----- Original Message -----
Subject: [masyarakatmerdeka] Visi Bung Karno
Date: Mon, 19 May 2008 5:50:16
From: nugroho_ang <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
VISI BUNG KARNO
Oleh: Anand Krishna
BUNG KARNO bukanlah seorang Pemikir saja, tetapi ia adalah seorang
Visioner. Dan, visi itu menjadi beban yang mesti dipikulnya.
Seorang pemikir bekerja dengan fakta dan data. Hasil pemikirannya
sangat logis. Seperti matematika saja, satu plus satu mesti dua. Tidak
bisa tiga.
Namun, seorang visioner melihat di balik fakta. Satu plus satu tidak
menjadi dua. Satu plus satu bisa menjadi sebelas. Tambahkan Amerika
Serikat pada Ethiopia -- maka hasilnya sudah pasti bukanlah dua negara
-- tetapi kekuatan yang dahsyat.
Bung Karno melihat Barat sebagai satu kesatuan. Kesatuan yang memiliki
perekat materi yang sangat kuat. Selama ratusan tahun, negara-negara
Barat menjarah Timur. Kekayaan mereka adalah hasil rampasan. Bagaimana
mengimbangi mereka?
Maka, ia memunculkan ide Persatuan Asia dan Afrika. Saat itu, Nehru
yang sama-sama visioner pun masih bertanya-tanya, "Apa iya?" Bung
Karno mesti mengutus kawan-kawannya yang paling cakap untuk meyakinkan
Nehru, "Ya, iya". Setelah Nehru dapat diyakinkannya, maka Tito, Nasser
dan Chou En Lai tinggal bergabung saja.
Sayang sekali, kita tidak memahami visi Soekarno. Sedemikian rupanya
kita tidak memahami visi beliau, sehingga terciptalah keraguan dalam
diri beliau, dalam batin beliau. Dan, hanya 3-4 tahun setelah
Konperensi di Bandung, beliau pun barangkali mulai meragukan visinya
sendiri. "Barangkali" saya katakan, karena demikianlah "penangkapan"
saya dari puluhan literatur yang saya baca tentang kejadian-kejadian
antara tahun 1955 hingga 1965.
Sekarang, saatnya kita kembali memahami visi Bung Karno: Persatuan
antara Negara-negara Asia dan Afrika. Saatnya juga kita menempatkan
Pak Harto pada perspektif sejarah yang benar. Visi beliau tentang
ASEAN adalah sebuah "kompromi" atas visi Asia-Afrika Bung Karno.
Asia-Afrika dipersatukan oleh Pengalaman Sejarah "Penderitaan" ketika
dijajah oleh Negara-negara barat -- inilah visi Bung Karno.
Negara-negara Asia Tenggara dipersatukan oleh "Pembangunan Integral"
di wilayah ini dengan memperhatikan sumber alam, sumber daya manusia,
juga persamaan kultur dan budaya.
Dalam kedua-dua visi tersebut, Peran Indonesia sebagai Motor
Penggerak, bahkan sebagai "Bapak Gerakan" diakui oleh seluruh negara
dan bangsa yang bergabung.
Bung Karno adalah Arek Surabaya. Bahasanya ceplas-ceplos. Jika tidak
suka dengan kebijakan luar negeri Paman Sam, maka ia pun meneriaki
dia, "Go to Hell!" Pak Harto adalah Wong Solo, halus. Sudah gondok pun
masih bisa senyum.
Ya, saya ingin berandai-andai, saya ingin mengatakan bahwa
sesungguhnya Pak Harto pun mulai gondok dengan kebijakan luar negeri
dan kebijakan ekonomi Paman Sam yang sangat mempengaruhi kebijakan
negara-negara lain di barat. Bedanya dengan Bung Karno, beliau sudah
telanjur tergantung pada Barat. Bung Karno belum.
Kesadaran akan ketergantungan inilah yang melahirkan dan memperkuat
ASEAN dari tahun ke tahun. Mahathir yang dianggap arogan oleh Paman
Sam pun menghormati Pak Harto. Pil ini terasa sangat pahit untuk
ditelan, Paman Sam tentu tidak menyukainya.
Tumbangnya Bung Karno di mana peran Pak Harto masih diperdebatkan
seberapa besar atau seberapa kecil -- bagaimana pun juga jelas dengan
restu Paman Sam dan sekutunya. Lengsernya Pak Harto juga sama. Sejarah
terulangi. Di balik kedua peristiwa tersebut, adalah kepentingan
ekonomi yang menjadi pertimbangan. Tidak ada pertimbangan- pertimbangan
lain. Apalagi kepentingan Rakyat Indonesia -- sama sekali tidak.
Visi Bung Karno adalah Visi Harga Diri dan Martabat Manusia Indonesia.
Persatuan Asia dan Afrika dijadikannya sebuah misi untuk mencapai visi
tersebut. Ketergantungan pada Paman Sam atau siapapun jua menjadi
penghalang bagi tercapainya misi tersebut -- maka penghalang itu,
rintangan itu mesti disingkirkan. Adalah kesalahan kita jika kita
menganggap penyingkiran tersebut adalah terhadap Dunia Barat, terhadap
masyarakat Amerika dan Barat. Penghalang atau rintangan itu adalah
pola pikir Paman Sam, kebijakan luar negeri serta ekonominya. Dan,
pola pikir serta kebijakan itulah yang diserang oleh Bung Karno, dan
mulai ditolak oleh Pak Harto.
Bung Karno sudah tidak bersama kita. Pak Harto sudah menjadi bagian
dari sejarah kita. Sekarang, apa yang mesti kita lakukan? Memahami
visi mereka, mempelajari kegagalan-kegagalan mereka dan tidak terjebak
dalam romantisme mengagung-agungkan atau menghujat mereka -- atau
mengembangkan visi baru. Namun untuk itu, saat ini adalah seorang
visioner di antara kita?
Jika ingin melanjutkan visi Bung Karno dan Pak Harto -- maka kita
harus memusatkan seluruh energi kita pada kemandirian. Kita mesti
melepaskan diri dari ketergantungan. Hal ini sudah tidak mudah. Kita
sudah melakukan sekian banyak kesalahan sehingga melepaskan diri dari
ketergantungan dapat menimbulkan gejolak sosial, kecuali "seluruh
bangsa ini menjadi sadar dan siap untuk berkorban".
Pertama: Hentikan Impor Pangan, buah-buahan segar dan kaleng, sayuran
dan sebagainya. Kita akan makan ketela, jagung, beras merah, apa saja
-- tetapi Tidak Mau makan beras impor, buah-buahan impor dan sebagainya.
Kedua: Bisnis Ritel harus dikuasai oleh orang Indonesia, mau keturunan
Arab, Cina, India, bule, mau pribumi, non pri -- siapa saja boleh.
Asal orang Indonesia. Segera hentikan pemberian izin kepada
hypermarket yang berasal dari luar. Biarlah mereka mengembangkan
bisnis-bisnis besar lainnya. Untuk bisnis ritel, kita harus kembali
pada pola dan pasar tradisional kita yang mesti di upgrade dan diperbaiki.
Ketiga: Pembangunan Fisik harus merata di seluruh kepulauan. Hentikan
pembangunan pencakar langit dan gedung-gedung apartemen. Dengan cara
itu kita akan memberdayakan perekonomian desa dan mencegah terjadinya
urbanisasi secara berlebihan.
Keempat: Investasi dari Luar dicarikan lapangan yang masih kosong, dan
tidak dapat diolah dengan baik oleh orang-orang kita sendiri. Daripada
mencari nasabah untuk kartu kredit dan menciptakan bangsa pengutang,
silakan bank-bank asing membiayai industri-rumah dan sektor bisnis
serupa lainnya. Bantulah para nelayan kita, para petani kita dengan
kredit ringan.
Untuk melaksanakan program-program ini, tentunya Pemerintah harus
serius. Para wakil rakyat harus memikirkan rakyat, bukan kantong serta
kedudukan mereka. Awalnya barangkali mereka kehilangan popularitas,
namun kehilangan popularitas itu jauh lebih baik daripada penilaian
oleh generasi mendatang sebagai orang-orang yang tidak becus dan
mencelakakan seluruh bangsa dan negara.
Kelima: Hubungan Luar Negeri dengan negara-negara Asean, Asia Barat,
Amerika Serikat dan siapa saja -- mesti berlandaskan asas kesetaraan.
Kita tidak bisa didikte. Kita mesti memiliki keahlian di bidang
diplomasi dan negosiasi.
Selamat ulang tahun Bung Karno, selamat ulang tahun Pak Harto -- dan
salam Pancasila untuk kita semua... Namun ucapan selamat dan salam
tidak berarti sama sekali jika kita tidak segera bangun, bangkit, dan
mulai bekerja. Masih banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan!
*) Anand Krishna, Nasionalis/Spiritua lis Lintas Agama, telah menulis
lebih dari 100 judul buku.