DUNIA selalu berubah, juga di Lugano, Swiss Selatan. Setelah babak belur dilindas Timnas Jerman 4 – 0, kepercayaan diri Timnas Swiss yang sempat rontok itu, bangkit kembali setelah menaklukkan Timnas Slowakia 2 – 0 akhir pekan lalu.
Bintang lapangan Swiss juga berubah, bukan lagi Alexander Frei (BVB Dortmund), Hakan Yakin ( Bern Young Boys ), Valon Behrami (Lazio), Tranquilo Barnetta (Bayer Leverkusen) atau Philippe Senderos (Arsenal). Superstar itu bernama Patrick Mueller, bek kanan Heidiland. Setidaknya, ketika laki laki yang tumbuh di kawasan Swiss Perancis itu ditarik keluar lapangan, standing ovation 10 ribuan penonton menyambutnya. Mueller memang seperti kembalinya si anak hilang. Bukan saja karena selama tujuh bulan dikerkah cidera dengkul, namun juga kemunculan di Lugano itu, memantik headline nyaris sebagian besar media massa Swiss. Mueller nekad terbang dari Paris, mendarat di Milan dan melanjutkan perjalanan darat, nyetir sendiri menuju Lugano, tanpa ijin resmi Olympique Lyon, klub yang dibelanya selama enam tahun. „Saya harap mereka (Lyon) mengerti," tuturnya kepada wartawan di Swiss. Lyon memang menahan Mueller pergi ke Lugano, karena tenaganya diperlukan untuk pertandingan Piala Perancis. Dan keberadaan Mueller sebagai penjaga pertahanan bersama Philippe Senderos, disebut-sebut sebagai kembalinya kekuatan lama Swiss. Sejak ditinggalkan Mueller, pertahanan Swiss memang pincang. Menghadapi Jerman Barat, anak asuh Kobi Kuhn ini babak belur. Melawan Jepang pun, Timnas Swiss tak berkutik. Kekalahan demi kekalahan kerap mendera Timnas Swiss, bahkan dari Austria pun. Padahal, dalam Piala Dunia 2006 di Jerman, juga babak kualifikasinya, Swiss tak pernah kalah melawan tim mapan seperti Perancis atau Italia. Patrick Mueller-lah yang banyak berjasah membungkam Tiery Henry atau Luca Toni. Itulah era dimana kekuatan Swiss dianggap mampu memberikan kejutan ketika ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Eropa 2008. Tapi, itu tadi, sejak Mueller didera cidera berkepanjangan, pertahanan Swiss morat-marit. Senderos belum padu dengan Djohan Djourou. Gol demi gol mengoyak gawang yang dulunya dijaga Pascal Zubelbuhler itu. Semua itu berubah sejak kemenangan 2 – 0 atas Slowakia di Stadion Cornaredo, Lugano itu. Dan kembalinya Patrick Mueller dianggap sebagai salah satu pilar kekuatan itu. Tak terlalu salah memang, Mueller bermain taktis dan bersih. Kendati lama tak lagi dipasang sebagai pemain utama di pertahanan Olympique Lyon, kembalinya Mueller seperti tak terpengaruh dengan kerkahan cidera dan lamanya ia duduk di bangku cadangan Lyon. „Ia memang fenomental," puji Kobi Kuhn. Sebagai seorang pemain belakang, Mueller sebenarnya tak ideal. Kakinya ramping, tubuhnya juga tidaklah setinggi Senderos atau Johan Djourou. "Saya cuma berusaha menjaga posisi saya yang paling tepat, dimana musuh dan bola berada," katanya suatu kali. Ia juga dikenal sebagai pemain rendah hati, bahkan pendiam. Jika tampil dalam konferensi pers, Mueller lebih banyak menyerahkan jawaban kepada dua rekannya, jika bukan Alex Frei ya Johan Vögel, bekas kapten Timnas Swiss. Ia lebih banyak diam, kecuali jika itu menyangkut dirinya secara langsung. Soal kenekadannya meninggalkan Olypique Lyon tanpa ijin, Muller mengaku bahwa semua sudah dipikirkannya masak. "Kalau pun ada sanksi dari FIFA, ya akan saya terima," katanya enteng. Dan kembalinya anak hilang itum disambut dengan banyak harapan oleh bolamania Swiss. Tak terlalu salah jika Kobi Kuhn akhirnya menancapkannya sebagai tim inti Swiss. Adakah Mueller bakal kehilangan pekerjaan di Olympique Lyon? „Kalau pun saya kembali, paling hanya untuk pamitan teman-teman saja," kilahnya enteng.

