Sekedar cari sensasi kali??? Tapi lumayan juga bisa
menggertak AS.
Soal susu terkontaminasi, ada ponakan saya yang
kemungkinan menjadi salah satu 'korban'. Dia lahir
normal, tapi tdk minum asi sejak lahir. katanya, asi
tdk keluar, ibunya stress eh trauma dg gempa besar di
Jogja (ketika bencana tjd, kakakku lagi hamil tua).
Jadinya dikasih susu mulu.
Nah di usia 7 bulan, ponakanku kena demam tinggi,
opname hampir sebulan dan divonis radang otak.
Kemarin2 ditanyakan ke dokternya, tapi masih
diperkirakan, bisa jadi mmg krn susu buatan tersebut.
--- Suster Idaman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> emang pas isu susu bayi, die bilang apa?
>
> 2008/3/5 den bagoes <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> > wahh.hbat juga nich wanita..
> > tapi sayangnya waktu isu susu bayi kok nyebelin ya
> pendapatnya
> >
> > 2008/3/4 baladewa_suputra
> <[EMAIL PROTECTED]>:
> >
> > Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59)
> bikin gerah World Health
> > > Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika
> Serikat (AS). Fadilah
> > > berhasil
> > > menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia
> itu dalam
> > > mengembangkan
> > > senjata biologi dari virus flu burung, Avian
> influenza (H5N1).
> > >
> > > Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia,
> perusahaan-
> > > perusahaan
> > > dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual
> ke pasaran dengan
> > > harga
> > > mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.
> > > Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul
> Saatnya Dunia Berubah!
> > > Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
> > > Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga
> meluncurkan buku yang
> > > sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul
> It's Time for the World
> > > to
> > > Change.
> > > Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn
> negara adikuasa dengan
> > > cara
> > > mencari kesempatan dalam kesempitan pada
> penyebaran virus flu burung.
> > > "Saya mengira mereka mencari keuntungan dari
> penyebaran flu burung
> > > dengan menjual vaksin ke negara kita," ujar
> Fadilah kepada Persda
> > > Network di Jakarta, Kamis (21/2).
> > > Situs berita Australia, The Age, mengutip buku
> Fadilah dengan
> > > mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi
> mengembangkan senjata
> > > biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau
> flu burung dengan
> > > memproduksi senjata biologi.
> > > Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa
> Inggris menuai protes
> > > dari
> > > petinggi WHO.
> > > "Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka
> gerah, monggo mawon.
> > > Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan
> saja dibikin gerah,
> > > tetapi juga kelaparan dan kemiskinan.
> Negara-negara maju menidas
> > > kita,
> > > lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba
> kalau tidak ada kita
> > > sudah kaya," ujarnya.
> > > Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya
> dicetak masing-masing 1.000
> > > eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun
> bahasa Inggris. Total
> > > sebanyak 2.000 buku.
> > > "Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu
> dekat saya akan
> > > mencetak
> > > cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan
> pertama dicetak
> > > penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya
> sedang mencari
> > > bicarakan
> > > dengan penerbitan besar," katanya.
> > > Selain mencetak ulang bukunya, perempuan
> kelahiran Solo, 6 November
> > > 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid
> kedua.
> > > "Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku
> itu akan saya
> > > beberkan
> > > semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya
> mengirimkan 58 virus,
> > > tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah
> dalam bentuk
> > > kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari
> Indonesia diubah-ubah
> > > Pemerintahan George Bush," ujar menteri
> kesehatan pertama Indonesia
> > > dari
> > > kalangan perempuan ini.
> > > Siti enggan berkomentar tentang permintaan
> Presiden Susilo Bambang
> > > Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari
> peredaran.
> > > "Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa
> Indonesia, sebagian, sekitar
> > > 500
> > > buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi
> dijual ditoko buku. Yang
> > > bahasa Inggris dijual," katanya sembari
> mengatakan, tidak mungkin
> > > lagi
> > > menarik buku dari peredaran.
> > > Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan
> peralatan militer berupa
> > > senjata berat atau tank jika Pemerintah RI
> bersedia menarik buku
> > > setebal
> > > 182 halaman itu.
> > > Mengubah Kebijakan
> > > Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah
> sudah membikin sejarah
> > > dunia.
> > > Gara-gara protesnya terhadap perlakuan
> diskriminatif soal flu
> > > burung, AS
> > > dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan
> fundamentalnya yang sudah
> > > dipakai selama 50 tahun.
> > > Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas
> flu burung mulai
> > > terjadi
> > > di Indonesia pada 2005.
> > > Majalah The Economist London menempatkan Fadilah
> sebagai tokoh
> > > pendobrak
> > > yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia
> dari dampak flu
> > > burung.
> > > "Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih
> senjata yang terbukti
> > > lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat
> ini dalam
> > > menanggulangi
> > > ancaman virus flu burung, yaitu transparansi,"
> tulis The Economist.
> > > The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan
> di Republika, edisi
> > > pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat
> Indonesia juga
> > > terkena
> > > endemik flu burung 2005 silam.
> > > Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun
> aneh, obat tersebut
> > > justru
> > > diborong negara-negara kaya yang tak terkena
> kasus flu burung.
> > > Di tengah upayanya mencari obat flu burung,
> dengan alasan penentuan
> > > diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center
> (WHO CC) di Hongkong
> > > memerintahkannya untuk menyerahkan sampel
> spesimen.
> > > Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia
> juga meminta
> > > laboratorium
> > > litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya
> ternyata sama. Tapi,
> > > mengapa WHO
> > > CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?
> > > Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang
> korban flu burung di
> > > Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah
> meninggal itu diambil
> > > dan
> > > dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk
> assessment, diagnosis, dan
> > > kemudian dibuat bibit virus.
> > > Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari
> sinilah, ia menemukan
> > > fakta,
> > > pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusahaan
> besar dari negara
> > > maju,
> > > negara kaya, yang tak terkena flu burung.
> > > Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban,
> kemudian menjualnya
> > > ke
> > > seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
> > > Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri,
> hak, dan martabat
> > > negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas
> dalih Global
> > > Influenza
> > > Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat
> berkuasa dan telah
> > > menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah
> memerintahkan lebih
> > > dari
> > > 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke
> GISN tanpa bisa
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs