emang pas isu susu bayi, die bilang apa?

2008/3/5 den bagoes <[EMAIL PROTECTED]>:

>   wahh.hbat juga nich wanita..
> tapi sayangnya waktu isu susu bayi kok nyebelin ya pendapatnya
>
> 2008/3/4 baladewa_suputra <[EMAIL PROTECTED]>:
>
>    Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
> > Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Fadilah
> > berhasil
> > menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam
> > mengembangkan
> > senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
> >
> > Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-
> > perusahaan
> > dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan
> > harga
> > mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
> > Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah!
> > Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
> > Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang
> > sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World
> > to
> > Change.
> > Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan
> > cara
> > mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
> > "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung
> > dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda
> > Network di Jakarta, Kamis (21/2).
> > Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan
> > mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata
> > biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan
> > memproduksi senjata biologi.
> > Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes
> > dari
> > petinggi WHO.
> > "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon.
> > Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah,
> > tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas
> > kita,
> > lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita
> > sudah kaya," ujarnya.
> > Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000
> > eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total
> > sebanyak 2.000 buku.
> > "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan
> > mencetak
> > cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak
> > penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari
> > bicarakan
> > dengan penerbitan besar," katanya.
> > Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November
> > 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
> > "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya
> > beberkan
> > semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus,
> > tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk
> > kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah
> > Pemerintahan George Bush," ujar menteri kesehatan pertama Indonesia
> > dari
> > kalangan perempuan ini.
> > Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
> > Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.
> > "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar
> > 500
> > buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang
> > bahasa Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin
> > lagi
> > menarik buku dari peredaran.
> > Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa
> > senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku
> > setebal
> > 182 halaman itu.
> > Mengubah Kebijakan
> > Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah
> > dunia.
> > Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu
> > burung, AS
> > dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah
> > dipakai selama 50 tahun.
> > Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai
> > terjadi
> > di Indonesia pada 2005.
> > Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh
> > pendobrak
> > yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu
> > burung.
> > "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti
> > lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam
> > menanggulangi
> > ancaman virus flu burung, yaitu transparansi," tulis The Economist.
> > The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi
> > pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga
> > terkena
> > endemik flu burung 2005 silam.
> > Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut
> > justru
> > diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
> > Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
> > diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
> > memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
> > Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta
> > laboratorium
> > litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi,
> > mengapa WHO
> > CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
> > Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
> > Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil
> > dan
> > dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan
> > kemudian dibuat bibit virus.
> > Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan
> > fakta,
> > pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara
> > maju,
> > negara kaya, yang tak terkena flu burung.
> > Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya
> > ke
> > seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
> > Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
> > negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global
> > Influenza
> > Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
> > menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih
> > dari
> > 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa
> > menolak.
> > Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya
> > menjadi
> > vaksin.
> > Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
> > ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan
> > WHO
> > CC.
> > Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New
> > Mexico, AS.
> > Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO,
> > selebihnya tak diketahui.
> > Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
> > Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa
> > data
> > itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
> > Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu.
> > Data
> > DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok
> > tertentu.
> > Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim
> > data
> > itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los
> > Alamos, memujinya.
> > Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
> > transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar
> > WHO CC
> > agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah
> > ditempatkan
> > di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
> > Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta
> > pertukaran
> > virus yang adil,
> > transparan, dan setara.
> > Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen
> > virus
> > yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang
> > imperialistik dan membahayakan dunia.
> > Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan
> > dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang
> > Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International
> > Government
> > Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah,
> > yaitu
> > sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.
> >
> > Source : http://www.tribun-timur.com/view.php?id=65146
> >
> >
>
>
> --
> salam
> http://baliazura.wordpress.com
> 
>



-- 
^_^☺
-Sarcastic Eurasian Chix-
uɐɯɐpı‾ɹǝʇsns\oɟuı˙lıɐɯƃ-pı˙ıʞıʍ\\:dʇʇɥ

Kirim email ke