Semeton,

Masak karena menggunakan Tari Pendet kita mau perang sama Malaysia?
Kita sepatutnya melakukan intropeksi! 

Karena pertumbuhan ekonominya turun, untuk menggalakkan tourisme mereka 
menggunakan berbagai cara reklmame menarik turis.Maklum Malaysia miskin budaya 
ekspresif, Indonesia kaya budaya ekspresif. Budaya dagang lebih merasuk di 
Malaysia, mereka menerapkan budaya teknologi. Sedangkan Kita masih lekat dengan 
budaya petani.

Lagu kebangsaan saja Malaysia pakai nada lagu Terang Bulan (asal Indonesia!?). 
Mereka juga pakai lagu Sayang sayange untuk narik turis. Apa ngak boleh? Kalau 
ulang tahun, saya (kita) dinyanyiin lagu birthday oleh anak cucu saya, apa ngak 
boleh?  (Kalau otonan tak pakai nyanyi, siap pepanggang, banten). GWK juga 
digunakan untuk pertunjukan seni asing, kan?.

Ya kalau benar mereka mematenkan batik, reog, pendet tentunya bisa disanggah 
melalui diplomasi, atau bahkan dipermalukan di forum internasional misalnya 
melalui media massa, website, internet. Apa ngak begitu ?.

Yang perlu disadari globalisasi perlu smart policy, battle of mind.
Jangan terus ekspresif jadi Negara Teater ( Judul Buku  C. Geertz, Sosilog 
USA), atau jadi bahkan Negara Gagal. Perlu kejujuran,terapkan CGC (good 
corporate governance).

Ketika saya jadi turis bersama anak cucu ke Malaysia, dalam kunjungan dari 
Kuala Lumpur ke Malaka melalui jalan tol yang asri, teratur, terkesan  
bagaimana Malaysia melestarikan bangunan tua di Kota Malaka peninggalan masa 
kolinisasi Portugis, Belanda. Klenteng China, Gereja Katolik,Mesjid Islam, Pura 
Hindu dipelihara.Tempat diproklamisikan kemerdekaan Malaysia di Malaka, 
tertata. Jakarta?? Gelodok, Menteng, Jl. Pegangsaan Timur No 56, tempat 
bersejarah Proklamasi 1945??

Ketika kami balik ke Hotel, kami mengeluhkan pelayanan taksi yang diberikan 
hotel, ac ngak jalan, ban bocor di jalan, kami harus tunggu ditempat panas, 
terlambat makan siang. Manager Hotel panggil perusahaan taksi, dan keluhan  itu 
diakui, .... uang pembayaran taksi kami segera dikembalikan !. Kami jadi  
gratis angkutan KL-Malaka pulang pergi. Apa di Bali, perlakuaan seperti itu 
terjadi? Semoga ya !. 

Ini bukan untuk bela Malaysia lho, bukan ..... sekedar mengajak mari kita 
renungkan bersama, jangan emosional, lalu  berperilaku seperti tidak berbudaya.

SALAM.
Nengah Sudja.


 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Suwela
Sent: Friday, September 04, 2009 9:05 AM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: [bali] Re: Artikel: Si Vis Pacem, Para Bellum

Seorang pakar politik menatakan: konflik diselesaikan dengan perundingan 
melalui jalur diplomasi. Dalam perundingan mereka berdebat, beragumentasi untuk 
membuktikan bahwa mereka yg benar. Argumentasi tentunya dengan kata2 alias pake 
mulut. Kalau pake mulut gagal tinggal pake mulut meriam. Siapa yang menang, itu 
yg benar.
Nyoman Suwela
-----------------------------------------
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "Asana Viebeke Lengkong" <[email protected]>

Date: Fri, 4 Sep 2009 00:20:11 
To: <[email protected]>; <[email protected]>
Subject: [bali] Artikel: Si Vis Pacem, Para Bellum




Si Vis Pacem, Para Bellum

     Damai lewat kekuatan (peace through strength; a strong society being 
arguably less likely to be attacked by enemies). Maka, "if you wish for peace, 
prepare for war." Begitulah makna Si Vis Pacem, Para Bellum.

     Lalu, apa kita mau perang? Ya, begitulah… Buku klasik pemasaran dari Al 
Ries & Jack Trout (1986) pasang judul terang-terangan soal bertempur, 
Positioning: The Battle for Your Mind. Judul buku berikutnya: Marketing 
Warfare! 

     Sekedar mengingatkan saja, ada dua prinsip dalam Marketing Warfare, 
defensif dan ofensif. Dalam principles of defensive dikatakan: 1) only the 
market leader should consider playing defense, 2) The best defensive strategy 
is the courage to attack yourself, 3) Strong competitive moves should always be 
blocked. Sedangkan dalam principles of offensive disebutkan: 1) The main 
consideration is the strength of the leader’s position, 2) Find a weakness in 
the leader’s strength and attack at that point, 3) Launch the attack on as 
narrow a front as possible. 

***

     Dalam ranah seni, setelah lagu ‘Rasa Sayange’ dan dulu beberapa corak 
batik diklaim negeri jiran sebagai heritage mereka, maka kini tari Pendet dari 
Bali disasarnya pula. Jika saat ini yang diklaim adalah tanda atau simbolnya, 
maka – jika proses pembiaran ini terus berlangsung – besok jangan heran jika 
yang diklaim adalah justru referensi tanda itu, alias teritori atau negerinya. 
Kasus Ambalat merupakan prelude saja nampaknya.

***

2)b8"x ֋?pAjX'zȚ>Fm   iݺ++*aZwntz&j)mjz%v'AzZj)m˛miݺ+ޞ؋jx jy[hmb{.n+v


--
Milis Diskusi Anggota LP3B Bali Indonesia.

Publikasi     : http://www.lp3b.or.id
Arsip         : http://bali.lp3b.or.id
Moderators    : <mailto: [email protected]>
Berlangganan  : <mailto: [email protected]>
Henti Langgan : <mailto: [email protected]>

Kirim email ke