Semeton Blogger... Sepuluh tahun yang lalu, pasti masih melekat disemua ingatan bulan Mei 1998 merupakan bulan penuh dengan gempita demonstrasi di seluruh pelosok negeri, terutama di kampus-kampus. Salah satunya di kampus Udayana.
Cengkeraman kuku-kuku rejim Orde Baru yang semakin kalap berusaha menekan setiap elemen yang berusaha menyuarakan ketidakadilan yang semakin menjadi-jadi ditengah keterpurukan bangsa. Saya tidak bercerita tentang heroik binti nasionalisnya semua yang bergerak mengepalkan tangan dan melepas suara hingga habis demi menjadi bagian dari "voice of the voiceless" dan mewujudkan "vox populi vox dei" namun ada sisi menarik dari semua gegap gempita itu. Panggung demonstrasi dan ajang turun ke jalan kemudian menjadi satu lahan empuk bagi beberapa gelentir orang untuk unjuk muka disaat itu. Semua upaya unjuk muka itu entah dilatar belakangi oleh tujuan apa tak seorang pun bisa menebak, karena itulah dunia politik, penuh dengan intrik bermuka sepuluh. Maka tak heran, pada rapat2 persiapan demo dan dalam percakapan dikalangan terbatas muncul istilah 'SELEBRITI AKSI" yang ditujukan pada oknum2 yang berusaha mencari eksistensi diri demi melabelkan diri sebagai orang yang terdepan menyuarakan amanat penderitaan rakyat. Sungguh dan sungguh lucu jika melihat kelakuan para selebriti aksi itu. Pada saat panggung dibuka, mereka dengan sigap berdiri didepan kemudian jika suasana beralih ke warming up untuk head to head dengan barisan polisi anti huru hara posisi pindah menuju barisan paling belakang, nah pada saat pentungan pertama beradu dengan batok kepala maka para selibriti aksi dengan sigap mengambil langkah seribu menyelamatkan diri. Apa yang terjadi setelah semua adu pentungan dan harumnya gas air mata reda ? Selebriti aksi dengan gagah rupawan berada dibarisan depan dengan memasang tampang penuh percaya diri untuk siap berbicara didepan kamera, tape recorder para pemburu berita. Ah.. andaikata koran di kota kita sudah memberi ruang berita dengan tanda bintang (xx*) pasti sang selebriti aksi tak perlu sampai membuat rambutnya kacau baliau karena tertiup angin saat lintang pukang mencari persembunyian. Dari tingkah polah selebriti aksi itu aku sendiri bisa menilai siapa sebenarnya yang benar-benar menyuarakan semua ketidakadilan tanpa bermain sandiwara diatas penderitaan orang lain. Dari sana aku sendiri bisa menilai siapa yang konsisten akan sikap dan keberanian untuk mengambil segala risiko atas setiap cara-cara yang dipakai oleh sebuah rejim dalam memberangus kemerdekaan berpikir dan penyeragaman sosial di negara ini. Selibriti aksi tak mesti ada hanya diajang demontrasi jalanan, ia pun kadang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita bahkan didunia yang ada persis di depan mata. Duduk diam dengan manis demi keselamatan diri sendiri disaat rejim baru mulai memberangus kemerdekaan kita dalam menyampaikan pendapat, sekalipun kita bisa mempertanggungjawabkannya, merupakan salah satu perbuatan yang dilakukan oleh selebriti aksi disepuluh tahun yang lalu. Matur suksma, Yos Kebe mosalaki.multiply.com

