Terus yang ganti main kamu gitu Cak? Males banget!

2008/3/5 ancak ramone <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Carlos Santana menolak main di ajang Java Jazz
> Festival 2008 di Jakarta karena menurutnya Indonesia
> adalah negara yang suka membabat hutan.
>
> INILAH.COM, Jakarta - Panggung bergengsi Java Jazz
> Festival segera digelar. Sejumlah musisi kondang sudah
> menyiapkan aksi. Sayangnya, isu lingkungan membuat
> Carlos Santana urung ikut ambil bagian.
>
> Santana termasuk salah satu gitaris ulung di dunia
> jazz. Karena itu, kehadirannya sebenarnya penting
> untuk memperkuat bobot even jazz bergengsi ini.
> Penggemarnya di Tanah Air pun banyak.
>
> Peter F. Gontha, pemrakarsa ajang yang kini berlabel
> Dji Sam Soe Super Premium Java Jazz Festival (JFF) itu
> sadar akan hal ini. "Saya sudah meminta dia untuk
> datang dan tampil di JJF. Tapi dia menolak. Alasannya,
> menurutnya Indonesia adalah negara yang suka membabat
> hutan," ujarnya
>
> Di tengah usianya yang menginjak senja, Santana
> belakangan memang aktif memperhatikan persoalan
> sosial. Tak hanya lingkungan, dia juga peduli dengan
> nasib anak-anak miskin. Dia, misalnya, terlibat intens
> dalam Yayasan Milagro untuk membantu anak-anak dan
> remaja terlantar mendapatkan pendidikan, kesehatan,
> dan perawatan lainnya.
>
> Manajemen Santana, saat ini, juga membantu sebuah
> organisasi bernama Head Count. Organisasi ini
> didirikan dengan misi membuat anak-anak muda ambil
> bagian dalam dunia politik dan mengajak mereka untuk
> peduli terhadap lingkungan.
>
> Dan, di tengah keterbukaan informasi, sulit memang
> membantah betapa parahnya kerusakan hutan di Tanah
> Air. Data Global Forest Resources Assessment 2005 yang
> dikeluarkan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia
> (FAO) 2006 menunjukkan Indonesia berada di posisi
> kedua yang kehilangan hutan terbanyak di dunia setelah
> Brasil, yakni 1,871 juta hektare per tahun. Itu
> artinya sekitar 2% luas hutan yang tersisa pada tahun
> 2005, yakni 88,495 juta hektar. Namun data ini
> kemudian dinyatakan tidak valid oleh Departemen
> Kehutanan.
>
> Saat bernegosiasi dengan musisi bernama lengkap Carlos
> Augusto Alves Santana itu, Gontha mengaku pihaknya
> sudah berulang kali memastikan bahwa masyarakat
> Indonesia peduli dengan lingkungan. Akan tetapi, tetap
> saja pihak Santana menolak untuk tampil di JJF tahun
> ini. Dan, seperti ingin memberi bukti kepada Santana,
> Gontha memilih konsep menggabungkan jazz dengan
> lingkungan. Tema yang hendak dibangun jelas; Jazz Do
> Green.
>
> Menurut Koordinator Program JJF, Eki Puradireja,
> pihaknya sudah siap mendukung kepedulian akan
> lingkungan. "Kami menyediakan banyak tempat sampah di
> lokasi pertunjukan. Tempat-tempat sampah itu akan
> dibagi dua, sampah basah dan yang bisa didaur ulang,"
> jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa dengan
> ditempatkannya tempat sampah yang terpisah ini,
> pihaknya mengajak masayarakat dan penikmat musik jazz
> untuk peduli lingkungan.
>
> Musik jazz dan lingkungan memang merupakan paduan yang
> tepat untuk membawa JJF semakin berbicara di peta
> musik dunia. Akan tetapi, penolakan Carlos Santana
> membuat kita semua untuk semakin peduli dan giat
> menjaga lingkungan sekitar kita.
>
> Di lain pihak, kerja keras Gontha dan kawan-kawan
> mampu mendatangkan banyak musisi jazz terkenal di
> dunia. Beberapa nama yang akan ambil bagian pada Java
> Jazz Festival tahun ini termasuk yang diperhitungkan
> di panggung jazz. Sebutlah umpamanya James Ingram,
> Baby Caldwell, Manhattan Transfer, dan Kenny
> "Babyface" Edmonds.
>
> Nama-nama itu pula yang membuat Gontha, enterprenuer
> yang dikenal sebagai penggila jazz itu yakin Java Jazz
> Festival kali ini berlangsung sukses. Dengan segala
> persiapan yang sudah dilakukan, dia percaya aksi kali
> ini memberi dua sukses; sukses dalam bermusik jazz,
> sukses menjawab keraguan Santana.[I4]
>
> __________________________________________________________
>
>  
>



-- 

=============================
www.saylows.com

It takes small against gravity. Imagination.

Kirim email ke