Jangan pake windows vista ...
Udah lambat, makan resource banyak tapi ga ada apa - apanya ...
antonemus wrote:
dear all,
bagi artikel menarik saja. mungkin tmn2 yg ahli open source bs bikin
agenda utk install massal pake open source.
aku dr dulu pengen pake linux, tp blm sempet jg. jdnya msh pake
bajakan. :)
thx,
--
"Software" Gratis, Solusi Masyarakat Terbuka
Kamis, 15 Mei 2008 | 00:30 WIB
Oleh Amir Sodikin
Software itu pengetahuan yang harus ditularkan, seperti halnya
matematika atau geometri. Ide memiliki dan membatasi distribusi
software seperti pada kultur software proprietary sama halnya dengan
memiliki matematika atau memiliki geometri, mengubah "sesuatu yang
dapat dipelajari" menjadi "sesuatu yang harus dibeli".
Statement di atas memang kontroversial, di satu sisi menjunjung
semangat open source (seperti software atau perangkat lunak sistem
operasi Linux dan kawan-kawannya) dan di sisi lain menghantam industri
perangkat lunak proprietary yang "dimiliki" dan berbayar, khususnya
Microsoft. Begitulah pendapat profesor hukum dan sejarah dari Columbia
University yang juga pendiri Software Freedom Law Center, Eben Moglen
(www.en.wikipedia.org <http://www.en.wikipedia.org>).
Moglen, yang juga bekerja secara gratis untuk Free Software
Foundation, saat ini memang gencar mengkritik dominasi Microsoft. Dia
menolak statement pejabat Microsoft bahwa free software mengancam
industri perangkat lunak berbayar. Katanya, yang dia perangi bukan
software berbayar melainkan monopoli sistem.
Cerita perang wacana antara Microsoft dan para aktivis open source
memang bukan cerita baru. Karena itu, komentar pendiri Microsoft
Corporation, Bill Gates, saat berkunjung di Indonesia soal ungkapan
software proprietary itu lebih unggul dari open source, berarti
seperti memutar perang lama itu.
Bagi pengguna free software dari open source, statement itu seperti
tak bisa membuka mata soal fakta dunia internet saat ini. Praktis,
teknologi web saat ini didominasi oleh teknologi open source yang
semakin berkembang. Bahkan, Moglen mengatakan, 40 persen server di
dunia ini menggunakan sistem operasi berbasis open source.
Masyarakat terbuka
Tulisan ini tak lagi memperdebatkan mana yang lebih hebat. Hanya untuk
mengingatkan kembali bahwa ada sosok seperti Moglen sebagai pemikir
atau pencipta Linux, Linus Torvalds, dan jutaan masyarakat pengguna
lainnya yang sudah menjadikan open source tidak hanya software, tapi
sudah menjadi sistem sosial dalam masyarakat internet.
Bagi mereka, open source yang bersifat terbuka itu kultur sosial dan
keadilan sosial bagi masyarakat terbuka. Open source juga sebuah
sistem demokrasi dalam mengelola pengetahuan, tak boleh ada yang
menyembunyikan ilmu. "Dalam dunia internet, semua yang layak di-copy
maka layak dibagi," kata Moglen.
Free software bukanlah sekadar perangkat lunak gratis, tapi lebih dari
itu free di sini adalah kebebasan untuk saling berbagi. Tak ada
perangkat lunak atau sistem yang mendominasi karena semua bisa
berinovasi dengan ciptaannya. Orang bisa mendapatkan sumber kode
program serta bisa memodifikasi dan mendistribusikan, semua gratis.
Jadi, janji kalau Microsoft mau menggratiskan software dengan syarat,
seperti dirilis di berbagai berita di Indonesia, bagi masyarakat open
source itu seperti ungkapan kuno karena mereka sudah lama menikmati
perangkat lunak gratis.
Orang harus berkaca, banyak pihak yang menggunakan perangkat lunak
ciptaan Linus Torvalds, tapi Torvalds tak pernah meminta royalti.
Seperti halnya banyak orang memakai dinamo, tapi Michael Faraday
sebagai penemu tak pernah meminta lisensi atau royalti. Lalu, apa
insentif bagi sang penemu (seperti Faraday, Torvalds, dan Gates) kalau
tidak uang?
"Semua yang kita cipta itu seperti evolusi kita berbicara dan
berbahasa. Kita spesies sosial dan kita membuat bersama, itulah kultur
kita," kata Moglen dalam makalahnya berjudul kira-kira "Memerdekakan
Pikiran: Free Software dan Matinya Kultur Proprietary" yang diambil
dari weblog Moglen.
Di Indonesia
Di Indonesia, open source masih belum sekuat di Amerika Serikat atau
Eropa. Namun, inisiasi di Indonesia sudah lumayan bagus. Beberapa
software di bawah open source juga sudah banyak dibuat.
Di situs www. igos.web.id <http://igos.web.id> telah dimuat beberapa
perangkat lunak karya anak bangsa. Indonesian Goes Open Source (IGOS)
merupakan gerakan masyarakat untuk memperkenalkan dan memajukan
software open source (OSS). Gerakan ini mendapat sponsor dari
pemerintah, terutama Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian
Komunikasi dan Informasi, Departemen Hukum dan HAM, Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara, serta Departemen Pendidikan Nasional.
Label IGOS juga digunakan untuk menamai distro Linux buatan Indonesia
yang bernama IGOS Nusantara, sebuah aplikasi desktop yang merupakan
distro Linux berbasis Fedora Core 5. Selengkapnya bisa dilihat di
www.igos-nusantara.or.id <http://www.igos-nusantara.or.id>.
Beberapa perangkat lunak buatan anak bangsa yang populer, antara lain
Blankon, IGOS Berdikari, IGOS Billing, IGOS Kwartet, IGOS Laba-laba,
IGOS Nusantara, Pinux, SDN IGOS, Trustix Merdeka, Waroeng IGOS, dan WINBI.
Selain OSS yang berbasis desktop, masih banyak OSS dari Indonesia yang
berbasis web. Artinya, software itu diperuntukan pembuatan website.
Salah satu yang populer adalah software membuat portal web bernama
Endonesia (www.endonesia.org <http://www.endonesia.org>, endonesia.com
<http://endonesia.com>).
Tentu saja di dunia open source, semua gratis dan tak ada bajakan.
Tapi, jika merasa terbantu sudilah kiranya mendonasikan dana ke
pengembang software itu. Itulah sistem masyarakat terbuka yang
bertanggung jawab dan saling mengerti.
--
anton | http://rumahtulisan.com <http://rumahtulisan.com>