Carlos Santana menolak main di ajang Java Jazz
Festival 2008 di Jakarta karena menurutnya Indonesia
adalah negara yang suka membabat hutan.
INILAH.COM, Jakarta - Panggung bergengsi Java Jazz
Festival segera digelar. Sejumlah musisi kondang sudah
menyiapkan aksi. Sayangnya, isu lingkungan membuat
Carlos Santana urung ikut ambil bagian.
Santana termasuk salah satu gitaris ulung di dunia
jazz. Karena itu, kehadirannya sebenarnya penting
untuk memperkuat bobot even jazz bergengsi ini.
Penggemarnya di Tanah Air pun banyak.
Peter F. Gontha, pemrakarsa ajang yang kini berlabel
Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival (JFF) itu
sadar akan hal ini. "Saya sudah meminta dia untuk
datang dan tampil di JJF. Tapi dia menolak. Alasannya,
menurutnya Indonesia adalah negara yang suka membabat
hutan," ujarnya
Di tengah usianya yang menginjak senja, Santana
belakangan memang aktif memperhatikan persoalan
sosial. Tak hanya lingkungan, dia juga peduli dengan
nasib anak-anak miskin. Dia, misalnya, terlibat intens
dalam Yayasan Milagro untuk membantu anak-anak dan
remaja terlantar mendapatkan pendidikan, kesehatan,
dan perawatan lainnya.
Manajemen Santana, saat ini, juga membantu sebuah
organisasi bernama Head Count. Organisasi ini
didirikan dengan misi membuat anak-anak muda ambil
bagian dalam dunia politik dan mengajak mereka untuk
peduli terhadap lingkungan.
Dan, di tengah keterbukaan informasi, sulit memang
membantah betapa parahnya kerusakan hutan di Tanah
Air. Data Global Forest Resources Assessment 2005 yang
dikeluarkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia
(FAO) 2006 menunjukkan Indonesia berada di posisi
kedua yang kehilangan hutan terbanyak di dunia setelah
Brasil, yakni 1,871 juta hektare per tahun. Itu
artinya sekitar 2% luas hutan yang tersisa pada tahun
2005, yakni 88,495 juta hektar. Namun data ini
kemudian dinyatakan tidak valid oleh Departemen
Kehutanan.
Saat bernegosiasi dengan musisi bernama lengkap Carlos
Augusto Alves Santana itu, Gontha mengaku pihaknya
sudah berulang kali memastikan bahwa masyarakat
Indonesia peduli dengan lingkungan. Akan tetapi, tetap
saja pihak Santana menolak untuk tampil di JJF tahun
ini. Dan, seperti ingin memberi bukti kepada Santana,
Gontha memilih konsep menggabungkan jazz dengan
lingkungan. Tema yang hendak dibangun jelas; Jazz Do
Green.
Menurut Koordinator Program JJF, Eki Puradireja,
pihaknya sudah siap mendukung kepedulian akan
lingkungan. "Kami menyediakan banyak tempat sampah di
lokasi pertunjukan. Tempat-tempat sampah itu akan
dibagi dua, sampah basah dan yang bisa didaur ulang,"
jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa dengan
ditempatkannya tempat sampah yang terpisah ini,
pihaknya mengajak masayarakat dan penikmat musik jazz
untuk peduli lingkungan.
Musik jazz dan lingkungan memang merupakan paduan yang
tepat untuk membawa JJF semakin berbicara di peta
musik dunia. Akan tetapi, penolakan Carlos Santana
membuat kita semua untuk semakin peduli dan giat
menjaga lingkungan sekitar kita.
Di lain pihak, kerja keras Gontha dan kawan-kawan
mampu mendatangkan banyak musisi jazz terkenal di
dunia. Beberapa nama yang akan ambil bagian pada Java
Jazz Festival tahun ini termasuk yang diperhitungkan
di panggung jazz. Sebutlah umpamanya James Ingram,
Baby Caldwell, Manhattan Transfer, dan Kenny
"Babyface" Edmonds.
Nama-nama itu pula yang membuat Gontha, enterprenuer
yang dikenal sebagai penggila jazz itu yakin Java Jazz
Festival kali ini berlangsung sukses. Dengan segala
persiapan yang sudah dilakukan, dia percaya aksi kali
ini memberi dua sukses; sukses dalam bermusik jazz,
sukses menjawab keraguan Santana.[I4]
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ