Bali Age.

Desa itu terletak di ketinggian dengan kesejukan yang membuat orang malas 
berlalu dari sana. Tentu saja, ukiran di berbagai tempat tertentu, bahkan itu 
pagar rumah, bisa disapu mata.

Pakaian warganya yang tidak sama dengan orang Bali lain, yaitu mengenakan 
"kamen" (kain) atau sarung dan peci bagi kalangan lelakinya, demikian juga 
bahasanya, dialek Singaraja yang cepat sekali pengucapannya.

Menyusuri bibir Desa Pagayaman, di Kecamatan Sukasada, Kabupaten Singaraja, ada 
sesuatu yang berbeda, yaitu mesjid di beberapa lokasi yang sangat mudah dilihat.

Desa itu memang dihuni sebagian besar warga muslim, namun juga ada warga Hindhu 
Bali-nya. Di desa itu, tata pergaulan lelaki dan perempuan sangat jelas diatur, 
karena perempuan yang berbusana tertutup dilarang berjalan keluar rumah dengan 
lelaki bukan muhrimnya.

Bukan cuma hal itu saja karena dalam hal berpakaian ini, aturan "ketat" juga 
masih berlaku dari dulu hingga kini.

Yang lelaki wajib hukumnya memakai sarung dengan peci sekalipun belakangan ini 
banyak anak mudanya yang mulai keluar dari "pakem" ini, dengan memilih memakai 
celana panjang atau celana pendek dan berkaus biasa.

Sedangkan perempuannya, masih patuh dengan "pakem" memakai kamen, selendang, 
dan kerudung. Di kaki mereka dan kaum lelakinya, biasanya sandal jepit atau 
sandal kulit. Salah satu tujuan praktisnya adalah untuk ke mesjid bershalat 
agar mudah saat mengambil air wudhu.

Itu baru di tataran busana, karena dalam tataran pelaksanaan akidah religi, 
mereka sangat mematuhi shalat lima waktu.

Pada subuh hari, saat udara masih sangat dingin, mesjid-mesjid sudah dipenuhi 
umat. Azan juga berkumandang dengan pelafalan yang fasih, layaknya kalangan 
muslim di Pulau Jawa.

Bukan cuma sekedar bershalat, karena mereka juga menjalankan ajaran Islam 
secara baik, termasuk dalam berdampingan hidup dengan saudaranya yang bukan 
muslim. 

Tidak pernah  terdengar terjadi kerusuhan berlatar agama di sana dan 
sekitarnya, semisal di Mesjid Jami di tepi Danau Bedugul, karena peran pondok 
pesantren masih sangat penting di sana.

Seorang penghulu desa, Nengah Zakaria al-Ansyori, berkomentar, "Kami hidup 
dalam Islam yang juga hidup di sini sehari-hari, jadi tidak akan menimbulkan 
masalah berarti.." Penghargaan terhadap adat-istiadat juga terjadi, seperti 
pada bulan puasa.

Masyarakat Desa Pagayaman biasa merayakan bulan suci itu dengan nilai adat 
lokal. Membuat tape alias "penapean", menyembelih hewan konsumsi (penampahan) , 
dan membuat aneka kue untuk disantap bersama atau "penyajanan" , yang kemudian 
dibagi-bagikan kepada tetangga juga dilakukan mereka.

Dalam budaya orang Bali, hal-hal ini biasa dilakukan saat Galungan dan Kuningan.

Demikianlah, kalau dirunut ke belakang, warga Desa Pagayaman sebanyak sekitar 
5.000 jiwa itu berasal dari Pulau Jawa, karena pada 1664 sebagian tentara 
Blambangan mengirimkan laskarnya ke Bali untuk membantu Raja Buleleng yang 
sedang berperang dengan Raja Blambangan.

Para tentara Blambangan ini kebanyakan pawang gajah yang berperang dari 
punggung hewan darat terbesar itu.

Mereka membantu kemenangan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Panji Sakti, dan 
sebagai hadiahnya mereka diangkat menjadi pengawal puri dan boleh bermukim di 
selatan Singaraja. Itulah yang kemudian menjadi Desa Pegayaman, dari asalnya 
satu "hutan gatep".

Akulturasi antara nilai-nilai Islam dan budaya Bali kemudian terjadi, di 
antaranya tentang penamaan orang-orang yang tetap menjadi muslim ini. Makanya, 
mudah saja mencari orang bernama I Made Zulkarnain, Ni Nyoman Fatimah, atau 
Ketut Muhammad Soleh.

Akan tetapi, ada beda antara mereka dan orang Bali kebanyakan dalam menamakan 
anaknya.

Orang Bali mengenal catur warga, yaitu empat anak, dengan urutan Putu atau Gde 
atau Wayan (anak pertama), Made atau Kadek atau Nengah (anak kedua), Nyoman 
atau Komang (anak ketiga), dan Ketut (anak keempat). 

Kalau anaknya lima atau lebih, maka penamaan anak-anak itu akan berulang lagi 
ke Putu dan seterusnya. Bagi warga Desa Pagayaman, jika anaknya lebih dari 
empat, maka "kelebihan" anak itu akan tetap dinamakan Ketut, hanya dibedakan 
nama kedua setelah Ketut itu.

Bersandingnya Ketut dan Muhammad dalam satu nama di Pagamayaman merupakan 
cermin terbiasanya warga muslim  bersanding baik dengan saudaranya yang lain di 
Bali. (*)


COPYRIGHT © 2009
 
http://antara. co.id/arc/ 2009/ 1/9/saat-ketut- bersanding- dengan-muhammad/

 
http://media- klaten.blogspot. com/
 
 
 
salam
Abdul Rohim
__._,_.___ 
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic 
Messages | Files | Photos | Links | Database | Polls | Members | Calendar 

MARKETPLACE



>From kitchen basics to easy recipes - join the Group from Kraft Foods 
 
Change settings via the Web (Yahoo! ID required) 
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to 
Traditional 
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe 



Recent Activity


 5
New MembersVisit Your Group 


Yahoo! Finance
It's Now Personal
Guides, news,
advice & more.

Need traffic?
Drive customers
With search ads
on Yahoo!

Sitebuilder
Build a web site
quickly & easily
with Sitebuilder.
. 
__,_._,___ 
#yiv1528627832 #ygrp-mkp {
BORDER-RIGHT:#d8d8d8 1px solid;PADDING-RIGHT:14px;BORDER-TOP:#d8d8d8 1px 
solid;PADDING-LEFT:14px;PADDING-BOTTOM:0px;MARGIN:14px 0px;BORDER-LEFT:#d8d8d8 
1px solid;PADDING-TOP:0px;BORDER-BOTTOM:#d8d8d8 1px solid;FONT-FAMILY:Arial;}
#yiv1528627832 #ygrp-mkp HR {
BORDER-RIGHT:#d8d8d8 1px solid;BORDER-TOP:#d8d8d8 1px solid;BORDER-LEFT:#d8d8d8 
1px solid;BORDER-BOTTOM:#d8d8d8 1px solid;}
#yiv1528627832 #ygrp-mkp #hd {
FONT-WEIGHT:bold;FONT-SIZE:85%;MARGIN:10px 0px;COLOR:#628c2a;LINE-HEIGHT:122%;}
#yiv1528627832 #ygrp-mkp #ads {
MARGIN-BOTTOM:10px;}
#yiv1528627832 #ygrp-mkp .ad {
PADDING-RIGHT:0px;PADDING-LEFT:0px;PADDING-BOTTOM:0px;PADDING-TOP:0px;}
#yiv1528627832 #ygrp-mkp .ad A {
COLOR:#0000ff;TEXT-DECORATION:none;}












      

Kirim email ke