apa yang pak wayan paparkan adalah realita hidup dijaman kaliyuge /edan. tontonan yang menjadi tuntunan dan lakunya semua pakai topeng sehingga susah buat kita untuk melihat kebenaran objective, kadang bahkan fakta bisa diputar balik sehingga yang benar jadi salah juga sebaliknya yang salah bisa jadi benar. meraka berebut tanpa peduli hukum karma, berebut memenuhi kantong keserakahan, edan, edan, edan tenan....., tapi dibalik semua itu ada pesan moral dari prabu joyoboyo ratusan tahun lalu yang mengingatkan kita akan seleksi alam di jaman edan. "ora melok edan ora keduman, tapi yang selamat dan rahayu adalah orang yang ELING lan WASPADA. eling akan kekuasaan Hyang Widhi, eling akan atman di dalam semua ciptaannya dan waspada dengan selalu mengingat serta mengaplikasikan hakekat hukum karma serta hakekat re inkarnasi yang berarti masih ada kehidupan setelah kita mati, karena yang mati dan hancur hanyalah badan wadag yang kembali pada unsur panca maha butha sedangkan atman tidak pernah mati dan akan menjalani hukuman yang sejati, hukuman yang sebenarnya tanpa badan wadag. waduh ngeri ya pak.....hehehehhehehhehe salam, gede suardana
________________________________ From: wayan artika <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tuesday, June 9, 2009 6:59:55 AM Subject: [bali] Re: MANOHARA & PRITA Satu hal yang sering kita lupakan di tengah teknologi dan politik adalah, dunia citra yang dibangun oleh perusahan atau industri TV. TV membuat kita benci, tertawa, kecewa, protes, putus asa, menangis, dan lain-lain. Sedemikian kuat pengarushnya bagi kita. Mengapa TV sangat kita percayai? Apa saja yang diTV berubah dari fakta sejati ke fakta konstruksi. TV juga bikin kita ingat 100 tahun lalu, apa yang terjadi. Tapi TV juga bikin kita lupa dan tak peduli. TV menjadi pemandu kita dan acuan kita. Kita ini beragama TV. Pada konteks ini tak hanya TV tapi juga media. TV dan media adalah teknik dan kultur yang amat tak berpihak. TV bisa menjadi apa saja bergantung siapa yang mengendalikan dan mau apa. Siapa yang bisa beli ruang? Hal inilah yang harus kita pikirkan untuk menyikapi masalah ini. Tanpa TV, Manohara tak jadi perbincangan. Demikian juga Prita. Sangat tak pasti. Salam ARTIKA --- On Sat, 6/6/09, nyoman suwela <[email protected]> wrote: > From: nyoman suwela <[email protected]> > Subject: [bali] Re: MANOHARA & PRITA > To: [email protected] > Date: Saturday, June 6, 2009, 10:58 PM > YANG JELITA DAN JELATA > MANOHARA DAN PRITA > atau MANUKWARA, tarian di Bali? > He..he..he... > Bagi saya jelas bedanya. Apa yang dialami Manohara, > kemungkinan sangat kecil dialami oleh setiap orang. The > possibilty of being married by a prince is bloody remote. > > Tetapi, apa yang dialami oleh Ibu Prita bisa menimpa > setiap orang. > Oleh karena itu, bisa dipahami kalau apa yang menimpa > Ibu Prita mendapat dukungan demikian luasnya. > Saya ingat dengan suatu tulisan di suatu T-shirt: Law > like spider web. It catches a fly but lets a hawk goes free. > > Yang penting kita harus bisa menarik pelajaran dari > kasus Ibu Prita ini for the best or for the worst. > C U soon. > NS > --- On Sat, 6/6/09, Asana Viebeke Lengkong > <[email protected]> wrote: > > > From: Asana Viebeke Lengkong <[email protected]> > Subject: [bali] MANOHARA & PRITA > To: [email protected], [email protected] > Date: Saturday, June 6, 2009, 9:53 AM > > > > > > > > > YANG JELITA DAN > JELATA..... > > > > > -- Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia. Publikasi : http://www.lp3b.or.id Arsip : http://bali.lp3b.or.id Moderators : <mailto: [email protected]> Berlangganan : <mailto: [email protected]> Henti Langgan : <mailto: [email protected]>
